MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Selasa, 13 Maret 2018 08:35
Cara Wiebe Wakker Belajar Ilmu Event Organizer (1)
Pengalaman Besar Diperenguti Satpam

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

DIA ambil mata kuliah event organizer. Di jurusan manajemen. Dia berjanji pada dosen yang meluluskannya: ilmunya itu akan langsung dia praktikkan. Sebagai bukti bahwa dia lulus sarjana bukan asal lulus.

Dia akan mengorganisasi sebuah event unik. Dan harus sukses: mengorganisasi perjalanan dari Belanda ke Australia. Mulai cari pelaku, sponsor, sampai merumuskan anggaran. Event yang dia rancang itu dibilang unik karena perjalanan itu harus perjalanan darat. Harus setir mobil. Harus sendirian. Mobilnya harus mobil listrik.

Harus tidak boleh bawa uang lebih. Uang di saku harus hanya cukup untuk makan satu hari. Tidak boleh ada uang untuk menginap di hotel. Harus bisa cari makan sendiri. Cari penginapan sendiri. Dan cari jalan keluar sendiri.

Kalau semua itu sukses, barulah dia merasa menjadi sarjana ilmu event organizer yang sebenarnya. Untuk mencari pelakunya, dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun: dia pilih dirinya sendiri.

Nama dirinya: Wiebe Wakker. Wiebe masih bujang. Tentu. Tidak ada beban. Bahwa ada syarat lain dia tidak boleh bawa uang, Wiebe juga tidak sulit. “Saya dari keluarga miskin,” katanya saat ngobrol di rumah saya di Surabaya.

Bapaknya pegawai biasa di sebuah instansi di Belanda. Rumahnya sekitar 30 kilometer arah barat Amsterdam. Hari itu, Wiebe datang ke rumah saya karena ingin melihat Tesla. Mobil listrik yang saya beli dari Amerika.

Sejak dia masih di luar negeri sudah tahu saya memiliki Tesla. Dan, kalau boleh, ingin merasakan mengemudikannya. Tentu saja boleh. Namun, harus menunggu dua jam kemudian. Hujan lagi deras sekali. Tidak ada tanda-tanda segera reda. Kami ngobrol di teras sambil makan sanggar yang masih panas. Yakni, pisang goreng ala Kalimantan. Salah satu keistimewaan masakan istri saya.

Saya tidak takut Tesla-nya kehujanan. Tapi saya sendiri yang takut kehujanan. Dalam kondisi badan yang baru sakit keras saya harus jaga diri. Setelah dua jam menghabiskan satu piring sanggar, hujan berhenti. Kami pun siap-siap naik Tesla.

Dia yang mengemudikan. Saya di sebelahnya. Akan saya ajak dia ke bengkelnya Jonathan. Di Jalan Kendangsari, Surabaya. Di situlah mobil Jaguar saya dibongkar. Untuk diubah menjadi mobil listrik.

Saya ingin memperlihatkan pada Wiebe: mobil biasa juga bisa jadi mobil listrik. Kami pun segera masuk Tesla. Sebagai pemuda Belanda yang badannya tinggi, Wiebe harus banyak mengorganisasi tempat duduk di belakang kemudi. Lalu mengambil barang di tasnya.

Ternyata kamera kecil. Dia tempelkan kamera itu di kaca depan. Menghadap ke dirinya. Wiebe begitu siap ingin mengabadikan peristiwa mengemudikan Tesla justru di Indonesia. Begitu keluar rumah, Wiebe tertegun. Banjir. Jalan di dekat rumah saya memang selalu tergenang. Tinggi. Apalagi habis hujan deras dua jam.

Beberapa sepeda motor tidak berani lewat. Dia ragu apakah berani memasukkan Tesla melewati genangan panjang itu. “Go!” kata saya.

Dia pun mengajukan beberapa pertanyaan. Intinya: amankah baterainya? Tidak korsletingkah? Ternyata, Wiebe trauma. Dia mengalami nasib buruk saat melewati India. Mobil listriknya bermasalah saat merenangi genangan di India.

Saya pun menceritakan pengalaman saya dua bulan sebelumnya. Saat mengemudikan Tesla di genangan yang sama. Saat itulah saya kaget. Begitu memasuki genangan suspensinya naik sendiri. Otomatis. Saat genangannya lebih dalam, suspensinya naik sekali lagi.

Saya pun melihat layar lebar di Tesla itu. Ternyata ada empat tingkatan suspensi: low, standard, high, dan very high. Wiebe pun tidak lagi ragu-ragu. Dia masukkan Tesla ke genangan. Dengan kecepatan relatif tinggi. Lalu berhenti di dekat portal. Portalnya tutup.

Satpam di kampung saya itu mendekat. Dengan wajah merengut. Saya bukan kaca: kenapa portal ditutup? “Maaf Pak, agar tidak ada mobil berjalan cepat. Gelombang airnya masuk rumah,” katanya sambil membuka portal.

Ganti saya yang minta maaf kepada satpam. “Ini teman saya dari Belanda. Dia tidak paham soal dampak gelombang air di jalan raya,” kata saya. Lalu menerjemahkan permintaan maaf saya itu ke Wiebe.

Tentu Wiebe juga tidak pernah mendapat ilmu tentang dampak gelombang air di jalan raya saat dia kuliah ilmu event organizer di Belanda.  (baca besok, bagaimana Wiebe jalan-jalan tanpa uang) (rom/k8)

CATATAN

Tulisan ini dibuat di mobil dalam perjalanan sepanjang 200 kilometer dari Kota Weifang ke Kota Qingdao di Provinsi Shandong, Tiongkok.


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .