MANAGED BY:
KAMIS
20 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 13 Maret 2018 07:10
Rumput Laut Tambak Menanti Industrialisasi
POTENSI BESAR: Panen rumput laut tambak di Desa Maruat, Kecamatan Long Kali, Paser, tahun lalu. (NAJIB/KP)

PROKAL.CO, TANA PASER Rumput laut menjadi salah satu potensi alam unggulan di Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser. Beberapa desa merupakan sentra budi daya. Sayang, sumber daya tersebut belum kunjung tersentuh industri.

Setidaknya, ada tiga desa utama penghasil rumput laut tambak di Long Kali. Yakni, Desa Maruat, Petiku, dan Muara Telake.

Hasil rumput laut tambak milik warga itu mencatatkan hasil melimpah dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut diungkapkan Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Maruat Syahrudin. Dari total 235 petani tambak di atas lahan seluas 750 hektare, rata-rata hasil panen gabungan mereka mencapai 40 ton per hari.

“Panennya biasa setiap lima bulan setelah ditaburi benih. Jika sudah masa panen, petani bisa menikmati hasilnya setiap hari selama dua bulan,” ujar Syahrudin kepada Kaltim Post, pekan lalu.

Dia menyebut, harga jual rumput laut saat ini Rp 4.700 per kilogram untuk yang sudah kering. Sedangkan yang basah hanya Rp 2.000.

Meski sejauh ini sudah menjadi sumber penghasilan petambak, Syahrudin menyayangkan hasil panen di Maruat hanya dijual dalam bentuk mentah. Sebab, sampai kini belum ada investor yang membuka pusat pengolahan. “Belum ada kabar akan masuk investor untuk industri pengolahan rumput laut,” ungkapnya.

Selama ini, lanjut Syahrudin, petani menjual ke pengepul, yang mayoritas berasal dari Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang dianggap memiliki akses pasar lebih strategis. Komoditas itu kemudian diteruskan ke Palopo, Sulawesi Selatan, yang memang memiliki sentra industri rumput laut.

“Di sini, yang dibutuhkan petani adalah wadah untuk memasarkan dan mengolah hasil rumput laut agar bisa dijadikan produk khas Paser. Selama ini yang diuntungkan dari hasil panen adalah PPU. Perputaran ekonominya di sana, bahkan lebih banyak ke Palopo,” jelasnya.

Anggota Komisi III DPRD Paser Ahmad Rafi’i mengakui hal tersebut sebagai kelemahan daerahnya. Sumber daya alam yang luas dan melimpah, kata dia, minim sentuhan industrialisasi.

Kondisi itu tak hanya dialami para petambak rumput laut. Sektor lain seperti perkebunan kelapa sawit, disebutnya juga masih minim pengolah.

“Warga sebatas menanam, panen, kemudian menjual. Belum bisa mengolah menjadi produk yang bisa dibanggakan. Perlu promosi yang kuat dari pemerintah agar investor berani membuka industri di sini. Kita juga tentu tak bisa hanya mengandalkan anggaran pemerintah,” sebut politikus NasDem itu.

Diwawancarai terpisah, Kepala Dinas Perikanan Paser Ina Rosana menambahkan, untuk jumlah puluhan ton panen yang disebut warga merupakan hasil panen rumput laut basah. Untuk yang kering, terang dia, angkanya tak sebesar jumlah tersebut.

Kendati begitu, Ina tak menampik jika potensi rumput laut tambak di Paser memang dalam tren berkembang. Produksinya terus naik dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, menurut dia, tetap penting memikirkan program pascapanen.

“Betul, memang saat ini pasarnya selalu dijual petani ke Palopo. Kekurangan kita di sini ialah belum adanya alat press, untuk mengubah rumput laut basah menjadi kering. Insyaallah 2019 dalam perencanaan akan mengusulkan alat tersebut, karena memang hanya rumput laut kering yang diterima pasar,” bebernya.

Rencana itu pun bukan tanpa kendala. Kelompok tani yang akan mendapatkan alat tersebut, kata Ina, harus rela menghibahkan sekitar seperempat hektare lahan untuk pengolahan dan pengoperasian alat press, yang harganya berkisar antara Rp 60–70 juta per unit. (/jib/man/k8)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 07:03

Rupiah Kembali Bergolak

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tidak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat (USD). Berdasar…

Rabu, 19 September 2018 07:01

Transaksi Tunai Meningkat

SAMARINDA - Jumlah transaksi tunai di Kaltim pada triwulan II 2018 mengalami peningkatan jika dibandingkan…

Rabu, 19 September 2018 06:56

Siapkan 1,4 Juta Ton Pupuk

BONTANG – Kebutuhan pupuk dalam negeri dipastikan aman. Terutama saat musim tanam pada Oktober…

Rabu, 19 September 2018 06:54

Aduan Konsumen Kaltim Terbanyak di Kalimantan

SAMARINDA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim tampaknya harus bekerja ekstra memperbaiki literasi…

Rabu, 19 September 2018 06:54

Subsidi Energi Membengkak

JAKARTA – Realisasi subsidi energi tahun ini diperkirakan meningkat menjadi Rp 149 triliun. Angka…

Rabu, 19 September 2018 06:52

Sukses Kembangkan Lapangan Lama

BALIKPAPAN - Pertamina EP Asset 5 berhasil mencapai target lifting minyak mentah 2018. Produksi minyak…

Rabu, 19 September 2018 06:50

Andalkan Event Internasional

JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi penanaman modal dalam…

Rabu, 19 September 2018 06:48

Binaan Pupuk Kaltim Ekspor Lobster ke Hong Kong

BONTANG – Melalui program Creating Shared Value (CSV), PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) mengekspor…

Rabu, 19 September 2018 06:46

Neraca Perdagangan Defisit, Kadin: Itu Sudah Lebih Baik

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total defisit neraca perdagangan Indonesia pada Agustus…

Rabu, 19 September 2018 06:46

Properti-Pariwisata Dongkrak Ekonomi Daerah

SURABAYA – Sinergi antara sektor properti dan pariwisata diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .