MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 13 Maret 2018 07:08
Produktivitas Lebih Tinggi, Harga Jual Makin Mahal

Melihat Keseriusan Berau Garap Beras Organik

BUKAN BERAS BIASA: Panen perdana sentra padi organik di Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, Berau, pekan lalu. Foto inset, Kepala KPw-BI Kaltim Muhamad Nur (kiri) memeriksa gabah kering hasil petani binaan. (CATUR MAUDYAYUNDA/KP)

PROKAL.CO,  

Di Kaltim, sektor pangan juga menanti upaya diversifikasi. Di Berau, potensi komoditas baru kini tengah diseriusi.

CATUR MAIYULINDA, Teluk Bayur

BERAU memang bukan penghasil beras terbesar di Kaltim. Dengan produksi 31.727 ton dari total 400.040 ton gabah kering giling (GKG) di Benua Etam, daerah ini baru berkontribusi 7,9 persen. Jika diurutkan, angka itu masih kalah banyak dari kabupaten lain, Misalnya Kutai Timur, Kutai Kartanegara, ataupun Kutai Barat.

Namun, bukan berarti Berau minim potensi. Dengan produksi yang belum maksimal, luas lahan yang belum tergarap justru masih tersedia luas.

Selain menjadi peluang meningkatkan produksi, keuntungan itu tengah dioptimalkan untuk mengembangkan produksi tanaman pangan alternatif. Salah satunya, beras organik atau beras yang ditanam tanpa menggunakan unsur kimia, khususnya pada pupuk dan penangkal hama.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim tengah mengupayakan pangan tersebut. Berau pun dipilih sebagai sentra produksinya. Setelah sebelumnya di Kecamatan Tanjung Redeb, program yang sama juga telah berjalan hingga panen perdana di Kampung Labanan Jaya, Kecamatan Teluk Bayur, yang lokasinya sekitar 1 jam perjalanan darat dari pusat kabupaten.

“Kami mengedukasi petani untuk meningkatkan produksi, dengan mengubah cara tanam padi mereka. Dari semula masih menggunakan kimia, kini condong ke organik. Selain harganya yang lebih tinggi, mencapai Rp 20 ribuan per kilogram, beras organik juga ternyata lebih tinggi produktivitasnya,” ungkap Kepala KPw-BI Kaltim Muhamad Nur, saat menghadiri panen perdana padi organik di Labanan Jaya, pekan lalu.

Tentu motif atas pengembangan program pangan bukan semata-mata untuk menciptakan komoditas pangan baru. BI, yang mengemban tanggung jawab menjaga kestabilan harga, tentu juga perlu mendorong produktivitas dan pasokan bahan pangan di dalam daerah.

Di Kampung Labanan Jaya yang menjadi sentra produksi padi, saat ini ada 305 hektare sawah. Adapun padi organik yang masih tahap uji coba, baru mendapat porsi 5 hektare dan baru dipanen pekan lalu.

Hasilnya ternyata memuaskan. Sebagai gambaran, dengan metode reguler, per hektare sawah umumnya menghasilkan 2 ton gabah kering giling (GKG). Setelah menerapkan metode penanaman organik dan pembinaan dari tim Bank Indonesia, hasilnya naik lebih dari dua kali lipat, menjadi 4,4 ton GKG.

Salah satu petani binaan KPw-BI Kaltim Mukalal mengatakan baru kali ini melihat langsung hasil dari metode penanaman organik. Saat ini, kata dia, mayoritas sawah di Bumi Batiwakkal disebutnya masih menggunakan metode dan campuran unsur kimia.

“Untuk lahan uji coba dari Bank Indonesia ini, kami sudah mendapatkan dua kali lipat dari hasil sawah biasa. Padahal, itu belum maksimal. Karena dari yang dijelaskan ke kami, sawah padi organik bisa menghasilkan hingga 8 ton per hektare,” ungkapnya saat diwawancarai Kaltim Post setelah agenda Panen Raya Perdana Padi Organik di Labanan Jaya, Kamis (8/3).

Dengan hasil yang lebih banyak itu, dia menyebut, kini tengah disiapkan lahan lebih luas untuk penanaman padi organik, hingga empat kali lipat atau mencapai 20 hektare. Selain metode tanam, tentu diiringi pula dengan pembinaan sumber daya manusia, hingga strategi pemasaran.

“Saat ini sudah mulai banyak petani yang mau mengembangkan padi organik. Karena hari ini saat panen raya terbukti, lahan padi organik menghasilkan lebih banyak dari lahan non-organik,” tuturnya.

Muhamad Nur kembali menjelaskan, program pengembangan padi organik sebelumnya sudah berjalan di Kecamatan Tanjung Redeb. Produktivitasnya mencapai 4,4 ton per hektare.

Tingginya rasio hasil itu, tentu diiringi dengan ketatnya pemantauan. Terutama karena mencegah gangguan hama yang lebih sulit, lantaran tak boleh menggunakan penangkal berbahan kimia.

“Organik punya banyak keuntungan. Selain lebih subur, kualitas tanah semakin bagus. Keberlanjutan tingkat kesuburan tanah ini, sebelumnya adalah kendala sektor pertanian di Kaltim,” terangnya.

Keuntungan lainnya, produktivitas meningkat, meski menggunakan luas lahan yang sama dengan tanaman non-organik. Kesejahteraan petani pun diyakini bakal lebih baik. Terlebih, harga beras organik bisa mencapai kisaran Rp 20 ribu per kilogram. Bandingkan dengan beras biasa yang berkisar antara Rp 9–14 ribu per kilogram.

“Apalagi jika ke depan diintegrasikan dengan ternak sapi. Keuntungan petani bisa lebih besar, karena mereka nanti produksi pupuk sendiri dari kotoran ternak. Di Berau, masih ada sangat luas lahan yang belum digarap,” ungkapnya. (***/man/k8)


BACA JUGA

Minggu, 19 Agustus 2018 12:11

Tingkatkan Persentase Ibu Menyusui

PADA 2015 ada satu kelompok baru terbentuk, bernama FormASI asal Balikpapan. Komunitas ini terbentuk…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:18

Manjakan Konsumen lewat Semarak Kemerdekaan

BALIKPAPAN  -  Long weekend pekan ini dimanfaatkan ACE Hardware dengan menggeber penjualan.…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:16

Tekan Impor Migas

JAKARTA  -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta PT Pertamina (Persero) untuk mengurangi…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:15

Enggan Bergantung Komoditas

SAMARINDA  -   Perekonomian Kaltim pada triwulan II 2018 mengalami pertumbuhan sebesar…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:15

Dua Kapal Tertunda, Logistik Masih Aman

BALIKPAPAN  -   Cuaca buruk dan gelombang tinggi yang terjadi dua pekan terakhir, membuat…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:13

Bulan Depan, Harga TBS Diprediksi Membaik

SAMARINDA  -  Tren penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kaltim kembali…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:11

Optimistis Rupiah Kukuh di Kisaran 14.000 Per USD

JAKARTA  –   Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019 telah…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:08

Tahun Depan, Gaji ASN Naik 5 Persen

JAKARTA  –  Kabar baik menghampiri Aparatur Sipil Negara (ASN). Berdasar Rancangan Anggaran…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:06

Target Turunkan Angka Kemiskinan 8,5 Persen

JAKARTA  –   Pemerintah bertekad menurunkan angka kemiskinan di Tanah Air mencapai 8,5…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:03

Belum Swasembada Kedelai

SURABAYA  –  Tingginya konsumsi kedelai di Tanah Air masih belum diimbangi dengan suplai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .