MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 12 Maret 2018 09:33
Berkenalan dengan Parpol Debutan

PROKAL.CO, Empat partai politik baru siap bertarung dalam Pemilihan Umum 2019. Superior partai besar mengimpit kehadiran mereka.

RUMAH sewa di Jalan Merdeka 5, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, tak mudah ditemukan. Berdiri tak sampai 100 meter dari pemakaman khusus warga Tionghoa, bangunan yang jauh dari jalan raya itulah markas Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) di Kaltim. Kantor itu berdiri di lingkungan yang agak sunyi, sesenyap lolosnya Partai Garuda mengikuti Pemilu 2019.

Heru Kusuma adalah ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Garuda Kaltim. Dia menjabat sejak partai didirikan pada 2015 sampai sekarang. "Sebelumnya, kami menyewa di Jalan Pemuda. Di sana sering banjir jadi pindah ke sini,” tutur Heru ketika ditemui Kaltim Post Rabu (7/3). "Beginilah keadaan kantor Partai Garuda di Kaltim," sambung pria 39 tahun itu seraya menunjukkan setiap sudut bangunan berukuran 36 meter persegi itu.

Heru bersyukur, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak mengharuskan partai memiliki sekretariat representatif atau berdiri di tepi jalan raya. Lagi pula, sumber pendanaan Garuda sebagai partai baru hanya berasal dari militansi kader.

Kehadiran Partai Garuda dalam kancah perpolitikan nasional memang mengejutkan. Nyaris tidak pernah terdengar, partai besutan Ahmad Ridha Sabana–adik Wakil Sekjen Partai Gerindra Ahmad Riza Patria–itu lolos verifikasi KPU dan mendapat nomor urut 6.

Sejumlah kabar miring sempat menerpa Partai Garuda. Selain pertalian darah di antara pengurus, atribut Partai Garuda nyaris serupa dengan Partai Gerindra. Keduanya sama-sama memilih burung garuda sebagai lambang partai, perpaduan merah dan emas dalam logo partai, serta warna dasar putih untuk seragam partai.

Partai Garuda sempat pula dihubungkan dengan nama Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri Soeharto. Ridha selaku ketua umum partai pernah tercatat duduk sebagai direksi Televisi Pendidikan Indonesia milik Tutut. Seluruh kabar miring mengenai afiliasi Partai Garuda dengan nama-nama tersebut telah dibantah Ridha dalam pelbagai wawancara dengan media.

Partai Garuda disebut bergerak senyap dalam tiga tahun terakhir. Heru selaku ketua partai di level daerah mengatakan, dia dipilih dalam Musyawarah Nasional Partai Garuda pada 2015. Memimpin partai di Kaltim, Heru adalah sosok yang belum memiliki catatan politik. Lelaki asal Berau itu tak pernah terlibat di parpol mana pun. Pengalaman organisasilah yang mengantarnya kepada tanggung jawab itu. Heru adalah ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Kaltim dan dari situ dia memiliki jaringan di level nasional.

Menurut Heru, pengelolaan partai di daerah tidak dipasok dana dari pusat. Partai diwajibkan mandiri sehingga sekretariat partai dibiayai dana pribadinya. “Saya sebagai pimpinan, masak tak bisa menjamin tempat? Saya merasa ini tanggung jawab,” kata Heru yang mengaku seorang pengusaha tanpa menjelaskan bidang usahanya.

Sebagian besar kader Partai Garuda masih "hijau" dalam perpolitikan daerah. Hanya satu nama yang memiliki pengalaman sebagai pengurus partai dan pernah menjadi anggota DPRD Samarinda periode 2009–2014 yaitu Arief Hamzah. Secara keseluruhan, sebut Heru, Partai Garuda memiliki 250-an orang di jajaran kepengurusan se-Kaltim. Angka jauh lebih besar diklaim dari sayap-sayap partai dengan jumlah ribuan dan tersebar di seluruh kecamatan di Kaltim.

Menghadapi Pemilu 2019, Heru optimistis Partai Garuda meraih hasil bagus di Kaltim meskipun diakui tidak mudah. "Partai Garuda menawarkan persaudaraan. Mencapai perubahan dari cara berpikir yang salah ke yang benar. Mengingatkan yang terlupa dan merangkul yang terlupakan,” urai Heru.

MUDA, MERAH, MENYALA

Partai politik debutan berikutnya adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sebuah partai dengan ciri warna merah menyala yang mulai berkilau karena membidik segmentasi pemilih berdasarkan usia. PSI boleh dibilang satu-satunya partai politik yang dengan cerdas mengkhususkan seluruh pergerakan di level kawula muda. Kelompok usia ini memiliki potensi suara yang besar. Di sisi lain, masih banyak generasi muda yang belum melek politik, jika tidak bisa dibilang, kesadaran politik yang masih rendah.

“Kita perlu pembaruan dalam politik negeri ini. Tidak sekadar mengandalkan politikus yang itu-itu saja,” tegas sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah PSI Kaltim, Mujahid, ditemui di Jalan M Yamin, Samarinda, Rabu pekan lalu.

Untuk mencapai sasaran, PSI menggunakan strategi yang khas dengan napas muda-mudi Indonesia. Partai yang mengusung semangat pembaruan, kebajikan, dan keberagaman, itu menyiarkan pendidikan politik secara masif. Kampanye di media sosial dipilih sebagai perangkat media utama. PSI menegaskan tidak memakai baliho untuk penyebarluasan ideologi partai karena dianggap merusak estetika kota.

"Kami lebih memilih cara efektif yaitu berkomunikasi intens lewat berdiskusi serta menjaga yuvenil sebagai basis massa," terang Mujahid. Sebagai contoh, PSI membangun sekolah politik yang dibalut kongko alias nongkrong bareng yang khas dengan anak muda.

Di Kaltim, partai besutan Grace Natalie itu mengklaim telah memiliki delapan ribu kader yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Seluruh anggota partai berusia maksimal 45 tahun dengan 70 persen kader berusia 18–29 tahun. Mereka duduk di kepengurusan partai tingkat provinsi hingga kecamatan. Untuk urusan pembiayaan partai, Mujahid mengatakan, bersumber dari sokongan anggota. "Kami ingin buktikan bahwa menjalankan partai tak perlu dana yang wah," jelasnya.

PSI, partai yang sedang ramai dibicarakan setelah ketua umumnya bertemu Presiden Jokowi, menancap target yang tak besar dalam Pemilihan Legislatif 2019. Partai yang memiliki sapaan khas "Bro" dan "Sis" kepada sesama kader itu mengincar satu kursi di seluruh DPRD.

USUNG PROGRAM NYATA

Partai politik pendatang baru berikutnya adalah Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Populer karena mars partai diputar di stasiun televisi swasta yang dimiliki sang ketua umum, Perindo mengambil semua segmen sebagai pemilih. Perindo, ditilik dari badan hukumnya, adalah hasil akuisisi Partai Indonesia Sejahtera yang gagal dalam verifikasi administrasi, 2014 lalu.

Partai yang dipimpin Hari Tanoesoedibjo itu mengusung ekonomi kerakyatan. Perindo fokus mengawal program yang mendorong kesejahteraan bagi kelas menengah ke bawah. Program yang diajukan partai seperti Gerobak Perindo, Warung Sejahtera, hingga Kapal untuk Negeri.

"Kami hadir sebagai partai yang berbasis program yang tak melulu direalisasikan ketika sudah duduk di legislatif," terang Hamdani HB, ketua Dewan Pimpinan Wilayah Perindo Kaltim, Kamis pekan lalu. Kepada Kaltim Post, Hamdani mengatakan, Perindo telah memiliki anggota 34 ribu orang yang tersebar di 113 kecamatan se-Kaltim. "Memang belum mencapai target karena kami ingin meraup kader sampai 158 ribu anggota yang ber-KTA (kartu tanda anggota) tahun ini," tuturnya.

Berbeda dengan partai debutan yang lain, Perindo tak risau dengan urusan fulus. Selain swadaya anggota, seluruh kepengurusan di daerah menerima kucuran dari Hari Tanoe selaku ketua umum partai. Anggaran dipakai untuk program UMKM hingga urusan sekretariat. "Ini wujud kesungguhan kami berpolitik," aku Hamdani.

Tak heran bila target tinggi dipasang Perindo dalam Pileg 2019. Partai yang lekat dengan warna merah, putih, dan biru itu berusaha mengisi penuh satu fraksi di DPRD tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

KEBANGKITAN ORDE BARU?

Partai debutan yang terakhir adalah Partai Berkarya. Digawangi Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto sebagai dewan pembina, Partai Berkarya berpartisipasi dalam Pemilu 2019 dengan mengantongi nomor urut tujuh.

Di Kaltim, Partai Berkarya dinakhodai Andi Burhanuddin Solong, politikus senior yang sebelumnya "berkarya" di Partai Golkar. Politikus yang akrab disapa ABS itu adalah mantan ketua DPRD Balikpapan dua periode, sejak 2004–2014. Dia juga pernah menduduki anggota DPRD Kaltim hasil Pileg 2014 dan selanjutnya mengundurkan diri karena mengikuti pilkada serentak 2015.

Bersama Partai Berkarya yang didirikan pada 15 Juli 2016, ABS optimistis mendulang banyak suara di Pileg 2019. Partai ditarget tinggi yaitu membentuk satu fraksi di seluruh DPRD kabupaten/kota dan provinsi di Kaltim, serta satu kursi di DPR RI. “Kami yakin meraih dukungan dari masyarakat. Kader kami tersebar di seluruh wilayah se-Kaltim dengan jumlah terus bertambah,” terang Bendahara Dewan Pimpinan Wilayah Partai Berkarya Kaltim Arafat Zulkarnaen di kantornya, Kamis (8/3) pekan lalu.

Sebagai partai politik baru, Partai Berkarya adalah hasil merger Partai Nasional Republik dan Partai Beringin Karya. Di Kaltim, Partai Berkarya mengklaim memiliki kader lebih dari 26 ribu orang. Sejumlah pentolan organisasi masyarakat Pemuda Pancasila diketahui turut serta. Beberapa nama dari Pemuda Pancasila adalah Amir P Ali, Juhairi Iwai, dan Tomy Gazali, yang menduduki posisi-posisi strategis.

Arafat mengatakan, Kaltim didapuk menjadi satu dari sepuluh wilayah prioritas yang mendapat target tinggi dari pimpinan tingkat pusat. Menurut dia, menguasai parlemen dan menempatkan kader sebagai kepala daerah, Partai Berkarya bisa ikut merencanakan anggaran dan menyusun program yang bisa dikawal agar pro-rakyat kecil, bukan untuk segelintir orang.

“Kami dekat dengan buruh, petani, dan nelayan. Kami banyak mendapat dukungan dari mereka,” klaim Arafat.

Sosok Tommy Soeharto di Partai Berkarya menjadi magnet menarik dukungan masyarakat. Tak sedikit kemudian, karena kehadiran Tommy, yang menyebut bahwa Partai Berkarya ingin membangkitkan Orde Baru. Anggapan miring itu dibantah keras Arafat. Orde Baru, tegas dia, tak mungkin dikembalikan. Namun, jika ingin mengembalikan semangat Orde Baru, dia setuju. Pada zaman Soeharto, terangnya, sudah terbukti pembangunan tak hanya dirasakan segelintir orang.

“Berkarya adalah partai modern. Semua pihak dirangkul dan kami ajak bergabung. Anak muda pun diberikan kesempatan yang sama untuk membesarkan partai,” tuturnya.

TERGENCET PARTAI BESAR

Setelah empat partai debutan, disusul lolosnya Partai Bulan Bintang, lengkap sudah 15 partai politik yang bertarung dalam Pemilu 2019. Keputusan undang-undang menyatukan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden pada 2019 membuat pemilu makin menarik. Bagaimanapun, terdapat hubungan kuat antara figur presiden yang diusung terhadap perolehan suara partai politik. Partai Demokrat adalah contoh nyata ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi presiden untuk periode kedua pada 2009. Pada tahun yang sama, Demokrat menjadi pemenang pemilu.

Masih kuatnya posisi Presiden Joko Widodo menghadapi Pemilu 2019 yang serentak diprediksi ikut mengerek suara PDI Perjuangan berikut koalisinya. Terbelahnya suara publik setelah Pilpres 2014 dan Pilgub DKI Jakarta 2017 diperkirakan masih berpengaruh tahun depan. Namun, menurut berbagai survei terbaru, "kutub" Jokowi masih memimpin.

Pada Januari 2018, Lingkaran Survei Indonesia yang diasuh Denny Januar Ali menyiarkan hasil survei. PDIP disebut masih unggul dengan angka 22,2 persen, diikuti Golkar sebesar 15,5 persen, dan Gerindra di angka 11,4 persen. Pada November 2017, survei serupa diadakan Poltracking Indonesia. Hasilnya tak jauh berbeda. PDIP unggul dengan 23,4 persen, Gerindra 13,6 persen, dan Golkar 10,9 persen. Pada periode yang hampir sama, Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) juga meluncurkan hasil survei mereka. Menurut survei, suara PDIP bahkan mencapai 27,6 persen (lebih lengkap, lihat infografis).

Superior partai-partai besar jelas menggencet partai-partai baru. Dari empat partai debutan, hanya Perindo yang memiliki suara lumayan menurut hasil survei. Perindo diperkirakan meraup 3 persen suara. Raihan itu hanya selisih 1 persen di bawah ambang batas parlemen sebesar 4 persen (Undang-Undang Nomor 7 tentang Pemilu, 2017). Sementara PSI yang sudah ikut dalam survei sejak tahun lalu harus berjuang keras karena hanya meraih 0,7 persen suara. Sebagai tambahan, ambang batas parlemen hanya berlaku untuk DPR RI, bukan DPRD kabupaten/kota dan provinsi.

Pengamat politik lokal, Lutfi Wahyudi, mengatakan bahwa partai debutan wajib menawarkan program yang benar-benar baru untuk meraih simpati masyarakat. Program baru berarti kinerja yang sebelum ini tak didapatkan publik dari partai-partai sebelumnya. “Kalau tetap sama dengan partai lama, tentu mereka kalah mengakar,” terang akademisi Universitas Mulawarman tersebut.

Partai baru juga dituntut peka dengan kelemahan partai-partai pendahulu termasuk mengakomodasi keinginan masyarakat yang selama ini terlewatkan. Dua poin itu sangat menentukan eksistensi. Tak sampai di situ, karakteristik pemilih Indonesia masih begitu tradisional. Budaya politik parokial dan kawula begitu kental di Tanah Air. Budaya politik mengandalkan perasaan in-group dan out-group. Secara teori, Indonesia mestinya sudah berada di level pemilih partisipan.

“Ini tantangan bagi partai politik baru. Masyarakat perlu sesuatu yang menyadarkan bahwa ‘Oh, inilah partai yang saya cari.' Namun, memunculkan perasaan itu tidak gampang,” urai Lutfi.

Faktanya, sebagian besar partai debutan belum bergerak ke arah tersebut. Ujung-ujungnya, tetap mengandalkan pola politik lama seperti menggandeng figur populer. Lutfi mengambil contoh partai baru yang mencoba mencari patron dengan menemui Presiden Joko Widodo. Pola ini menunjukkan keengganan partai memunculkan tokoh baru. Padahal, di sinilah tolok ukur partai telah menawarkan hal baru atau tidak.

Di Kaltim, partai baru juga wajib mengerahkan usaha ekstra. Penduduk Bumi Etam sebagian besar masih memiliki budaya politik pemilih tradisional. “Pemilih memang dinamis dalam wacana politik tapi cenderung beku ketika memilih. Itu terjadi terutama di Samarinda, Kukar, dan daerah pedalaman. Berbeda dengan Balikpapan dan sekitarnya,” terang dia. Kebekuan ketika memilih hanya membuat tokoh yang punya popularitas yang akan mendulang suara. (tim kp)

TIM LIPUTAN:

-              BOBBY LOLOWANG

-              ROBAYU

-              IBRAHIM

 


BACA JUGA

Jumat, 11 Mei 2018 09:41
Nasib Beruang Madu di Kaltim

Lirik Jerman, Siap Go International

SEJAK UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah berlaku, Dinas Kehutanan Kaltim memegang kendali atas Kesatuan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:10

Eksklusif namun Dilupakan

DOSEN Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda Rustam menyebut, sejak awal pendiriannya pada 2005,…

Jumat, 11 Mei 2018 09:06

Tunggu Serah-Terima Aset

KONDISI Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan terombang-ambing. Terutama pengelolaan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:03

Perlu Kolaborasi Dinas Kehutanan dan Pro Natura

OLEH: AGUSDIN(Perintis dan Pemerhati KWPLH) SEBELUM merintis KWPLH, saya bergabung dalam penyelamatan…

Jumat, 27 April 2018 13:43

Belum Ada Pasien Kanker Akibat Kopi

KOPI jadi simalakama. Mulanya tanaman tersebut mengandung antioksidan, zat yang melindungi tubuh dari…

Jumat, 27 April 2018 13:40

Bisnis Kopi, Antara Rasa dan Citra

EMPAT bulan menjelang akhir 2015, Semenjana hadir memenuhi dahaga penikmat kopi. Adalah Rifki Ramadhan…

Jumat, 27 April 2018 13:30

Kopi Itu Seksi

TIDAK hanya sekolah barista atau pembuat kopi, tempat belajar bagi mereka yang menyukai proses sangrai…

Jumat, 27 April 2018 09:25

MENGGUGAT KENIKMATAN SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi bukan sekadar bubuk hitam dan air gula. Ini soal sensasi kegembiraan, magnet penyatu,…

Jumat, 27 April 2018 09:21

Kopi Instan, Pilihan Aman?

SECANGKIR kopi tubruk, bagi sebagian orang satu hal wajib dan pantang untuk dilewatkan setiap hari.…

Jumat, 27 April 2018 08:58

Pro-Kontra Kopi, Sudah Biasa

Oleh: Kris Nugraha(Penikmat kopi dan pemilik kedai Republik Coffee) BILA bicara soal pro-kontra, kopi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .