MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 12 Maret 2018 09:04
Partai Politik Baru, Harapan Baru?

PROKAL.CO, OLEH: LUTFI WAHYUDI
(Dosen dan pemerhati masalah politik)

FENOMENA munculnya partai politik baru menjelang pemilu di Indonesia, bisa jadi merupakan hal yang biasa sebagai konsekuensi sistem multi-partai yang diterapkan di negeri ini. Sejak reformasi digulirkan, jumlah partai politik peserta pemilu dari 1999 sampai hari ini menjelang Pemilu 2019 mengalami pasang-surut.

Pemilu 1999 diikuti 48 partai politik. Pada Pemilu 2004 terjadi penurunan jumlah peserta menjadi 24 partai politik. Kemudian, Pemilu 2009 jumlah peserta pemilu mengalami peningkatan menjadi 38 partai politik dan  turun drastis pada Pemilu 2014 yang diikuti hanya oleh 12 partai politik.

Kemungkinan besar Pemilu 2019 akan diikuti oleh 15 partai politik. Keseluruhan jumlah partai politik peserta pemilu tersebut di atas, belum termasuk partai politik lokal di Aceh (empat partai).

Setidaknya ada empat partai politik baru sebagai peserta pemilu pada 2019 nanti. Yaitu, Partai Berkarya, Partai Gerakan Perubahan Indonesia, Partai Persatuan Indonesia, dan Partai Solidaritas Indonesia. Kelahiran partai politik baru ini disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, adanya konflik internal partai yang memunculkan ketidakpuasan pada sebagian pengurus dan kader sehingga menimbulkan dorongan untuk mendirikan partai politik baru. Kedua, keinginan melakukan koreksi terhadap partai politik yang ada yang dianggap tidak dapat menjalankan tugas dan fungsi-fungsi partai politik sebagaimana mestinya. Ketiga, membuka jalan pintas menuju kekuasaan yang legal dan punya legitimasi.

Gejala semacam ini oleh Lapalambara dan Weiner disebut sebagai mobilisasi sosial, yaitu masuknya massa ke panggung politik.  Ketika politik tidak lagi terbatas hanya untuk suatu lingkaran kecil elite-elite aristokrasi, maka partai-partai hadir sebagai instrumen untuk menghubungkan pusat kekuasaan politik dengan massa.

Bagaimana peluang partai politik baru dalam kontestasi di Pemilu 2019? Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingkat peluang itu, antara lain; ketokohan. Siapa tokoh yang ada di partai politik tersebut. Reputasi dan popularitas tokoh tersebut dibarengi dengan kemampuan pengurus mengidentikan tokoh tersebut dengan partainya sangat berpengaruh terhadap tingkat penerimaan masyarakat pada sebuah partai politik.

Apabila sebuah partai politik tidak mempunyai tokoh sentral yang bisa berfungsi sebagai pendulang suara, biasanya akan melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh tertentu yang punya popularitas tinggi dengan harapan partainya akan mendapat “luberan popularitas” dari tokoh tersebut, semacam trickle down effects ala WW Rostow. Strategi ini masih sangat mungkin dilakukan mengingat tipikal masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih paternalistik dan patronatif, bergantung pada ketokohan seseorang.

Dalam budaya politik masyarakat semacam ini termasuk kategori budaya politik parokial dan budaya politik kawula yang terlalu memfokuskan perhatiannya pada aktor/tokoh. Bagaimana dengan partai-partai baru, apakah mereka mampu memunculkan tokoh-tokoh baru, tokoh-tokoh alternatif yang mampu memunculkan kepercayaan dan keyakinan pada masyarakat untuk menjatuhkan pilihan kepada mereka? Ataukah justru sekadar ikut mendukung tokoh-tokoh lama yang sudah menjadi ikon partai-partai lama demi dapat mendompleng popularitas tokoh tersebut?

Apabila partai-partai baru mampu memunculkan tokoh-tokoh baru yang bisa menjadi alternatif pilihan yang meyakinkan masyarakat, kemungkinan memperoleh simpati dan dukungan yang signifikan menjadi lebih besar. Namun, bila sekadar mendukung tokoh-tokoh yang sudah lebih dulu didukung oleh partai lama, kemungkinan besar akan kalah bersaing.

Faktor kedua, program kerja partai yang ditawarkan kepada masyarakat. Biasanya program kerja partai politik menjadi bagian yang menarik perhatian masyarakat, terutama masyarakat kelas menengah ke atas. Pemilihan isu-isu yang menjadi prioritas partai akan menarik perhatian masyarakat bila dipandang rasional dan logis serta dianggap mewakili apa yang sedang dialami dan dirasakan masyarakat.

Sejauh mana partai-partai baru mampu menawarkan program kerja yang baru, yang belum pernah ditawarkan partai-partai lama? Apabila masyarakat menganggap bahwa program-program tersebut lebih realistis dan lebih cocok bagi mereka, tidak menutup kemungkinan simpati dan dukungan akan beralih kepada partai baru yang mampu melakukannya. Sebaliknya, bila hanya menawarkan program kerja dan isu-isu yang sama dengan partai-partai lama, kecil kemungkinan partai baru bisa bersaing dengan partai-partai yang sudah lebih lama mengusung program kerja dan isu-isu tersebut.

Faktor ketiga, strategi kampanye sebagai metode pendekatan kepada masyarakat. Pemilihan strategi yang tepat dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh partai politik terlebih partai politik baru. Strategi kampanye yang variatif dan kontekstual yang mampu melakukan terobosan dan penetrasi yang lebih dalam ke kehidupan sehari-hari masyarakat kemungkinan besar akan memunculkan common sense di lingkungan masyarakat. Sebuah keuntungan tersendiri ketika partai politik mampu membuat kondisi seperti itu, karena ini merupakan langkah awal dalam mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik, yang beberapa waktu terakhir ini berada pada titik nadir terendah.

Faktor keempat, kemampuan finansial partai politik. Ibarat tubuh, finansial merupakan darah bagi partai politik, mengalir dalam urat nadi, dan menjadi penopang utama kegiatan operasional partai politik. Tanpa finansial yang memadai, gerak operasional partai akan tersendat-sendat, ibarat orang yang lesu darah, segala sesuatu terasa terganggu. Bila kondisi ini berkelanjutan, bukan tidak mungkin partai politik ini tidak ada lagi dalam daftar peserta pemilu berikutnya.

ADAKAH HARAPAN BARU

Selalu ada partai politik baru sebagai peserta pemilu dalam setiap pemilu setelah Orde Baru sampai Pemilu 2019 mendatang. Tidak dapat dimungkiri, hal itu akan memunculkan harapan baru bagi masyarakat. Dan selama itu pula harapan akan selalu kandas begitu pemilu berlalu. Janji memberantas korupsi, justru banyak kadernya yang terjerat kasus korupsi. Kasus Hambalang, Kasus KTP-el, OTT kepala daerah oleh KPK, dan kasus-kasus korupsi lain, yang melibatkan politikus dari berbagai partai politik termasuk partai-partai politik baru yang berhasil masuk ke lingkaran kekuasaan baik di lembaga legislatif maupun lembaga eksekutif. Janji mengutamakan kepentingan rakyat, justru yang hadir adalah menyepelekan kepentingan rakyat. Contoh mutakhir adalah Undang-Undang MD3 yang merusak nalar akal sehat rakyat sebagai pemilik kedaulatan.

Bagaimana dengan partai politik baru di Pemilu 2019? Selalu saja ada harapan baru, tinggal bagaimana partai-partai baru merawat harapan itu. Ketika partai-partai tadi lahir karena ingin mengoreksi kehadiran partai-partai lama yang dianggap tidak mau dan tidak mampu menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana mestinya, ini adalah langkah awal dengan niat yang baik. Ada harapan di sana.

Ketika partai-partai baru tersebut mampu menyuguhkan figur-figur baru yang rekam jejaknya jelas dan bagus, berintegritas dan bersih dari kasus-kasus korupsi dan kasus hukum lainnya, ada harapan di sana.

Ketika partai-partai baru mampu menawarkan program-program kerja baru yang rasional, logis, realistis, dan kontekstual dengan kepentingan masyarakat, ada harapan di sana.

Namun, bila yang terjadi adalah sebaliknya, partai politik baru lahir dari rasa kecewa dan sakit hati karena tersingkir dari pembagian kekuasaan di partai sebelumnya, menyuguhkan figur-figur yang bermasalah, yang tidak jelas rekam jejaknya, dan tidak punya program kerja yang jelas untuk masyarakat, pupuslah harapan itu di sana.

Ini bahkan bisa menjadi preseden buruk dan semakin menegaskan bahwa partai politik sebagai organisasi pemberi harapan palsu. Jika itu yang terjadi, keberadaan partai politik baru tersebut tidak memberikan nilai tambah apapun, selain hanya menambah padat daftar peserta pemilu.

Dengan begitu, kita telah salah memberi makna tentang proses demokratisasi, di mana partai politik sebagai salah satu pengisi pilarnya. Pemaknaan demokrasi yang terjadi ibarat anak-anak kecil yang memaknai Lebaran dan menyambutnya dengan memakai baju baru serta saling memaafkan. Namun, setelah Lebaran berlalu, kesalahan yang sama akan dilakukan lagi… dan lagi….. (***)


BACA JUGA

Jumat, 11 Mei 2018 09:41
Nasib Beruang Madu di Kaltim

Lirik Jerman, Siap Go International

SEJAK UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah berlaku, Dinas Kehutanan Kaltim memegang kendali atas Kesatuan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:10

Eksklusif namun Dilupakan

DOSEN Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda Rustam menyebut, sejak awal pendiriannya pada 2005,…

Jumat, 11 Mei 2018 09:06

Tunggu Serah-Terima Aset

KONDISI Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan terombang-ambing. Terutama pengelolaan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:03

Perlu Kolaborasi Dinas Kehutanan dan Pro Natura

OLEH: AGUSDIN(Perintis dan Pemerhati KWPLH) SEBELUM merintis KWPLH, saya bergabung dalam penyelamatan…

Jumat, 27 April 2018 13:43

Belum Ada Pasien Kanker Akibat Kopi

KOPI jadi simalakama. Mulanya tanaman tersebut mengandung antioksidan, zat yang melindungi tubuh dari…

Jumat, 27 April 2018 13:40

Bisnis Kopi, Antara Rasa dan Citra

EMPAT bulan menjelang akhir 2015, Semenjana hadir memenuhi dahaga penikmat kopi. Adalah Rifki Ramadhan…

Jumat, 27 April 2018 13:30

Kopi Itu Seksi

TIDAK hanya sekolah barista atau pembuat kopi, tempat belajar bagi mereka yang menyukai proses sangrai…

Jumat, 27 April 2018 09:25

MENGGUGAT KENIKMATAN SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi bukan sekadar bubuk hitam dan air gula. Ini soal sensasi kegembiraan, magnet penyatu,…

Jumat, 27 April 2018 09:21

Kopi Instan, Pilihan Aman?

SECANGKIR kopi tubruk, bagi sebagian orang satu hal wajib dan pantang untuk dilewatkan setiap hari.…

Jumat, 27 April 2018 08:58

Pro-Kontra Kopi, Sudah Biasa

Oleh: Kris Nugraha(Penikmat kopi dan pemilik kedai Republik Coffee) BILA bicara soal pro-kontra, kopi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .