MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 10 Maret 2018 08:07
Dapat Banyak Kawan di Penjara karena Kepintaran Memijat

Cak Percil dan Cak Yudho Sekembali ke Tanah Air setelah Sebulan Dipenjara di Hong Kong

SUDAH BEBAS: Yudo Prasetyo (ketiga kiri, belakang) dan Deni Afriandi (ketiga kanan, belakang) saat tiba di Bandara Juanda, Kamis (8/3).

PROKAL.CO, Cak Percil dan Cak Yudho semula mengira hanya akan ditahan di Hong Kong sekitar tiga hari. Untuk mensyukuri kebebasan, mereka menghelat tasyakuran di kampung masing-masing. Agenda manggung juga dijadwal ulang karena keduanya masih ingin beristirahat.

 

SALMAN MUHIDDIN, Surabaya

LODITYA FERNANDEZ, Ngawi

 

 MATA Cak Percil dan Cak Yudho sudah sembap. Tampak memerah. Bekas menangis. Tapi bukan karena sedih. Malah berkali-kali mereka tertawa lepas. Belasan orang yang menyambut di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Kamis malam lalu (8/3) itu mereka peluk satu per satu. Hampir semua yang dipeluk juga ikut menitikkan air mata. Tangis bahagia.

Tak lupa, para penjemput yang datang dari Surabaya, Blitar, dan Ngawi itu bergantian mengajak berfoto. Untuk disebar kepada para anggota keluarga yang tak bisa ikut ke Juanda. “Akhire (akhirnya) ya Allah,” kata Deni Kristiani, istri Cak Percil, mengungkapkan kelegaan.

Wajar Deni begitu lega dan haru. Sebab, Percil dan Yudho akhirnya bisa kembali ke Tanah Air setelah sejak 4 Februari lalu ditahan imigrasi Hongkong. Dua pelawak Jawa Timur itu ditahan saat manggung di hadapan para tenaga kerja Indonesia. Mereka dituding melanggar aturan izin tinggal. Masuk ke Hongkong dengan visa kunjungan. Tapi, mengadakan pertunjukan atas dan mendapatkan bayaran.

Pada sidang di Pengadilan Shatin, Hongkong, Rabu lalu (7/3), keduanya akhirnya dijatuhi hukuman pidana penjara 6 minggu dengan masa percobaan 18 bulan. Dengan putusan itu, dua pelawak yang dulu ngenger di pelawak senior Kirun tersebut bisa langsung bebas saat itu juga. “Jadi, nek awakmu (jika kamu) ditangkap gara-gara holiday, jangan mau. Yang salah itu bukan kami, tapi panitia,” jelas Percil yang bernama asli Deni Afriandi.

Kepada sang istri dan ibu yang menjemput, Percil mengenang bagaimana campur aduknya perasaannya saat diborgol. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Dia merasa seperti perampok keji. Seperti pembunuh.

Awalnya Percil mengira pelanggaran yang dilakukannya itu hanya berujung penahanan paling lama tiga hari. Tapi, perkiraannya meleset. Tuntutannya adalah kurungan maksimal 2 tahun atau denda maksimal 50 ribu dolar Hongkong atau setara Rp 87,2 juta.

Untung, di Penjara Lai Chi Kok, di antara tahanan dari berbagai negara, mereka tidak mengalami pengalaman yang tak menyenangkan. Justru sebaliknya. Malah menemukan banyak kawan baru. Itu berkat keterampilan memijat Percil.

Ceritanya, suatu hari, pria kelahiran Banyuwangi tersebut kasihan melihat seorang tahanan asal Afrika yang kakinya keseleo setelah main voli. “Ning kono iki piye ya, bedo karo kene. Keseleo titik hospital (Di sana itu bagaimana ya, berbeda dengan di sini. Keseleo sedikit ke rumah sakit),” ujarnya sambil memeragakan telunjuknya seolah keseleo.

Percil lalu mencari balsam untuk mengurut tahanan tersebut. Karena tak menguasai bahasa Inggris, bahasa isyarat pun jadi andalan. Setelah balsam didapat, pergelangan kaki orang Afrika itu diurut. “Lha kok waras. Oke, good-good, kata dia, kesenengen (Oke, bagus-bagus, kata dia, senang),” lanjutnya.

Tak diduga, pria tersebut kembali. Kali ini membawa banyak tahanan lain yang mengalami masalah serupa. Jadilah, sejak saat itu Percil ”buka praktik”: menyelamatkan tahanan keseleo.

Kemahirannya memijat pun dengan cepat menyebar di antara para tahanan. Dalam sehari, Percil bisa memijat hingga lima orang di penjara. Percil mengaku senang-senang saja melakukan kerja sosial itu. Karena setidaknya membantu dia dan Yudho melupakan sejenak persoalan yang membelit.

Mereka juga tak lupa berterima kasih kepada Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hongkong yang terus mendampingi. Bahkan, mengirim surat resmi ke hakim yang meminta hukuman dua pelawak yang kerap manggung di sela pertunjukan wayang kulit itu diringankan.

Dukungan dari Persatuan Seniman dan Komedian Indonesia (Paski) yang dimotori Eko Hendro Purnomo atau Eko Patrio juga sangat membesarkan hati mereka. Paski sempat datang ke Kementerian Luar Negeri dan menyatakan kesiapan menalangi jika Percil dan Yudho dijatuhi denda.

Di tengah perbincangan, Yudho berpamitan. Dia sudah ingin cepat-cepat pulang ke Ngawi. Ingin segera merasakan ”pulau kapuk” alias kasur di rumah sendiri. ”Aku disikan yo (Saya duluan ya),” ujar Yudho, lantas memeluk Percil. ”Lho aku pisan wis. Ati-ati ya (Saya juga deh. Hati-hati ya),” sahut Percil.

Selama suaminya ditahan, Deni mengaku tak bisa tidur. Rasa kangennya hanya bisa dilampiaskan melalui sambungan telepon setiap pekan. Itu pun hanya lima menit. Untung, banyak datang tawaran manggung saat suaminya ditahan. Sehingga tetap ada kesibukan. ”Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu Mas Percil. Kangen banget rasane,” ujar sinden asal Blitar tersebut.

Setelah berpisah di Juanda dan sampai di kampung masing-masing di Blitar dan Ngawi, Percil dan Yudho pun sama-sama menghelat tasyakuran kemarin. Seperti dilaporkan Jawa Pos Radar Ngawi, di Desa Dumplengan, Ngawi, Yudho bahkan dua kali menggelar tasyakuran. Setelah salat Jumat dan sesudah salat Isya. Itu sesuai dengan nazarnya.

Yudho tiba di desanya tersebut sekitar pukul 04.00 WIB kemarin. Tapi, tiga jam kemudian, dia sudah harus bangun. Sebab, tetangga, kerabat, hingga sejumlah penggemar berdatangan memberikan ucapan selamat. ”Tadi (kemarin) waktu salat Jumat di masjid agung juga banyak yang ngasih selamat,” ungkapnya.

Yudho mengaku masih trauma dengan apa yang dialami di Hong Kong. Karena itu, jadwal manggung di sana pada April dan Agustus mendatang dia batalkan. Sejumlah agenda pentas di Tanah Air dalam waktu dekat juga dijadwal ulang. Itu juga dilakukan Percil. ”Mau istirahat dulu, paling tidak sepuluh harian,” katanya. (*/isd/c9/ttg/jpnn/rom/k11)


BACA JUGA

Sabtu, 15 Desember 2018 07:12

Penularan “Santun”, Pasien Tak Perlu Dijauhi

Stigma HIV/AIDS di kalangan masyarakat masih buruk. Penderitanya kerap dikucilkan:…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:05

Urunan Sayur Saat Hajatan, Ngopi Bareng Kaburkan Zona Merah

“Proactif Policing” yang kerap digaungkan Kapolda Kaltim Irjen Pol Priyo…

Sabtu, 15 Desember 2018 06:06

Beri Bekal Kerja, Dorong Lulusan SMK Miliki Usaha

Pada era sekarang, persaingan dunia kerja semakin ketat. Untuk membuat…

Sabtu, 08 Desember 2018 07:04
Mengintip Pernikahan Putra Kedua dari Wali Kota Balikpapan

Bibit Buah sebagai Tanda Cinta kepada Pasangan dan Lingkungan

Kegigihan Muhammad Rizky mengejar cinta Shindy Bidury Octavia tak bertepuk…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:56

Patroli TNI AL Diperlukan, Pariwisata Bisa Ikut Menyelamatkan

Di balik kesibukan Pasar Manggar, Balikpapan Timur, ada kawasan ekowisata…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:16
Pratu Agung Pujianto Raih Dua Emas Porprov

Persembahkan Medali untuk Calon Istri

Raut bahagia tak bisa disembunyikan Pratu Agung Pujianto. Dua emas…

Kamis, 06 Desember 2018 21:51

Tempat Makan Enak yang Cuma Ada di Bali

  Untuk anda yang ingin mencoba Makanan enak di Bali…

Sabtu, 01 Desember 2018 07:07

Mudahkan Pemerintah Bebaskan Lahan, Mempercepat Pembangunan

Kawasan Industri Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi di Kabupaten Bulungan…

Sabtu, 01 Desember 2018 06:05

Pintar Tangkap Peluang, Berani Berekspansi

Bukan hal mudah bagi Imam Muslikin dalam mengukir kesuksesan sebagai…

Sabtu, 24 November 2018 13:28
Penulis Muda Ini Tak Ingin Asal-asalan Berkarya

Rajin Mencatat Setiap Ide yang Tersirat

Seperti pepatah jatuhnya buah tak jauh dari pohonnya. Seperti itu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .