MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Jumat, 09 Maret 2018 08:43
PLTU KPC Diresmikan Ignasius Jonan
Berkapasitas 3x18 MW, Alirkan Listrik ke 25 Ribu Warga
BAGI LISTRIK KE KUTIM: Menteri ESDM Ignasius Jonan meresmikan PLTU Tanjung Bara dan penyaluran excess power dari KPC ke PLN di Tanjung Bara, kemarin (8/3). Ini disambut baik oleh semua pihak karena sangat memberi manfaat bagi masyarakat Kutim.

PROKAL.CO, PT Kaltim Prima Coal (KPC) tak henti-hentinya berkontribusi bagi Kutim. Kali ini melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Bara. Perusahaan tambang itu siap menyuplai listrik untuk ribuan warga.

PLTU Tanjung Bara di Sangatta Utara diresmikan langsung oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, kemarin (8/3). Disaksikan pula oleh Wakil Ketua MPR Mahyudin, Ketua DPRD Kutim Mahyunadi, Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang, dan pejabat-pejabat penting lain, serta ratusan tamu.

Ignasius Jonan sangat mengapresiasi KPC dalam upayanya meningkatkan kapasitas listrik Kutim melalui PLTU yang bekerja sama dengan PT Citra Kusuma Perdana (CKP) tersebut. Hal itu diyakini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peresmian PLTU tersebut bersamaan dengan peresmian penyaluran excess power alias izin penjualan kelebihan tenaga listrik. Juga, sekaligus meresmikan pabrik pakan ternak KPC yang dikenal dengan sebutan Pesat. Program pemanfaatan lahan lepas tambang tersebut dibangun sejak 2009. 

Ignasius sangat mendukung pembagian sepertiga dari 3x18 MW tersebut untuk masyarakat. Sebab, masyarakat menerima manfaat langsung dari upaya tersebut. "Makanya, saya datang. Sebab, sepertiga dari 3x18 MW dijual ke PLN dengan harga yang kompetitif. Saya harap, ke depan KPC bisa membangun PLTU lagi dengan kapasitas lebih besar,” imbuhnya.

Dia mengatakan, KPC sempat mengusulkan agar perusahaan tambang di Kutim maupun Kaltim membangun PLTU mulut tambang masing-masing. Sebab, Kaltim memiliki sangat banyak batu bara.

Ungkap dia, sejauh ini sudah 62 persen rasio elektrifikasi di Kutim. Kehadiran PLTU Tanjung Bara diharap turut membantu. Harapan lainnya, pemkab sudah menargetkan agar tercapai 100 persen rasio elektrifikasi di Kutim pada 2019.

Ignasius memuji berbagai corporate social responsibility (CSR) KPC yang memiliki daya tarik kuat. Seperti PLTU Tanjung Bara, excess power dari KPC, hingga pabrik pakan ternak, semuanya merupakan kepedulian nyata yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang sangat berterima kasih kepada KPC dan Ignasius Jonan yang membantu mendorong percepatan pembangunan Kutim. Dia mengakui, masyarakat Kutim dari 139 desa di 18 kecamatan belum seutuhnya dapat menikmati listrik. Baru 40 desa yang 24 jam teraliri listrik. Sisanya, hanya dialiri listrik pada waktu tertentu.

Dia menjelaskan, beberapa desa menggunakan solar cell, ada pula yang memakai mikro hidro. Ke depan, sudah disiapkan tujuh desa lagi yang dialiri listrik 24 jam. “Dengan adanya PLTU dari KPC, akan meringankan pemkab dalam mengalirkan listrik ke masyarakat,” ujarnya.

Chief Operating Officer KPC M Rudy menjelaskan, PLTU Tanjung Bara berkapasitas 3x18 MW tersebut dapat dinikmati 25 ribu lebih warga Sangatta dan sekitarnya. Listrik dijual dengan harga rendah ke PLN, sehingga dapat dibeli masyarakat dengan murah.

Terang dia, keberadaan excess power memberikan multiplier effect terhadap masyarakat di area sekitar PLTU Tanjung Bara. Ada 25.578 kepala keluarga di Sangatta yang akan menikmati listrik itu. 

Proyek PLTU itu dibangun sejak Oktober 2011 dengan nilai investasi USD 150 juta. Kehadiran excess power ini melengkapi kapasitas PLTU Tanjung Bara, sehingga kapasitas PLTU Tanjung Bara menjadi 64 MW.

Dari total kapasitas tersebut, terang dia, 30 MW digunakan untuk kebutuhan listrik di lingkungan KPC (captive power) dan 34 MW sisanya merupakan excess power. Jadi, 18 MW di antaranya telah berkontrak atau diperjualbelikan kepada PLN.

“Guna memproduksi excess power, pembangkit ini membutuhkan batu bara sekitar 256.122 ton per tahun dengan nilai kalori sebesar 4700 GAR (gross air received),” ulasnya.

Penerima manfaat dari keberadaan Pesat pada sisi hulu yaitu 10 kelompok tani, 2 jasa fasilitator edukasi, 2 BUMDes, 2 lembaga penyedia sapi bakalan, serta 4 tenaga kerja lokal pada tahap produksi. Sedangkan penerima manfaat di sisi hilir yaitu 5 kelompok ternak unggas, 10 kelompok ternak sapi, jasa pemasaran, dan 2 lembaga jasa katering. (soc/mon/dwi/k8)


BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Sabtu, 02 Juni 2018 01:56

Warga Amankan Diri karena Letusan Diikuti Getaran

                                                      …

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .