MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 09 Maret 2018 08:30
Tawau Mengendalikan Kita

PROKAL.CO, Tingginya permintaan kepiting bertelur di Malaysia dan Tiongkok jadi buah simalakama. Petambak terpaksa kucing-kucingan karena pemerintah melarang ekspor. Hukum dilawan demi rupiah tebal. Berikut perbincangan Kaltim Post dengan kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Balikpapan Sab Lestiawan, Selasa (6/3), di kantornya.

 

Penjualan ilegal kepiting bertelur tujuan Malaysia terus terjadi…

Begini, penjualan ke Tarakan, Balikpapan, Banjarmasin, muaranya adalah Tawau, Malaysia. Pengusaha di sana (Tawau) berani kasih harga tinggi dan keuangan yang mudah. Itulah kenapa kita sekarang berkali-kali menangkap, dan masih ada. Pelaku adalah orang-orang baru. Mereka tertarik, mereka tidak akan berhenti. Peminjaman uang dipermudah, kalau ada masalah mereka bantu.

 

Temuan Anda di lapangan?

Saya sudah sampai Tawau. Melakukan sosialisasi terkait masalah ini. Memang berat, pemerintah sana (Malaysia) mendukung. Kemudian, para pemain adalah pelaksana, police marine juga ikut mendukung. Jadi, kalau ada speedboat yang membawa dari Tarakan, kita kejar dan sampai perairan Ambalat, police marine Malaysia sudah mengatur, itu asal mulanya. Pelaku yang kita tangkap kemarin adalah orang baru. Yang lain pada kapok.

 

Berapa jumlah ekspor kepiting dari Tarakan menuju Tawau?

Dalam sehari, melalui jalur resminya itu 6–7 ton. Kalau yang ilegal saya tidak tahu, karena tidak punya datanya.

 

Mengapa Tawau begitu vital dalam mengendalikan ekspor ilegal kepiting bertelur dari Indonesia?

Memang, ketika ditelusuri, kita kalah dari Tawau. Tawau mengendalikan kita. Kita tidak bisa mengendalikan mereka. Yang mereka kendalikan, pertama soal harga. Mereka yang mengatur. Kalau mereka perlu, kita tergiur. Di sini (Kalimantan) kepiting harganya Rp 70–100 ribu per kilogram. Di Malaysia bisa Rp 240–300 ribu. Di sini, kepiting bertelur murah. Sementara di Tawau dicari, sehingga mahal. Itulah mengapa Tawau sekarang bisa mengekspor kepiting 15–16 ton sehari.

 

Apakah otoritas Malaysia terlibat dalam kasus ini?

Jalur resmi sengaja mereka matikan. Karena konsumsi kepiting bertelur di Tiongkok sangat tinggi. Dan Malaysia memanfaatkannya dengan mengumpulkan kepiting dari Indonesia.

 

Jadi, Pemerintah Malaysia tahu jika Indonesia mengatur ekspor kepiting bertelur?

Tahu, sangat tahu mereka. Tapi, mereka tidak ingin melewatkan keuntungan di depan mata. Itulah mereka bisa mengekspor sampai 16 ton dalam sehari.

 

Jalur ilegal perdagangan kepiting bertelur hingga Malaysia lewat mana saja?

Dari Samarinda atau Balikpapan menuju Bontang, Sangatta, Berau, Tanjung Selor, lalu Tarakan. Diangkut melalui jalur darat. Pakai mobil. Setiba di Tarakan, kepiting direkondisi. Maksudnya, dibasahi sehingga tidak mati. Ada juga kepiting yang di dalam boks itu diberi lapisan daun pisang sehingga lembap.

 

Di Tarakan melalui pelabuhan resmi?

Pakai speedboat. Ada pelabuhan rakyat. Memanfaatkan rumah-rumah di pinggir laut.

 

Apakah masyarakat sudah tahu jika ada aturan larangan ekspor kepiting bertelur setelah 5 Februari tiap tahunnya?

Sudah tahu. Mereka sudah tahu soal itu.

 

Upaya yang mesti dilakukan agar kepiting bertelur tidak terus dieksploitasi negara lain?

Jalur darat diperketat pengawasannya. Kita harus mengendalikan tata niaga dalam negeri. Kepiting ini barang mahal, sehingga harus menguntungkan kita. Masyarakat juga harus diedukasi agar mencintai sumber daya dalam negeri. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 08 Juni 2018 09:09

Menggantung Asa di Program Pusat

GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan,…

Jumat, 08 Juni 2018 09:05

Teliti Developer sebelum Membeli Rumah

NEGARA mengatur rakyatnya memiliki hak terhadap papan yang memadai, sebagaimana tertulis dalam UUD 1945.…

Jumat, 08 Juni 2018 09:03

TAK MUDAH..!! Rumah yang Bisa Dikredit dengan Harga Bersahabat

SEPTIANI (23), kini berumah tangga dengan Ivandi (23). Tidak hanya berdua, mereka kini memiliki putri…

Jumat, 08 Juni 2018 09:01

Warga Susah dapat Rumah, Reduksi dengan DP Nol Persen

MENDIRIKAN jutaan unit hunian tak serta-merta mengurangi kesenjangan kepemilikan rumah. Warga tetap…

Senin, 04 Juni 2018 22:00

Siraman Rohani untuk Generasi Menunduk

CATATAN: M RIDHUAN SAYA termasuk generasi menunduk. Pada zaman digital saat ini, khususnya pekerja media,…

Senin, 04 Juni 2018 21:10

DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai.…

Senin, 04 Juni 2018 21:02

Jatuh Bangun Empat Dekade

SIANG itu, meski matahari sedang terik-teriknya, Hasyim masih saja sibuk dengan cangkul, kapak, serta…

Senin, 04 Juni 2018 08:37

Menyesuaikan Gaya, Menyentuh Anak Muda

MUHAMMADIYAH salah satu organisasi Islam Tanah Air yang punya peran besar dalam menyebarkan dakwah.…

Senin, 04 Juni 2018 08:30

Santun Jadi Modal Utama

DALAM memberikan nasihat dakwah, yang pertama adalah dengan hikmah. Ini prinsip pertama yang hendaknya…

Senin, 04 Juni 2018 08:24

“Siapa Pun Harus Bisa Menikmati Dakwah”

EKSISTENSI Hidayatullah sudah hampir lima dekade. Tak hanya di Balikpapan, pondok pesantren yang didirikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .