MANAGED BY:
SELASA
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 08 Maret 2018 08:57
Dianggap Berlebihan, Hapus Kebebasan Hak Pribadi
JADI PERDEBATAN: Larangan mengenakan cadar di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menuai kritik.

PROKAL.CO, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta jadi perbincangan. Larangan mengenakan cadar bagi mahasiswi jadi penyebab. Bahkan, rektor kampus tersebut akan mengeluarkan mahasiswi yang melanggar.

 

DINA ANGELINA, Balikpapan

NICHA RATNASARI, Jakarta

 

ATURAN larangan mengenakan cadar itu tertuang dalam Surat Keputusan bernomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018. Dalam regulasi yang ditandatanganinya itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi menyebut, kampusnya menganut Islam moderat. Menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan berkeadilan. “Bercadar itu berlebihan,” ucapnya.

Menanggapi itu, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan KH Muhlasin mengatakan, tak setuju atas larangan bercadar. Menurutnya, hingga kini penggunaan cadar juga masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang mengatakan cadar hukumnya wajib untuk menjaga fitnah dari orang yang bukan muhrim. Namun, ada pula yang mengatakan sunah hingga makruh karena dianggap berlebihan.

Namun, terlepas dari beragam pendapat ulama itu, Muhlasin menegaskan, pemakaian cadar bukan sebuah larangan dalam Islam. Sebab, tak ada ayat Alquran maupun hadis yang menjelaskan secara pasti tentang penggunaan cadar. Maka, hal ini banyak mengundang perdebatan bagi ulama. Jika ada ayat atau hadis yang pasti, tentu tak perlu terjadi perbedaan pendapat tersebut.

“Dalam hal ini, tidak ada ayat yang pasti menyangkut menutup wajah dengan cadar, tapi tidak ada pula ulama yang sampai melarang. Semestinya, lembaga atau instansi mana pun tidak boleh membatasi muslimah untuk menutup wajahnya dengan cadar,” sebutnya.

Selain itu, larangan bercadar dianggap sebagai suatu pembatasan kebebasan hak pribadi seseorang. Muhlasin menyebutkan, ada hak seseorang dalam mengekspresikan agama dan keyakinannya. Adanya larangan tersebut, sama saja membatasi hak seseorang yang ingin melaksanakan salah satu keyakinannya dalam menjalankan syariat agama. Meski ulama sendiri masih berbeda pendapat tentang penggunaan cadar.

Terkecuali, bila instansi tersebut mempunyai alasan tertentu serta masuk akal untuk memberlakukan aturan tersebut. “Kalau melarang alasannya harus jelas dan masuk akal, bisa diterima dari sudut pandang apapun. Jadi, tidak serta melarang, misalnya hanya karena ada kekhawatiran munculnya penganut radikal,” ucapnya.

Muhlasin meyakini, penggunaan cadar dan berkembangnya paham radikal tak memilki keterkaitan secara langsung. Sebab, cadar atau cara berpakaian seseorang tidak bisa menjadi tolok ukur seseorang menganut paham radikal. Ibaratnya, pakaian seperti casing, kalangan dan agama apapun dapat memakainya.

“Pakaian tidak terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan ideologi seseorang. Kalau penganut radikal atau ekstrem, bisa saja memiliki tampilan pakaian dan agama apa saja,” imbuhnya. Dia menjelaskan, sesungguhnya sebagian besar ulama menyatakan wajah tidak termasuk aurat. Tetapi, penggunaan cadar dilakukan untuk menjaga kehormatan perempuan dari yang bukan muhrimnya.

“Walau ulama berbeda pendapat, tapi tidak ada ulama yang mengatakan cadar itu dilarang. Maksimal, mereka hanya bilang makruh, tapi bukan haram,” tuturnya. Dia menyarankan, sebaiknya kampus tak perlu membatasi penggunaan cadar hingga seperti itu.

Sebagai informasi, UIN Sunan Kalijaga mengaku memiliki beragam alasan untuk membuat larangan penggunaan cadar. Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Sahiron Syamsuddin mengatakan, penerapan aturan ini bertujuan agar para dosen mengetahui dan mengenali wajah mahasiswinya saat berada di dalam kelas. Belum lagi, mahasiswa yang bercadar di kampus rata-rata tidak membaur dengan mahasiswa lainnya.

Dalam SK tersebut berisi pernyataan, kampus akan memberikan layanan konseling dan pendampingan pada mahasiswi bercadar. Ini dilakukan agar mahasiswi tersebut mau melepaskan cadarnya saat berada di area kampus UIN.

Namun, jika mahasiswi masih keberatan melepas cadarnya, pihak kampus dengan tegas akan mengeluarkan mahasiswi yang bersangkutan. Selain itu, apabila setelah konseling mahasiswi tersebut terindikasi berpaham radikal, pihak kampus akan mengambil sanksi tegas.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan, pihaknya tidak pernah melarang mahasiswi mengenakan cadar. Menurutnya, hal tersebut merupakan hak pribadi seseorang. “Justru yang harus diperhatikan oleh kampus adalah kemunculan radikalisme. Itu yang penting. Jangan sampai terjadi,” tegas Nasir.

Dia mengatakan, pemerintah tidak pernah mengeluarkan larangan terkait dengan cara berpakaian mahasiswa di kampus, utamanya adalah pakaian yang sopan, rapi, dan bersih. “Lah, tentang mereka berpakaian, katakan kalau yang pria pakai kopiah, boleh enggak? Ya silakan, asal memenuhi etika. Itu saya serahkan kepada masing-masing perguruan tinggi lah. Kami tidak mengatur hal itu. Yang kami atur adalah kalau ada kampus yang menuju pada radikalisme itu yang harus kita cegah dan antisipasi,” jelasnya.

Namun begitu, Nasir menerangkan, mengenakan cadar ataupun kopiah jangan sampai timbul sikap diskriminasi di lingkungan kampus. Menurutnya, semua orang harus mendapatkan hak dalam proses pembelajaran dan hidup berdampingan antarsesama, suku, ras, dan agama. “Tapi, kalau arahnya radikalisme, itu enggak boleh. Maka, masalah ini kami serahkan sepenuhnya ke perguruan tinggi. Kalau sampai radikalisme terjadi, justru rektor yang saya panggil,” tegasnya.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamarudin Amin mengungkapkan, masalah ini timbul kemungkinan bukan disebabkan persoalan cadar. Pasalnya, tidak ada alasan syariat yang melarang seseorang mengenakan cadar.

“Pertimbangannya mungkin sosiologis, ideologis, dan proses belajar-mengajar. Kalau pakai cadar mungkin dikhawatirkan pergaulannya menjadi eksklusif, tidak membaur, demikian juga pikiran dan perilaku keagamaannya dikhawatirkan eksklusif,” tulis Kamarudin dalam pesan singkatnya.

Tak hanya itu, Kamarudin menerangkan, kemungkinan penyebab lainnya adalah kaum bercadar dikhawatirkan terpenetrasi ideologi tertentu. Jadi, pihak UIN ingin melakukan pembinaan khusus meski tetap harus ada pembuktian. “Saya kira langkah pembinaan yang akan dilakukan pihak UIN bagus,” katanya.

Kamarudin menegaskan, Kemenag akan ikut mengawasi kampus UIN dan meminta pembinaan dapat dilakukan searif mungkin. Lantas, bagaimana jika kampus tetap mengeluarkan mahasiswa yang bercadar? “Kami lihat nantilah alasannya apa,” pungkasnya.

Adapun, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, pihaknya harus mendengarkan alasan pihak UIN terlebih dahulu soal melarang mahasiswi mengenakan cadar. “Cadar itu boleh, tapi ada aspek apa UIN melarang? Kami mendengar apa, kalau ada yang masuk akal, kami cari tahu dulu. Mengenakan cadar itu bagus dari Islam, menutup aurat,” jawabnya singkat. (rom/k11)


BACA JUGA

Sabtu, 10 November 2018 06:56

Banyak Ingin Mengadopsi, Segudang Harapan untuk Abidah Nur Ghania

Nasib bayi yang terbuang selalu banyak yang menginginkan. Seperti itu…

Sabtu, 10 November 2018 06:43

Enam Generasi Terisolasi, Kini Berkah Bertubi

Menjelang peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November, warga…

Sabtu, 10 November 2018 06:11

Ingin Kenalkan Paser lewat Batik

Bermodal kegigihan, pembatik Paser Suliono berhasil menjadikan batik Paser sebagai…

Sabtu, 03 November 2018 06:57

Sangat Nyaman Dilintasi, Teringat Jembatan Balikpapan-Penajam

Jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Zhuhai, dan Makau, sudah diresmikan…

Kamis, 01 November 2018 10:11

Stop Makan Nasi, Kopi Jadi Sumber Energi

Tren minum kopi hitam tanpa gula semakin menjamur di Indonesia.…

Sabtu, 27 Oktober 2018 08:34

Jatuh Cinta dengan Majikan, Pemuda Ini Nikahi Janda 67 Tahun

 Ini kisah nikah beda usia yang terpaut jauh. Muhamad Idris,…

Sabtu, 27 Oktober 2018 02:07

Awalnya 16 Kapal yang Melayani, Kini Tersisa Tiga

Tanpa digratiskan pun, Jembatan Suramadu sudah menggerus habis kejayaan penyeberangan…

Sabtu, 27 Oktober 2018 01:51

Media Efektif Tangkal Hoax di Sosmed

Kaltim Post menjadi salah satu media yang memiliki rubrik khusus…

Minggu, 21 Oktober 2018 10:53

Pramugari Nyerah, Punya Suami yang Brutal di Ranjang

Mungkin Donwori, 31, berpikir jika Karin, 29, ini Dakota Johnson dalam…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:46

Syaratnya, Jangan Berisik, Jangan Menatap, Jangan Mendongak

Bisa bertemu orangutan dari jarak dekat adalah “kemewahan” yang ditawarkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .