MANAGED BY:
MINGGU
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Kamis, 08 Maret 2018 08:57
Ketika UIN Sunan Kalijaga Melarang Mahasiswi Bercadar
Dianggap Berlebihan, Hapus Kebebasan Hak Pribadi
JADI PERDEBATAN: Larangan mengenakan cadar di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta menuai kritik.

PROKAL.CO, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta jadi perbincangan. Larangan mengenakan cadar bagi mahasiswi jadi penyebab. Bahkan, rektor kampus tersebut akan mengeluarkan mahasiswi yang melanggar.

 

DINA ANGELINA, Balikpapan

NICHA RATNASARI, Jakarta

 

ATURAN larangan mengenakan cadar itu tertuang dalam Surat Keputusan bernomor B-1031/Un.02/R/AK.00.3/02/2018. Dalam regulasi yang ditandatanganinya itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi menyebut, kampusnya menganut Islam moderat. Menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan berkeadilan. “Bercadar itu berlebihan,” ucapnya.

Menanggapi itu, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan KH Muhlasin mengatakan, tak setuju atas larangan bercadar. Menurutnya, hingga kini penggunaan cadar juga masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ada yang mengatakan cadar hukumnya wajib untuk menjaga fitnah dari orang yang bukan muhrim. Namun, ada pula yang mengatakan sunah hingga makruh karena dianggap berlebihan.

Namun, terlepas dari beragam pendapat ulama itu, Muhlasin menegaskan, pemakaian cadar bukan sebuah larangan dalam Islam. Sebab, tak ada ayat Alquran maupun hadis yang menjelaskan secara pasti tentang penggunaan cadar. Maka, hal ini banyak mengundang perdebatan bagi ulama. Jika ada ayat atau hadis yang pasti, tentu tak perlu terjadi perbedaan pendapat tersebut.

“Dalam hal ini, tidak ada ayat yang pasti menyangkut menutup wajah dengan cadar, tapi tidak ada pula ulama yang sampai melarang. Semestinya, lembaga atau instansi mana pun tidak boleh membatasi muslimah untuk menutup wajahnya dengan cadar,” sebutnya.

Selain itu, larangan bercadar dianggap sebagai suatu pembatasan kebebasan hak pribadi seseorang. Muhlasin menyebutkan, ada hak seseorang dalam mengekspresikan agama dan keyakinannya. Adanya larangan tersebut, sama saja membatasi hak seseorang yang ingin melaksanakan salah satu keyakinannya dalam menjalankan syariat agama. Meski ulama sendiri masih berbeda pendapat tentang penggunaan cadar.

Terkecuali, bila instansi tersebut mempunyai alasan tertentu serta masuk akal untuk memberlakukan aturan tersebut. “Kalau melarang alasannya harus jelas dan masuk akal, bisa diterima dari sudut pandang apapun. Jadi, tidak serta melarang, misalnya hanya karena ada kekhawatiran munculnya penganut radikal,” ucapnya.

Muhlasin meyakini, penggunaan cadar dan berkembangnya paham radikal tak memilki keterkaitan secara langsung. Sebab, cadar atau cara berpakaian seseorang tidak bisa menjadi tolok ukur seseorang menganut paham radikal. Ibaratnya, pakaian seperti casing, kalangan dan agama apapun dapat memakainya.

“Pakaian tidak terkait baik langsung maupun tidak langsung dengan ideologi seseorang. Kalau penganut radikal atau ekstrem, bisa saja memiliki tampilan pakaian dan agama apa saja,” imbuhnya. Dia menjelaskan, sesungguhnya sebagian besar ulama menyatakan wajah tidak termasuk aurat. Tetapi, penggunaan cadar dilakukan untuk menjaga kehormatan perempuan dari yang bukan muhrimnya.

“Walau ulama berbeda pendapat, tapi tidak ada ulama yang mengatakan cadar itu dilarang. Maksimal, mereka hanya bilang makruh, tapi bukan haram,” tuturnya. Dia menyarankan, sebaiknya kampus tak perlu membatasi penggunaan cadar hingga seperti itu.

Sebagai informasi, UIN Sunan Kalijaga mengaku memiliki beragam alasan untuk membuat larangan penggunaan cadar. Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Sahiron Syamsuddin mengatakan, penerapan aturan ini bertujuan agar para dosen mengetahui dan mengenali wajah mahasiswinya saat berada di dalam kelas. Belum lagi, mahasiswa yang bercadar di kampus rata-rata tidak membaur dengan mahasiswa lainnya.

Dalam SK tersebut berisi pernyataan, kampus akan memberikan layanan konseling dan pendampingan pada mahasiswi bercadar. Ini dilakukan agar mahasiswi tersebut mau melepaskan cadarnya saat berada di area kampus UIN.

Namun, jika mahasiswi masih keberatan melepas cadarnya, pihak kampus dengan tegas akan mengeluarkan mahasiswi yang bersangkutan. Selain itu, apabila setelah konseling mahasiswi tersebut terindikasi berpaham radikal, pihak kampus akan mengambil sanksi tegas.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan, pihaknya tidak pernah melarang mahasiswi mengenakan cadar. Menurutnya, hal tersebut merupakan hak pribadi seseorang. “Justru yang harus diperhatikan oleh kampus adalah kemunculan radikalisme. Itu yang penting. Jangan sampai terjadi,” tegas Nasir.

Dia mengatakan, pemerintah tidak pernah mengeluarkan larangan terkait dengan cara berpakaian mahasiswa di kampus, utamanya adalah pakaian yang sopan, rapi, dan bersih. “Lah, tentang mereka berpakaian, katakan kalau yang pria pakai kopiah, boleh enggak? Ya silakan, asal memenuhi etika. Itu saya serahkan kepada masing-masing perguruan tinggi lah. Kami tidak mengatur hal itu. Yang kami atur adalah kalau ada kampus yang menuju pada radikalisme itu yang harus kita cegah dan antisipasi,” jelasnya.

Namun begitu, Nasir menerangkan, mengenakan cadar ataupun kopiah jangan sampai timbul sikap diskriminasi di lingkungan kampus. Menurutnya, semua orang harus mendapatkan hak dalam proses pembelajaran dan hidup berdampingan antarsesama, suku, ras, dan agama. “Tapi, kalau arahnya radikalisme, itu enggak boleh. Maka, masalah ini kami serahkan sepenuhnya ke perguruan tinggi. Kalau sampai radikalisme terjadi, justru rektor yang saya panggil,” tegasnya.

Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kamarudin Amin mengungkapkan, masalah ini timbul kemungkinan bukan disebabkan persoalan cadar. Pasalnya, tidak ada alasan syariat yang melarang seseorang mengenakan cadar.

“Pertimbangannya mungkin sosiologis, ideologis, dan proses belajar-mengajar. Kalau pakai cadar mungkin dikhawatirkan pergaulannya menjadi eksklusif, tidak membaur, demikian juga pikiran dan perilaku keagamaannya dikhawatirkan eksklusif,” tulis Kamarudin dalam pesan singkatnya.

Tak hanya itu, Kamarudin menerangkan, kemungkinan penyebab lainnya adalah kaum bercadar dikhawatirkan terpenetrasi ideologi tertentu. Jadi, pihak UIN ingin melakukan pembinaan khusus meski tetap harus ada pembuktian. “Saya kira langkah pembinaan yang akan dilakukan pihak UIN bagus,” katanya.

Kamarudin menegaskan, Kemenag akan ikut mengawasi kampus UIN dan meminta pembinaan dapat dilakukan searif mungkin. Lantas, bagaimana jika kampus tetap mengeluarkan mahasiswa yang bercadar? “Kami lihat nantilah alasannya apa,” pungkasnya.

Adapun, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin mengatakan, pihaknya harus mendengarkan alasan pihak UIN terlebih dahulu soal melarang mahasiswi mengenakan cadar. “Cadar itu boleh, tapi ada aspek apa UIN melarang? Kami mendengar apa, kalau ada yang masuk akal, kami cari tahu dulu. Mengenakan cadar itu bagus dari Islam, menutup aurat,” jawabnya singkat. (rom/k11)


BACA JUGA

Sabtu, 15 September 2018 01:57

Pangan Masih Bergantung, kalau Gelombang Harga Ikut Bergoyang

Di sejumlah media ramai "diskusi" tentang Rp 100 ribu bisa belanja apa zaman now? Wartawan Kaltim Post…

Sabtu, 15 September 2018 01:47

Cara Belajar Asyik, Butuh Penalaran dan Ketelitian

Matematika untuk sebagian siswa bisa menjadi pelajaran yang menakutkan. Tantangannya ada pada tingkat…

Sabtu, 08 September 2018 06:55

Wajib Perawan, Tes Kejiwaan yang Menentukan

Join the navy to see the world. Kalimat tersebut membakar semangat mereka yang ingin bergabung ke TNI…

Senin, 03 September 2018 08:10

Maju Terus Srikandi-Srikandi Bangsa

Oleh: Kompol Yolanda E. Sebayang SIK MM(Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Kaltim)SATU September lalu merupakan…

Sabtu, 01 September 2018 02:05

Orangtua Ngajar Bimbel, Berangkat ke AS setelah Dapat Sponsor

Rebecca Alexandria Hadibroto menjadi pebalet Indonesia pertama yang meraih first place kompetisi balet…

Kamis, 30 Agustus 2018 11:25

Perjuangan Berakhir di Sawah Lunto

Pada 7 April 1906 terjadi penyerahan kekuasaan Kesultanan Paser oleh Sultan Ibrahim Khaliluddin (Sultan…

Senin, 27 Agustus 2018 11:11
Rekam Jejak Perjuangan Pahlawan Suku Paser; Panglima Sentik

Dapat Gelar setelah Penggal Kepala Bajak Laut

Cukup banyak literasi yang terhimpun untuk mengisahkan perjalanan hidup Panglima Sentik. Karena keterbatasan…

Minggu, 26 Agustus 2018 21:22
Suka Duka Profesi Ulu-Ulu atau Pembersih Sampah Kali Code

Pernah Diajak Duel hingga Dilempar Sampah dari Atas Jembatan

Profesi ini mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat. Ulu-ulu Kali Code. Ya, profesi ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .