MANAGED BY:
SELASA
21 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 07 Maret 2018 08:41
Pelajaran Berhitung Punya Karisma, Tak Pergi Les Malah Stres

Bocah-Bocah Kaltim Peraih Medali Olimpiade Matematika Internasional

BIKIN BANGGA: Dari kiri Ramachandra Darmawan, Alexandra Marcelia Sariputera, dan Felia Kurniawati Ong.

PROKAL.CO, Sembilan pelajar asal Kaltim ikut berpartisipasi dalam Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2018. Seluruh peserta berhasil membawa pulang medali dari kompetisi yang berlangsung di Bangkok, 19–23 Februari. Tiga di antaranya, peraih medali silver.

 DINA ANGELINA, Balikpapan

MASIH lengkap mengenakan seragam merah putih, sepulang sekolah ketiga anak berusia 10 tahun ini merelakan waktu berkumpul di Institute of Mathematics and Science Olympiad (IMSO), Kompleks Balikpapan Baru.

Mereka adalah Ramachandra Darmawan, Felia Kurniawati Ong, dan Alexandra Marcelia Sariputera. Meski raut wajah terlihat lelah, ketiganya masih ceria menyambut kedatangan Kaltim Post dalam pertemuan sore pekan lalu.

Dalam obrolan santai, sembari tersipu-sipu, mereka menceritakan ketertarikan dalam mata pelajaran matematika. Bagi ketiganya, matematika ibarat sebuah hobi. Mereka pun tak menyangka, berhasil ikut kompetisi internasional lewat matematika. Selama satu tahun terakhir, ketiganya mendapat kesempatan melalui bantuan lembaga IMASO.

Teranyar, mereka ikut berpartisipasi dalam TIMO. Kompetisi ini diikuti oleh ratusan peserta dari grade 1-6. Melawan ratusan peserta yang berasal dari 10 negara. Singapura, Indonesia, Thailand, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Filipina, Hong Kong, Bulgaria, dan Iran. Prestasi yang luar biasa sebab anak Benua Etam berhasil mengumpulkan medali ajang bergengsi tersebut.

Dari ketiga anak berprestasi ini, Ramachandra ibarat sang leader. Dia merupakan siswa kelas VI dari SD Patra Dharma (PD) 3. Sementara kedua rekannya masih duduk di bangku kelas V. Putri tunggal dari Kadek Agus Darmawan dan Agustina Sri Hartiningsih itu sudah mengenal matematika sejak usia dini. Tepatnya saat mempelajari teknik berhitung sempoa, kala menginjak usia 4 tahun.

Sejak saat itu, Rama– sapaan Ramachandra–merasa matematika memiliki tempat tersendiri di hatinya. Dia pun mulai asyik menyelami dunia berhitung. Rama baru mendapat kesempatan berkompetisi dalam olimpiade selama dua tahun terakhir. Semula berawal dari ajakan pendiri IMASO, dia menawarkan Rama agar serius mendalami matematika, khususnya untuk ajang olimpiade.

“Kemudian sekolah juga mendorong saya ikut olimpiade. Akhirnya saya coba ikuti, lama-lama merasa senang dan mengalir saja ikut berbagai lomba,” katanya. Dalam ajang TIMO 2018, Rama meraih medali silver untuk kategori grade 6. Pengalamannya dalam menjajal beragam kompetisi matematika terhitung cukup banyak.

Selama 2017, Rama aktif dalam berbagai kompetisi matematika. Mulai Mathlympic, Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO), Japan International Science and Math Olympiads (JISMO), American Mathematics Olympiad (AMO), International Mathematics Competition (IMC) India, International Singapore Math Competition (ISMC), dan sebagainya. Dari beragam kompetisi itu, dia memboyong medali merit, bronze, dan silver.

Dalam momen awal 2018, Rama sudah mengikuti tiga kompetisi. Selain TIMO, dia baru menyelesaikan kompetisi Proyeksi Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Matematika (Prisma) dan Asah Terampil Matematika (Astramatika). Setelah pulang dari Bangkok, Rama tak langsung bertolak ke Balikpapan. Dia harus terbang ke Makassar mengikuti final olimpiade matematika Prisma.

Bersama seorang rekannya yang berasal dari SD PD 3, tim Rama berhasil lolos hingga babak semifinal. Menurut dia, kompetisi dalam negeri terasa lebih sulit. Murid yang berdomisili di daerah Pupuk Timur, Balikpapan, ini akhirnya baru menginjakkan kaki di Balikpapan, Senin (26/2).

Sebelum berangkat ke Negeri Gajah Putih, Rama tentu harus rela meluangkan banyak waktu untuk latihan. Intensitas asah kemampuan meningkat dari biasanya. Jika tak ada kompetisi, jadwal berlatih di IMASO hanya dua kali dalam seminggu. Namun, mendekati waktu lomba, Rama mengaku bisa datang berlatih sesering mungkin, hampir setiap hari.

“Kalau tugasnya belum selesai, saya kerjakan di rumah ditemani Mama. Tapi itu kalau masih kuat dan mood belajar lagi,” ucapnya dengan polos. Selain di IMASO, Rama mendapatkan pelatihan di sekolah bersama dengan pembimbing guru matematika dalam ekstrakurikuler Math Club.

Kesibukannya dalam mengejar ilmu tak main-main, bahkan Rama tak pernah punya waktu kosong. Dia jarang berada di rumah karena padatnya les. Setiap hari, dia menghabiskan waktu di luar rumah dari pukul 07.00 Wita hingga 22.00 Wita. Selain menjalani aktivitas utama yakni bersekolah hingga pukul 15.00 Wita. Selanjutnya, Rama mengisi waktu luang dengan mengikuti berbagai les.

Selain IMASO, dia aktif mengikuti berbagai bimbingan belajar dalam satu minggu. Misalnya, les bahasa Inggris di English First (EF), Kumon, Primagama, Arta, dan renang. Masih terasa kurang, dia juga menjalani les musik seperti piano dan vokal. Dari semua jadwal itu, ada pula kegiatan yang berlangsung privat di rumah.

“Jadi setiap hari ada les, begitu terus kegiatannya selama minggu. Libur hanya kalau ada tanggal merah dan saat jadwal les libur,” tutur anak yang bercita-cita menjadi dokter tersebut. Hal yang menarik, Rama mengaku tak tertekan dengan padatnya aktivitas. Dia menjalaninya dengan bahagia dan atas keinginan diri sendiri, tanpa paksaan orangtua.

Dia merasa, berada di rumah justru membuat stres. Posisinya sebagai anak tunggal membuatnya bingung tak ada teman bermain jika pulang ke rumah. Sehingga, Rama lebih senang menghabiskan waktu dengan banyak kegiatan karena dapat bertemu teman di luar. Selain itu, aktif mengikuti berbagai kompetisi tidak terlepas dari dorongan sang Mama.

Rama bercerita, mamanya selalu memberinya target untuk menguasai materi di atas rata-rata. Misalnya saat dia berada di kelas V, Rama ditantang untuk dapat menguasai materi pelajaran kelas VI. “Mama juga sering memotivasi saya, misalnya akan memberikan hadiah jika saya berhasil juara,” ujar anak kelahiran 25 Mei 2007 itu.

Mamanya merupakan orang yang tak pernah lupa mengingatkan dia untuk belajar. Rama tidak boleh bermain gadget kecuali dalam pengawasan sang ibunda. Alih-alih bermain game di gadget, Rama malah memilih membaca novel dan buku humor sebagai hobinya. “Saya suka membaca novel berjudul Kecil-kecil Punya Karya dan buku humor,” imbuhnya.

SERING IKUT KOMPETISI

Tak jauh berbeda dengan Rama, Alexandra Marcelia juga sering mengikuti berbagai kompetisi matematika. Murid kelas V SD Katholik Santa Theresia itu pernah meraih medali silver dalam World Mathematics Invitational (WMI) 2016 dan SEAMO 2017. Kemudian medali bronze Singapore and Asian Schools Math Olympiad (SASMO) 2016, medali bronze ASMO 2017, dan lain-lain.

Celia, panggilan akrabnya, sudah mengikuti kompetisi tersebut selama dua tahun terakhir. Sedari dia naik ke kelas IV SD. Meski sudah mengikuti beragam kompetisi, TIMO menjadi ajang yang paling berkesan bagi putri bungsu pasangan Kristoforus Vimala (alm) dan Pontjo Setyo Tjahyo itu.

Alasannya karena kesempatan bertemu dengan peserta lain, baik sesama asal Indonesia dan negara lain. Ditambah lagi, dia berhasil meraih medali silver pada kategori grade 5. “Kami juga tukaran suvenir dengan peserta negara lain. Tidak ada suasana seperti lomba,” sebut juara I Try Out Primagama Balikpapan 2017.

Celia menuturkan, lembaran soal berisi 30 pertanyaan dalam ajang TIMO justru terasa lebih mudah dibandingkan dengan kompetisi lain yang pernah dia ikuti. Bocah kelahiran 9 April 2007 ini menyatakan baru intens latihan setelah mengetahui dirinya lolos seleksi tingkat nasional, 3 Januari lalu. Meski sering belajar matematika, dia tak pernah merasakan bosan.

Kata Celia, matematika justru pengobat stres. Pelajaran ini memiliki karisma berbeda karena penuh dengan hitungan dan tak membuatnya pusing kepala. Berbeda dengan mata pelajaran lain yang terasa susah. Sebab, lebih banyak mengandalkan kemampuan menghafal. “Materi yang paling sulit geometri, kemarin bisa stres dan akhirnya nangis karena tidak ketemu jawaban," ucapnya, tertawa.

Sehari-hari, Celia tak hanya fokus dalam mendalami bidang matematika. Dia juga ikut les privat bahasa Inggris, piano, serta biola. Ternyata dalam hati kecilnya, Celia tertarik menekuni dunia seni. Selain les musik, dia senang dengan drama. Bahkan, profesi sebagai aktris merupakan cita-cita yang dia dambakan pada masa mendatang.

Wajar saja, Celia memiliki hobi yakni menonton film bergenre action dan komedi. Dia sangat anti dengan film drama percintaan. "Nanti saya ingin coba ikut kegiatan drama di sekolah," tuturnya. Cerita berbeda datang dari Felia Kurniawati Ong. Siswa SD Pelita Hati ini terhitung baru mencoba dunia olimpiade matematika, kurang lebih setahun terakhir ini dia fokus mendalami matematika.

"Awalnya karena diajak guru, saya ikut math club di sekolah. Dari situ rasanya mulai senang matematika," ucap putri pasangan James Kurniawan Ong dan Anny Yuliana Kandili Kwan. Menurut dia, pelajaran matematika lebih menantang dibanding pelajaran lain. Soal matematika yang perlu ketelitian dalam menghitung ternyata terasa menyenangkan.

Bungsu dari empat bersaudara ini mengungkapkan, mata pelajaran lain tak memiliki daya tarik sekuat matematika. Keberhasilannya meraih medali silver TIMO dalam grade 5 sangat berkesan. Momen kali pertama Felia berhasil membawa pulang medali di kompetisi internasional. Hal ini membuatnya terpicu mengikuti beragam lomba lainnya.

"Saya pernah ikut lomba nasional, tapi ini paling berkesan karena kompetisi di luar negeri dan pulang bawa medali," ucapnya, tersenyum. Selama ini, Felia mempersiapkan diri dengan berlatih sebanyak dua kali dalam seminggu di IMASO dan Primagama. Sisanya, dia lebih banyak belajar di sekolah misalnya melalui kegiatan math club.

Bocah kelahiran 10 September 2007 itu bercerita, sehari-sehari dia baru berada di rumah sekitar pukul 18.00 Wita. Setelah menyelesaikan sekolah dan bimbingan belajar, Felia bisa berkumpul dengan keluarga pada malam hari. "Kalau di rumah, biasanya setelah bangun tidur baru menyempatkan baca buku. Jadi sebelum berangkat ke sekolah sambil ingat pelajaran terakhir," sebutnya.

Tentu jika Felia berada di rumah, sang ibu kerap mengontrol waktu bermain anaknya agar berimbang dengan waktu belajar. "Mama sering bilang belajar dulu sebelum main, jangan main terus," kata anak yang bercita-cita menjadi desainer tersebut. Felia memang memiliki hobi menggambar sejak kecil. Setiap ada waktu luang, dia memilih untuk menggambar hal apa saja, terutama yang berbau anime.

Setelah TIMO berakhir, Sabtu (3/3), ketiga siswa ini akan mengikuti seleksi ISMC 2018. Rama mengatakan, biasanya soal akan lebih sulit karena materi yang full menggunakan bahasa Inggris. Jika TIMO kebanyakan soal logika, ISMC akan lebih banyak melibatkan rumus.

Sementara itu, guru pembimbing dari IMASO, Tedy Zainul Arifin, menjelaskan, ada perjalanan yang perlu dilalui siswa sebelum masuk kompetisi final di Bangkok, Thailand. Kesembilan delegasi asal Kaltim tersebut telah melalui proses seleksi nasional. Khusus di Balikpapan, lokasi seleksi berlangsung di SD KPS.

Dari total peserta sekitar 80 orang, terjaring 43 orang yang berhasil meraih medali. Peserta yang mendapat juara dalam seleksi berkesempatan untuk ikut dalam kompetisi final. Kemudian terpilih sembilan orang terbaik asal Kaltim. Enam orang berasal dari Balikpapan dan tiga orang berasal dari Samarinda.

"Mereka yang lolos dalam seleksi, kami tawarkan agar siswa ikut final di kompetisi tingkat internasional. Kadang ada orangtua yang takut atau tidak percaya diri. Tapi kami beri keyakinan, bahwa kami siap beri pendampingan. Jika setuju, kami daftarkan peserta itu," bebernya.

Sebagai informasi, IMASO merupakan lembaga yang memiliki lisensi dan jaringan untuk masuk ke olimpiade internasional. Lembaga ini terbentuk dari para orangtua murid yang minat dan tertarik dengan olimpiade matematika. "Kami berikan pembinaan kepada siswa yang potensi dan minat dengan olimpiade matematika," ujarnya.

Sejauh ini, hanya IMASO yang punya program pembinaan untuk siswa yang ingin mengikuti olimpiade. Tak hanya itu, IMASO telah mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan kompetisi olimpiade di Balikpapan. Kini, IMASO membuka cabang di Samarinda. Selain pembinaan materi pelajaran, anak-anak mendapat pendampingan agar tidak takut dalam lomba.

Setelah berdiri kurang lebih satu tahun, total anak yang mengikuti kegiatan IMASO mencapai 105 siswa. Mulai jenjang pendidikan TK sampai SMA. Sebagian besar, peserta adalah murid SD. Normalnya, siswa memiliki jadwal pertemuan selama dua kali dalam seminggu. Namun jika kompetisi sudah dekat, mereka bisa bertemu setiap hari. (far/k8)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:11

Sempat Sakit Perut sebelum Upacara, Biasa Panjat Pohon Kelapa

Upacara pengibaran bendera Merah Putih saat HUT Ke-73 Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Pantai Motaain,…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:03

Anggrek, si Eksotis yang Terus Terkikis

Anggrek menjadi salah satu tumbuhan favorit pencinta tanaman hias. Namun, tingginya minat itu berisiko…

Sabtu, 11 Agustus 2018 02:02

Persaingan Ketat, Timnas Bakal Jadi Kuda Hitam

Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2015 di Stadion Utama Palaran, Samarinda menjadi momen debutnya di bola tangan.…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:04

Berkontribusi untuk Ibu-Ibu Puskesmas hingga Astronaut

Bagi para awam, mungkin sulit membayangkan miliaran bakteri bisa terkandung dalam botol minuman bervolume…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .