MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Selasa, 06 Maret 2018 09:05
Angka Hanya dalam Pidato

Gagas Festival Tahunan, Rusman Yaqub: Dewan Kesenian Harus Lebih Agresif

PROKAL.CO, Punya duit Rp 8,5 triliun dalam batang tubuh APBD, Kaltim terbilang pelit untuk urusan seni dan budaya. Hal ini diakui Komisi IV DPRD Kaltim yang membawahi masalah kesejahteraan rakyat. Dalam setiap pembahasan rencana anggaran, DPRD Kaltim tak pernah mendengar ada angka pasti yang disalurkan khusus untuk kesenian dan kebudayaan.

“Hanya muncul saat pidato, menyinggung soal kesenian dan kebudayaan. Tetapi, saya tak melihat angkanya dalam setiap pembahasan anggaran dengan dinas terkait,” ungkap Ketua Komisi IV Rusman Yaqub.

Setahun menjabat ketua komisi itu, politikus PPP tersebut mengaku sebenarnya ingin memajukan kesenian dan kebudayaan Kaltim. Namun, sebagai legislator, dia bukan pengambil kebijakan. Semua ada di tangan eksekutif. DPRD hanya bisa mengusulkan. Itu pun harus memprioritaskan anggaran untuk pendidikan yang memang sudah punya porsi tetap.

“Tetapi, lebih dari itu, kesenian dan kebudayaan Kaltim memang dalam kondisi stagnan. Produktivitasnya pun rendah meski diakui potensinya besar,” ucapnya.

Dengan keterbatasan anggaran, minim pula pembangunan sarana dan fasilitas penunjang. Jangankan membangun, memelihara saja pemerintah kewalahan hingga abai. Memicu seniman dan budayawan Kaltim bergerak dengan kemampuan sendiri untuk mengembangkan potensi. “Ya, bagaimana potensi kesenian dan kebudayaan bisa berkembang jika fasilitasnya saja terbatas?” katanya.

Untuk merangsang pemerintah lebih peduli, dia memberikan masukan agar lembaga kesenian di Kaltim membuat sesuatu yang nyata. Mengusulkan program yang benar-benar terukur secara kemampuan keuangan daerah. Dalam bentuk program pengembangan yang menjadi rujukan pemerintah dan DPRD.

“Dewan Kesenian bisa memulai ini. Atau lembaga kesenian lain yang tumbuh di masyarakat yang sanggup membuat program pengembangan ini,” katanya.

Selama ini, banyak kegiatan seni dan budaya yang dilakukan di Kaltim tak dikelola dengan baik. Jadi, tidak mendapat respons luas di masyarakat. Hanya segelintir yang mengetahui. Ini berbeda ketika seni dan budaya Kaltim ditampilkan di luar daerah yang jadi kantong wisatawan. Malah mendapat apresiasi yang luar biasa.

“Selama saya menjabat ketua, memang banyak yang berkeinginan memajukan seni dan budaya Kaltim. Namun, baru sebatas komunikasi melalui lisan atau telepon,” katanya.

Dia mengenang, saat kuliah dulu, seni dan budaya Kaltim hidup. Taman Budaya di Samarinda pun kerap jadi tujuannya selepas ngampus di Unmul. Sebab, saat itu seniman dan budayawan kerap memamerkan kemampuan mereka. Karena itu, sejak kuliah dia juga menyukai seni, khususnya puisi dan tarian tradisional.

“Memang makin lama makin melemah. Puncaknya ketika kebudayaan hilir mudik dipegang satu dinas ke dinas lainnya. Hingga terakhir ini oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dan, saat ini, saya tak tahu apakah di tangan dinas ini kebudayaannya jadi prioritas,” beber alumnus FKIP Unmul 1995 itu.

Dirinya pribadi mengaku siap jika diajak berdiskusi. Menyiapkan langkah mengembangkan eksistensi seni dan budaya Kaltim. Merumuskan bersama program yang akan dibuat. Karena jika tidak dilakukan pembahasan secara berkesinambungan, tak akan ada perubahan. “Saya minta Dewan Kesenian lebih agresif,” tegasnya.

Festival tahunan jadi salah satu gagasan Rusman. Kaltim punya event yang menggambarkan kesenian dan kebudayaan lokal Kaltim. Bahkan, bisa masuk dalam kalender nasional. Hingga mampu mendatangkan banyak wisatawan.

“Sejak saya kuliah dulu, saya berharap ada festival tahunan yang punya bobot, tidak asal-asalan. Hingga Kaltim menjadi sebuah daerah rujukan pementasan seni dan budaya. Itu cita-cita saya. Saya berkhayal betul tentang ini,” ucapnya.

Namun, tantangan muncul. Dirinya melihat antara pemerintah dan lembaga kesenian, bahkan dengan pegiat seninya, tak akur. Sering ada benturan kepentingan. Terutama dari sisi pemberian fasilitas. Apa yang dibangun dan diprogramkan pemerintah kerap tak memenuhi harapan seniman dan budayawan.

“Pemerintah maunya ini, seniman maunya itu. Satu ke utara, satu ke selatan. Ya, begitu saja dari dulu. Namun, ada harapan bagi saya untuk gubernur Kaltim terpilih nanti bisa mengatasi ini,” tuturnya.

Sementara itu, anggota Komisi IV Muhammad Adam menyebut bahwa sudah waktunya pemerintah memajukan seni dan budaya. Karena jika dikelola dengan baik, bisa mendatangkan pemasukan bagi daerah. Mengingat, Kaltim tak selamanya bergantung pada sumber daya alam.

“Tentu jadi perhatian. Kreativitas dan inovasi menjadi solusi. Khususnya mengembangkan pariwisata. Yang di dalamnya ada seni dan budaya,” kata politikus Hanura itu.

Dia ingin seni dan budaya Kaltim dikemas atraktif dan menarik. Diprogram dengan apik. Punya jadwal dan anggaran tetap. Tak hanya lepas dan jadi konsumsi kalangan tertentu. Namun, bisa memberikan efek positif. Tak hanya bagi kehidupan masyarakat, namun jadi pendapatan asli daerah (PAD). Juga mampu membuat turis yang datang betah berlama-lama di Kaltim.

“Kami baru saja menyelesaikan Raperda Rencana Induk Pariwisata. Inisiatifnya dari pemerintah. Namun, masih ada yang kami revisi tentang sejumlah agenda wisata di sejumlah kabupaten-kota. Misalnya Balikpapan. Dengan laut yang luas, rupanya tak ada wisata bahari,” papar Adam yang melihat banyak kekurangan raperda.

Dengan rencana induk, mudah bagi pemerintah menyusun agenda pertunjukan. Tak hanya lokal, baginya pertunjukan bisa menampilkan seni dan budaya dari luar daerah. Ini karena sejumlah kota memiliki keragaman, seperti Balikpapan.

“Setiap daerah silakan mengembangkan seni dan budayanya. Beda Balikpapan, beda pula Samarinda. Beda pula dengan Kutai Kartanegara. Yang terpenting masing-masing memajukan seni dan budayanya,” sambungnya.

Dia mengakui, sebelum raperda ini menjadi perda, tak mungkin seni dan budaya mendapat tempat. Meski mengekor pada sektor pariwisata, dia yakin, perda ini jadi pembuka kemajuan. Karena hampir semua provinsi di Indonesia berlomba-lomba mengembangkan pariwisata. Kemudian, memasukkan unsur kesenian dan kebudayaan dalam menunjang pariwisata tersebut. “Perda jadi payung hukum dan dasar kami menyusun anggaran,” katanya.

Adam ingin ribuan bahkan jutaan orang dari belahan dunia lain setiap tahun membanjiri Kaltim. Hanya untuk menyaksikan kesenian dan kebudayaan. Kemudian, menyaksikan keindahan alam Kaltim yang menurutnya memang berkelas dunia. Ini akan memicu reaksi masyarakat untuk mengembangkan pasar. Menjual berbagai buah tangan dan kuliner. “Mereka akan menginap di hotel, makan di restoran, hingga belanja di pasar. Yang akhirnya meningkatkan PAD,” tuturnya.

Balik kepada kenyataan, saat ini dia mengaku banyak menerima keluhan pelaku seni dan budayawan yang diabaikan pemerintah. Dia mengakui pemerintah juga lalai. Tak hanya di provinsi, namun juga pemerintah kabupaten/kota.

“Saya akui dalam setiap pembahasan anggaran, karena saya di Badan Anggaran, setiap OPD terkait, kecil sekali atensinya menganggarkan kesenian dan kebudayaan. Makanya kami ingin pastikan raperda ini disahkan,” tegasnya. (tim kp)

loading...

BACA JUGA

Senin, 21 Januari 2019 08:38

Iklan Artis Bukan Jaminan

TOKO daring kerap menjadi tempat mudah menemukan kosmetik ilegal. Dari…

Senin, 21 Januari 2019 08:33

Raup Miliaran dari Kosmetik Ilegal

AWAL tahun Balikpapan dan Samarinda disapa oleh pengungkapan kosmetik ilegal…

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:38

Nelayan Hanya Kaya Lautan

Takkan ada ikan gurih di meja makan, tanpa ada jerih…

Senin, 14 Januari 2019 08:23

Terancam Zonasi Segara

MENGGELUTI profesi nelayan di tengah gempuran pertambangan di Kaltim, bukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:07

Nelayan Penjaga Kedaulatan

BERBAGAI persoalan ternyata dihadapi nelayan di Kaltim. Tak hanya persoalan…

Senin, 14 Januari 2019 07:56

Diklaim Bawa Perubahan

NELAYAN sebagai tulang punggung industri perikanan nasional memiliki fungsi penting.…

Jumat, 11 Januari 2019 09:24

Menangkal Kekalahan Durian Lokal

Musim hujan datang. Tiba pula musim durian. Kasar, berduri, kurang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*