MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 06 Maret 2018 09:02
Eksistensi Kesenian dalam Bingkai Kebudayaan

Oleh: ROEDY HARYO WIDJONO AMZ (Direktur Nomaden Institute Cross Cultural Studies)

ROEDY HARYO WIDJONO AMZ

PROKAL.CO, Rembuk Etam digelar kemarin, menampilkan tema yang mengandung unsur refleksi, yakni “Kesenian Seberapa Penting?”. Tema ini menggugah pemikiran kritis, karena hendak menggugat eksistensi kesenian dalam konteks kekinian ruang dan waktu. Maka, semestinya bertumpu pada alas pikir keterpautan antara seni, kebudayaan, dan peradaban. Jika hanya membahas kesenian yang tidak terkorelasi dengan kebudayaan dan peradaban, akan terkurung dalam pemikiran teknis ihwal kesenian semata.

Istilah seni berasal dari kata sani (Sanskerta) yang bermakna pemujaan dan persembahan yang bertalian erat dengan ritual religi. Maka seni sejatinya merupakan aktivitas batin yang diekspresikan dalam bentuk karya sehingga dapat membangkitkan perasaan.

Adapun kebudayaan bermula dari buddhayah (Sanskerta) sebagai bentuk jamak dari buddhi (akal) yang berkaitan dengan akal budi manusia. Maka kebudayaan merupakan “jalan kehidupan” dan hasil perilaku manusia yang diwariskan secara berkelanjutan.

Sedangkan peradaban (civilization) adalah bagian dari kebudayaan, berupa kumpulan identitas terluas mencakup aspek kehidupan manusia yang teridentifikasi dalam unsur-unsur objektif dan subjektif. 

Ketiga terminologi itu (seni, kebudayaan, dan peradaban) sejatinya merupakan kesatuan tak terpisahkan untuk memaknai eksistensi kesenian. Dalam perspektif holistik tersebut, kita tidak akan kehilangan konteks ihwal kesenian sebagai “anak kandung” kebudayaan dan “jalan peradaban manusia.” Perspektif tersebut juga merupakan pintu masuk untuk menemukan hakikat kesenian dalam bingkai kebudayaan dan jejak sejarah seni dalam peradaban manusia.

KESENIAN DALAM BINGKAI KEBUDAYAAN

Kesenian yang terekspresi dalam seni rupa, teater, musik, tari, dan sastra adalah bagian dari kebudayaan. Kesenian juga merupakan sarana ekspresi rasa keindahan dari dalam jiwa manusia sehingga memiliki ragam fungsi. Bahkan, kesenian merupakan kebutuhan pokok manusia, karena “ruang raga” dan “ruang batin” manusia senantiasa “dahaga dan lapar” terhadap kesenian agar kehidupan senantiasa berlanjut.

Dalam konteks inilah, terdapat hal esensi mengenai fungsi kesenian dalam dimensi personal mencakup pemenuhan kebutuhan fisik dan emosional. Sedangkan dalam dimensi sosial, kesenian memiliki fungsi nan mendalam bertautan dengan aspek religi, edukasi, komunikasi, rekreasi, artistik, dan kesehatan.

Tatkala mengurai definisi kebudayaan, niscaya akan bersentuhan dengan tiga wujud kebudayaan. Pertama, sistem ide berupa gagasan, nilai, norma, pandangan hidup, kepercayaan yang bentuknya bersifat kognitif karena terdapat benak pikiran, sehingga berdimensi “tuntunan”.

Wujud kedua berupa aturan perilaku, tindakan atau keseluruhan aktivitas manusia yang bentuknya dapat diamati, dilihat serta tertangkap oleh pancaindera, dan berdimensi “tatanan”.

Sedangkan ketiga adalah hasil karya manusia yang berwujud paling konkret, berupa benda hasil ciptaan manusia, sehingga berdimensi “tontonan.”

Ketiga wujud kebudayaan dalam praktiknya berkelindan dalam tujuh unsur kebudayaan, yakni bahasa; sistem pengetahuan; sistem kemasyarakatan; sistem peralatan hidup/teknologi; sistem mata pencaharian; sistem religi; dan kesenian. Dalam konteks inilah, kesenian mendapat tempat terhormat sebagai salah satu unsur kebudayaan. Maka tatkala menyadari betapa pentingnya suatu kebudayaan dalam kehidupan manusia, sebenarnya terjawab sudah pertanyaan ihwal “Kesenian, Seberapa Penting?”

MEMPERTIMBANGKAN KEARIFAN LOKAL

Dalam konteks dinamika perkembangan peradaban pada situasi kekinian dan di masa depan, pertanyaan reflektif “Kesenian, Seberapa Penting?” akan bersentuhan dengan gempuran budaya populer, yang memiliki potensi mereduksi eksistensi kesenian. Budaya popular (pop culture) adalah budaya yang berkembang mengikuti perubahan zaman yang didominasi industri komunikasi dan teknologi informasi.

Budaya populer yang beralaskan prinsip komersialisasi dan komodifikasi merupakan bagian dari ideologi kapitalisme untuk menaklukkan tatanan kehidupan masyarakat. Budaya populer diciptakan sebagai esensi logika industri dan komoditas pasar yang menguntungkan pihak tertentu, dan memosisikan kesenian sebagai komoditas industri, sehingga mengancam tatanan nilai dan identitas budaya bangsa.

Bertalian dengan ikhtiar memperteguh eksistensi kesenian dalam konteks menjawab pertanyaan “Kesenian, Seberapa Penting?” dan merespons gempuran budaya populer, WS Rendra dalam buku bertajuk “Mempertimbangkan Tradisi” menganjurkan untuk kembali ke pangkuan kearifan lokal. Rendra menegaskan petuah, “Dalam pekerjaan saya sebagai seniman, sangat penting mengadakan eksperimen yang menyalahi kaidah kesenian, karena saya lebih tertarik terhadap kemampuan tradisi untuk berkembang. Pekerjaan kebudayaan akan menemui kesulitan apabila masyarakat tidak bersikap kreatif terhadap tradisi. Tradisi diciptakan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan bekerja.”

Simpulan opini Rendra menegaskan, dalam bingkai kebudayaan, kesenian bukan semata tontonan, melainkan terpaut erat dengan makna tuntunan dan tatanan, karena kesenian pada hakikatnya merupakan salah satu determinan tujuh unsur kebudayaan. Maka jikalau kesenian hanya berkelindan dalam dimensi tontonan, ia niscaya akan menjadi komoditas industri yang berada dalam cengkeraman budaya populer untuk kepentingan komersialisasi dan komodifikasi.

Petuah Rendra ihwal kembali ke pangkuan kearifan lokal dengan mempertimbangkan tradisi sebagai “jalan kebudayaan” perlu direspons dengan saksama dalam wujud aksi konkret dari para seniman di Kalimantan Timur. Namun, eksperimen kesenian yang bertumpu pada kearifan lokal, hendaklah tidak terjerumus pada komodifikasi budaya.

Milan Kundera, dalam novelnya bertajuk “Kitab Lupa dan Gelak Tawa” menegaskan, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.”

Rendra dan Milan Kundera hidup dan berkarya pada zaman yang berbeda, namun kini keduanya hadir untuk menegaskan tentang eksistensi kesenian dalam bingkai kebudayaan. (***)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…

Rabu, 12 Desember 2018 06:53

Financial Technology Berbasis Syariah

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Dosen Fakultas Ekonomi dan…

Selasa, 11 Desember 2018 06:51

Persatuan di Tahun Politik

Oleh: Mukhammad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) TAHUN politik di Indonesia…

Selasa, 11 Desember 2018 06:50

Hubungan Tiongkok-AS: Menuju Perang Dunia Ke-3?

Oleh: Rendy Wirawan (Master of International Relations, University of Melbourne)…

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…

Senin, 10 Desember 2018 06:51

Menuju Pembangunan Energi Berkelanjutan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO (Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:45

Embrio: Manusia Kecil yang Harus Diselamatkan

DEWASA  ini kemajuan biomedis menawarkan aneka manfaat bagi manusia. Teknologi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:43

Mengenal Obat Diabetes Oral dan Suntikan Insulin

MENURUT data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .