MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 05 Maret 2018 08:37
Gengsi dan Fanatisme
-

PROKAL.CO, TURNAMEN  pramusim di mana-mana dikenal sebagai pemanasan. Di sinilah tim-tim manapun kontestan kompetisi sedunia menyiapkan diri sebelum kickoff liga. Di Indonesia, ajang yang cukup familier di level tersebut adalah Piala Presiden.

Masing-masing klub punya kebijakan berbeda menyikapi pramusim. Dihadapkan sejumlah turnamen, klub mengambil kebijakan sesuai skala prioritas. Borneo FC, misalnya, berambisi mempertahankan gelar Piala Gubernur Kaltim, memilih tampil dengan skuad kedua di Piala Presiden awal Februari lalu. Langkah yang kemudian membuat tim berjuluk Pesut Etam itu hanya finis di fase grup, padahal berstatus finalis di turnamen yang sama tahun sebelumnya.

Lagi-lagi, karena hanya pemanasan, tak ada salahnya pantang habis-habisan. PSM Makassar salah satu yang berpikir sama dengan menurunkan skuad pelapis di Piala Presiden. Hasil yang mereka peroleh tak jauh berbeda dengan tim asal Samarinda tadi.

Yang jadi persoalan, turnamen pramusim di Tanah Air labelnya saja pemanasan. Aslinya bahkan kelewat kompetitif. Padahal, kompetisi yang jelas-jelas agenda utama, belum juga dimulai. Energi pemain kerap habis duluan sebelum Liga 1 kickoff.

Tahun lalu, Gusmawan Dedi mesti mengubur mimpinya membela Mitra Kukar di Liga 1 karena partisipasi di turnamen pramusim. Bertemu Persipura Jayapura di fase grup Piala Presiden, Dedi mengalami benturan yang mematahkan tulang fibulanya. Musimnya berakhir sebelum dimulai. Baru awal 2018 ia comeback ke lapangan hijau.

Entah karena budaya atau ambisi memenangkan segalanya, permainan keras begitu mudah terlihat di level pramusim. Tim-tim bersaing seolah berebut trofi utama. Ujung-ujungnya, energi habis sebelum berperang.

Persib Bandung menjuarai Piala Presiden 2015. Dihadapkan Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016, Pangeran Biru hanya finis kelima. Tren lebih buruk dialami Arema FC yang menjuarai Piala Presiden 2017. Singo Edan kewalahan di kompetisi utama dan finis kesembilan dengan skuad mewahnya. Hal sama dialami Borneo FC yang menjuarai PGK edisi pertama. Setelah menjuarai turnamen pramusim di kota asal, Pesut Etam hanya finis kesembilan di ISC A 2016.

Label turnamen pramusim pun bertambah dari sekadar pemanasan menjadi kutukan bagi para pemenangnya. Namun, tetap saja baik Piala Presiden dan PGK adalah ajang yang mesti dimenangkan. Bukan hanya iming-iming uang untuk tambahan modal mengarungi kompetisi pada musim baru. Ada gengsi yang terlalu besar untuk dikesampingkan.

PGK sempat kehilangan gairah ketika Persija Jakarta dan Bali United mundur pada menit-menit akhir. Popularitas kedua tim jaminan magnet bagi setiap turnamen yang melibatkannya. Namun, segala kekhawatiran hilang selama tim dengan basis penggemar masif macam Persebaya Surabaya dan Arema FC ikut serta. Lebih-lebih ketika dua rival abadi itu head to head.

Piala Presiden mengatur skema khusus agar dua tim itu tak bertemu. Bahkan jarak pertandingan Persebaya dan Arema diatur sedemikian rupa agar mobilisasi penggemar kedua tim tak berpapasan saat menuju atau keluar arena. Reputasi kedua basis penggemar yang tak harmonis, demikian pula rivalitas panas Persebaya dan Arema, membuat pertemuan begitu rentan dari segi keamanan.

Baru pada gelaran PGK-lah duo Jawa Timur itu bertemu setelah hampir satu dekade tak satu lapangan. Seluruh pasang mata pencinta sepak bola di Tanah Air pun tertuju ke Kaltim. Semua penasaran dan kelewat kangen menyaksikan superderby itu. Popularitas PGK ikut terangkat. Turnamen pramusim tersebut makin penuh gengsi dan persaingan.

Hal itu sejalan dengan survei Tim Riset Kaltim Post yang dilakukan sepanjang akhir pekan lalu. Sebanyak 46,9 persen orang sangat antusias dengan pegelaran PGK 2018. Dari total 115 responden di Samarinda dan Balikpapan, 83,6 persen sepakat menyaksikan langsung ajang turnamen pramusim tersebut ke stadion. Dan 79,9 persen di antaranya menganggap PGK layak digelar setiap tahun.

Bagi Kaltim, atmosfer ini bisa jadi dorongan masif bagi fanatisme yang masih naik-turun terhadap tim-tim Kaltim. Tingkat kehadiran penonton ke Stadion Segiri mendukung Borneo FC sepanjang musim lalu di Liga 1, masih 47 persen dari arena dengan kapasitas 13 ribu penonton itu. Tim tetangga, Mitra Kukar, bahkan lebih miris dengan rata-rata okupansi penonton hanya 9 persen. Meski tak setinggi Borneo, Persiba Balikpapan mencatatkan okupansi 29 persen dari tiga arena yang menjadi kandangnya sepanjang musim lalu, Stadion Gajayana Malang, Stadion Persiba, dan Stadion Batakan.

PGK 2018 memberi pelajaran berharga bagi tiga tim provinsi ini yang hanya jadi penonton pada partai puncak. Gelaran kompetisi sudah di depan mata. Kegagalan di dua turnamen pramusim mestinya sudah cukup memanaskan mesin. Jangan sampai hati penggemar yang ikut panas, karena fanatisme kadang posesif. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 08 Juni 2018 09:09

Menggantung Asa di Program Pusat

GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan,…

Jumat, 08 Juni 2018 09:05

Teliti Developer sebelum Membeli Rumah

NEGARA mengatur rakyatnya memiliki hak terhadap papan yang memadai, sebagaimana tertulis dalam UUD 1945.…

Jumat, 08 Juni 2018 09:03

TAK MUDAH..!! Rumah yang Bisa Dikredit dengan Harga Bersahabat

SEPTIANI (23), kini berumah tangga dengan Ivandi (23). Tidak hanya berdua, mereka kini memiliki putri…

Jumat, 08 Juni 2018 09:01

Warga Susah dapat Rumah, Reduksi dengan DP Nol Persen

MENDIRIKAN jutaan unit hunian tak serta-merta mengurangi kesenjangan kepemilikan rumah. Warga tetap…

Senin, 04 Juni 2018 22:00

Siraman Rohani untuk Generasi Menunduk

CATATAN: M RIDHUAN SAYA termasuk generasi menunduk. Pada zaman digital saat ini, khususnya pekerja media,…

Senin, 04 Juni 2018 21:10

DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai.…

Senin, 04 Juni 2018 21:02

Jatuh Bangun Empat Dekade

SIANG itu, meski matahari sedang terik-teriknya, Hasyim masih saja sibuk dengan cangkul, kapak, serta…

Senin, 04 Juni 2018 08:37

Menyesuaikan Gaya, Menyentuh Anak Muda

MUHAMMADIYAH salah satu organisasi Islam Tanah Air yang punya peran besar dalam menyebarkan dakwah.…

Senin, 04 Juni 2018 08:30

Santun Jadi Modal Utama

DALAM memberikan nasihat dakwah, yang pertama adalah dengan hikmah. Ini prinsip pertama yang hendaknya…

Senin, 04 Juni 2018 08:24

“Siapa Pun Harus Bisa Menikmati Dakwah”

EKSISTENSI Hidayatullah sudah hampir lima dekade. Tak hanya di Balikpapan, pondok pesantren yang didirikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .