MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 05 Maret 2018 08:31
Tahan Lama sampai 1,5 Tahun, Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit

Serka Eko Tamono, Prajurit TNI Pencipta Teh Serai Etam dan TK Daur Ulang

INOVASI SANG PRAJURIT: Serka Eko Tamono usai menunjukkan hasil inovasinya berupa teh serai di Makodam VI/Mulawarman, belum lama ini.

PROKAL.CO, Serai sering kali digunakan hanya untuk masakan dan minuman kesehatan. Di tangan Eko Tamono, serai dia ubah menjadi teh dengan aroma yang khas. Atas inovasinya ini, dia diundang Pangdam VI/Mulawarman hadir di Makodam untuk menerima penghargaan, baru-baru ini

Eko  Tamono sehari-hari bertugas sebagai anggota TNI yang bertugas Bintara Pembina Desa (Babinsa) 0906-09/Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Segudang penghargaan dia terima sejak 2015 lalu. Mulai Juara 1 Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tingkat kabupaten Kukar sampai tingkat provinsi Kaltim.

Dia juga mendapat penghargaan dari Kepala Staf TNI Angkatan darat (Kasad) sebagai Babinsa terbaik 2016. Eko terpilih bersama 14 Babinsa terbaik dari perwakilan Kodam lainnya se-Indonesia.

Semua berkat teh serai yang ia buat dan kembangkan sejak 2012 lalu. Serai yang digunakan adalah serai putih yang memiliki aroma khas dan kuat. Mulanya, minuman kesehatan tersebut hanya tradisi keluarga dari orangtua hingga neneknya. "Nenek saya sering memberikan minuman serai kalau saya sedang tidak enak badan,” ujar pria kelahiran Tenggarong, 26 Januari 1973.

Dalam pengolahannya, Eko menjelaskan, serai basah dibersihkan atau dicuci. Kemudian dipotong lalu dijemur dalam ruangan khusus selama 3-4 hari untuk mengurangi kadar air. Setelah kering serai dipanggang menggunakan oven. Proses pemanggangan selama dua jam. Oven yang digunakan berbahan bakar energi matahari yang dirakitnya sendiri. Setelah di oven, serai dihaluskan dengan cara digiling.

“Bebas pengawet. Teh dapat bertahan dalam kemasan selama 1,5 tahun,” tutur suami dari Sri Lestari ini.

Ayah tiga anak ini mengatakan, teh serai bikinannya berkhasiat mengobati asam urat, obesitas, kolesterol, rematik, diabetes, asma, sembelit, migrain, hingga baik untuk kanker payudara yang dalam fase satu atau stadium awal. Produknya pun telah dipasok ke sejumlah daerah di Indonesia. Dia memasarkan melalui media sosial, Kodim, dan Korem. Seperti di Medan, Riau, Lampung, Gorontalo, Manado, Bali, dan Jakarta.  Pesanan juga datang dari Samarinda, Bontang, Balikpapan, Tenggarong, Kota Bangun, hingga Melak.

Di awal 2015, produk teh serai dibikin seperti teh seduh (saringan), lalu dikembangkan menjadi teh celup yang dikemas seperti sekarang. Seperti teh pada umumnya, teh buatan Eko memiliki warna merah dengan aroma serai yang menenangkan. Apalagi bila diseduh dengan air hangat. Cukup ditambah sedikit gula. Produk ini pun telah dipatenkan dengan nama Teh Serai Etam dan mendapat izin dari dinas kesehatan.

Eko membeli serai basah dari petani lokal seharga Rp 3 ribu per kg. Dia memberdayakan petani di Kelurahan Jahab, Desa Kendangraya serta di Desa Jonggon. Satu kilogram serai basah bisa menghasilkan 80 gram serai kering. Masih bersifat home industri, sehari Eko bisa memproduksi 100 kotak teh serai. Produksi dilakukan di rumahnya yang terletak di Jalan Etam KM 8 RT 13 Kelurahan Jahab, Tenggarong.

Per kotak yang berisikan 20 sachet teh celup dijual seharga Rp 13,5 ribu untuk agen dan eceran Rp 15 ribu. Dalam sebulan setidaknya dia mendapatkan omzet Rp 30 juta per bulan. Meski telah sukses, Eko mengatakan sempat mengalami kegagalan dalam uji cobanya.

“Saya pernah membeli serai satu pikap, ternyata setelah diolah, rasa dan aroma serta warnanya beda. mLumayan juga kerugiannya,” ucap Eko.

DAUR ULANG

Setelah sukses berinovasi dengan teh serai, Eko juga memiliki tekad untuk membantu tetangga maupun anak-anak di lingkungannya dengan mendirikan sebuah taman kanak-kanak (TK). TK tersebut diberi nama TK Dahlia, uniknya, orangtua bisa membayar SPP dengan sampah daur ulang.

Di belakang gedung TK juga didirikan penampungan sampah. Dirinya juga mengajarkan masyarakat dan anak-anak sekitar terkait nilai ekonomis dari sampah daur ulang. Jika sampah daur ulang sudah terkumpul, maka dia menjualnya ke pengepul. "Saya hanya berniat membantu masyarakat, tanpa memanjakan mereka. Jadi saya ajarkan daur ulang, dan mereka bisa membayar dengan sampah daur ulang itu juga," kata Eko. (*/lil/one/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 14 Juli 2018 06:29

Berkat Keisengan, Raih Omzet Puluhan Juta Rupiah

Aziz sebelumnya menghasilkan uang dari membawakan sebuah acara. Namun kini, selain bercuap-cuap dia…

Rabu, 04 Juli 2018 07:27

Kondisi Kejiwaan Membaik, Pernah Dirawat di Panti Welas Asih

Warga Sukabumi mendadak gempar dengan kembalinya Nining Sunarsih. Hal itu, lantaran janda beranak dua…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:33

Praktik Berhitung dengan Roket, Melayang di Simulator Astronaut

Mata pelajaran sains dan matematika kerap menjadi momok. Bagi kebanyakan siswa di Indonesia. Tapi kalau…

Sabtu, 30 Juni 2018 01:21

Pemkab Serius, Satu Pulau Butuh Rp 20 Miliar

Tak hanya Pulau Balikukup dan Derawan yang terancam gerusan abrasi. Pulau Sambit, justru lebih dulu…

Sabtu, 30 Juni 2018 00:59

Tempat Asyik untuk Merayakan Kenangan

Ibu Kota Rusia, Moskow, adalah kota yang amat hidup. Dia menggabungkan memori, sejarah, dan arsitektur…

Minggu, 24 Juni 2018 11:51

Lagi Asyik Nyelam, Tiba-Tiba Buaya Berenang Melintas di Atas Kepala

Nana Nayla, seorang pencinta olahraga menyelam atau diving, mengabadikan langsung lewat kameranya buaya…

Sabtu, 23 Juni 2018 06:58

Olah Bahan Bakar dari Limbah Plastik, Hadapi Amerika dan Prancis di Final

Mahasiswa Indonesia berhasil menembus lima besar kompetisi internasional bertajuk Shell Ideas360. Bertanding…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .