MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 03 Maret 2018 07:35
Bincang dengan Syaidah, Perempuan dengan Kawat di Perut-
Meski di Luar Nalar, Belum Tentu seperti yang Dituduhkan
GIGIH: Syaidah sedang mengajari anak-anak mengaji di rumahnya di Sangatta.

PROKAL.CO, Lama tak terdengar kabarnya, perempuan yang bikin heboh pada 2007 itu sudah terlihat membaik. Meski belum sembuh seutuhnya, dia ngotot menekuni dunia pendidikan. Menjadi kepala sekolah sekaligus pengajar santri.

DI RUANG tamu berdinding kayu berukuran sekira 3x3 meter, awak media ini diminta duduk lesehan. Selasa (27/2) sore itu, Noer Syaidah sedang bersiap mengajar tilawah. Kegiatan ini memang rutin digelar selepas Ashar. Santrinya mulai balita hingga anak SMP. Datang berduyun-duyun ke rumahnya.

Begitulah kesibukan perempuan 49 tahun tersebut di luar aktivitas utamanya sebagai kepala sekolah TK Al Wardah di Jalan AW Syahranie, Sangatta Utara, Kutim. Lokasi pengabdiannya tak jauh dari kediamannya. Dari TK yang didirikannya pada 2007 silam, dia telah memiliki  73 murid. Dia didampingi enam guru untuk mengajar di empat kelas.

Tak hanya pagi, siang, dan sore, malam pun dia masih mengajar tilawah Alquran sif kedua. Dari hari ke hari jumlah santrinya semakin banyak. Khususnya sore hari, jumlah mencapai 20 orang. Sementara malam 17 anak.

Beberapa kali santri dari masjid sekitar kediamannya turut mengikuti kelasnya karena di masjid muridnya semakin membeludak. Kesibukan mengajar cara membaca Alquran dengan benar tersebut didapatnya lantaran orang-orang tak sengaja mendengarnya melantunkan ayat suci di rumahnya. Sehingga banyak yang memintanya mengajar mengaji. Padahal, dia juga sibuk menjalani aktivitas majelis taklim khusus ibu-ibu sepekan sekali.

Perempuan kelahiran 9 Januari 1968 itu tak habis pikir, banyak warga yang mencarinya ketika ada seseorang yang terkena penyakit langka. Baik untuk sekadar meminta pendapat, maupun agar diberi bantuan pengobatan. “Saya selalu sarankan untuk perkuat agama. Itu adalah benteng utama,” ujarnya.

Ketika seorang perempuan meninggal dunia, dirinya selalu dimintai memandikan mayat. Sebab, banyak orang yang tak mengerti cara memandikan mayat. “Bahkan, sesekali ada juga lelaki yang meninggal dan keluarganya meminta saya untuk memandikan mayatnya. Jadi, saya memalingkan wajah, lalu mengarahkan para lelaki dari keluarga jenazah untuk memandikannya,” ungkap perempuan yang masih lajang tersebut.

Anak keempat di antara enam bersaudara tersebut menyatakan, hal-hal yang menyenangkan dalam kerja sosial tersebut membuatnya semakin betah tinggal di Sangatta. Yakni, sejak hijrah ke Sangatta ditemani kakak ketiganya Sapriansyah, awal 2000. Dengan maksud ingin menenangkan diri, atas saran seseorang. Sebab, penyakitnya sudah tak mampu diatasinya secara maksimal. Setiap kali dioperasi, kawat di perutnya itu kembali tumbuh.

Dia menuturkan, enam bulan sebelum genap tujuh tahun berada di Sangatta, penyakit tersebut kambuh. Kawat baja kembali tumbuh di perutnya. Padahal, dirinya sempat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Bawasda (kini Inspektorat Daerah) Kutim. Namun karena kerap tiba-tiba pingsan dan seketika buta, dia mengundurkan diri, kemudian mendirikan TK Al Wardah. Dia pun pulang ke Samarinda. Tanah kelahirannya, di Jalan Imam Bonjol, Samarinda, pada akhir 2007. Alamat itu adalah kediaman orangtuanya.

Waktu berlalu, ketika tiba-tiba seorang keponakannya merasa kasihan, lalu memoto dirinya. Kemudian meminta bantuan wartawan untuk meliputnya. Ketika itu, bertepatan dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kaltim. Banyak media yang meliput. Karena dianggap sebagai seorang yang hebat. Bisa tetap hidup normal meski menderita penyakit di luar nalar.

Dia pun menjadi terkenal mendadak. Diundang ke berbagai acara di media nasional. Hingga dia menjadi akrab dengan ustazah kawakan, Mama Dedeh. Sampai saat ini, dia sering diajak tur dalam acara majelisnya. Bahkan dirinya menjadi perhatian dunia. Beberapa warga negara asing sering berkunjung ke kediamannya di Sangatta. Ada yang dari Jerman, Korea, Singapura, Thailand.

Tahun lalu, ujar dia, warga Jepang datang ke rumahnya. Menawarkan bantuan. Bahkan sebelumnya, beberapa orang dari Israel ingin memaksanya ikut ke luar negeri untuk menjadi bahan penelitian. Sementara terakhir, beberapa orang dari Korea datang ke rumahnya. Mereka merekam aktivitasnya dari pagi sampai sore selama beberapa hari.

Adapun kesehatannya kini, menurut alumnus Fisipol Unmul tahun 1986 itu, sudah jauh lebih baik. Meski sebenarnya masih belum sembuh total. Dirinya hanya bisa pasrah kepada Tuhan.

Bekas kawat yang dioperasi di perutnya, terang Syaidah, sisa empat lubang yang baru saja tumbuh pada 2017. Kawat itu tumbuh bercabang hingga enam. Kini, kawat tidak lagi menjulang di perutnya, sehingga dia tak perlu lagi berjalan dengan membungkuk seperti dulu. Dia sudah nyaman berdiri tegap.

Hanya, kawat mulai tumbuh di bagian tulang belakang dan di bahu kiri. Bahkan ada yang sudah mengenai ulu hatinya. Namun, kawat itu berukuran kecil. Jika ditarik, kawat itu justru melawan dengan menarik ke dalam tubuh. “Kalau tahun ini, memang masih ada sakit berupa gejala, semacam sesak napas dan masih terlihat bengkak di perut bekas tumbuhnya kawat itu,” ujar dia.

Sebelumnya, perut Syaidah sudah dioperasi berkali-kali untuk mengambil kawat baja tersebut. Dia pun sudah berobat ke mana-mana, dan tak ada orang yang mampu benar-benar bisa mengobatinya. Akhirnya, perempuan ramah yang memiliki banyak teman dokter itu, diberi gratis jika ingin menjalani operasi. Namun, semakin dioperasi, kawat semakin tumbuh.

Dia menjelaskan, kawat baja tumbuh secara tiba-tiba. Dia buta, kakinya lumpuh. Namun penyakit itu sembuh dengan sendirinya beberapa bulan kemudian. Yakni, kawat rontok dan fisik pulih dengan sendirinya 3–6 bulan.

Dia menjelaskan, sebenarnya penyakitnya tersebut bukan karena guna-guna atau sesuatu yang mistis. Seperti yang banyak dikatakan orang-orang. Penyakit tersebut sudah dari lahir. Sejak kecil saat kelas 5 SD sering tiba-tiba lemah, buta, atau lumpuh. Kemudian, sembuh dengan sendirinya beberapa bulan.

Adapun kawat tersebut, ujarnya, mulai tumbuh pada 1990, dan dioperasi pada 1991. Operasi kawat yang berada di dekat rahim itu dilakukan berulang kali sampai 1994.

“Saya hanya bisa mengikhlaskan, pasrah kepada Allah, karena menangis pun tak ada hasilnya,” imbuh dia.

Mengenai penyakit yang diderita Jahrani yang menelan benda-benda logam, dia menilai, hal itu di luar akal sehat, sama seperti  penyakit yang dideritanya. “Tapi dia tak boleh di-judge asal-asalan. Sebab, kadang ada sesuatu di luar nalar, namun belum tentu seperti yang dituduhkan. Itu perlu ke psikolog juga untuk mendapatkan pencerahan,” ungkap dia. (timkp)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 07:20

Menolak Partai demi Warga Kaltim, Target Jadi Ketua DPD RI

Polemik rencana pergantian Mahyudin di wakil ketua MPR mulai meredup. Hingga kemarin (6/4), dia masih…

Sabtu, 07 April 2018 07:09

DP Hanya Rp 3 Juta Bisa Pilih Lokasi

BALIKPAPAN  —  Borneo Paradiso tak pernah berhenti menyuguhkan hunian terbaik bagi warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .