MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 01 Maret 2018 12:10
Emas Hitam Oknum Polisi
USUT TUNTAS: Polisi menyambangi tambang ilegal yang menyasar areal pemakaman di Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, beberapa waktu lalu. Sedikitnya 20 truk setiap hari bolak-balik membawa batu bara karungan dari tempat tersebut. (DWI RESTU/KP)

PROKAL.CO, Tembok kuburan dibobol diam-diam. Berdalih pematangan lahan, seorang oknum polisi terlibat dalam pengerukan batu bara haram.

EMOSI Maslakun benar-benar sampai ke ubun-ubun ketika mendapati dua ekskavator PC 200 menggaruk tanah kubur. Bendahara rukun kematian itu, bersama warga yang turut menyaksikan, segera melapor ke pihak berwajib meskipun hari sudah jauh malam. Kepolisian Sektor Kota Samarinda Utara yang menerima laporan segera memanggil operator ekskavator.

Selasa (20/2) pekan lalu, pengemudi alat berat dimediasi bersama warga Jalan Poros Kebun Agung, RT 3, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. Pembicaraan lebih banyak menyinggung laporan masyarakat, yaitu perbaikan pusara di tanah makam yang didirikan 45 tahun lalu.

Namun, ada pertanyaan yang tertinggal. Pekerjaan apa yang dilakukan kedua operator di tanah pemakaman hingga larut malam? Tidak sulit menelusurinya meskipun kedua pengemudi tadi mengaku tidak tahu apa-apa. Tumpukan karung batu bara siap angkut di tanah lapang dekat kuburan adalah petunjuk kuat. Bekas roda-roda truk menuju pemakaman juga masih basah.

"Sedikitnya 20 truk setiap hari bolak-balik membawa batu bara karungan," tutur warga sekitar yang ditemui Kaltim Post. Maslakun membenarkan pernyataan itu. "Tapi kami tidak tahu dibawa ke mana," terangnya.

Dalam investigasi Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, diketahui bahwa usaha tambang ilegal sudah berlangsung dua bulan di lokasi tersebut. Jatam mencatat, ada 210 kali aktivitas muat batu bara selama tambang ilegal itu beroperasi. 

Polisi juga tak perlu waktu lama untuk mencium aktivitas pertambangan batu bara ilegal. Sebagai fasilitas umum, pemakaman di Lempake tersebut jelas sukar untuk ditambang karena merupakan tanah wakaf. Aktivitas penggalian emas hitam, menurut Undang-Undang 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, harus mendapat izin pemilik tanah.

Dalam Pasal 136 disebutkan, pemegang izin usaha pertambangan (IUP) baru bisa beroperasi produksi setelah menyelesaikan hak atas tanah. Lagi pula, masih menurut Undang-Undang 4/2009, aktivitas tambang ilegal juga termasuk ketika dilakukan oleh bukan pemegang IUP. Kepala Bidang Pertambangan Umum, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kaltim, Goenoeng Djoko, memastikan bahwa aktivitas di pemakaman itu tidak dilengkapi izin. Hampir semua unsur aktivitas tambang ilegal terpenuhi.

Menurut keterangan Maslakun selaku bendahara rukun kematian setempat, penjaga makam selama ini bernama Wahyudi. Maslakun mengaku sempat bertemu Wahyudi membicarakan bantuan alat berat untuk menggemburkan tanah makam. Tak ada menyinggung penggalian batu bara dalam perbincangan tersebut.

Wahyudi kemudian menemui Ponaryo, seseorang yang diketahui sedang menambang di sebelah kuburan. Kepada Ponaryo, si penjaga kubur meneruskan permintaan bantuan menggemburkan tanah. Belakangan, aktivitas itu berubah menjadi penambangan batu bara.

Petugas hanya perlu tiga hari untuk mengungkap bahwa Ponaryo adalah aktor di balik aktivitas tambang liar. Lebih mengejutkan lagi, Ponaryo adalah oknum petugas Polsekta Samarinda Utara. Ponaryo merupakan opsir berpangkat brigadir polisi.

Kabar mengenai keterlibatan oknum polisi menambang tanpa izin di area pemakaman akhirnya viral di media sosial. Setelah menjadi perbincangan di mana-mana, keanehan muncul. Sikap warga Kebun Agung berubah. Mereka tak lagi geram seperti sebelumnya. Sebelas ketua rukun tetangga juga sepakat bungkam. Mereka menunjuk Maslakun sebagai perwakilan. “Para ketua RT meminta tak usah diekspos lagi,” sebut Maslakun, Sabtu pekan lalu.

Dia menceritakan, awalnya warga tidak terlalu peduli dengan bising mesin penggaruk tanah dan truk yang lalu lalang. Namun, ketika mengetahui bahwa pematangan lahan berubah menjadi pengerukan batu bara, warga marah. “Kalau ada sebutan tidak berperikemayatan, seperti itu perumpamaannya,” kata Maslakun. Dia tidak menceritakan alasan di balik permintaan para ketua RT tadi.

Sementara itu, polisi yang telah memeriksa enam saksi segera menetapkan Ponaryo sebagai tersangka. Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono mengatakan, Ponaryo diketahui sudah memerintahkan operator untuk menambang di area yang bersebelahan dengan pemakaman. Beralasan ingin menggemburkan lahan kuburan, Ponaryo menemukan batu bara lalu mengangkutnya.

"Tersangka dibantu seorang rekannya yang berstatus warga sipil. Kami sedang mengejarnya,” tegasnya. Pria itu berinisial UJ.

Siapa Ponaryo, oknum aparat yang diduga menjadi penambang batu bara ilegal? Kaltim Post menelusuri tindak-tanduk lelaki 46 tahun itu. Ponaryo adalah polisi yang memulai pendidikan dari tamtama. Hampir setiap hari dia datang ke Markas Polsekta Samarinda Utara mengendarai sepeda motor matic berwarna hitam.

"Dia jarang berbicara dengan sesama rekan kerja," tutur sumber Kaltim Post lalu melanjutkan, "Kalau diajak ngobrol, Ponaryo sering bilang, 'mumet ndasku' (sakit kepalaku). Banyak yang diurus."

Pada jam dinas, Ponaryo diketahui jarang di kantor. Lelaki yang tinggal di Jalan Damanhuri itu sering keluar dengan berbagai alasan. "Mulai urusan usaha, sampai yang lain," sambung sumber tadi.

Saat ini, Ponaryo menghadapi ancaman hukuman 10 tahun penjara sesuai Pasal 158 UU 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Untuk pelanggaran kode etik, Ponaryo harus berhadapan dengan divisi profesi dan pengamanan. Dia diancam pemberhentian tidak dengan hormat menunggu putusan pengadilan. Polresta Samarinda mengklaim, Ponaryo adalah polisi pertama yang terlibat kasus tambang ilegal.

Sepak terjang lelaki yang pernah bertugas di Polsekta Samarinda Ilir di dunia emas hitam itu sebenarnya sudah tercium sejak awal Februari silam. Komisi III DPRD Kaltim sempat menegur Ponaryo yang diketahui mengeruk emas hitam di kawasan Perumahan Talang Sari, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara. Serupa dengan pemakaman di Kebun Agung, aktivitas itu ditentang warga. Belakangan teguran itu tidak berbuah apa-apa. Aktivitas pertambangan tetap berjalan.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang mengatakan, peristiwa di Lempake merupakan kejahatan berat. "Apalagi ada oknum polisi yang terlibat," tegasnya. Jatam menengarai, masih banyak tambang ilegal yang beroperasi di Kaltim berjalan secara terbuka di depan masyarakat.

Di lain sisi, jelas Rupang, warga kesulitan melapor. Mereka kebingungan mengenai aktivitas tambang resmi atau ilegal. Sementara dalam banyak aktivitas, tak ada identitas atau paling tidak nama perusahaan. “Kami melihat, tak ada polisi ataupun dinas terkait yang tahu sebelumnya,” ujar Rupang.

Jatam juga menghitung bahwa praktik tambang ilegal di Kaltim telah merugikan negara di atas Rp 1 triliun. Formula yang dipakai adalah satu usaha tambang ilegal mengambil sedikitnya 5 ribu metrik ton batu bara, setara Rp 6,5 miliar (dengan harga batu bara USD 100 per metrik ton). Angka itu dikalikan dengan 33 aktivitas tambang ilegal yang disoroti Jatam (lihat infografis) sehingga akan muncul Rp 214,5 miliar.

“Itu untuk sekali operasi. Sementara aktivitas kejahatan ini rata-rata berlangsung 2–3 bulan atau bahkan lebih,” ungkapnya.

Jatam turut menyoroti kinerja aparat, dalam hal ini Polda Kaltim. Dalam radar Jatam, ditemukan perubahan respons Polda Kaltim dalam beberapa tahun belakangan terhadap kasus tambang ilegal. Jatam mencatat sejak 2008–2018, setidaknya ada 33 kasus illegal mining yang dilaporkan atau diberitakan. Dari jumlah tersebut, 22 orang ditetapkan tersangka (lihat infografis).

Jatam juga menganalisis kebijakan penegakan hukum tambang ilegal dari delapan kali pergantian kapolda Kaltim. Prestasi terbesar di bawah kepemimpinan Irjen Pol Anas Yusuf yang menertibkan tujuh tambang ilegal dan menetapkan 12 tersangka. (tim kp)

TIM LIPUTAN: YUDA ALMERIO, DINA ANGELINA, MUHAMMAD RIDHUAN, DWI RESTU AMRULLAH, FACHRIZAL MULIAWAN

EDITOR: FELANANS MUSTARI, DUITO SUSANTO

 


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…

Kamis, 27 September 2018 09:12

Ekonomi Menggiurkan dari Alam

RATANA Lukanawarakul begitu seksama mendengar penjelasan Agus, pemuda Desa Muara Siran, Muara Kaman,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .