MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 01 Maret 2018 11:42
Kuburan Ditambang, Melanggar Etika
SEMPAT BIKIN HEBOH: Anggota polisi memeriksa lokasi tambang ilegal di areal pemakaman, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara beberapa waktu lalu.(dwi restu/kp)

PROKAL.CO, AKTIVITAS tambang ilegal di makam muslimin Lempake, Samarinda Utara, menjadi buah bibir. Dari sudut pandang ilmu psikolog, kehebohan itu disebabkan tindakan tambang ilegal yang mengganggu fasilitas publik dan merugikan pihak tertentu.

Psikolog Ayunda Ramadhani berpendapat, tambang ilegal di dekat area makam sangat sensitif. Alasannya, masih ada fenomena orang melayat dan berkunjung ke kuburan menjelang puasa atau ziarah. Masyarakat menganggap kuburan adalah tempat terhormat lantaran menjadi peristirahatan terakhir bagi sanak saudara yang mangkat.

Kegiatan ziarah sudah menjadi budaya, prinsip, dan nilai kepercayaan dalam kehidupan masyarakat Tanah Air. “Ya, harus memahami kalau kebudayaan kita sangat menjunjung tinggi hal-hal itu. Jadi, itu berkaitan dengan etika bermasyarakat,” katanya.

Parahnya, tindakan tersebut diduga kuat dilakukan oleh oknum polisi yang merupakan pelayan masyarakat. Tindakan tersebut dianggap melanggar norma kesopanan dan adab. “Meski dia punya hak atas lahan, setidaknya harus ada permisi sebelum berbuat sejauh itu,” terangnya.

Sebagai polisi, lanjut Ayunda, seharusnya sudah memahami etika tersebut karena seorang polisi termasuk golongan berpendidikan. Namun, tetap saja, desakan ekonomi dapat menjadi dorongan orang untuk bertindak walau melanggar etika dan norma bermasyarakat.

“Muaranya pasti ke sana (finansial). Dia melihat ada sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan kemudian ada kesempatan yang bisa membuat orang gelap mata,” jelasnya. Dia menambahkan, seseorang yang menyandang profesi atau jabatan yang tinggi serta memiliki kekuasaan sangat berpotensi melakukan pelanggaran. Ada dugaan abuse of power, artinya tindakan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan tertentu.

“Dia punya jabatan dan status sosial yang bisa saja menjadi alat untuk hal yang kurang baik. Belum lagi ada aturan dalam etika profesi. Tapi, semua itu masih perlu pembuktian dari hasil pemeriksaan penegak hukum,” ujarnya.

Ayu mengingatkan, sebelum massa memberikan opini dan menghakimi oknum, tetap harus melihat latar belakang dan fakta kejadian. Benar atau tidak oknum polisi tersebut semena-mena dan tidak mendengarkan pendapat masyarakat yang memiliki hak atas kuburan tersebut.

“Solusinya musyawarah dulu dengan beberapa pihak, apa memang tambang yang sudah berjalan mengganggu kuburan. Karena tetap secara teknis aktivitas tambang ada batasan. Sehingga nanti bisa ditemukan kesepakatan untuk seluruh pihak,” tuturnya.

Dari segi sosial, guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman DB Paranoan mengatakan, aktivitas tambang sampai ke area makam menimbulkan ironi. Mereka tak lagi segan menabrak norma sosial dan budaya karena berani mengejar tambang di area makam yang terhitung sakral.

Dia menyayangkan masih ada oknum yang mengganggu area pemakaman untuk mengeruk kekayaan alam dan mencari untung. Menurutnya, masyarakat seharusnya malah menjaga dan menghargai area makam, bukan untuk mencari kepentingan pribadi.

Selama ini, masyarakat tidak berani masuk ke ranah tambang ilegal, mengingat ancaman dan orang besar yang berada di balik tindakan tersebut. "Namun, karena ini menyangkut pemakaman, sebuah hal yang sakral tentang leluhur, mau tidak mau masyarakat marah dan bersuara untuk melindungi area itu," katanya.

Paranoan menjelaskan, masyarakat sekitar area tambang justru banyak mengalami kerugian atas aktivitas penambangan. Mulai kerusakan lingkungan hingga perekonomian yang semakin buruk. Sekarang terlihat sebagian besar masyarakat yang berada di area sekitar tambang justru berada di bawah garis kemiskinan.

"Dampaknya, masyarakat juga semakin miskin. Sebelum ada tambang, tanah subur, masyarakat makmur sejahtera karena tanah masih bisa digunakan. Kemudian, setelah tambang habis, wilayah tersebut ditinggalkan begitu saja," imbuhnya.

Setelah tambang berakhir, masyarakat sudah tak bisa memanfaatkan lahan tersebut. Kalau kondisinya dibiarkan terus-menerus seperti itu, tambang justru dapat menambah masyarakat semakin miskin dan tidak sejahtera. Tidak sesuai harapan awal adanya tambang, yakni membuat masyarakat sejahtera dan pembangunan di daerah meningkat.

Akibat tambang pula, saat hujan datang, warga harus bersiap menghadapi banjir yang terjadi di mana-mana. Sementara saat kemarau, warga hanya bisa menikmati abu. Kerusakan lingkungan yang parah justru membuat masyarakat sengsara akibat tambang.

Dia berharap, pemerintah dapat menangani serius masalah tambang dan tak menganggap situasi ini hal yang sepele. Tambang yang resmi saja masih banyak yang tidak jelas siapa pemiliknya, mereka mangkir dari kewajiban membayar pajak dan royalti pada negara. "Apa yang mau dinikmati oleh masyarakat? Kekayaan sudah terkuras habis, tapi tak ada yang kembali untuk provinsi ini. Semestinya pemerintah tegas dengan aturan," tambahnya.

Pemuka agama Islam, Kiai Muhlasin, sangat menyayangkan adanya aktivitas tambang di area pemakaman muslim. Menurut Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Balikpapan itu, hal sesensitif tersebut mencederai perasaan umat. Dia menyebutkan, pembongkaran makam adalah hal yang haram jika tidak ada alasan atau uzur yang dibenarkan oleh syariat.

Arti dari uzur syariat adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang menurut hukum diperbolehkan tidak melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sebaliknya juga, dia dibolehkan melaksanakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. “Penambangan bukan termasuk salah satu uzur yang dibenarkan syariat, apalagi penambangan yang ilegal,” pungkasnya. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 08 Juni 2018 09:09

Menggantung Asa di Program Pusat

GAP antara si kaya raya dan miskin papa masih terbentang lebar. Kesenjangannya tak hanya tentang pendapatan,…

Jumat, 08 Juni 2018 09:05

Teliti Developer sebelum Membeli Rumah

NEGARA mengatur rakyatnya memiliki hak terhadap papan yang memadai, sebagaimana tertulis dalam UUD 1945.…

Jumat, 08 Juni 2018 09:03

TAK MUDAH..!! Rumah yang Bisa Dikredit dengan Harga Bersahabat

SEPTIANI (23), kini berumah tangga dengan Ivandi (23). Tidak hanya berdua, mereka kini memiliki putri…

Jumat, 08 Juni 2018 09:01

Warga Susah dapat Rumah, Reduksi dengan DP Nol Persen

MENDIRIKAN jutaan unit hunian tak serta-merta mengurangi kesenjangan kepemilikan rumah. Warga tetap…

Senin, 04 Juni 2018 22:00

Siraman Rohani untuk Generasi Menunduk

CATATAN: M RIDHUAN SAYA termasuk generasi menunduk. Pada zaman digital saat ini, khususnya pekerja media,…

Senin, 04 Juni 2018 21:10

DAI, DEMI PAMRIH KEPADA ILAHI

Tak ada kata istirahat dalam dakwah. Islam menyebar lewat perjuangan, yang kini dilanjutkan para dai.…

Senin, 04 Juni 2018 21:02

Jatuh Bangun Empat Dekade

SIANG itu, meski matahari sedang terik-teriknya, Hasyim masih saja sibuk dengan cangkul, kapak, serta…

Senin, 04 Juni 2018 08:37

Menyesuaikan Gaya, Menyentuh Anak Muda

MUHAMMADIYAH salah satu organisasi Islam Tanah Air yang punya peran besar dalam menyebarkan dakwah.…

Senin, 04 Juni 2018 08:30

Santun Jadi Modal Utama

DALAM memberikan nasihat dakwah, yang pertama adalah dengan hikmah. Ini prinsip pertama yang hendaknya…

Senin, 04 Juni 2018 08:24

“Siapa Pun Harus Bisa Menikmati Dakwah”

EKSISTENSI Hidayatullah sudah hampir lima dekade. Tak hanya di Balikpapan, pondok pesantren yang didirikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .