MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 23 Februari 2018 08:22
Terbuai Migas dan Batubara

PROKAL.CO, OLEH: ARSSYA KHOIRUNNISA,
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unmul, Kadiv Pendidikan GenBI Kaltim 2017)

ANGGAPAN sebagian orang bahwa Kaltim merupakan provinsi yang kaya di Indonesia agaknya perlu dievaluasi kembali. Dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Kaltim minus. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan berada di kisaran 1,4 hingga 2 persen. Masih sangat rendah jika dibandingkan dengan pulau Jawa. Perlambatan ekonomi ini karena harga komoditas ekspor andalan Kaltim jatuh di harga dunia.

Pemerintah selama ini terlena dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah di Kaltim. Bangun dari buaian masa keemasan SDA yang melimpah ruah yang tak lagi indah, harusnya pemerintah bisa secepatnya sadar dan mengantisipasi dari awal. Karena buaiannya bahkan membuat Kaltim menjadi pemasok pengangguran terbanyak. Badan Pusat Statistik melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia 7,01 juta orang di Februari 2017 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi ada di Kaltim sebesar 8,55 persen. Hingga di bulan Agustus 2017 TPT di Kaltim 6,91 persen atau sebanyak 114.289 orang.

Pada masa keemasan industri andalan migas dan batubara, pertumbuhan ekonomi di Kaltim masih bisa berjalan sesuai. Tapi sekarang terkontraksi (pertumbuhan negatif), sehingga perlu ada terobosan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang lain. Salah satu sektor yang gencar dikembangkan berbagai daerah di Indonesia saat ini adalah pariwisata. Ramai-ramai daerah mem-branding destinasi pariwisata dengan pesonanya masing-masing. Kaltim punya potensi pariwisata yang begitu besar, sektor ini yang belum digarap maksimal. Selama ini sektor pariwisata di Kaltim tidak dibarengi dengan promosi yang kuat, infrastruktur yang baik, serta keterjangkauan akses yang mudah.

Jika di Jogjakarta ada Candi Borobudur yang begitu mendunia, mengapa Kaltim tidak bisa mengenalkan kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua misalnya atau betapa mempesonanya Pulau Derawan di Berau dan Gua Karst di Sangkulirang. Selama ini orang datang ke Kaltim hanya untuk berinvestasi, mengeruk SDA-nya tapi Kaltim tidak bisa mengeruk uang orang yang datang untuk mengembangkan pesona pariwisatanya. Coba lihat jika orang Kaltim ke Bali, Lombok atau Jogjakarta, berapa banyak uang orang Kaltim yang terkeruk di sana karena daya tarik wisatanya yang didukung dengan promosi yang tepat dan infrastruktur yang memadai.

Pengembangan pariwisata ini perlu didukung oleh berbagai pihak. Seperti Bank Indonesia (BI) yang turut mengembangkan pariwisata daerah lewat Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) sebagai wujud komitmennya mendukung pengembangan pariwisata daerah khususnya Pulau Derawan. Di pulau derawan Gubernur BI, Agus DW Martowardojo menyerahkan program sosialnya dalam mendukung pengembangan pariwisata bahari Bumi Batiwakkal. Bantuan diserahkan kepada kelompok sadar wisata, mulai dari bagan apung, glass bottom boat hingga perlengkapan diving dan snorkeling. Termasuk dukungan menambah penerbangan langsung ke Pulau Maratua yang masih terbatas. Penyerahan ini juga dirangkai dengan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah tahun emisi 2016. Diketahui objek wisata Pulau Derawan dipilih BI menjadi gambar uang pecahan Rp 20.000. Agus mengungkapkan pada harian Koran Kaltim “Selama ini Kaltim bergantung pada SDA mentah baik bentuk pertambangan dan perkebunan yang semuanya diekspor. Kita harus terus bergerak melakukan diversifikasi, jangan hanya bergantung pada SDA mentah. Harus bisa melakukan pengembangan sektor ekonomi lain, salah satunya adalah sektor pariwisata” ungkapnya.

Transformasi ekonomi perlu dilakukan, pemerintah tak bisa lagi membangun daerah hanya mengandalkan SDA semata. Siapa pun yang terpilih nanti di pilgub Kaltim 2018 harusnya bisa belajar dari pengalaman bahwa bergantung dan mengandalkan SDA yang tidak bisa diperbarui jangan lagi membuat terlena. Karena pemimpin yang cerdas adalah yang bisa membawa daerahnya menghasilkan pendapatan asli daerah yang tidak bergantung pada perusahaan tambang batubara dan migas saja, tetapi bagaimana hasil tersebut dapat dikembangkan ke sektor ekonomi lainnya. Pengembangan pariwisata, penguatan kapasitas UMKM, bahkan akselerasi pengembangan sektor ekonomi lainnya menjadi isu kekinian bila ekonomi suatu daerah ingin terus “sehat”. Seharusnya Kaltim bisa membangun sentra-sentra produksi dengan melibatkan masyarakat, bukan digunakan untuk pembangunan infrastruktur saja. Apalagi kebanyakan groundbreaking tapi ujung-ujungnya mangkrak. (*/one/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .