MANAGED BY:
RABU
19 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 23 Februari 2018 08:22
Terbuai Migas dan Batubara

PROKAL.CO, OLEH: ARSSYA KHOIRUNNISA,
(Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unmul, Kadiv Pendidikan GenBI Kaltim 2017)

ANGGAPAN sebagian orang bahwa Kaltim merupakan provinsi yang kaya di Indonesia agaknya perlu dievaluasi kembali. Dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Kaltim minus. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan berada di kisaran 1,4 hingga 2 persen. Masih sangat rendah jika dibandingkan dengan pulau Jawa. Perlambatan ekonomi ini karena harga komoditas ekspor andalan Kaltim jatuh di harga dunia.

Pemerintah selama ini terlena dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah di Kaltim. Bangun dari buaian masa keemasan SDA yang melimpah ruah yang tak lagi indah, harusnya pemerintah bisa secepatnya sadar dan mengantisipasi dari awal. Karena buaiannya bahkan membuat Kaltim menjadi pemasok pengangguran terbanyak. Badan Pusat Statistik melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia 7,01 juta orang di Februari 2017 dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi ada di Kaltim sebesar 8,55 persen. Hingga di bulan Agustus 2017 TPT di Kaltim 6,91 persen atau sebanyak 114.289 orang.

Pada masa keemasan industri andalan migas dan batubara, pertumbuhan ekonomi di Kaltim masih bisa berjalan sesuai. Tapi sekarang terkontraksi (pertumbuhan negatif), sehingga perlu ada terobosan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang lain. Salah satu sektor yang gencar dikembangkan berbagai daerah di Indonesia saat ini adalah pariwisata. Ramai-ramai daerah mem-branding destinasi pariwisata dengan pesonanya masing-masing. Kaltim punya potensi pariwisata yang begitu besar, sektor ini yang belum digarap maksimal. Selama ini sektor pariwisata di Kaltim tidak dibarengi dengan promosi yang kuat, infrastruktur yang baik, serta keterjangkauan akses yang mudah.

Jika di Jogjakarta ada Candi Borobudur yang begitu mendunia, mengapa Kaltim tidak bisa mengenalkan kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua misalnya atau betapa mempesonanya Pulau Derawan di Berau dan Gua Karst di Sangkulirang. Selama ini orang datang ke Kaltim hanya untuk berinvestasi, mengeruk SDA-nya tapi Kaltim tidak bisa mengeruk uang orang yang datang untuk mengembangkan pesona pariwisatanya. Coba lihat jika orang Kaltim ke Bali, Lombok atau Jogjakarta, berapa banyak uang orang Kaltim yang terkeruk di sana karena daya tarik wisatanya yang didukung dengan promosi yang tepat dan infrastruktur yang memadai.

Pengembangan pariwisata ini perlu didukung oleh berbagai pihak. Seperti Bank Indonesia (BI) yang turut mengembangkan pariwisata daerah lewat Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) sebagai wujud komitmennya mendukung pengembangan pariwisata daerah khususnya Pulau Derawan. Di pulau derawan Gubernur BI, Agus DW Martowardojo menyerahkan program sosialnya dalam mendukung pengembangan pariwisata bahari Bumi Batiwakkal. Bantuan diserahkan kepada kelompok sadar wisata, mulai dari bagan apung, glass bottom boat hingga perlengkapan diving dan snorkeling. Termasuk dukungan menambah penerbangan langsung ke Pulau Maratua yang masih terbatas. Penyerahan ini juga dirangkai dengan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah tahun emisi 2016. Diketahui objek wisata Pulau Derawan dipilih BI menjadi gambar uang pecahan Rp 20.000. Agus mengungkapkan pada harian Koran Kaltim “Selama ini Kaltim bergantung pada SDA mentah baik bentuk pertambangan dan perkebunan yang semuanya diekspor. Kita harus terus bergerak melakukan diversifikasi, jangan hanya bergantung pada SDA mentah. Harus bisa melakukan pengembangan sektor ekonomi lain, salah satunya adalah sektor pariwisata” ungkapnya.

Transformasi ekonomi perlu dilakukan, pemerintah tak bisa lagi membangun daerah hanya mengandalkan SDA semata. Siapa pun yang terpilih nanti di pilgub Kaltim 2018 harusnya bisa belajar dari pengalaman bahwa bergantung dan mengandalkan SDA yang tidak bisa diperbarui jangan lagi membuat terlena. Karena pemimpin yang cerdas adalah yang bisa membawa daerahnya menghasilkan pendapatan asli daerah yang tidak bergantung pada perusahaan tambang batubara dan migas saja, tetapi bagaimana hasil tersebut dapat dikembangkan ke sektor ekonomi lainnya. Pengembangan pariwisata, penguatan kapasitas UMKM, bahkan akselerasi pengembangan sektor ekonomi lainnya menjadi isu kekinian bila ekonomi suatu daerah ingin terus “sehat”. Seharusnya Kaltim bisa membangun sentra-sentra produksi dengan melibatkan masyarakat, bukan digunakan untuk pembangunan infrastruktur saja. Apalagi kebanyakan groundbreaking tapi ujung-ujungnya mangkrak. (*/one/k18)


BACA JUGA

Selasa, 18 Desember 2018 09:21

Pengaruh Kopi Terhadap Generasi Milenial

Oleh Fika Septiandari, Mahasiswa Prodi Manajemen UMM)   Percayakah anda,…

Senin, 17 Desember 2018 22:45

Daya Saing Indonesia di Pasar Bebas

Oleh : Muhammad Antung Candra Prodi Bisnis Managemant   Dikabarkan…

Minggu, 16 Desember 2018 22:09

ASN Turn Back Hoax

Oleh Dewi Sartika, SE., MM Peneliti Muda pada Lembaga Administrasi…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:02

Akibat Tambang, Kerusakan Meradang

KALIMANTAN  Timur adalah provinsi yang memiliki potensi kekayaan alam yang…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:00

Masa Depan 212

REUNI 212 yang berlangsung pada 2 Desember 2018 di Kawasan…

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .