MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 22 Februari 2018 10:19
Maut di Dalam Rumah
Fenomena Kekerasan kepada Anak yang Makin Marak
TERSANGKA: Gayatri (kanan) saat diperiksa di Polresta Samarinda beberapa waktu lalu. Dia menjadi tersangka kekerasan terhadap anaknya sendiri, M Mifzal Pahlevi. (DWI RESTU/KP)

PROKAL.CO, Kekerasan kepada anak cenderung meningkat. Mereka disiksa di tempat yang seharusnya paling aman dan oleh orang yang semestinya paling melindungi.

LAMPU ruang tunggu mulai menyilaukan mata ketika seorang pria berkaus hitam tiba di pintu rumah sakit bersama bayi yang sekarat. Masfah, perawat yang sedang piket, bergegas memberikan pertolongan sekaligus menenangkan Donny, 25 tahun, yang tak lain ayah tiri si bayi.

Kamis (1/2) pukul 18.40 Wita di Rumah Sakit Ibu dan Anak Aisyiyah Samarinda, situasi makin bertambah gawat. Masfah yang hanya ditemani kasir dan juru parkir, karena sebagian petugas kesehatan sedang menunaikan salat Magrib, segera meminta Donny menuju instalasi gawat darurat. "Cepat, tolong anak saya. Badannya kejang-kejang," teriak Donny seperti ditirukan Masfah kepada Kaltim Post.

Begitu bayi berusia sembilan bulan yang bernama Muhammad Mifzal Pahlevi itu direbahkan di dipan, Masfah segera mengambil langkah darurat. Oksigen bervolume 2 liter langsung dialirkan, ditambah resusitasi jantung paru dengan menekan dada. Seorang rekan Masfah yang baru menunaikan salat ikut membantu.

Usaha itu tidak membuat napas bayi kembali normal. Wajah Mifzal pucat, pertanda tubuhnya semakin kekurangan oksigen. Masfah lalu menaikkan volume oksigen menjadi 4 liter. Ada sedikit perubahan. Bayi Mifzal mulai bernapas tapi sangat berat. Masfah menghitung, bayi itu sempat empat kali mengembuskan napas.

Begitu kembali menekan dada bayi itu, Masfah terkejut setengah mati. Dia merasakan ada yang kasar di kulit. Begitu dibuka, Masfah melihat luka yang masih basah menganga. “Ya, Allah, Pak. Kenapa ini dadanya?”

Donny yang masih berdiri di tepi tempat tidur menjawab dengan terbata-bata. "Anak saya alergi susu dan sabun," katanya.

Bayi Mifzal masih berjuang melewati maut ketika ibu kandungnya yang bernama Gayatri tiba di rumah sakit sambil meronta-ronta. Seorang dokter spesialis anak ditemani beberapa perawat membuka pakaian bayi. Mereka makin terkejut lagi. Sekujur tubuh Mifzal penuh luka bahkan ada yang sedalam 3 sentimeter. Beberapa bagian kulitnya sudah membiru karena lebam. Daging di lengan bayi itu juga terkoyak seiring ditemukan bekas luka seperti gigitan. Beberapa bagian kulitnya terkelupas seperti disudut rokok. “Kalau tersiram air panas, rasanya tidak seperti itu,” terang Masfah mengingat kembali kondisi bayi.

Gayatri, sang ibu, semakin meronta-ronta melihat kondisi putranya. “Saya tidak pukul. Saya tidak menganiaya,” teriak Gayatri. Mengenakan kaus oblong dan celana pendek, ibu empat anak itu terus ditenangkan para perawat.

Setelah 35 menit para petugas berjuang sekuat tenaga, Mifzal dinyatakan secara medis meninggal dunia. Selama dua jam, jasad Mifzal yang ditutupi kain putih hanya sendirian di atas dipan. Di luar rumah sakit, sejumlah perawat sempat melihat Gayatri dan Donny, pasangan yang menikah siri, bersitegang hebat. Baru pukul 21.15 Wita, jenazah dibawa ke rumah orangtua Gayatri di Jalan Otto Iskandardinata, Kelurahan Sungai Dama, Samarinda Ilir.

***

Di kamar berdinding tripleks, sebuah bangsal di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pelabuhan, Samarinda Kota, Gayatri dan Donny tinggal bersama bayi mereka. Bilik berukuran 5x4 meter itu pengap karena ventilasi yang terbatas. Seutas tali kuning yang dulunya menjadi penggantung ayunan berjuntai-juntai di tengah ruangan.

Kamar itulah saksi bisu atas segala yang menimpa bayi Mifzal hingga tewas. Dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sekarat dan penuh luka, pengakuan kedua orangtua menyajikan beragam kejanggalan. Di muka penyidik, Donny dan Gayatri yang telah menjadi tersangka penganiayaan, menyatakan bahwa anak mereka alergi susu.

Ditemui Kaltim Post tiga pekan setelah kematian Mifzal, Gayatri masih bisa tertawa dan tersenyum. Perempuan yang tengah mengandung itu mengatakan mencoba tegar. “Rasanya lebih baik gantung diri,” kata perempuan yang lahir di Samarinda, 20 Januari 1992.

Dia membantah seluruh sangkaan. Luka di kaki disebut bekas gigitan karena Gayatri gemas anaknya mulai pintar berjalan. Sementara luka lebam baru diketahuinya ketika di rumah sakit. Gayatri mengatakan, dia kaget menerima kabar bahwa anaknya sudah dibawa Donny ke rumah sakit.

Donny turut membantah semua tudingan. Pria yang bekerja sebagai pengantar air kemasan keliling itu menerangkan, anak tirinya terjatuh dari ayunan. “Dari motor juga pernah,” sambungnya. Sementara luka basah di kulit Mifzal disebabkan alergi.

Pengakuan keduanya berbeda dengan keterangan sejumlah tetangga yang ditemui Kaltim Post. Mereka mengatakan, Mifzal menangis hampir setiap malam dengan durasi panjang namun suaranya tak begitu nyaring. "Lebih mirip seperti dibekap," tutur seorang tetangga. Gayatri menyangkal dugaan tersebut. Menurut dia, tangisan itu karena bayinya meminta susu.

Kanit Reskrim Polsekta Samarinda Ilir, Ipda Purwanto, meyakini Mifzal tewas karena disiksa. Dari hasil pemeriksaan luar, luka-luka di tubuh bayi dipastikan karena penganiayaan. "Mari lihat perkembangan sampai pemeriksaannya selesai,” jelasnya.

Mifzal tidak sendiri. Sepuluh bulan sebelumnya, seorang bocah berumur 3 tahun juga tewas di tangan ayah tirinya, Fardi Sali, 30 tahun. Navita, nama perempuan mungil itu, dibunuh di hadapan ibunya yang bernama Reni Candra Anita, 20 tahun. Fardi tiga kali memukul tengkuk Navita. Dia kemudian melemparkan tubuh anak tirinya ke dalam bak truk. Kekejaman itu berlangsung sepanjang perjalanan dari Melak, Kutai Barat, menuju Samarinda pada April 2017.

Dari hasil pemeriksaan petugas, Fardi rupanya kesal karena Navita buang air dan kotoran mengenai perutnya. Dia semakin jengkel ketika istrinya menolak membersihkan. Reni justru memilih membersihkan kotoran di tubuh anaknya terlebih dahulu. Sikap itu membuat Fardi emosi.

Kasus ini banyak mendapat sorotan karena selepas membunuh, Fardi berpura-pura anaknya tewas karena kecelakaan. Tanpa menunjukkan rasa bersalah sama sekali, dia membeli cangkul dan kain kafan di Samarinda. Jasad anaknya kemudian dikubur di dalam hutan Kilometer 28, Desa Prangat, Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara. Hingga di dalam tanah, jenazah Navita masih mengenakan popok dan tidak dimandikan.

***

Kasus kekerasan terhadap anak adalah fenomena gunung es. Tak semua masalah naik ke permukaan. Salah satu penyebab utama adalah peristiwa itu sebagian besar terjadi di dalam rumah. Tempat yang seharusnya paling aman bagi anak-anak.

Kepala Bidang Humas Polda Kaltim Kombes Pol Ade Yaya Suryana mengatakan, banyak kejadian terlambat dilaporkan. Korban biasanya sudah mengalami luka dan trauma berat bahkan meninggal dunia sehingga perlindungan tak maksimal. Padahal, kata dia, upaya hukum dan perlindungan lebih efektif jika lebih cepat dilaporkan.

Keadaan itu tidak lepas dari sulitnya mengendus kekerasan di dalam lingkungan keluarga. Kesaksian pelapor sering kali lemah karena hanya berdasarkan pendengaran. Para tetangga, misalnya, tidak mengetahui persis perlakuan bengis orangtua. “Kecuali saksi melihat langsung. Faktanya, banyak yang baru dilaporkan ketika korban sudah meninggal,” terang Ade.

Menurut laporan World Health Organization (WHO), kekerasan kepada anak di seluruh dunia semakin mengkhawatirkan. Seperempat dari semua orang dewasa melaporkan telah dianiaya secara fisik ketika mereka masih anak-anak. Satu dari lima perempuan dan satu dari 13 pria juga melaporkan telah dilecehkan secara seksual saat masih kecil. WHO turut menyebutkan bahwa 12 persen anak-anak di seluruh dunia dilaporkan telah dilecehkan secara seksual dalam satu tahun terakhir.

Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DKP3A) Kaltim, juga mencatat jumlah kekerasan di seluruh provinsi. Sepanjang 2017 saja, sudah terjadi 992 kasus kekerasan kepada perempuan dan anak. Sepertiga kekerasan terjadi di rumah (lihat infografis).

Hampir setengah kekerasan itu terjadi di Samarinda yang menempatkan Kota Tepian sebagai kawasan paling “merah.” Jika di ibu kota terdapat 399 perkara, Balikpapan menyusul dengan 79 kasus.

Tren kekerasan juga semakin meningkat menurut catatan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltim. Pada 2014, perkara yang ditangani P2TP2A sebanyak 61 kejadian. Jumlahnya bertambah setahun kemudian menjadi 69 kasus, dan melonjak menjadi 96 kasus pada 2016.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kaltim, Sumadi, menyatakan bahwa faktor keluarga dan lingkungan memicu kekerasan kepada anak. Dari sekian banyak kasus, lanjut dia, anggota keluarga menjadi pelaku. Itu diperparah karena faktor lingkungan yang memberikan peluang kekerasan.

Dia sependapat bahwa tren meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak sebagian besar dipicu kesadaran masyarakat untuk melapor. Padahal, zaman sekarang sudah ada keterbukaan akses informasi. Hal itu memudahkan korban dan masyarakat mengekspos kasus kekerasan anak semisal melalui media sosial.

Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak, LPAI Kaltim, Reza Indragiri Amriel, menambahkan bahwa ada fenomena segitiga maut penyebab kekerasan. Ketiganya adalah perceraian, perebutan kuasa hak asuh anak, dan penutupan akses. Segitiga maut memang tak membuat anak mengucurkan darah namun bobot keseriusannya sangat tinggi.

Sebagai contoh, kasus perceraian seolah-olah membuat anak merasa menjadi yatim piatu padahal kedua orangtua masih hidup. Mereka sulit bertemu karena ada penutupan akses. "Perceraian yang diputus oleh hakim bukan solusi atau titik akhir menutup konflik. Tapi malah membuka pintu konflik baru yang efeknya bisa jauh lebih besar dalam proses tumbuh kembang anak," terangnya. (tim kp)

TIM LIPUTAN

•              YUDA ALMERIO

•              MUHAMMAD RIDUAN

•              DINA ANGELINA

•              DWI RESTU AMRULLAH


BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 07:55

Bukan Panggung Rookie

PIALA Dunia 2018 bukan untuk rookie. Peringatan ini wajib didengar Inggris. Apalagi setelah melihat…

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…

Sabtu, 16 Juni 2018 13:00

Libur Lebaran, Wisata Tirta Bakal Ramai

KALTIM menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik dan indah dengan tempat-tempat di luar…

Sabtu, 16 Juni 2018 12:00

Mobil Terbakar setelah Mogok, Truk BBM Terguling Tak Terkendali

SAMARINDA – Sementara banyak umat Islam merayakan Hari Kemenangan dan penuh sukacita, sebagian…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:34

Tinggal Puing setelah Salat

MUSIBAH  tak dapat terelakkan meski momen Idulfitri sekalipun. Jika sebagian besar warga melewati…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:12

2022 Mulai Tidak Kompak

PEMERINTAH boleh bersyukur penetapan awal puasa dan lebaran tahun ini bersamaan. Tetapi, jika penyatuan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .