MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 22 Februari 2018 10:15
Tren Baru karena Narkoba

PROKAL.CO, BULAN berganti tahun, Helga Worotitjan masih teringat kekerasan seksual yang dialaminya sewaktu kecil. Pengamat anak asal Balikpapan itu mengatakan, perkara tersebut meninggalkan luka hingga ia dewasa dan memiliki keluarga.

Helga menerima kekerasan seksual ketika berumur 5 tahun. Pelakunya adalah seorang pria dewasa yang tak lain tetangganya. “Ketika saya menceritakannya, orangtua saya tak percaya. Saya patah hati,” ucap Helga kepada Kaltim Post.

Peristiwa itu bukan satu-satunya. Ketika berusia 8 tahun, Helga menerima perlakuan serupa dari neneknya. Kejadian itu berlangsung selama tiga tahun yang membuatnya menjadi penyintas kekerasan hampir sepanjang hidup. Dia melewati masalah kepercayaan hingga merusak rumah tangga yang berujung perceraian. Helga bahkan pernah dua kali memutuskan bunuh diri dengan menenggak pil tidur.

“Yang saya ingat, saya sudah di rumah sakit. Di sana saya akhirnya sadar. Saya beruntung memiliki dua putri yang mengagumkan,” tuturnya mengisahkan masa lalu yang berat.

Belajar dari pengalaman, Helga menuntut orangtua lebih banyak memahami watak anak. Mengerti membimbing anak agar bisa membentuk karakter yang positif. Orangtua tak boleh menggantungkan sekolah sebagai sarana pendidikan. Menurut dia, pendidikan paling pertama adalah keluarga.

Tidak siapnya mental dan ilmu orangtua adalah faktor munculnya kekerasan dalam membesarkan anak. Namun, penyebab utama adalah orangtua pernah mengalami hal serupa ketika dibesarkan dulu. Kondisi ini tak akan berakhir dan akan terus terulang kecuali orangtua belajar dan mempersiapkan mental sebelum memiliki anak.

“Pengulangan yang akan terus terjadi kecuali diputus orangtua sendiri. Caranya belajar. Membaca literasi dalam mengasuh anak yang tepat,” sambungnya.

Helga juga menyebut kondisi ekonomi keluarga turut berpengaruh. Orangtua kerap melampiaskan kesulitan materi kepada anak. Mereka bahkan menganggap anak hanya menjadi beban hidup.

Dia menyayangkan masih banyak kasus kekerasan anak belum menjadi perhatian terkhusus oleh tetangga atau orang terdekat. Selama ini, anggapan yang mengemuka adalah orangtua memiliki hak absolut mendidik dan mendisiplinkan anaknya. Orang lain tak berani ikut campur. Padahal, pencegahan dini sangat diperlukan untuk menghindari kekerasan yang berujung kematian.

Negara disebut sudah cukup berperan dengan mengeluarkan Undang-Undang 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Namun, implementasi peraturan ini minim di masyarakat. “Peran penegak hukum seharusnya lebih jeli dan tegas. Banyak kasus yang berakhir dengan damai," ucapnya.

Kasus yang dialami Helga tak ubahnya dengan perkara yang dialami perempuan berinisial RR. Gadis 25 tahun asal Kota Tepian itu sempat diperlakukan kasar baik secara psikis maupun fisik. Padahal, dia yakin benar bahwa orangtuanya begitu demokratis.

Penyebab kekerasan yang diterima RR tak sepele, yakni mengenai kepercayaan. Hubungan pertalian darah antara orangtua dan anak pun berakhir di atas kertas akad bermeterai. Kasus itu kini ditangani Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltim.

Tiga kota di Kaltim yaitu Samarinda, Bontang, dan Balikpapan, punya catatan serius dalam urusan kekerasan terhadap anak dan perempuan. Khusus Kota Tepian ada 399 kasus sepanjang 2017, sementara Balikpapan terdapat 79 perkara.

Meskipun masuk kota laik anak, Balikpapan belum begitu ramah dengan anak lantaran pertumbuhan kasus kekerasan cukup signifikan. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan tak membantah tren tersebut. Menurut data DP3AKB Balikpapan, pada 2012 hanya tujuh kasus kekerasan anak. Jumlahnya meningkat hingga 79 kasus pada 2017.

Kepala DP3AKB Sri Wahyuningsih menyebutkan, beragam faktor membuat angka laporan kekerasan anak semakin tinggi. Tak semata-mata kuantitas kasus bertambah, kesadaran masyarakat untuk melapor juga menjadi penyebabnya. Dia mengatakan, dahulu sangat sulit menyaring kasus kekerasan anak. Kasus ini sangat tertutup, ibarat aib yang menjadi bukti kegagalan keluarga. Seiring waktu, DP3AKB gencar bersosialisasi dan memberi pemahaman kepada masyarakat.

Fakta di lapangan, kekerasan terhadap anak paling banyak dilakukan orang terdekat. Mereka yang seharusnya menjadi pelindung si kecil justru melakukan kekerasan. Mulai orangtua, saudara kandung, paman, tante, pengasuh, hingga tetangga.

“Anak yang mendapat kekerasan dalam didikan orangtua bisa mencontoh perilaku itu. Hal yang sama bisa dilakukan kepada anaknya kelak,” ucapnya.

Yuyun, panggilan Sri Wahyuningsih, menambahkan bahwa hukuman berat sudah disiapkan kepada pelaku kekerasan. Sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak, ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara, seumur hidup, atau hukuman mati bagi tersangka yang melibatkan anak dalam kegiatan narkotika. Apabila pelaku merupakan orang terdekat korban atau pihak yang seharusnya melindungi, hukuman ditambah sepertiga dari 15 tahun. Pemerintah juga menerapkan sanksi lebih ketat bagi pelaku yang membuat korban meninggal, cacat fisik, atau memiliki korban lebih dari satu. Jika pelaku tergolong sebagai pelindung anak, dapat diganjar hukuman kebiri yang tertuang dalam UU 13/2016.

Anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda, Adji Suwignya, berpendapat senada. Nyaris 70 persen kekerasan di dalam rumah tangga terhadap anak atau istri merupakan puncak dari trauma suami. Boleh jadi, masa kecilnya pernah mengalami siksaan tak berujung namun bertahan hingga akhirnya menikah. Pola didikan yang diterima dari generasi sebelumnya berulang ke keturunan selanjutnya.

Perkara kekerasan juga bisa disebabkan broken home. Namun, tren terbaru kekerasan muncul karena narkoba, bukan ekonomi semata. Boleh jadi, dalam kasus Gayatri yang diduga menganiaya anak kandung hingga tewas, di bawah pengaruh narkotika. Salah satu indikasinya, suami Gayatri terdahulu adalah terpidana narkoba.

Dia menambahkan, demi mereduksi kekerasan dalam rumah tangga, komunikasi dan perhatian menjadi kunci. Orangtua jangan sampai terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. “Ingat anak, mereka juga butuh tempat untuk mengadu,” sarannya. Jangan heran bila anak yang kurang perhatian menjadi sedikit bandel. Orangtua yang tak mengerti didikan akan memilih jalan kekerasan. Padahal, tegas tak harus dalam bentuk fisik. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .