MANAGED BY:
SENIN
18 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 20 Februari 2018 10:55
Tanggal Lahir Seingatnya, Kolom Agama Dikosongi Dulu

Saat Warga Suku Baduy Beramai-ramai Rekam Data KTP Elektronik

JEMPUT BOLA: Zudan Arif Fakrulloh (kiri) saat penyerahan dokumen kependudukan kepada warga suku Baduy di Desa Kanekes kemarin. (JUNEKA/JAWA POS)

PROKAL.CO, Apa jadinya bila masyarakat Baduy dengan tradisi yang kuat mengikuti perekaman KTP elektronik (KTP-el). Mereka harus memilih nama lahir atau sapaan sehari-hari, menentukan tanggal lahir yang ditentukan hanya dari umur, serta masalah kolom agama.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Lebak

PULUHAN orang berpakaian serba-hitam duduk tenang menunggu giliran di beranda rumah kayu panggung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Tidak banyak kata yang terucap dari para pria suku Baduy yang mengenakan lomar (sejenis ikat kepala). Mereka hampir diam menunggu giliran untuk perekaman KTP-el.         

“Mereka diam saja meski bawa golok. Terlihat sabar menunggu,” ujar Parjiyo, petugas dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Ketenangan itu membuat petugas yang berjumlah 24 orang di depan tujuh mesin perekaman KTP-el itu juga lebih tenang. “Kami menginap di sini, ya ada yang di rumah singgah ini,” jelasnya. 

Pelayanan perekaman dan pencatatan KTP-el itu dilakukan sejak Senin (12/2) hingga kemarin (19/2). Hasilnya selama sepekan jemput bola itu tercatat ada 1.327 KTP-el, cetak ulang 458 unit, dan terdistribusikan 1.785 unit. Selain itu, ada perekaman baru 337 kartu keluarga (KK) dan pencetakan ulang 337 KK. “Hampir tiap hari lembur sampai jam 2 pagi untuk pencetakan langsung,” imbuhnya.            

Masyarakat suku Baduy yang berada di Desa Kanekes memang termasuk yang paling rendah partisipasi dalam perekaman. Banyak persoalan latar belakang budaya dan kebutuhan masyarakat terhadap KTP-el. “Dulu masyarakat suku Baduy tidak mau disensus. Takut dijual,” ungkap Kepala Seksi Pemerintahan Desa Kanekes Sarpin. Dia terlihat paling sibuk membantu para pengurus KTP-el itu.         

Boleh dibilang, dulu urusan administrasi kependudukan bukan perkara yang penting. Mereka tidak perlu akta kelahiran, misalnya, untuk keperluan sekolah anak. Sampai sekarang sebagian besar warga Baduy tidak bersekolah.       

Tapi, dalam rezim pemerintahan yang birokratis, urusan administrasi menjadi penting dan kadang merepotkan. Sarpin menuturkan harus kerepotan mengurus administrasi bila ada warganya yang sampai dibawa ke rumah sakit.

“Kelabakan untuk ngurus lahiran di rumah sakit (RS). Ngurus Jampersal (Jaminan Persalian) harus ada KTP dan KK. Saya sampai nginep di RS, sering begitu,” kenang Sarpin. Sebenarnya urusan pendaftaran KTP-el dengan metode jemput bola itu sudah dilakukan pada 2012. Tapi, hasilnya kurang maksimal. Pada saat itu, terekam sekitar 4 ribu orang. Namun, karena beberapa persoalan seperti data yang salah atau hilang yang tercetak hanya sekitar 3.500 orang.

Sarpin menunjukkan jumlah penduduk Kanekes tercatat 11.724 orang terdiri atas 5.898 laki-laki dan 5.826 perempuan. Warga yang wajib KTP-el sebanyak 7.236 orang, yang telah memiliki KTP-el tercatat 4.181 orang. Sementara yang belum memiliki KTP-el ada 3.052 orang.          

Itu sudah termasuk warga Baduy yang wajib KTP-el mencapai 673 orang. Jumlah yang telah rekam 43 orang yang belum rekam KTP-el 630 orang. Sedangkan total seluruh Baduy mencapai 1.206 orang.           

Sarpin mengungkapkan merespons banyaknya persoalan itu, pihaknya menulis surat kepada kecamatan dan kabupaten untuk dibantu dalam perekaman KTP-el langsung di dekat Desa Kanekes. Apalagi, ada target penuntasan perekaman KTP-el harus selesai pada 2018. “Harus rekam online dan langsung cetak. Kami tidak mau kejadian yang sebelumnya terulang,” ungkap dia.  

Rupanya tidak mudah untuk menyesuaikan masyarakat Baduy pada sistem pendataan di KTP-el yang sudah baku. Lantaran masyarakat Baduy sebagian besar tidak mengenal baca tulis. Untuk mengisi kolom tanda tangan misalnya mereka hanya garis horizontal atau vertikal.

Yang agak rumit adalah tanggal lahir. Sarpin menuturkan, orang Baduy tidak ada yang hafal tanggal lahir mereka. Yang diingat hanya usia. Itu pun angka perkiraan saja. Secara acak, dia bertanya pada beberapa pemuda Baduy yang sedang antre perekaman KTP-el. Pada saat ditanya umur, para pemuda itu terlihat berpikir agak lama dan menjawab sekenanya dengan wajah ragu. “Memang ini diakui bermasalah soal umur,” ujarnya.

Penentuan tanggal lahir warga Baduy telah dimulai pada 2009 saat pendataan untuk Buku Induk Kependudukan. Sarpin dan perangkat desa lainnya menanyai identitas seluruh warga termasuk tanggal lahir untuk menentukan nomor induk kependudukan (NIK). Di dalam NIK itu tercatat tanggal, bulan, dan tahun lahir setelah kode propinsi, kabupaten, dan kecamatan.

Tapi jangankan tanggal lahir, tahun lahir saja mereka tidak tahu. Jadi, dengan berbekal data usia ditarik mundur untuk menentukan tahun lahir. Misalnya yang mengaku berusia 20 tahun berarti lahir pada 1989 terhitung pada 2009 itu. “Tanggal lahirnya semau-maunya kita,” ujar Sarpin lantas tersenyum.

Senyum Sarpin tetap berkembang saat melanjutkan cerita. Dia secara tidak langsung mengakui pendataan umur sekadar seingatnya itu memang tidak sepenuhnya tepat. Pada saat perekaman KTP-el ada pemuda yang tercatat berusia 15 tahun tapi sudah berjenggot. “Lahir 2002 tapi jenggotan,” ujarnya.

Begitu pula soal nama. Sebenarnya sederhana bagi orang Baduy. Sebagian besar nama orang Baduy hanya satu kata dan mudah diucapkan. Saat mereka sudah punya anak biasanya seorang lelaki dipanggil nama anak pertama.

Misalnya seorang punya nama Karmain, maka sang bapak dipanggil Ayah Karmain. Sedangkan ibu disapa Ambu Karmain. Nah, karena sapaan itu sudah menjadi sebutan, terkadang mereka kebingungan untuk menentukan nama yang dicantumkan di KTP-el. Tak mengherankan kalau di Baduy banyak sekali yang dipanggil ayah. “Ada yang tetap pakai nama sapaan di KTP-el bukan nama asli dari lahir. Seperti Ayah Karmain,” ungkap Sarpin.

Ayah Karmain adalah warga Baduy yang telah memiliki KTP-el hasil perekaman sebelumnya. Dia menuturkan sudah 15 kali bepergian hingga Jakarta. Dengan fasih dia menyebut Monumen Nasional, Dunia Fantasi, dan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai sebagian tempat yang dikunjungi.

“Sangat butuh KTP karena silaturahmi ke pejabat ditanya identitas saat masuk rumah. Dan kalau di jalan ada musibah, identitas jelas,” kata pria yang tinggal di Kampung Cibeo, Kanekes, itu.

Kartu KTP-el itu dimasukkan ke tempat untuk menaruh identitas bagi karyawan dengan tali warna merah. Awalnya dia agak ragu menunjukkan KTP-el. Tapi akhirnya dia mengambilnya dari tas Jarog dari anyaman kulit pohon. Agaknya yang menjadi persoalan adalah kolom agama yang tidak diisi.            

Ayah Karmain menjelaskan dengan sangat tegas bahwa dia memang sengaja meminta kolom agama itu dikosongkan. Bukan karena dia tidak beragama. Tapi, bila toh ditulis dia meminta agar ditulis Selam Sunda Wiwitan. “Karena ini sudah keyakinan leluhur kami Selam Sunda Wiwitan. Bukan agama lain seperti Islam,” kata dia.            

Ayah Mursyid, tokoh Baduy, menuturkan memang ada keputusan dari para tetua adat Baduy agar mengakomodasi Selam Sunda Wiwitan sebagai agama. Dulu saat KTP masih dibuat secara manual di kantor kecamatan, Selam Sunda Wiwitan bisa tertulis.   

“Kalau memang belum bisa dikosongkan saja. Kalau bisa ya Selam Sunda Wiwitan. Meskipun kecewa tetap diimbau perekaman,” ungkap pria yang punya nama lahir Halim itu.

Dia pun mengaku telah mengikuti perekaman KTP-el. Pada saat penyerahan secara simbolis KTP-el itu, dia meminta agar Selam Sunda Wiwitan bisa dimasukkan dalam kolom agama.   

Dirjen Kependudukan dan Pencatatan, Kemendagri Sipil Prof Zudan Arif Fakrulloh menuturkan terkait kolom agama dan kepercayaan itu memasuki pembahasan di tingkat akhir. Dalam waktu dekat akan dibawa ke sidang kabinet terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo.

“Prinsipnya keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) akan dilaksanakan. Putusan MK itu meminta dituliskan kira-kira bunyinya menjadi kepercayaan titik dua penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Zudan setelah memberikan secara simbolis KTP-el, KK, akta kelahiran, akta kematian, dan kartu identitas anak, pada warga Baduy di Desa Kanekes, kemarin (19/2). (jun/jpnn/rom/k8)


BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 07:55

Bukan Panggung Rookie

PIALA Dunia 2018 bukan untuk rookie. Peringatan ini wajib didengar Inggris. Apalagi setelah melihat…

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…

Sabtu, 16 Juni 2018 13:00

Libur Lebaran, Wisata Tirta Bakal Ramai

KALTIM menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik dan indah dengan tempat-tempat di luar…

Sabtu, 16 Juni 2018 12:00

Mobil Terbakar setelah Mogok, Truk BBM Terguling Tak Terkendali

SAMARINDA – Sementara banyak umat Islam merayakan Hari Kemenangan dan penuh sukacita, sebagian…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:34

Tinggal Puing setelah Salat

MUSIBAH  tak dapat terelakkan meski momen Idulfitri sekalipun. Jika sebagian besar warga melewati…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:12

2022 Mulai Tidak Kompak

PEMERINTAH boleh bersyukur penetapan awal puasa dan lebaran tahun ini bersamaan. Tetapi, jika penyatuan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .