MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 19 Februari 2018 07:18
Tekan Biaya Produksi Padi, Petani Akan Kelola Kotoran Sapi

Panen Raya Klaster Padi Bank Indonesia di Kubar (2-Habis)

MENUJU KEMANDIRIAN PANGAN: Kepala KPw-BI Kaltim Muhamad Nur (dua kanan) dan Bupati Kubar FX Yapan (tiga kanan), saat memimpin panen raya perdana klaster padi Bank Indonesia di Kampung Galeo, Kecamatan Barong Tongkok, Rabu (14/2) lalu. (CATUR MAIYULINDA/KP)

PROKAL.CO, Salah satu cara membuat sektor pertanian tetap menarik adalah menjaga margin keuntungan dari si petani. Bisa dengan meningkatkan nilai produk, atau menekan biaya produksi.

CATUR MAIYULINDA, Kutai Barat

POTENSI lahan pertanian di Kutai Barat saat ini sekitar 120 hektare. Namun saat ini, baru 75 persen yang terbuka dan berproduksi. Tak maksimalnya penggarapan itu disebabkan minimnya pasokan pupuk organik.

Umumnya, setiap setengah hektare sawah membutuhkan 5 ton kotoran sapi untuk bahan baku pupuk. Saat ini, para petani di Kubar baru menerapkan komposisi 1 ton kompos untuk setengah hektare sawah, atau baru seperlima dari ukuran ideal.

Faktor itu juga yang saat ini membatasi hasil panen padi hanya mencapai 4 ton per hektare. Sebelumnya bahkan hanya 2 ton.

Sekretaris Gabungan Kelompok Tani Mekar Jaya Kampung Galeo Baru, Rina Yati mengatakan, jika komposisi pupuk kandang sudah ideal, produktivitas sawat disebut bisa mencapai 6 sampai 8 ton per hektare. Saat ini, program pengembangan klaster padi binaan Bank Indonesia di Kecamatan Barong Tongkok itu sudah mengarah ke sana.

“Sudah ada kandang sapi yang disediakan Bank Indonesia. Sedangkan bantuan sapi dari Pemkab Kubar. Kemungkinan sekitar tiga tahun ke depan sudah bisa memenuhi komposisi pupuk kandang tadi,” katanya saat dikunjungi Kaltim Post di Kampung Galeo Baru, Kecamatan Barang Tongkok, Kubar, Rabu (14/2) lalu.

Selama ini, Gapoktan Tani Mekar Jaya masih mendapat tambahan pasokan pupuk kandang dari peternak di daerah lain. Per 50 kilogram, biasanya dibeli dengan harga Rp 30 ribu. Sehingga untuk  5 ton kotoran sapi, petani harus membayar sekitar Rp 300 ribu. Ditambah ongkos kirim, jadi Rp 500 ribu.

“Saat ini, pembelian pupuk memang menjadi kendala untuk menekan biaya produksi. Makanya benar saja jika kami difasilitasi untuk mengelola kotoran sapi sendiri,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan edukasi kepada petani. Yakni untuk menjalankan produksi secara efisien, agar harga produk juga bisa kompetitif, dan penghasilan petani lebih baik.

“Misalnya dengan memanfaatkan pupuk organik. Kita integrasikan antara kotoran sapi dan tanaman padi. Targetnya 2020 nanti, petani sudah bisa menghasilkan 8 ton padi per hektare,” tuturnya.

Tahun ini, KPw-BI Kaltim akan menyumbang dua kandang sapi. Masing-masing berkapasitas 80 ekor.

“Kalau sudah produksi pupuk sendiri, biaya produksi petani bisa ditekan. Di sisi lain, produksi padi tetap tinggi,” pungkasnya.

Bupati Kutai Barat FX Yapan menambahkan, pemkab hanya akan membantu dari sisi legalitas. Lokasi kandang yang diberikan KPw BI Kaltim, kata dia, harus jelas status kepemilikannya. Jika tidak, fasilitas yang disediakan untuk Gapoktan Tani Mekar Jaya tersebut rentan diklaim masyarakat dan dianggap fasilitas umum.

“Harus dijaga, legalitas lokasinya. Jangan sampai sudah dibangun untuk mengelola kotoran sapi untuk pupuk organik pertanian, malah dijadikan bisnis oleh orang-orang tak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pemerintah daerah akan mendukung dan membantu apa saja fasilitas yang dibutuhkan KPw BI Kaltim. Termasuk soal perizinan tadi. “BI sudah menyumbang kandang. Pemerintah lewat dinas peternakan nanti akan membantu sapinya. Semua harus dijaga agar berkesinambungan, untuk mendukung peningkatan produksi padi,” tutupnya. (***/man/k18)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 06:50

Promosikan Wisata Halal Lombok

BADUNG – Pariwisata menjadi tema lanjutan pertama yang dibahas setelah pertemuan tahunan bertajuk…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Pengusaha Butuh Kepastian Pasar

SAMARINDA - Program mandatori biodiesel 20 persen (B20)  atau pencampuran minyak kelapa sawit ke…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:48

Furnitur Impor Mulai Terdampak Kenaikan Dolar

BALIKPAPAN - Keperkasaan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah tak serta-merta memengaruhi penjualan…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:43

Jalan Dua Bulan, WP Meningkat hingga 18.424 Orang

BALIKPAPAN – Sejak Juli lalu, tarif pajak penghasilan (PPh) Final untuk usaha mikro, kecil, dan…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:44

Triton Masih Jadi Unggulan

BALIKPAPAN - Membaiknya kinerja pertambangan batu bara di Bumi Etam turut mengerek penjualan Mitsubishi.…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:42

Minyak Mentah Turun Bisa Jadi Penolong Rupiah

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih sulit meninggalkan level 15.000.…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:32

Pacu Pembangunan Pembangkit Listrik Energi Terbarukan

JAKARTA - Indonesia memerhatikan laporan terbaru panel antar pemerintah tentang perubahan iklim …

Senin, 15 Oktober 2018 06:36

BI Sebut Kebutuhan Dolar Masih Besar

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memproyeksi kebutuhan valuta asing dalam bentuk dolar Amerika Serikat…

Senin, 15 Oktober 2018 06:29

Kerek Okupansi Hotel

BALI – Gelaran pertemuan tahunan bertajuk Annual Meetings International Monetary Fund World Bang…

Senin, 15 Oktober 2018 06:28

Jaga Daya Beli, Jokowi Pastikan Premium Tidak Naik

JAKARTA - Pekan lalu publik sempat dihebohkan dengan pengumuman kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jenis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .