MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 19 Februari 2018 07:18
Tekan Biaya Produksi Padi, Petani Akan Kelola Kotoran Sapi

Panen Raya Klaster Padi Bank Indonesia di Kubar (2-Habis)

MENUJU KEMANDIRIAN PANGAN: Kepala KPw-BI Kaltim Muhamad Nur (dua kanan) dan Bupati Kubar FX Yapan (tiga kanan), saat memimpin panen raya perdana klaster padi Bank Indonesia di Kampung Galeo, Kecamatan Barong Tongkok, Rabu (14/2) lalu. (CATUR MAIYULINDA/KP)

PROKAL.CO, Salah satu cara membuat sektor pertanian tetap menarik adalah menjaga margin keuntungan dari si petani. Bisa dengan meningkatkan nilai produk, atau menekan biaya produksi.

CATUR MAIYULINDA, Kutai Barat

POTENSI lahan pertanian di Kutai Barat saat ini sekitar 120 hektare. Namun saat ini, baru 75 persen yang terbuka dan berproduksi. Tak maksimalnya penggarapan itu disebabkan minimnya pasokan pupuk organik.

Umumnya, setiap setengah hektare sawah membutuhkan 5 ton kotoran sapi untuk bahan baku pupuk. Saat ini, para petani di Kubar baru menerapkan komposisi 1 ton kompos untuk setengah hektare sawah, atau baru seperlima dari ukuran ideal.

Faktor itu juga yang saat ini membatasi hasil panen padi hanya mencapai 4 ton per hektare. Sebelumnya bahkan hanya 2 ton.

Sekretaris Gabungan Kelompok Tani Mekar Jaya Kampung Galeo Baru, Rina Yati mengatakan, jika komposisi pupuk kandang sudah ideal, produktivitas sawat disebut bisa mencapai 6 sampai 8 ton per hektare. Saat ini, program pengembangan klaster padi binaan Bank Indonesia di Kecamatan Barong Tongkok itu sudah mengarah ke sana.

“Sudah ada kandang sapi yang disediakan Bank Indonesia. Sedangkan bantuan sapi dari Pemkab Kubar. Kemungkinan sekitar tiga tahun ke depan sudah bisa memenuhi komposisi pupuk kandang tadi,” katanya saat dikunjungi Kaltim Post di Kampung Galeo Baru, Kecamatan Barang Tongkok, Kubar, Rabu (14/2) lalu.

Selama ini, Gapoktan Tani Mekar Jaya masih mendapat tambahan pasokan pupuk kandang dari peternak di daerah lain. Per 50 kilogram, biasanya dibeli dengan harga Rp 30 ribu. Sehingga untuk  5 ton kotoran sapi, petani harus membayar sekitar Rp 300 ribu. Ditambah ongkos kirim, jadi Rp 500 ribu.

“Saat ini, pembelian pupuk memang menjadi kendala untuk menekan biaya produksi. Makanya benar saja jika kami difasilitasi untuk mengelola kotoran sapi sendiri,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk melakukan edukasi kepada petani. Yakni untuk menjalankan produksi secara efisien, agar harga produk juga bisa kompetitif, dan penghasilan petani lebih baik.

“Misalnya dengan memanfaatkan pupuk organik. Kita integrasikan antara kotoran sapi dan tanaman padi. Targetnya 2020 nanti, petani sudah bisa menghasilkan 8 ton padi per hektare,” tuturnya.

Tahun ini, KPw-BI Kaltim akan menyumbang dua kandang sapi. Masing-masing berkapasitas 80 ekor.

“Kalau sudah produksi pupuk sendiri, biaya produksi petani bisa ditekan. Di sisi lain, produksi padi tetap tinggi,” pungkasnya.

Bupati Kutai Barat FX Yapan menambahkan, pemkab hanya akan membantu dari sisi legalitas. Lokasi kandang yang diberikan KPw BI Kaltim, kata dia, harus jelas status kepemilikannya. Jika tidak, fasilitas yang disediakan untuk Gapoktan Tani Mekar Jaya tersebut rentan diklaim masyarakat dan dianggap fasilitas umum.

“Harus dijaga, legalitas lokasinya. Jangan sampai sudah dibangun untuk mengelola kotoran sapi untuk pupuk organik pertanian, malah dijadikan bisnis oleh orang-orang tak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pemerintah daerah akan mendukung dan membantu apa saja fasilitas yang dibutuhkan KPw BI Kaltim. Termasuk soal perizinan tadi. “BI sudah menyumbang kandang. Pemerintah lewat dinas peternakan nanti akan membantu sapinya. Semua harus dijaga agar berkesinambungan, untuk mendukung peningkatan produksi padi,” tutupnya. (***/man/k18)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 07:06

Tahun Politik, BI Jamin Temuan Uang Palsu Turun

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim bertekad menekan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:03

Pengusaha Mamin Keluhkan Masalah Gula Lokal

JAKARTA - Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:02

Pemerintah Diminta Benahi Masalah dari Hulu

JAKARTA - Pemerintah masih terus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan…

Selasa, 22 Januari 2019 06:53

Kenaikan Harga Diklaim Wajar

BALIKPAPAN - Otoritas bandara berencana mengajukan perubahan tarif batas atas…

Selasa, 22 Januari 2019 06:47

Produksi Udang Windu Dituntut Meningkat

SAMARINDA - Udang windu Kaltim saat ini menjadi andalan Indonesia…

Selasa, 22 Januari 2019 06:45

Perjuangkan Bea Masuk Ekspor Perhiasan 0 Persen

JAKARTA – Industri perhiasan masih menjadi salah satu andalan untuk…

Selasa, 22 Januari 2019 06:41

Inka Ekspor Gerbong ke Bangladesh

SURABAYA – Kebutuhan sarana transportasi kereta di berbagai negara masih…

Selasa, 22 Januari 2019 06:40

2020, Target Kirim 30,3 Juta Ton Batu Bara

PALEMBANG - PT Bukit Asam (BA) Tbk terus meningkatkan pengiriman…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

PGN Optimistis Capai 244.043 Pelanggan

JAKARTA - Setelah resmi mengakuisisi 51 persen saham PT Pertamina…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

Maret, VietJet Air Buka Rute Vietnam-RI

JAKARTA - Maskapai penerbangan asal Vietnam, VietJet Air akan membuka…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*