MANAGED BY:
RABU
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 17 Februari 2018 08:09
Motivasi Warga Binaan Rutan, sampai Resmikan Musala di Pelosok

Sehari Mengikuti Kegiatan Sosial Rombongan Wali Band di Rangkasbitung

PEDULI SOSIAL: Dua personel Wali Band Faank (keempat kanan) dan Apoy (kedua kanan) bersama warga binaan meresmikan Musala As Salam di Rutan IIB Rangkasbitung.

PROKAL.CO, Di luar ingar-bingar aksi panggungnya, Wali Band memiliki sejumlah kegiatan sosial. Dengan bendera Wali Care mereka seharian berada di Rangkasbitung, Lebak, Banten, untuk menjalankan beberapa aksi sosial pada Kamis (15/2). Berikut ceritanya. 

 

M HILMI SETIAWAN, Rangkasbitung 

 

HUJAN sejak pagi tidak membuat semangat ratusan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIB Rangkasbitung, Lebak, Banten, menyambut kedatangan personel Wali Band padam. Dijadwalkan tiba pukul 10.00 WIB, ternyata rombongan baru sampai sekitar pukul 13.00 WIB.

Kunjungan sedikit molor karena ada gangguan sedikit dalam perjalanan rombongan Wali Band menuju Rangkasbitung. Personel band itu datang bersama ratusan bikers yang menggeber motornya dari kawasan Tangerang Selatan, Banten.

Di tengah perjalanan, mereka sempat ikut diguyur hujan dan ada motor yang rusak. Setibanya di rutan, ratusan warga binaan yang kompak berbaju koko ada yang histeris. Apalagi kedatangan grub band yang diawaki Faank (vokal), Apoy (gitar), Ovie (keyboard), dan Tomi (drum) itu disambut alunan Marawis Qotrunnada.

Personel mawaris ini tak lain adalah warga binaan rutan juga. Di antara lagu yang mereka bawakan adalah Tomat (Tobat Maksiat) milik Wali Band. Iringan rebana dikolaborasikan dengan kendang membuat beberapa warga binaan bergoyang di bawah tenda.

Tak lama kemudian, Faank menyanyi jarak jauh. Faank ikut menyanyikan lagi Tomat itu saat berada di balkon gedung bagian depan rutan. “Turun, turun, turun!” Begitu teriakan warga binaan yang sudah tidak sabar berjumpa dengan personel Wali Band lebih dekat.

Setelah beberapa saat, waktu yang ditunggu pun tiba. Seluruh personel Wali turun menuju tenda. Pertama mereka meninjau perpustakaan rutan yang didirikan Wali Care akhir tahun lalu. Perpustakaan di sudut penjara itu terlihat rapi dengan buku-buku yang berjejer rapi. Di antaranya, buku keterampilan.

Setelah itu, personel Wali didampingi Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Banten Ajub Suratman, Kepala Rutan Aliandra Harahap, serta Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ahmad Faisal Hadziq meresmikan Barber Shop serta Rutangkas (Rutan Rangkas) Tailor.

Di ruang menjahit itu ada empat mesin jahit yang bisa digunakan melatih warga binaan. Begitu pula Barber Shop juga sudah dilengkapi perangkat cukur rambut. Setelah seremoni peresmian dua sentra keterampilan itu, rombongan Wali kembali masuk ke tenda. Secara bergantian, personel Wali memberikan wejangan atau motivasi kepada warga binaan.

Pesan motivasi diawali oleh Ovie (Hamzah Shopi). Keyboardist asal Bogor itu mengatakan, tempat yang mereka singgahi itu benar-benar di luar bayangannya. “Bayangan saya sebelum masuk tempat ini menakutkan,” tuturnya.

Tetapi dia kaget karena di rutan warganya murah senyum. Dia menyampaikan bahwa menjadi warga binaan tidak perlu kecil hati. Sebab, warga binaan adalah orang yang luar biasa.

Bagi Ovie, setiap orang pernah berbuat salah. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk menjadi sosok yang lebih baik. Pesan berikutnya disampaikan oleh Tomi, si drummer. Pria bernama lengkap Ihsan Bustomi itu mengatakan, suasana yang dia tangkap, warga binaan Rutan Rangkasbitung adalah sosok yang ramah, mengasihi, dan menyayangi. “Ini luar biasa,” tuturnya.

Dia menceritakan bersama Faank pernah dalam sebuah film, harus berada di dalam penjara selama berjam-jam. Di penjara, dia mengamati goresan tulisan dari para tahanan. Ada tulisan yang kangen anak dan ingin pulang. “(Ada juga tulisan) Mak jemput Mak,” jelas pria asal Jakarta itu.

Dalam kesempatan itu, Tomi sempat memanjatkan doa supaya jauh dari semua aib. Kemudian jangan sampai masuk lapas sebagai tahanan. Kepada para warga binaan Rutan Rangkasbitung, Tomi menyampaikan supaya diberikan kesabaran yang kuat dan besar.

Kemudian, Faank ikut memberikan motivasi kepada warga binaan. Dia mengutarakan, sebaik-baiknya personel Wali, bisa jadi lebih baik warga binaan rutan. Sebaliknya, seburuk-buruknya warga binaan rutan, bisa jadi lebih buruk personel Wali. “Jadi jangan berkecil hati,” pesannya.

Pesan motivasi ditutup oleh Apoy (Aan Kurnia). Sosok Apoy ini sebelumnya pernah berkunjung ke Rutan Rangkasbitung saat peresmian perpustakaan pengujung 2017 lalu. Dalam kesempatan itu, dia hanya memberikan pesan motivasi singkat. Mutiara akan tetap jadi mutiara. Meskipun ada di dalam comberan atau got. “Anda adalah mutiara,” kata Apoy kepada semua warga binaan disambut tepuk tangan.

Setelah memberikan motivasi di Rutan Rangkasbitung, rombongan Wali Band dan ratusan bikers bergegas meluncur ke Kampung Cikiara, Desa Mekarwangi, Kecamatan Muncang, Lebak.

Jarak kampung Cikiara dari Rangkasbitung (ibu kota Lebak) sekitar 38 kilometer dan ditempuh dalam waktu hampir dua jam. Kontur daerah itu adalah pegunungan. Di beberapa titik jalan menanjak cukup curam.

Di titik lain banyak kubangan karena guyuran hujan pada pagi harinya. Tiba di kampung Cikiara, matahari nyaris terbenam. Puluhan warga histeris saat personel Wali masuk ke salah satu rumah warga. Di kampung ini, Wali bersama Wali Care bakal meresmikan renovasi Musala As Salam.

Renovasi ini merupakan bagian dari program 100 Musala Indah yang digagas Wali bersama dengan beberapa pihak. Di antaranya, Mezora, Indonusa Megantara Prima, dan Shafira Foundation.

Untuk mencapai lokasi Musala As Salam itu harus menyusuri jalan yang menurun lumayan curam. Untungnya jalan menuju musala sudah ditutup semen. Musala berukuran sekitar 4x6 meter itu terlihat mencolok di tengah rumah-rumah warga. Ada beberapa rumah warga di sekitar musala yang hanya terbuat dari anyaman bambu (gedek). Bau cat tembok yang masih terasa, menandakan renovasi musala itu belum berlangsung lama.

Apoy mengatakan, kondisi musala ini sebelumnya sangat memprihatinkan. Dengan renovasi ini, dia berharap, musala menjadi tempat yang layak dan aman untuk mendekatkan diri dengan Allah. “Tidak perlu takut roboh atau diterpa angin lagi,” jelasnya.

Renovasi Musala As Salam itu adalah kegiatan renovasi musala yang kesepuluh. Apoy mengatakan, renovasi yang kesepuluh ini cukup berkesan karena melibatkan tujuh warga binaan Rutan Rangkasbitung. Untuk alasan privasi, pihak rutan meminta hanya disebutkan inisialnya. Ketujuh orang itu adalah AJ, HR, FR, KH, ST, DL, dan AD.

Apoy mengatakan, rencana renovasi musala yang kesebelas tetap di wilayah Banten. Dia tidak memasang target kapan program 100 Musala Indah itu akan selesai. “Yang penting prosesnya. Program ini dikawal malaikat-malaikat Allah,” tuturnya.

Motivasi menjalankan program 100 Musala Indah itu adalah Wali berusaha sebaik-baiknya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kepada warga sekitar musala dia berharap setelah direnovasi ikut menjaganya.

Dia menjelaskan, personel Wali yang bukan penduduk setempat saja peduli, maka warga setempat harus jauh memiliki awareness.  Lebih lanjut, Tomi mengatakan, program 100 Musala Indah dimulai sejak 2016. Sebelum renovasi dijalankan, ada tim advance yang survei ke lokasi.

Ada beberapa kriteria selain kondisi fisik bangunan. Yakni, kegiatan di musala harus aktif. Seperti salat berjamaah, pengajian, serta kegiatan TPA untuk anak-anak. Salah satu warga binaan yang ikut merenovasi masjid itu mengaku cukup bangga. Selain bisa bermanfaat buat warga, dia sedikit bisa menghirup udara “kebebasan”. Selama proses renovasi, warga binaan diantar menggunakan mobil pagi hari dan kembali pulang ke rutan menjelang petang. “Saya sudah tinggal di rutan sekitar delapan bulan,” katanya.

Pria asal Jawa Tengah yang tinggal di Jakarta itu terjerat kasus penggelapan mobil majikannya. Dia berharap, kegiatannya membantu renovasi musala bisa dicatat sebagai amal kebaikan.

Kepala Rutan Rangkasbitung Aliandra Harahap menyampaikan terima kasih atas program sosial dari Wali. Dia mengatakan, warga binaan yang ikut aktif kegiatan renovasi musala adalah orang-orang yang sedang hijrah. “Insyaallah mereka akan kembali ke tengah masyarakat. Menjadi lebih baik dibanding sebelum hijrah,” katanya.

Dia berharap kepada masyarakat untuk menerima warga binaan setelah menjalani masa hukuman. Aliandara mengatakan, masyarakat tidak perlu takut atau khawatir.

Selama menjalani hidup di dalam tahanan, warga binaan sudah mengakui masa lalu mereka yang kelam. Kemudian, mereka berjanji untuk bertobat. Kegiatan peresmian renovasi musala itu pun ditutup dengan salat Magrib berjamaah. Suasana seketika menjadi hening dibalut hawa dingin pegunungan. (rom/k8)

 


BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .