MANAGED BY:
JUMAT
22 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 17 Februari 2018 06:34
Ubah Metode Tanam, Produksi Naik Dua Kali Lipat

Panen Raya Klaster Padi Bank Indonesia di Kubar (1)

BAKAL NAIK LAGI: Sebelum menjadi klaster binaan Bank Indonesia, petani di Kubar hanya bisa menghasilkan 2 ton per hektare.

PROKAL.CO, Padi menjadi salah satu komoditas terpenting dalam struktur pangan nasional. Tak terkecuali di Kaltim. Meski belum bisa bicara swasembada, upaya untuk meningkatkan produksi tetap harus dilakukan.

CATUR MAIYULINDA, Kutai Barat

DALAM  strukturinflasidi Kaltim, bahan pangan masih menjadi penyumbang terbesar. Selain dari sisi distribusi dan konsumsi, kenaikan harga juga coba dibendung dengan menggenjot produksi di dalam daerah.

Hal itulah yang mendasari langkah Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim, untuk mengelola 90 hektare (ha) sawah di Kampung Geleo Baru, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat. Walau belum terbilang besar jika dibanding daerah-daerah di Pulau Jawa atau Sulawesi, setidaknya lahan yang dikembangkan melalui program klaster binaan itu bisa menjaga asa bahwa Benua Etam pun mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok.

Rabu (14/1) lalu, lahan tersebut akhirnya merayakan panen perdananya. Total, menghasilkan 360 ton gabah kering giling (GKG). Artinya, rata-rata setiap hektare memproduksi 4 ton.

Melihat capaian sebelumnya, angka itu sudah sangat bagus. Sebelum tersentuh pembinaan dari bank sentral, para petani padi di Kampung Geleo hanya mencatatkan angka produktivitas 2 ton per hektare.

Sekretaris Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mekar Jaya Kampung Galeo Baru, Rina Yati mengatakan, pembinaan pada anggotanya lebih banyak dari sisi kompetensi sumber daya manusia (SDM). Petani diajarkan cara mengelola pupuk organik yang benar, hingga strategi pemasaran.

Dia menyebut, sebelumnya produksi tak maksimal karena struktur lahan yang kurang baik. Zat asam tanah saat itu masih terlalu tinggi. “Waktu itu bantuan juga belum ada. Setelah menerapkan prosedur, akhirnya kelihatan perubahan,” tuturnya saat ditemui Kaltim Post di sela-sela perayaan panen perdana, Selasa lalu.

Bahkan, lanjut Rina, masih ada peluang meningkatkan produktivitas lahan. Potensi panen per hektare, kata dia, jika maksimal bisa mencapai 8 ton.

“Itu akan terealisasi kalau pembangunan kandang sapi bantuan nanti rampung. Karena kalau itu jadi, pupuk bisa bikin sendiri. Kami bisa gunakan pupuk lebih banyak, dan tetap ekonomi,” ungkapnya.

Potensi Kutai Barat untuk menggenjot sektor pertanian sebenarnya sangat besar. Namun tak tergarap maksimal, lantaran banyak masyarakat yang enggan serius bertani.

Bupati Kutai Barat, FX Yapan mengatakan, 85 persen penduduk Kutai Barat memiliki pekerjaan sebagai petani, meski sebagian di antaranya merangkap dengan pekerjaan lain. “KTP petani, tapi setiap hari mereka beli beras, beli cabai, dan lainnya,” ungkap dia.

Karenanya, dia sangat bersyukur atas dukungan dari Bank Indonesia, untuk membantu sektor ini. Minat untuk kembali bercocok tanam pun mulai tumbuh, terutama melalui kelompok-kelompok tani.

“Sekarang sudah mulai kembali bersemangat ke sawah atau ladang. Tentunya masih dengan berbagai upaya pembinaan. Produksi padi yang naik 100 persen itu adalah buktinya,” tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Muhamad Nur mengatakan, produksi pertanian merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian. Terutama padi, yang sampai saat ini menjadi bahan pangan utama masyarakat di Tanah Air.

“Semua orang Indonesia masih makan nasi. Suplainya harus jelas. Kalau terganggu, ya kita harus menghadapi inflasi terus,” ujarnya.

Kaltim, lanjut dia, masih memiliki tantangan besar untuk mendongkrak sektor pertanian. Sektor yang berkaitan dengan ketahanan pangan itu, saat ini baru menyumbang 8 persen terhadap struktur produksi domestik regional bruto (PDRB). Tertinggal jauh oleh sektor pertambangan yang berkontribusi 46 persen.

“Coba lihat daerah lain, seperti Sulawesi Selatan. Ekonominya tumbuh dengan baik karena menjadi daerah penguasa pasar pangan, khususnya seperti beras,” ungkapnya.

Nur meyakini, Kaltim pun bisa melakukan hal yang sama, karena masih luas lahan yang belum tergarap. Jika panen raya seperti pada klaster padi ini berlanjut, bukan tak mungkin Benua Etam pun bisa menjadi produsen pangan potensial. Minimal, untuk memenuhi kebutuhan di dalam daerah.

“Pepatah dulu mengatakan, siapa yang menguasai teknologi akan menguasai dunia. Tapi sekarang berubah. Siapa yang bisa menguasai pangan, akan menguasai dunia,” tutupnya. (***/man/k15)


BACA JUGA

Minggu, 17 Juni 2018 10:19

JOSSS..!! Agnes Jadi Cover Majalah Rogue

Kerja keras Agnez Mo untuk go international semakin membuahkan hasil nyata. Setelah majalah fesyen dunia,…

Minggu, 17 Juni 2018 00:49

Lolos 6 Besar, Belajar Tampil Live di TV

Lima remaja ini sudah eksis dengan kelompok nasyid sekolah selama dua tahun terakhir. Siapa sangka,…

Sabtu, 16 Juni 2018 01:18

Tak Lagi di Rumah Dinas, Serasa Lebaran Bersama Keluarga

Ada yang berbeda open house yang dilakukan Rizal Effendi kali ini. Masa cutinya kali ini membuat perayaan…

Sabtu, 26 Mei 2018 02:26

“Darah Madura Saya Tidak Memungkinkan untuk Menjadi Takut”

Setelah pensiun, Artidjo Alkostar berencana menghabiskan waktu di tiga kota: Jogjakarta, Situbondo,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .