MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 16 Februari 2018 07:10
Darah Utusan Dinasti Yuan
PENGHORMATAN: Para penyumbang pembangunan Thian Gie Kiong, termasuk donatur setiap renovasi, terukir namanya dalam prasasti yang ditempatkan dalam ruang utama kelenteng. (SAIPUL ANWAR/KP)

PROKAL.CO, MASUKNYA etnis Tionghoa ke Samarinda diperkirakan turut terjadi pada masa Dinasti Yuan (1279-1294). Pada masa kepemimpinan Kubilai Khan tersebut, invasi ke negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara dilancarkan oleh pasukannya. Invasi ke Jawa pada akhir 1292 berujung tersebarnya kelompok tersebut ke Bumi Etam.

Dalam riwayat sejarah, tertangkapnya Raja Jayakatwang dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mendirikan Kerajaan Majapahit. Pasukan Mongol yang semula bersekutu, berbalik jadi objek serangan dan diusir dari tanah Jawa. Konon, serangan tersebut membuat utusan Kublai Khan terdesak hingga ke Jahitan Layar atau Kutai Lama.

"Tentara Kublai Khan kalah dan terus terdesak hingga terus masuk ke Mahakam. Di situ ditandai tersimpannya barang-barang mereka di Gunung Kongbeng,” ulas Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Kaltim Robin Jonathan, Kamis (15/2).

Dari pelarian tersebut, pasukan Mongol berbaur dengan masyarakat setempat. Faktor itu pula yang, menurutnya, menyisakan banyak kesamaan antara suku Dayak dengan Tionghoa. Mulai kemiripan fisik hingga adat istiadat.

“Dari situ ada yang sampai ke Samarinda dan membaur dengan penduduk lainnya,” tambah dosen Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda tersebut.

Pada periode tersebut, Kota Tepian didominasi penduduk etnis Bugis. Maka mengemuka lah komitmen antara kedua etnis tersebut. Sementara kelompok Bugis bermukim di kawasan Samarinda Seberang, etnis Tionghoa di kawasan pelabuhan. “Kemudian berkembanglah masyarakat Tionghoa di Samarinda,” tambahnya.

Migrasi etnis Tionghoa tersebut berdatangan sejak saat itu. Antara abad 17–18, Tan Djit Peng membawa orang-orang Yong Chun ke Samarinda untuk berdagang. Pada masa yang berdekatan, Lo Apu mengangkut ribuan orang dari Guang Dong untuk bekerja menambang batu bara.

Kedatangan Tan Djit Pheng diikuti berdirinya beberapa badan usaha di Samarinda. Bisnis dijalankan oleh anak-anaknya mulai usaha perkapalan, pegadaian, hingga perdagangan. Sedangkan Lo Apu, berkat kedekatannya dengan Sultan Kutai Kartanegara, kebagian tugas mengelola konsesi batu bara. Hasil dari pertambangan tersebut wajib diberikan sebagian kepada kesultanan secara berkala.

Lebih jauh, Robin menjelaskan status Tan Djit Pheng sebagai buyutnya, tak lain ayah dari Tan Keng Lian, kakeknya. Kehadiran buyutnya dan Lo Apu tersebut, berperan terhadap berdirinya Kelenteng Thian Gie Kiong pada 1903. Oey Khoey Gwan (Oey Tjhing Tjwan) yang namanya tertulis sebagai pendiri, disebut bertugas sebagai kepala kerja pembangunan tempat ibadah tradisional Tionghoa saat itu.

“Pembangunan tersebut dilakukan lewat dana patungan warga Tionghoa. Semua penyumbang tercatat di prasasti dalam kelenteng itu,” imbuh pria 67 tahun tersebut. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .