MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Kamis, 15 Februari 2018 09:00
Tiga Tahun Dikurung, Ratusan Pengungsi Stres

Cari Perhatian Dunia

MINTA KEJELASAN: Ratusan pengungsi menggelar aksi di Rudenim Lamaru, Balikpapan, kemarin. Berbagai pesan yang ditulis di kertas dibentangkan. Mereka mendesak IOM dan UNHCR segera mencarikan solusi. (PAKSI SANDANG PRABOWO/KP)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Suara para pengungsi yang ditampung di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan menggema, Selasa (13/2). Mereka yang sudah beberapa tahun dikurung menggelar aksi demonstrasi. Meneriakkan kebebasan, memohon agar diberi kesempatan menghirup udara segara.

Sebanyak 184 pengungsi ditampung di areal seluas separuh lapangan bola tersebut. Kurungan mereka dikelilingi pagar beton setinggi 8 meter. Di atas pagar masih ada lagi kawat berduri setinggi 2 meter yang menjorok ke dalam. Hampir tidak ada celah untuk kabur dari Rudenim di Jalan Sosial Tengah, RT 66, Kelurahan Lamaru, Balikpapan Timur, itu.

Ketika tahu kedatangan Kaltim Post, para pengungsi kian lantang meneriakkan keluhannya. “Kami mau bebas. Tolong bantu kami. Kami manusia. Kami tidak bersalah. Kami sudah capek. Tolong bantu kami,” teriakan para pengungsi kompak. Mereka juga mengangkat poster yang menyerukan kebebasan. Serta menuliskan lamanya mereka dikurung tanpa pernah sekalipun keluar Rudenim.

Pengungsi, Mahdi Alizada, mengaku tak pernah keluar dari Rudenim Balikpapan sejak Agustus 2014. “Saya datang di sini awalnya ada 300 orang. Lalu sebagian dari kami dipindah ke Surabaya dan Jakarta. Ada juga yang pulang ke Afganistan. Sekarang tinggal 184 orang. Satu orang Iran, dua orang Somalia, dan sisanya Afganistan,” ujar pengungsi dari Afganistan itu kepada media ini.

Dia menyebut, aksi demo yang dilakukan para pengungsi sudah berlangsung sejak 17 Januari 2017. Hal itu dilakukan sebagai upaya agar mereka diizinkan untuk keluar dari Rudenim. “Kami menderita. Hidup kami di sini sangatlah sulit. Kami tak punya cukup air untuk memasak atau mencuci. Bahkan, tak punya kesempatan untuk belajar dan sekadar bermain,” kata Faraidon Qurbani, pengungsi asal Afganistan lainnya. 

Dia melanjutkan, hari demi hari berlalu dan tak ada yang spesial. Semua hanya rutinitas. Memasak, makan, dan tidur berulang-ulang. Hal yang paling terasa setelah aksi demo dilakukan, mereka kehilangan sepenuhnya akses keluar. Jika sebelumnya masih diizinkan untuk sekadar beli SIM card, lalu keluarga dan teman masih bisa mengirimi uang, namun akses itu telah diputus.

Dia berharap melalui aksi tersebut, suara mereka bisa didengar oleh dunia luar. Bahwa, mereka yang tidak bersalah, tapi dikurung seperti seorang kriminal. “Kami cuma minta bebas. Tidak peduli di sini (Balikpapan), atau di kota lain. Tidak masalah apakah kami ditempatkan di community house atau tidak. Yang penting kami bisa keluar dari sini,” tambahnya.

Mahdi menimpali bahwa sempat beberapa kali ditawarkan untuk pulang ke negara asal. Namun, tidak mungkin bagi mereka untuk pulang. Pulang berarti bunuh diri. “Kami sudah seperti tak punya negara. Di negara kami (Afganistan), ada banyak kubu-kubu. Pembantaian dan pemboman di mana-mana. Bukan hanya satu kubu yang akan memburu kami, tapi banyak kubu,” lanjutnya.

Dia mengaku masih berkomunikasi dengan teman-temannya yang pulang ke Afganistan. Tapi sayangnya, beberapa dari mereka telah tewas. Ada yang terkena bom hingga tangannya hancur.

Sementara itu, Kepala Rudenim Balikpapan Muhammad Irham Anwar memaklumi aksi yang dilakukan para pengungsi. “Sekarang sudah sedikit lebih tenang karena saya rutin komunikasi dengan mereka. Dulu waktu saya dilantik Oktober (2017), sudah disambut dengan demo itu. Karena mereka stres terlalu lama dikurung,” ujarnya. Aksi yang dilakukan oleh para pengungsi diharapkan mengurangi tingkat stres mereka.   

Irham melanjutkan, aksi tersebut bukan ditujukan untuk Rudenim. Melainkan untuk International Organization for Migration (IOM) dan The UN Refugee Agency (UNHCR). Mereka mendesak organisasi dunia yang menangani para pengungsi ini segera mencarikan solusi. Sebab, negara ketiga–sebutan negara tujuan pengungsi–telah banyak mengurangi kuota masuknya pengungsi.

Negara ketiga itu adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia. “Amerika dengan kebijakan Donald Trump (Presiden AS) sudah sama sekali tidak menerima. Australia yang biasanya 500 orang setiap tahun. Tahun ini hanya 100 orang. Sementara jumlah pengungsi yang ditampung di seluruh Rudenim di Indonesia jumlahnya mencapai 16 ribu,” imbuhnya.

Itulah yang membuat para pengungsi semakin cemas. IOM dan UNHCR kabarnya juga tengah mencari negara tujuan lain. Namun, sampai sekarang belum ada kabar.    

Yang dilakukan Pemerintah Indonesia adalah menutup celah-celah masuknya pengungsi ke negara ini. Mereka yang ada sekarang disiasati dengan pembentukan community house. Yakni, semacam apartemen untuk para pengungsi di mana mereka juga diberi izin bersosialisasi dengan masyarakat. Namun, community house belum ada di Balikpapan. Kemungkinan untuk pembangunan community house di Kota Minyak juga sulit karena ada penolakan dari berbagai kalangan masyarakat.

“Itulah makanya kami tidak bisa memberikan izin mereka keluar. Karena kalau terjadi dampak sosial, siapa yang akan tanggung jawab,” imbuhnya. Rudenim telah menyediakan tempat yang bersih, makanan yang sehat, serta fasilitas olahraga. Namun, belakangan diboikot dan tak diikuti. Irham mengaku juga tak mempermasalahkan hal tersebut.

Para pengungsi di Rudenim seluruh Indonesia, dibiayai oleh IOM melalui dana sumbangan dari berbagai negara. Yang bakal menjadi masalah andai saja bantuan itu distop. Tentu keperluan para pengungsi bisa menjadi beban negara. 

Irham melanjutkan, pada 27 Februari, 30 orang dari Rudenim Balikpapan akan dipindahkan ke Rudenim Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di sana juga terdapat community house. Ini sebagai salah satu strategi agar mereka tidak stres. “Kami berharap, semua yang ada di sini dipindah. Lalu isi dengan yang baru. Jadi masih fresh dan tingkat stres mereka belum terlalu tinggi seperti sekarang,” harapnya. (rsh/rom/k8)


BACA JUGA

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Mantan Jubir Kemendagri, Tiga Bulan Jadi Pj Gubernur

SAMARINDA - Teka-teki penjabat (Pj) gubernur Kaltim yang ditunjuk Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri)…

Minggu, 16 September 2018 11:00

Pusat Bakal Jatuhkan Sanksi

JAKARTA - Pemerintah tidak ingin disebut lambat menjatuhkan sanksi untuk 2.259PNS kasus korupsi yang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .