MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 14 Februari 2018 09:42
Monopolisisapi

PROKAL.CO, Peredaran daging sapi di Kaltim ditengarai dikuasai para tengkulak dan kartel besar. Bau bacin menyeruak dari praktik busuk monopoli.

TEGUH Joko Prihatno segera bangkit dari kursi ketika mobil bak terbuka yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Seekor sapi jantan berusia 3 tahun dengan berat 1,5 kuintal segera dinaikkan ke pikap. Sebagai gantinya, uang Rp 10 juta dia terima. Akhirnya, uang sekolah anaknya buat beberapa bulan ke depan sudah diamankan.

Dari tepi jalan cor beton Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Teguh lamat-lamat memperhatikan tengkulak yang sudah pergi. Hanya kepada tengkulaklah, lelaki 52 tahun itu menaruh harap. "Ketika kebutuhan rumah tangga mendesak, menjual sapi jadi pilihan," terang Teguh kepada Kaltim Post di kediamannya, pekan lalu.

Teguh tidak sendirian. Hampir seluruh petani dan peternak di kecamatan itu menjual sapi hanya kepada tengkulak. Berbagai alasan menyeruak. Selain langsung menjemput bola hingga ke depan pintu kandang, para tengkulak siap dengan uang. Di sisi lain, para petani akhirnya pasrah dengan harga yang ditentukan tengkulak.

“Kami juga tidak punya akses ke penjagal atau kepada pedagang,” imbuh Teguh. Lagi pula, jika dijual kepada pedagang, pembayaran biasanya belakangan.

Pemandangan serupa ditemukan Kaltim Post saat mendatangi peternak di Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kukar. Sejumlah peternak mengaku terus-menerus menjual sapi kepada makelar. Selain tidak punya kendaraan untuk mengangkut sapi ke rumah potong hewan (RPH) atau pasar, para pemilik sapi kesulitan mengurus administrasi.

Untuk mengirim sapi ke RPH, peternak harus mengantongi surat kesehatan hewan dari dokter hewan. Celah ini kemudian dimanfaatkan para tengkulak. Mereka menyediakan jasa one stop service, jemput, bayar, dan surat lengkap di tempat. Lagi pula, para tengkulak yang paling memahami aturan jual-beli ternak. Sebagai contoh, sapi yang dijual bukan betina indukan yang masih produktif dengan bukti surat dokter hewan. Para peternak yang sebagian tidak bisa baca-tulis menyerahkan urusan itu kepada tengkulak.

"Kami tidak ada pilihan lain," ucap Zazuli, peternak dari Kelompok Tani Agro Lestari di Desa Beringin Agung. Dia yakin nyaris 100 persen peternak menjual sapi kepada tengkulak.

Harga jual sapi akhirnya anjlok. Sapi yang dijual Teguh dari Loa Kulu dengan harga Rp 10 juta, misalnya, semestinya bisa mencapai Rp 18 juta. Dari harga yang diterimanya, Teguh hanya memperoleh Rp 66 ribu per kilogram. Di pasar, harga daging segar mencapai Rp 125 ribu per kilogram. Setidaknya, terdapat selisih harga Rp 59 ribu per kilogram sejak ternak lepas dari tangan pedagang hingga ke meja makan.

Para tengkulak menjadi rantai pertama dalam persekutuan hitam perdagangan daging sapi dengan selisih Rp 59 ribu per kilogram tadi. Angka itu sama dengan Rp 8 juta per ekor. Padahal, dari seluruh kebutuhan daging sapi di Kaltim, 28,2 persen dipasok peternak lokal. Dalam setahun, menurut Dinas Peternakan Kaltim, pasokan daging lokal sekitar 16 ribu ekor. Rupiah yang dinikmati para makelar menembus Rp 128 miliar setahun, setara pendapatan 51 ribu orang per bulan mengikuti upah minimum provinsi.

MONOPOLI PARA KARTEL

Rantai kedua monopoli berlangsung dari daging sapi yang didatangkan ke Kaltim. Dari keperluan 60 ribu ekor daging sapi per tahun, 44 ribu ekor harus "diimpor." Perusahaan swasta yang memegang kuota tersebut diduga kuat menjadi pengatur harga edar daging sapi di Bumi Mulawarman. Jumlah pemain yang hanya hitungan jari menimbulkan bau bacin dalam praktik pasokan sapi ke Kaltim.

Seorang pemasok yang ditemui Kaltim Post bersedia membuka suara. Lelaki yang meminta namanya tidak ditulis itu menjalankan bisnis lewat kongsi resmi dengan sebuah perusahaan besar. "Suplai sapi dari luar daerah memang menggiurkan," akunya ketika ditemui di sebuah rumah makan di Samarinda Ilir.

Pengusaha itu membeberkan bahwa monopoli daging sapi berkedok perkumpulan perusahaan sejenis. Dari komunikasi para pelaku di dalam asosiasi, sambung dia, harga sapi dikendalikan dengan mudah. "Sudah biasa itu," lanjutnya. Selain harga, para pengusaha disebut mengatur jadwal memasok sapi ke Kaltim. "Bulan ini kelompok A, bulan depan kelompok B. Begitu seterusnya," tambahnya.

Ekosistem yang tidak sehat menimbulkan pasar yang cenderung monopoli. Situasi itu paling disenangi produsen dan distributor namun sangat dibenci konsumen. Sejumlah pemain yang menguasai pasar, seperti penuturan pengusaha tadi, membentuk pasar oligopoli. Dalam Ekonomi Mikro (2007), pasar oligopoli adalah pasar yang terdiri dari beberapa produsen yang menghasilkan seluruh atau sebagian besar total output di pasar. Pasar oligopoli lebih menyerupai pasar monopoli murni dengan ciri-ciri sejumlah kecil perusahaan menghasilkan komoditas homogen.

Keadaan itu selaras dengan pemasok sapi di Kaltim. Pengusaha yang ditemui Kaltim Post melanjutkan, semakin sedikit perusahaan pemasok sapi, semakin mudah mengaturnya.

Perusahaan yang tidak ikut dalam permainan juga akan dikucilkan. Perusahaan yang memilih melawan arus akhirnya melewati seleksi alam. Mereka musnah dari ekosistem pasar daging sapi karena kalah dalam persaingan. Sementara perusahaan yang bertahan segera bersalin menjadi kartel. Dalam Principles of Economic (2006), kartel adalah kelompok yang menentukan harga dan keputusan output bersama-sama. Pasal 11 UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat telah melarang praktik kartel. Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pesaing dengan maksud memengaruhi harga dengan mengatur produksi dan/atau pemasaran suatu barang dan/atau jasa.

Di Kaltim, para kartel daging sapi disebut membangun perusahaan bayangan. Modusnya, kata si pengusaha tadi, perusahaan induk membentuk anak perusahaan. Mereka membangun skema seolah-olah tidak ada ikatan antara perusahaan induk dan anak di dalam pasar. Cara itu menjadi kamuflase agar monopoli terlihat seperti persaingan sempurna.

Di balik itu, mereka menyamarkan pengaturan stok dan harga dengan dalih cuaca buruk yang mengganggu distribusi. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah para pemain sedang menahan persediaan. Cara itu sukses membuat harga daging sapi melambung.

"Di dalam, kami bertukar informasi sesama perusahaan," terangnya.

Para pemasok semakin diuntungkan dengan kondisi Kaltim yang kekurangan daging sapi. Pasar yang tersedia sangat besar dengan 71,8 persen daging dipasok dari luar. Di sisi lain, harga daging lokal justru lebih mahal karena permainan di tingkat tengkulak. Sampai seluruh kebutuhan daging sapi lokal dipenuhi, barulah kartel ini bubar. "Swasembada daging sapi paling cepat lima tahun lagi," yakinnya. 

Nanang Sulaiman adalah pemasok yang bersedia berbagi informasi seputar tingginya “impor” daging sapi ke Benua Etam. Mantan anggota DPR RI daerah pemilihan Kaltim-Kaltara itu baru setahun terakhir terjun ke dalam bisnis. Nanang mendatangkan sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) lewat kolaborasi dengan rekan bisnisnya.

Ditemui Kaltim Post di kawasan GOR Segiri, Samarinda, Jumat (9/2), Nanang membantah informasi praktik kartel. "Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada seperti itu. Saya tak tahu kalau ada pengusaha lain yang menganggap demikian," jelasnya. Nanang mengaku juga tidak pernah merasa bersaing dengan peternak lokal dalam pemenuhan kuota sapi. Justru banyak peternak lokal yang membeli sapi darinya untuk digemukkan.

"Saya sebenarnya sangat berharap kebutuhan daging dipenuhi peternak lokal," tambahnya.

Pesta pora para tengkulak dan kartel di dalam pasar daging sapi tak dibantah Pemprov Kaltim. Kepala Bidang Pengembangan Usaha Peternakan, Dinas Peternakan (Disnak) Kaltim, Yakub Pangendongan, membenarkan bahwa petani sapi kesulitan mendapat posisi di pasar. Tidak ada tawar-menawar sehingga rantai pemasaran dikuasai tengkulak.

“Rantai pasar itu dikuasai makelar. Penjualan daging sapi dimonopoli,” ungkap Yakub.

Salah satu cara memupus praktik tidak sehat itu adalah mewujudkan swasembada sapi. Gubernur, lanjut dia, sudah bersurat kepada bupati dan wali kota se-Kaltim agar menyediakan lahan khusus kawasan peternakan. Kawasan itu bukan integrasi sapi-sawit maupun penggunaan lahan eks tambang. “Kendalanya sejauh ini lahan,” terang dia. Padahal, pemprov tengah gencar mewujudkan gerakan dua juta sapi (baca juga: Proyek Semu Dua Juta Sapi).

Kepala Seksi Promosi dan Pemasaran, Dinas Peternakan Kaltim, Muhammad Fadli, satu suara. Saat ini, kata dia, pemasukan sapi potong maupun bibit sedang turun. Pemasukan daging beku sebaliknya. Dinas mencium permainan nakal pengusaha yang mendatangkan daging beku dengan memanipulasi daging tersebut seolah segar. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 17 Desember 2018 21:14

Pemprov Kelebihan Bayar Rp 48 Miliar di 16 Pekerjaan, Ini Hasil Temuan BPK Lainnya

SAMARINDA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Kaltim melakukan Pemeriksaan…

Senin, 17 Desember 2018 14:15

SAKIT DAPATNYA..!!! 5 Anggota DPRD Diberhentikan dan Menggugat Gubernur, Ini Kata Isran...

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor menilai gugatan terhadap Surat…

Senin, 17 Desember 2018 06:52

Daya Beli Turun, Sektor Retail Kaltim Paling Merasakan

MELANDAINYA Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kaltim, yang dapat menunjukkan penurunan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:26

Terancam Izinnya Dicabut, 50 Perusahaan di Kariangau Dievaluasi

SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kaltim berencana evaluasi sekitar 50 izin…

Minggu, 16 Desember 2018 08:26

Daftar Pemilih Tetap Naik 5,7 Juta

BUTUH 101 hari bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bolak-balik…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:05

Bisakah Tol Balikpapan-Samarinda Dipakai Fungsional Saat Natal?

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Tol…

Sabtu, 15 Desember 2018 17:20

DPK Kaltim dan Kaltara di Bank Terkumpul Rp 98,82 Triliun

SAMARINDA - Hasil penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:41

ALHAMDULILLAH..!! Proyek Jalan Menuju Jembatan Pulau Balang Boleh Dilanjutkan

SETELAH mencapai kesepakatan dengan pemilik lahan, Panitia Pengadaan Lahan Pulau…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:30

Tiket Pesawat via APT Pranoto Lebih Mahal

SAMARINDA  –  Harga tiket pesawat lewat Bandara APT Pranoto Samarinda…

Sabtu, 15 Desember 2018 06:09

Kinerja Industri Non-migas Membaik

SAMARINDA  -   Kinerja industri pengolahan non-migas mulai menunjukkan perbaikan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .