MANAGED BY:
JUMAT
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 14 Februari 2018 09:12
Belum Ada yang Luar Biasa
KELAS KAKAP: Arizal Muda Gunawan baju kuning) di salah satu peternakan sapi miliknya di kawasan Samarinda Utara.(dokumen pribadi for kaltim post)

PROKAL.CO, Oleh Taufan Purwokusuamaning

SEJAK 2010, pemerintah mencanangkan program swasembada daging sapi yang dikemas dalam Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) pada 2014. Belum 2014, program tersebut direvisi. Jadinya Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau. Harapannya, bila tidak bisa terpenuhi dari daging sapi, bisa juga ditambah daging kerbau. Dalam perjalanan, tampaknya hanya beberapa provinsi yang dapat memenuhi program tersebut. Kalimantan Timur tidak termasuk yang sudah swasembada.

Untuk itu, dalam sambutannya pada saat Bulan Bhakti Peternakan akhir 2013, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mencanangkan peningkatan populasi sapi hingga 2 juta ekor pada 2018. Lebih dari 4 tahun, program ini seolah berjalan di tempat. Peningkatan populasi sapi yang ada saat ini tampak sebagai peningkatan populasi yang normal saja, belum terlihat peningkatan luar biasa. Sesuai dengan program 2 juta ekor. Sebenarnya, pada 2013, diproyeksikan bahwa populasi ternak sapi di Kalimantan Timur dapat mencapai 167.814 ekor. Dengan pertumbuhan rata-rata 14,98 persen.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan produksi, paling tidak diperlukan 382,8 ribu ton bahan kering hijauan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan 162.310 hektare padang rumput dengan kualitas baik. Atau 38.280 hektare kebun rumput potongan berkualitas baik. Hal ini akan menjadi persoalan. Sebab, areal untuk peternakan tidak dialokasikan sebagaimana pemanfaatan lahan lainnya. Misalnya lahan untuk pertanian (tanaman pangan), lahan perkebunan, pertambangan, permukiman, dan lain sebagainya.

Sebab itu, penyediaan hijauan pakan pada umumnya masih “menumpang” pada lahan-lahan pertanian atau perkebunan dengan sistem integrasi. Belakangan, lahan reklamasi tambang batu bara juga menjadi bahan pertimbangan dalam sistem integrasi dengan ternak. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam integrasi ternak di lahan pertanian tanaman pangan. Ada hubungan timbal balik. Atau hubungan mutualistik. Antara ternak dengan lahan pertanian. Lahan pertanian, berikut limbahnya, dapat dimanfaatkan oleh peternak sebagai komponen sumber pakannya.

Sumber daya pakan ini dapat berasal dari lahan di mana tanaman itu tumbuh. Misalnya pematang, sawah, atau gulma hasil penyiangan pada areal pertanian. Atau berasal dari jerami yang dihasilkan. Ternak sapi potong, sebagai “pabrik biologis”, selain menghasilkan produk utama dalam bentuk daging, juga menghasilkan limbah yang dapat dimanfaatkan oleh lahan pertanian. Guna meningkatkan kesuburan tanah serta mengurangi biaya produksi dalam hal pembelian pupuk. Dengan demikian, terjadi suatu siklus hara tertutup yang mengarah kepada pertanian berkelanjutan. Karena itu, integrasi ternak ke dalam lahan pertanian akan memberikan keuntungan ekonomi.

Misalnya keragaman pendapatan. Yang berasal dari komoditas berbeda dalam suatu lahan. Selanjutnya keuntungan lingkungan. Misalnya dengan adanya kotoran ternak sebagai pupuk organik akan mengurangi penggunaan pupuk anorganik yang dalam jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah. Lalu keuntungan sosial kultural. Misalnya petani di Indonesia umumnya tidak hanya bercocok tanam dalam hal mengusahakan lahan pertaniannya. Namun juga memelihara ternak sebagai satu kesatuan usaha taninya.

POTENSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Perkebunan kelapa sawit merupakan sumber daya lahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil pakan bagi ternak sapi. Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Sangat signifikan. Luas perkebunan kelapa sawit pada 2009 tercatat 530.554 hektare. Dan pada 2017 sudah mencapai 1.100.000 hektare. Pola pengembangan ternak yang terintegrasi di dalam suatu perkebunan kelapa sawit dapat ditinjau dari dua aspek. Pertama, lahan sebagai ruang gerak ternak sekaligus sebagai penyedia pakan. Khususnya hijauan. Kedua, pakan sebagai sumber nutrisi yang diperlukan oleh ternak. Kedua aspek ini sangat bergantung dari sumber daya yang tersedia di lahan perkebunan tersebut.

Ternak yang masuk ke dalam sistem produksi perkebunan kelapa sawit dengan memanfaatkan sumber daya yang tidak dimanfaatkan oleh sistem produksi perkebunan kelapa sawit. Seperti hijauan antar tanaman (HAT), limbah, serta hasil ikutan dari perkebunan tersebut. Bila tinjauannya adalah terhadap lahan, sumber daya yang cukup besar tersedia adalah hijauan pakan. Baik yang berasal dari HAT ataupun dari daun dan pelepah pohon kelapa sawit. Pada kondisi ini, ternak sapi lebih memungkinkan untuk berinteraksi di dalam suatu perkebunan kelapa sawit.

Jenis tanaman pakan yang dapat berkembang dengan baik di bawah naungan kelapa sawit sebagian besar berupa rumput alam (62–87 persen), leguminosa alam (3–32 persen), dan lainnya (4–10 persen). Jenis-jenis rumput tersebut sudah beradaptasi baik dengan tegakan sawit pada tingkat naungan hingga 55–65 persen. Kapasitas tampung sapi potong dengan bobot badan 250 kilogram pada lahan sawit hanya dapat menampung 1,48 ekor/hektare/tahun. Kapasitas tampung ini akan semakin menurun dengan meningkatnya umur tanaman. Umur sawit 2, 4, 8, dan 12 tahun. Masing-masing memiliki kapasitas tampung sebesar 2,86 ekor/hektare/tahun. Lalu 1,55 ekor/hektare/tahun. Apabila mengacu kepada rata-rata kapasitas tampung 1,48 ekor/hektare/tahun dengan luasan kebun sawit, maka kebun sawit yang ada di Kalimantan Timur dapat menampung 1.350.802  sapi setiap tahunnya dengan bobot 250 kilogram. Nilai tersebut hanya yang berasal dari HAT.

Sumber pakan lain dari kebun sawit dapat berasal dari daun sawit tanpa lidi. Pelepah yang dikupas, lumpur sawit, dan bungkil inti sawit (BIS). Apabila seluruh sumber daya pakan tersebut dimanfaatkan, maka dapat menampung sebanyak 1.498.753 ekor sapi potong per tahunnya. Karena itu, pemanfaatan sumber pakan yang edible yang berasal dari sawit perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi lahan sawit serta meningkatkan kapasitas tampungnya.

POTENSI LAHAN REKLAMASI

Dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211.K/003/M.PE/95, yang dimaksud reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu. Sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agar dapat berfungsi dan berdaya guna. Sesuai dengan peruntukannya. Kebijakan reklamasi ditujukan agar pembukaan lahan untuk pertambangan seoptimal mungkin. Dan setelah digunakan segera dipulihkan fungsi lahannya. Reklamasi harus dilaksanakan secepatnya sesuai dengan kemajuan tambang. Reklamasi merupakan bagian dari skenario pemanfaatan lahan pascatambang.

Pada umumnya, kasus yang sering terjadi akibat tereksposnya lahan karena galian penambangan batu bara. Terutama dengan cara open pit mining. Berakibat rendahnya hara tanah, rendahnya bahan organik tanah,toksisitas mineral, buruknya tekstur tanah, dan rendahnya aktivitas mikroorganisme tanah.  Selain itu, akibat tanah buangan yang belumstabil akan mengakibatkan erosi, longsor, degradasi, dansedimentasi. Karena itu, upaya awal yang dilakukan dalam programreklamasi setelah dilakukan rehabilitasi tanah adalah penambahan bahanorganik dan revegetasi.

Tujuannya agar tanah cepat tertutupi.Membangun iklim mikro yang dapat mendukung pertumbuhan mikroorganismetanah dan tumbuhan lainnya. Tanaman penutup tanah tersebut dapatberfungsi juga sebagai penyedia bahan organik dari biomassa tanamanyang mati. Tanaman pionir yang digunakan untuk revegetasi lahan reklamasi tambangbatu bara umumnya berupa jenis tanaman penutup tanah. Seperti rumputsignal (Brachiaria decumbens), rumput bahia (Paspalum notatum), puero(Pueraria phaseoloides), dan sentro (Centrosema pubescens).Jenis-jenis tanaman ini memberikan peluang yang besar dalammengembangkan sapi potong di areal ini.

Karena jenis tanaman tersebut merupakan tanaman pakan yang memiliki nilai nutrisi yang baik, palatable, dan tahan terhadap penggembalaan. Hasil percobaan penggembalaan di lahan reklamasi tambang batu bara PT KPC, Taufan (2009) memperoleh hasil bahwa lahan reklamasi tambang batu bara dengan komposisi pakan yang terdiri atas 60 persen rumput signal, 20 persen legume puero, dan 20 persen gulma. Dari hasil percobaan tersebut, menunjukkan bahwa kandungan Cd, Cu, Pb, dan Zn pada punggung, paha, hati, dan jantung masih di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh WHO/FAO. Keuntungan lain dari adanya sapi di lahan pascatambang batu bara, selain dapat memberikan sumbangan bahan organik pada tanah, juga dapat membantu dalam penyebaran tanaman, sehingga penutupan lahan semakin cepat.

Tidak semua lahan reklamasi tambang batu bara ini merupakan lahan yang berupa kawasan budidaya non kehutanan (KBNK). Yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi lainnya. Setelah masa penambangan. Bagi perusahaan tambang batu bara yang menggunakan kawasan budi daya kehutanan (KBK) sebagai areal penambangannya, dalam program reklamasinya harus mengembalikan kepada keadaan semula sebelum dilakukan penambangan. Sebab itu, banyak sebagian perusahaan pertambangan yang melakukan reklamasi dengan mengembalikan kepada kondisi hutan. Namun, bagi perusahaan yang arealnya merupakan KBNK juga harus menyiapkan rencana penutupan tambang (RPT) dalam membangun zona-zona pemanfaatan untuk pengembangan ekonomi. Dari zona inilah pemanfaatan lahan pascatambang dapat digunakan untuk pengembangan sapi potong di Kalimantan Timur. (timkp)



BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…

Senin, 12 November 2018 11:00

KENA PAJAK..?? Menteri Keuangan Bakal Wajibkan Mahasiswa Miliki NPWP

JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani berencana mewajibkan seluruh mahasiswa di Indonesia memiliki…

Senin, 12 November 2018 10:37

Angel dan Jose Makin Intim, Dikabarkan Sudah Menikah

Hubungan Angel Karamoy dengan sutradara Jose Poernomo makin intim. Buktinya, Jose Poernomo semakin sering…

Senin, 12 November 2018 10:28

Marquez Rayakan Gelar Dunia ke 7 di Kampung Halaman

UNTUK merayakan gelar juara dunia ketujuhnya, atau kelima di kelas MotoGP, Marc Marquez, pada Sabtu…

Senin, 12 November 2018 10:20

LUCU JUGA..!! Perusahaan Air Masih Terkendala Air

TANA PASER–Sepekan terakhir, masyarakat Paser, khususnya Kecamatan Tanah Grogot, mengeluhkan pelayanan…

Senin, 12 November 2018 08:49

Klasifikasikan Kualitas Pasangan, Kemampuan Biologis Juga Ditanya

Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah berhasil menyelenggarakan pernikahan mubarakah, Minggu (11/11).…

Minggu, 11 November 2018 11:11

Pulang, KRI Bima Suci Banyak Sabet Penghargaan

 Setelah mengelilingi lima negara selama 100 hari untuk mengikuti event internasional, Kapal Republik…

Minggu, 11 November 2018 11:10

Kasihan Banget..!! Banyak Guru Honor yang Pensiun dengan Gaji Rp 150 Ribu Per Bulan

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Suprijadi mengungkapkan banyak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .