MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 14 Februari 2018 08:36
Kemajuan Teknologi dan Informasi Sebagai Awal Kehancuran Dunia

PROKAL.CO, CATATAN: ARIFUL AMIN

SEBAGAI manusia  Allah membekali akal pikiran yang tidak terbatas bila diolah. Kemampuan mengolah tersebut menjadi lompatan demi lompatan dalam penemuan tehknologi termasuk dalam membantu penyampaian informasi. Begitu cepatnya perubahan tersebut membuat bisnis dibidang informasi menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. PT TELKOM salah satunya yang mencatat perolehan laba hingga puluhan trilyun dengan kenaikan hingga 22 percen. Mengalahkan binis dibidang migas yang dikelola pt Pertamina, justru turun 27 persen di semester yang sama.

Keuntungan dan sisi positif dari lompatan teknologi informasi ternyata disisi lain juga menjadi bibit awal kehancuran dunia. Derasnya informasi sering kali justru infomasi negatif cepat berkembang dan cepat direspon secara berantai dibanding informasi yang bersifat positif. Ketidak adilan dibelahan dunia lain menjadi isu yang cepat berkembang yang membuat berhadapan satu kelompok dengan kelompok yang lain. Kemarahan demi kemarahan antara individu dengan individu, kelompok dengan kelompok semakin cepat tersampaikan tanpa sekat yang membatasi. Akibatnya dunia semakin panas bukan hanya faktor pemanasan global namun panas dari efek negatif kemarahan.

Panasnya situasi antar kelompok saat ini sudah masuk pada tahap antar agama, dan ini sangat riskan mengingat agama adalah suatu keyakinan manusia. Ruang propaganda yang awalnya tersekat dan terhimpun dalam ruang kusus dan hanya ditujukan pada penganut keyakinan yang sama, saat ini tanpa ruang dan bebas diakses siapapun. Akibatnya sering kali mencerna hanya sepenggal dan tidak utuh seperti layaknya ruang belajar yang tidak sempit. Bagi yang diluar islam menjadi phobia terhadap umat muslim disebabkan yang tergambar wajah bengis teroris. Padahal teroris bukanlah muslim karena muslim tidak pernah mengajarkan peperangan seperti halnya yang dijalankan oleh teroris saat ini.

Walau ada kegiatan besar yang sangat positif seperti halnya kegiatan 121, dimana umat muslim membantu umat kristen yang akan melakukan perkawinan di Gereja Katedral, hal positif tersebut tetap kalah dengan hal negatif seperti halnya penyerangan romo di gereja st lidwina. Kejadian dengan pelaku 1 orang lebih direspon oleh kelompok non muslim dibanding bantuan yang dilakukan banyak orang. Sebaliknya hal yang sama juga seperti itu, perlakuan umat lain pun akan cepat direspon oleh umat yang lainya apabila dalam kejadian yang negatif.

Dunia begitu terbuka dan begitu cepat informasi sampai pada kelompok yang saling berseberangan juga berakibat pendeknya ruang untuk berfikir secara sehat. Respon-reslon negatif juga akan menumpuk dalam ruang bawah sadar yang sewaktu-waktu keluar menimbulkan pertikaian yang besar dan tidak menutup kemungkinan tercetusnya perang dunia ke 3, peperangan antar agama satu dengan yang lain. Dunia dipenuhi ketidak percayaan satu sama lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain, satu agama dengan agama yang lain. Terjadi kubu kubuan dengan modal media elektronik maupun media sosial.

Kehancuran dari faktor informasi yang begitu cepat lebih besar potensinya dibanding dengan akibat pemanasan global. Pemanasan global hanya menyulut pada ekosistem dan manusia mudah disadarkan dari akibat yang ditimbulkan. Pemanasan akibat kebencian lebih susah untuk disadarkan karena ketidak adilan akan terus terjadi di dunia ini. Sentimen demi sentimen terus diproduksi dan  menjadi kebanggaan bila menyerang kubu lain. Hoax menjadi industri dan dipesan untuk kepentingan tertentu.

Apakah kita akan menjadi bagian dari suatu sebab terjadinya pertikaian dan menjadi bangga dengan masuk pada bagian propaganda untuk kehancuran dunia ini. Medsos ditangan kita akan menuntunya dan tanpa sadar kita terbawa kedalam peran kehancuran.(*/one/k18)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 07:05

Status WTP dan Paradoks Pembiakan Korupsi

OLEH: WIDIYASTUTI|(Calon Pegawai Negeri Sipil pada PKP2A III LAN Samarinda) SUDAH menjadi tuntutan bahwa…

Selasa, 25 September 2018 07:02

Kolaborasi Pentahelix Bisa Jadi Alternatif

OLEH: Handy Aribowo ST MM(Dosen STIE IBMT Surabaya) SAAT ini kondisi perekonomian Indonesia bisa dikatakan…

Selasa, 25 September 2018 06:58

Defisit dan Perampingan OPD PPU

CATATAN: DR H ANDI SYARIFUDDIN MM MBA (Ketua Dewan Penasihat DPP Laskar Anti Korupsi Indonesia) PERAMPINGAN…

Senin, 24 September 2018 07:21

Urgensi Pembenahan Parpol

OLEH: SOLIHIN BONE(Ketua Yayasan Insan Nusantara Malanga Samarinda dan Mengajar di Fakultas Hukum Untag,…

Sabtu, 22 September 2018 00:10

Ekoturisme sebagai Jalan Pulang

APA yang dibayangkan masyarakat luas ketika mendengar Kalimantan? Apakah sungai besar dan panjang? Hutan…

Jumat, 21 September 2018 08:22

Mulai Usaha? Begini Caranya

OLEH: AMIN HIDAYAT(Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Kaltim dan Penasihat GENPRO Kaltim)…

Jumat, 21 September 2018 07:19

Coastal Road Ramah Publik

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (Dosen Sekolah Pascasarjana perencanaan wilayah, Universitas Mulawarman)…

Kamis, 20 September 2018 10:55

Menanti CPNS Berintegritas

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sudah di depan mata.  Bisa dipastikan, pendaftar bakal…

Rabu, 19 September 2018 07:18

Mengapa Membenci?

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Kutai Kartanegara) SEORANG pemikir ilmu sosial bernama…

Rabu, 19 September 2018 07:14

Hamil Dulu, Nikah Kemudian?

Oleh: Muthi' Masfu'ah(Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Devisi Pengembangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .