MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 13 Februari 2018 08:48
Birokrasi- Preneurship; Modal Pimpinan Birokrasi

PROKAL.CO, Oleh: Rustan Amarullah
{Peneliti Birokrasi & Manajemen Pelayanan
Publik-PKP2A III LAN ([email protected])}

REVOLUSI mental setelah digaungkan empat tahun lalu hingga kini masih sedikit realisasi, apalagi setelah berbagai masalah birokrasi yang masih muncul seperti korupsi, pungutan liar, suap untuk penempatan dalam jabatan, hingga kasus OTT aparat birokrasi menunjukkan revolusi mental cenderung belum teraktualisasi dan dipahami.

Di samping memang pribadi oknum tersebut, namun diperlukan pendekatan praktis, teknik brain-wash yang bisa menghadirkan sosok birokrat yang betul-betul berintegritas dan beretos kerja tinggi. Agar birokrasi lebih progresif, Mustofa Bisri pernah berpendapat bahwa yang perlu melakukan revolusi mental terlebih dahulu adalah pimpinannya. Hal ini senada dengan beberapa hasil penelitian yang menemukan pengaruh kepemimpinan membawa peran sekitar 76–84 persen terhadap kinerja organisasi. Sehingga, suatu organisasi akan berkinerja optimal jika pimpinannya mampu menjadi contoh baik dan teladan bagi bawahannya.

Atas pengetahuan tersebut, diperlukan pimpinan birokrasi yang “telah selesai dengan dirinya”, hadir karena ingin melayani publik, santun, komunikatif, visioner, namun tetap taat asas. Tidak hanya itu, perkembangan global saat ini telah menuntut sesuatu yang “lebih” dari pimpinan birokrasi. Laporan World Economic Forum Tahun 2017 menyebutkan, terdapat 16 faktor penghambat bisnis di Indonesia dengan korupsi menjadi faktor tertinggi (11,7 persen), dan kedua ialah birokrasi pemerintahan yang inefficient (10,6 persen). Terkait dua hambatan ini, konsep Birokrasi-Preneurship dapat menjadi jawaban sekaligus modal bagi pimpinan birokrasi untuk menyelesaikannya.

Sebelumnya perlu diketahui, pada dasarnya birokrasi bersifat fleksibel, elastis, mudah disesuaikan dan dibentuk. Artinya, hendak mengubah birokrasi menjadi lebih responsif dapat dengan mudah dilakukan, atau membentuk birokrasi yang lebih lamban juga sama mudahnya. Ini semua tergantung pada pimpinan birokrasi untuk memolesnya, pimpinan birokrasi yang menguasai konsep Birokrasi-Preneurship tentu akan mencitrakan birokrasi yang profesional dan modern dengan transparansi dan kecepatan pelayanan publik yang tinggi, disertai aturan yang semakin sederhana dan mudah.

Birokrasi-Preneurshipsecara sederhana dapat diartikan sebagai upaya mengadopsi spirit private sektor ke dalam dunia birokrasi. Spirit private di sini didefinisikan pada performa kerjanya yang sangat mengedepankan efisiensi, efektivitas, dan inovasi dalam bekerja. Pemikiran tersebut sebenarnya sudah sering disampaikan, namun hingga kini masih minim aktualisasi. Dengan Birokrasi-Preneurship, birokrasi akan mampu mengukur target outcome-benefit-impact yang ingin dicapai, disiplin, terukur, dan rapi dalam penggunaan anggaran. Besarnya APBD yang dialokasikan pada seluruh sektor harus mampu terlihat kontribusi kemanfaatan dan impact-nya bagi daerah dan publik. Adapun penataan-pengelolaan pekerjaan aparaturnya dilakukan dengan mengedepankan kompetensi, indikator kinerja, pengawasan ketat, namun disertai apresiasi dan penghargaan yang relevan dan berimbang.

Untuk menguasai Birokrasi-Preneurship dan menurunkannya ke seluruh aparatur, pemimpin birokrasi harus memiliki setidaknya empat kemampuan utama, yaitu mampu melakukan inovasi; menjadi kolaborator yang terampil dan berpengalaman menyatukan banyak kepentingan/stakeholders; membentuk talented teams untuk membantunya; serta me-manage outcome kerja dan berkomitmen terhadap peningkatan kualitasnya.

Terkait kemampuan berinovasi, hasil Survey McKinsey Tahun 2014 kepada 200 manager dari sektor sosial (non-profit) secara dominan menunjukkan perlunya kemampuan ini dimiliki oleh para pemimpin. Dengan demikian, birokrasi saat ini perlu ditegaskan sebagai birokrasi modern, profesional, penuh kebaruan, dan kreatif. Sebagai contoh: model pelayanan publik konvensional berbasis antrean dan tatap muka sudah dapat dikombinasikan dengan penerapan teknologi; praktik pelayanan terbaik dan eksklusif diberikan tanpa diskriminasi; praktik pengambilan kebijakan yang lebih terbuka dan lebih partisipatif; optimalisasi pemanfaatan media sosial mulai dari perencanaan hingga evaluasi; hingga inovasi-inovasi di wilayah teknis seperti peningkatan kontribusi sektor pertanian, perdagangan, pariwisata, peningkatan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan seterusnya perlu diupayakan dengan kreatif.

Pendekatan, penanganan, dan cara-cara kerja lama yang rutin dan usang perlu diubah, diperlukan kemampuan berpikir inovatif dan kreatif. Untuk menghasilkan ide inovasi ini, maka modal data dan modal masalah menjadi kunci utama. Penguasaan atas data tercatat dan data empirik disertai gap permasalahan di lapangan, kemudian dipadukan dengan teknik diagnose inovasi akan menciptakan berbagai solusi kreatif dan cerdas. Tri Widodo dalam Buku Inovasi Harga Mati menjelaskan perlunya terobosan-terobosan yang lebih signifikan dalam pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi pemerintahan, sehingga menghasilkan nilai tambah baik bagi masyarakat yang dilayani maupun bagi organisasi itu sendiri.

Mampu menjadi kolaborator juga menjadi modal penting untuk membentuk Birokrasi-Preneurship. Luasnya berbagai kepentingan pemerintah daerah membutuhkan peran banyak pihak untuk dilibatkan dan berkontribusi. Kemampuan mengelola “jaringan” tersebut akan membantu pemecahan masalah daerah, di samping terbatasnya anggaran daerah yang menuntut dilakukannya kolaborasi yang lebih efektif antara pemerintah daerah dengan berbagai pihak. Banyak contoh dari daerah lain yang mampu mempraktikkan hal ini dengan tepat, sehingga pemerintah daerah tidak perlu mengeluarkan banyak sumber daya. Pada dimensi yang lain, kemampuan menjadi kolaborator efektif menjadikan sumber daya dari berbagai stakeholders dapat disatukan dan fokus dalam menuntaskan permasalahan dan pembangunan daerah. Teknik pengelolaan kolaborasi-partisipatif atau whole of government seperti ini mendobrak ego dan hambatan sektoral yang masih menerapkan cara pandang konvensional dan terkotak-kotak.

Berikutnya adalah kemampuan mengelola talented teams yang akan mendukung pemimpin birokrasi, mengeksekusi ide kreatif-inovatif yang diusulkan, serta mengembangkan terobosan-terobosan baru yang bernilai guna bagi optimalnya kinerja organisasi; dan terakhir adalah kemampuan pemimpin birokrasi me-manage out come kerja dan berkomitmen terhadap peningkatan kualitasnya sebagai bentuk perbaikan dan penyempurnaan terus-menerus hingga komplain publik semakin menurun.

Pada akhirnya, birokrasi memerlukan sosok pemimpin yang tidak hanya populer tetapi kapabilitasnya juga mentereng, sehingga membawa perubahan dan kemajuan bagi organisasi dan daerah. Pemimpin birokrasi yang menguasai empat kemampuan tersebut akan mendorong terciptanya Birokrasi-Preneurshipdan mampu dijawantahkan serta direplikasikan kepada seluruh aparatur birokrasi, sehingga citra birokrasi yang modern dan profesional terlihat nyata. (*/one/k9)


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 06:59

Wajah Plastik Politik Kita

Oleh: Syamsuddin Juhran(Pegiat Samarendah Society) KESIMPULAN silogisme dari premis-premis politik partisan…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:57

Peran Pemuda dalam Menopang Perekonomian Bangsa

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy(Ketua Umum Genbi Kalimantan Timur) PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:11

Berebut Suara Milenial di Pilpres 2019

PADA 20 September, KPU RI sudah menetapkan dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:10

Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kaltim

SETIAP 16 Oktober, dilakukan perayaan Hari Pangan Sedunia, termasuk Indonesia yang diselenggarakan di…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14

Bekal untuk Para Caleg 2019

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Tenggarong) KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07

Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

Oleh: Siti Subaidah(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .