MANAGED BY:
SELASA
20 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 13 Februari 2018 07:15
Prioritaskan Tax Allowance Perusahaan Existing

Pemerintah Kebut Revisi Aturan Insentif Pajak

-

PROKAL.CO, JAKARTA - Pemerintah akan merevisi aturan mengenai fasilitas pengurangan pajak penghasilan (PPh) atau tax allowance bagi badan usaha untuk mengakomodasi industri manufaktur. Rumusan perubahan kebijakan itu ditarget selesai akhir bulan ini.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, ada tiga poin utama mengenai revisi aturan tax allowance yang kini tengah diperjuangkan. Pertama, Kemenperin ingin agar perusahaan yang sudah berdiri di Indonesia (existing) bisa mendapatkan fasilitas tersebut, jika nanti ingin melakukan ekspansi. Opsi itu, diklaim sebagai salah satu masukan dari pelaku usaha.

Dua poin selanjutnya, adalah pemberian tax allowance 200 persen bagi industri yang mengembangkan pendidikan vokasi, dan 300 persen bagi perusahaan yang aktif dalam kegiatan riset dan pengembangan atau research and development (R&D). Airlangga menjelaskan, usulan yang disebut belakangan memang tengah dikejar agar investasi padat modal di Indonesia bisa lebih menarik dibanding negara-negara Asia Tenggara.

“(Kelemahan) daya saing Indonesia adalah R&D yang rendah. Kalau R&D ini tidak menggunakan APBN, tentu dikembalikan lagi ke pelaku industri. Seperti yang dibutuhkan di industri pharmaceutical. Jadi iya, akan ada (revisi PP),” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (12/2).

Tak hanya soal tax allowance, Kemenperin juga berharap rumusan insentif fiskal lain bisa segera rampung pada waktu yang sama. Salah satunya, lanjut Airlangga, adalah insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk industri otomotif dan pengembangan mobil listrik. Selain itu, dia berharap Kemenkeu juga bisa mengakomodasi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi industri dengan orientasi ekspor.

Menurut Airlangga, selama ini bahan baku industri orientasi ekspor dalam negeri dikenakan PPN, namun dikenakan PPN 0 persen ketika hasilnya diekspor. Jika memang industri dikenakan pajak tersebut, kata dia, maka pajak itu bisa direstitusi. Namun, Airlangga menyebut, pelaku usaha masih kesulitan mendapat pengembalian pajak tersebut.

“Itu yang akan dibuat simplifikasi. Kemenkeu yang memikirkan caranya seperti apa agar industri seperti ini tidak terbebani,” ungkap pejabat yang menjabat ketua umum Partai Golkar itu.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati masih menunggu daftar permasalahan mengenai tax allowance dan juga fasilitas libur pajak (tax holiday) dari Kemenperin. Sehingga, dia menyebut, saat ini Kemenkeu belum bisa mengidentifikasi, apakah memang syarat insentif memang memberatkan, atau justru malah prosesnya yang terlampau rumit.

Meski demikian, Sri Mulyani melihat, salah satu permasalahan insentif fiskal yang paling umum adalah perusahaan existing yang ingin menggunakan tax holiday atau allowance untuk ekspansi investasi. “Mungkin seumpama nantinya kalau perusahaan ini akan melakukan ekspansi, dan ekspansi itu memang memiliki nilai signifikan, mereka bisa dipertimbangkan untuk mendapatkan (fasilitas fiskal),” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia berharap, identifikasi permasalahan mengenai fasilitas fiskal ini bisa rampung dalam waktu dua pekan. Selain dari Kemenperin, Menkeu juga akan meminta bantuan Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, dan Badan Kebijakan Fiskal untuk mengidentifikasi masalah-masalah tersebut.

“Paling tidak kami akan mencari, dari sisi identifikasi apa hambatannya, dari sisi UU apa yang bisa digunakan, dan dari sisi halangan, bagaimana halangan itu diselesaikan,” pungkasnya.

Aturan mengenai tax allowance sebelumnya tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2016 sebagai pengganti PP Nomor 18 Tahun 2015. Dalam PP Nomor 18 Tahun 2015, pemerintah merevisi sektor penerima tax allowance dengan menambah bidang usaha penerima dari 129 menjadi 143 jenis. Lalu dalam revisi berikutnya, pemerintah menambah kelompok padat karya kepada sektor penerima tax allowance, dengan pemotongan PPh badan bersih (netto) 30 persen, yang dicicil selama enam tahun, atau 5 persen per tahun. (ant/man2/k15)


BACA JUGA

Senin, 19 Februari 2018 07:09

Industri Makanan Beku Minim Penggarap

JAKARTA – Industri makanan beku di Tanah Air belum digarap maksimal. Padahal, jenis komoditas…

Senin, 19 Februari 2018 07:07

Investor Makin Melirik Start-up Lokal

JAKARTA - Langkah Astra International menyuntikkan modal USD 150 juta atau setara Rp 2 triliun ke Go-Jek…

Senin, 19 Februari 2018 07:07

Mitsubishi Naikkan Target Penjualan

JAKARTA – Target penjualan produk Mitsubishi di Tanah Air meningkat tajam. Selain pembangunan…

Minggu, 18 Februari 2018 11:49

Mengoleksi Sekaligus Berbisnis

BERBAGAI tas bermerek tersusun rapi di sebuah meja. Tas tersebut merupakan koleksi miliki Della Anastasya.…

Minggu, 18 Februari 2018 11:45

Utamakan Kualitas dan Keaslian

TAS menjadi salah satu kebutuhan yang sangat diperhatikan Della Anastasya. Sebab itu, dia sangat memperhatikan…

Minggu, 18 Februari 2018 11:44

Merawat Tas agar Tahan Lama

TAK hanya karena harga yang mahal, kecintaannya terhadap tas membuat Della Anastasya sangat menjaga…

Minggu, 18 Februari 2018 07:05

Gairah Berbisnis Youngky Effendi

SAKIT tapi tidak berdarah. Kira-kira begitulah perasaan hati Youngky kala tahu dirinya ditipu oleh teman…

Minggu, 18 Februari 2018 07:02

Jalan Perlahan tapi Tepat Sasaran

PENGALAMAN adalah guru terbaik. Youngky Effendi menggenggam kalimat itu erat untuk usaha yang dia garap…

Sabtu, 17 Februari 2018 06:36

Konsumsi Bright Gas Terus Naik

BALIKPAPAN  -  PT Pertamina terus mengupayakan agar masyarakat kalangan ekonomi mampu beralih…

Sabtu, 17 Februari 2018 06:32

Peredaran Ponsel Bakal Diperketat

JAKARTA  -  Kementerian Perindustrian bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika dan operator…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .