MANAGED BY:
RABU
12 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 12 Februari 2018 09:31
Pemilih di Luar Daerah Tak Bisa Memilih

PROKAL.CO, Empat persen pemilih Kaltim yang tinggal di luar provinsi dipastikan kesulitan menggunakan hak suara. Mengurangi angka pemilih cerdas di pilkada serentak.

MUHAMMAD Afridho Septian masih terjaga pada sepertiga malam, berteman dengan telepon pintar. Dari dalam kamarnya di Jogjakarta, konsultan politik itu berselancar dalam pelbagai berita Pemilihan Gubernur Kaltim 2018. Sebagai alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, warta politik lokal dan nasional bak dongeng pengantar tidur baginya.

Senin dini hari pekan lalu, lelaki yang memiliki nama pendek Edo itu menerima permintaan wawancara Kaltim Post. Konsultan yang selalu bolak-balik Jakarta-Jogja itu masih tercatat sebagai warga Samarinda. “Kebetulan saya memang hobi memantau konstelasi politik di Kaltim,” ucap lelaki 30 tahun itu lewat sambungan telepon.

Edo segera menyebut nama Rusmadi Wongso sebagai jagoannya. Sekretaris provinsi Kaltim itu mulai mengambil hati Edo sejak mengumumkan turut dalam pilgub pada Juni 2017. Pertimbangannya sederhana. Rusmadi, sebagai birokrat maupun akademisi, adalah lesser evil atau yang terbaik dari pilihan yang sangat terbatas. Mantan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim itu dinilai Edo tak akan neko-neko saat mengambil kebijakan. “Saya tak mengharapkan inovasi dari Rusmadi. Tetapi, setidaknya ada harapan bahwa dia tidak akan macam-macam,” ucapnya.

Lelaki yang mengenakan kacamata itu makin terpesona karena langkah cepat Rusmadi mundur dari jabatan sekprov Kaltim. Dalam pandangannya, taktik itu tepat agar Rusmadi lepas dari pengaruh gubernur. Sayang seribu sayang, mantan dekan Fakultas Pertanian di Universitas Mulawarman itu berpasangan dengan kapolda Kaltim aktif saat itu, Safaruddin. Edo sedikit kecewa karena dia justru berharap Rusmadi berpasangan dengan Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail.

“Saya mungkin masuk golongan putih saja,” ucapnya. Jika itu terjadi, Edo sudah tiga kali absen mencoblos. Terakhir kali suaranya dipakai pada Pemilihan Presiden 2014. Namun, keputusannya tadi masih bisa goyah jika visi dan misi para pasangan calon mampu menarik hati. "Saya siap pulang kalau memang ingin memilih,” katanya.

Edo yang sudah bekerja bernasib lebih baik dari Fariza, pemuda lain dari Samarinda yang sembilan tahun menempuh pendidikan di Jogjakarta. Sepanjang hidupnya, Fariza tidak pernah berpartisipasi di pemilu karena keadaan. Lelaki 26 tahun yang sekarang menempuh program pascasarjana di Universitas Gadjah Mada itu tak berkesempatan pulang setiap hari pencoblosan.

"Saya terkendala aktivitas kuliah di Jogja," tutur Fariza kepada Kaltim Post. Besar kemungkinan dia kembali golput dalam Pilgub Kaltim, Juni mendatang. Dia juga mengatakan tidak pernah diminta mengumpulkan salinan KTP untuk pendataan pemilih. Di Jogjakarta, lanjut dia, para mahasiswa dari luar daerah termasuk Kaltim jarang sekali berpartisipasi dalam pemilu.

Hari pencoblosan yang tidak bersamaan dengan libur kuliah, ditambah biaya besar untuk pulang, merupakan kendala terbesar. Kaltim Post menghubungi 91 warga Kaltim yang tinggal di luar daerah untuk meminta pendapat mereka. Sebesar 38,5 persen responden mengaku tidak berencana pulang saat pemungutan suara, 27 Juni 2018. Dari kelompok itu, 37,1 persen responden mengaku terkendala biaya; 62,9 persen karena sibuk bekerja dan kuliah (lihat infografis).

Biaya yang dikeluarkan untuk pulang ke Balikpapan dan Samarinda bisa mencapai Rp 1 juta per orang. Di luar kedua kota itu, ongkosnya pasti lebih besar. Padahal, 71,4 persen responden mengaku ingin menggunakan hak pilih dalam Pilgub Kaltim 2018.

Edo dan Fariza adalah dua dari 100.187 pemilih, menurut Organisasi Pengkajian Strategis Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawan Indonesia Kaltim, yang tinggal di luar provinsi. Jakarta adalah kota dengan warga Kaltim terbanyak yaitu 34.272 jiwa diikuti Jogjakarta (lihat infografis).

Sunarto, ketua biro organisasi yang melansir angka tersebut, menilai jumlah tadi tak main-main. KPU Kaltim sebagai penyelenggara pemilu harus bisa menuntaskan persoalan tersebut. "Mereka (KPU) digaji untuk itu, mengurangi angka golput," tegasnya. Mantan komisioner KPU Samarinda tersebut meminta penyelenggara pilkada dan pemerintah bisa memberikan fasilitas. "Ada TPS mobile," katanya.

Warga Kaltim yang tinggal di luar daerah, menurut data di atas, menyumbang 4 persen dari seluruh pemilih Kaltim tahun ini. Porsi pemilih Kaltim di luar daerah menjadi lebih besar dan berarti bila disandingkan dengan partisipasi pemilih pada pilkada serentak 2015. Selain Penajam Paser Utara, seluruh daerah menghelat pilkada serentak tiga tahun lalu. Saat itu, partisipasi pemilih hanya 1,3 juta jiwa atau 56,97 persen. Seratus ribu pemilih Kaltim di luar daerah setara dengan 7 persen dari seluruh pemilih yang memakai suaranya pada 2015.

Dalam perhelatan pilgub, sumbangan 7 persen sangat menentukan. Margin itu nyaris setara dengan raihan suara Awang Faroek Ishak-Mukmin Faisyal dengan Imdaad Hamid-Ipong Muchlissoni pada Pilgub 2013. AFI-Mukmin meraih 43,02 persen suara sedangkan Imdaad-Ipong 36,40 persen sehingga selisih keduanya hanya 6,62 persen.

Melihat kota-kota yang dihuni, sebagian besar pemilih di luar Kaltim diduga kuat adalah mahasiswa dengan rentang usia 17–30 tahun. Kelompok usia tersebut terdiri dari dua generasi, yaitu generasi Z atau gen Z dan generasi Y atau milenial. Gen Z adalah mereka yang lahir setelah 2000 atau berusia antara 0–18 tahun. Generasi milenial lahir pada 1981–1999 atau berusia 19–37 tahun sebagaimana ditulis Lancaster dan Stillman dalam When Generations Collide (2002).

Menurut pendataan Komisi Pemilihan Umum Kaltim, pemilih berusia 17–30 tahun dari dua generasi tadi sebanyak 772 ribu atau 30 persen total pemilih. Sebanyak 14 persen dari kelompok tersebut sangat bisa diasumsikan tinggal di luar daerah. Asumsi bahwa kedua generasi itu sedang menempuh pendidikan tinggi di luar daerah memberikan gambaran bahwa mereka adalah pemilih cerdas. Keikutsertaan mereka jelas menentukan kualitas Pilgub Kaltim 2018.

Sementara itu, ditilik dari angka golput, pemilik suara di luar daerah turut memberi sumbangsih tak kalah berarti. Pada pilkada serentak 2015, 1 juta orang atau 43 persen pemilih tidak memakai hak suara. Dengan demikian, angka 100 ribu pemilih di luar daerah sama dengan 10 persen golput di Kaltim. Bukan tidak mungkin, jika para pemilih di luar provinsi berpartisipasi, angka golput berkurang.

Kenyataannya, nasib pemilik suara yang tinggal di luar Kaltim diperparah aturan pilkada serentak. KPU Kaltim tidak memfasilitasi mereka karena penyelenggara menyediakan surat suara hanya untuk tempat pemungutan suara di Kaltim.

“Tidak ada surat suara yang dibawa keluar dari Kaltim. Itu tidak boleh,” terang Komisioner KPU Kaltim Rudiansyah, Kamis pekan lalu di Samarinda. Menurut aturan, dia menegaskan, setiap pemilih hanya boleh mencoblos di TPS sesuai domisili.

“Tidak ada upaya penjemputan dari KPU karena ketentuannya demikian,” katanya. Wacana penyediaan fasilitas untuk pemilih di luar daerah tak diperkenankan. Dalam hal demikian, penyelenggaraan pilkada serentak berbeda dengan pemilihan presiden sehingga TPS hanya di daerah. Dalam pilkada serentak, pemilih yang memegang KTP elektronik harus memilih di TPS sesuai alamat di kartu identitas. Pemilih Samarinda, misalnya, harus memilih di Samarinda. "Tidak boleh memilih di Kukar atau Balikpapan. Itu untuk menutup peluang pemilih ganda,” imbuh Rudi, sapaannya.

Sejumlah organisasi kemahasiswaan Kaltim yang berdiri di luar provinsi sebenarnya telah melaporkan masalah tersebut. Tetap tidak ada jalan keluar (baca juga: Gugur Suara dari Mahasiswa). Sejumlah partai politik juga melihat bahwa suara dari luar daerah cukup signifikan sehingga harus dicari jalan keluarnya (baca juga: Cari Cara Yakinkan Pemilih, halaman 2).

Sampai hari ini, aturan pilkada serentak benar-benar hanya menyediakan satu jalan keluar. Pemilih yang berdomisili di luar daerah harus pulang jika ingin menggunakan hak suaranya. Suatu hal yang tergolong mustahil jika seluruh pemilih di luar Kaltim berkenan pulang.

Pergerakan masif 100 ribu orang ke Kaltim, lalu kembali ke daerah asal dalam sehari, memerlukan 930 pesawat Boeing 737-900ER. Sebagai catatan, Lion Air hanya punya 71 armada tersebut seperti ditulis di laman resminya. Sementara dengan 90 penerbangan sehari, Bandara Internasional Sultan AM Sulaiman Sepinggan Balikpapan harus melayani 100 ribu pemilih selama 10 hari berturut-turut.

Bahkan bila itu terjadi, maskapai yang membuka penerbangan ke Kaltim akan kebanjiran pesanan tiket pulang pergi dengan total Rp 80 miliar. Angka itu diperoleh dengan asumsi harga tiket normal, tidak melambung ketika permintaan tinggi dan mendadak. Pertanyaan terakhir adalah seberapa banyak pemilih rela mengeluarkan jutaan rupiah, dengan 6–8 jam di perjalanan, hanya demi mencoblos satu surat suara? (tim kp)

TIM PELIPUT: YUDA ALMERIO, MUHAMMAD RIDHUAN, DINA ANGELINA, NOFIYATUL CHALIMAH

EDITOR: FELANANS MUSTARI


BACA JUGA

Selasa, 11 Desember 2018 11:00

Wisata Alam Kaltim Masih Jadi Idola

SAMARINDA - Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kaltim pada Oktober…

Selasa, 11 Desember 2018 09:30

Ada Tambang Dekat Pemukiman, Laporkan ke Dinas ESDM

SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Energi Sumber Daya…

Senin, 10 Desember 2018 11:32

KERAS..!! TNI Ultimatum Separatis Papua: Menyerah atau Kami Selesaikan!

Pencarian lima korban kebrutalan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) Papua…

Senin, 10 Desember 2018 09:14

WOW..!! Gubernur Bertemu Dubes Rusia, Proyek Kereta Api Dilanjutkan

DENPASAR- Sempat vakum selama dua tahun, proyek kereta api di…

Senin, 10 Desember 2018 07:34

Air Mata Naga

JAKARTA – Ruang ganti Mitra Kukar mendadak hening. Semua penggawanya…

Minggu, 09 Desember 2018 23:25

Naga Akhirnya Turun Kasta, Ini Kata Pelatih RD

Perjuangan itu akhinya kandas. Ya Mitra Kukar secara resmi dipastikan…

Minggu, 09 Desember 2018 23:19

Kenapa Prabowo-Sandi Pindahkan Markas ke Jawa Tengah?

Keputusan Tim Prabowo-Sandiaga memindahkan markas perjuangannya ke Jawa Tengah, banyak…

Minggu, 09 Desember 2018 08:17

“Kakak Saya Lari, lalu Ditembak Mati”

BALIKPAPAN - Petrus Tandi sibuk dengan telepon genggamnya. Beberapa kali…

Minggu, 09 Desember 2018 08:12

Sulit Adang Pasokan Senjata

PEMBANTAIAN 16 pekerja di Papua menjadi indikasi bahwa pasokan senjata…

Sabtu, 08 Desember 2018 19:38

Jenazah Samuel Korban KKB Papua Tiba, Warga Menyambut dengan Duka

TENGGARONG  - Jenazah korban Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di lokasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .