MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 12 Februari 2018 09:15
Regina, Orangutan yang Bertahun-tahun Berdampingan dengan Warga
Tidur Sekasur, Bibir Bengkak setelah Makan Ikan
SEPERTI KELUARGA: Regina memeluk Intan Nurmala Sari sesaat sebelum petugas mengevakuasinya kemarin. Foto kiri Raska (kaus hitam) melihat Regina.(EDWIN AGUSTYAN/KP)

PROKAL.CO, Pembukaan kebun sawit secara masif membuat orangutan tersingkir dari rumahnya. Arena bermain bersalin menjadi tempat yang tidak ramah. Mereka memilih pergi agar tetap bisa bertahan hidup.

EDWIN AGUSTYAN, Bontang

SALAH satu yang berhasil selamat itu adalah Regina. Medio 2013, orangutan tersebut merangkak pelan mencari perlindungan. Kebakaran hutan yang melanda Kelurahan Guntung, Bontang, kala itu membuatnya mengungsi. Terpisah dari induknya. Langkah kakinya membawanya ke permukiman warga.

Rumah panggung yang ditempati pasangan suami-istri Suparman Hendi (31) dan Intan Nurmala Sari (30) dipilih menjadi tempat persinggahan orangutan tersebut. Suparman dan Intanlah yang akhirnya memberi nama Regina kepada kera besar tersebut. Layaknya orang yang sedang bertamu, Regina memukul-mukul daun pintu. Seperti sedang mengetuk.

Intan yang melihat tubuh mungil Regina segera memeluknya. Saat itu, hewan dengan nama latin Pongo pygmaeus itu berumur sekitar 8 bulan. Usianya tidak terpaut jauh dengan anak bungsu Intan, Meysa Riska. “Hampir sama. Saat itu anak saya baru belajar jalan,” kata Intan kemarin di kediamannya di Kelurahan Guntung, kemarin (11/2).

Keluarga tersebut merawat Regina seperti anak sendiri. Selama enam bulan mamalia itu diberi minum susu. Tidurnya pun satu kasur dengan Riska dan Muhammad Raska, anak ketiga pasangan itu. Kebiasaan itu berlangsung saban hari. Keakraban pun segera terjalin erat di antara mereka. “Dia (Regina) ngamuk kalau saya seolah ingin melempar Raska. Karena memang sudah sangat dekat,” terang Suparman.

Hewan dilindungi itu diajari mengenali bagian tubuhnya. Meminta dengan tangan kanan dan boleh marah. “Kalau minta minum dia menggaruk leher. Kalau mau makan, gerakan tangan seperti minta disuap,” kata Intan.

Sehari-hari, Regina diberi makan pepaya, nanas, dan nasi. Es dan kopi pun diseruputnya. Warga sekitar juga sering membawakannya makanan. Termasuk gorengan. Tapi, Gina, begitu Regina sering dipanggil, tak bisa makan ikan. “Bibirnya langsung bengkak,” tuturnya.

Suatu waktu, tidak ada orang di rumah Suparman. Gina yang ditempatkan di batang pohon di samping rumah kelaparan. Dia menemukan air aki dan meminumnya. “Seharian Gina diare,” ungkapnya.

Selama ini, Intan menyebut tidak menutupi kalau keluarganya memelihara orangutan. Mereka juga tahu bila binatang dengan deoxyribonucleic acid (DNA) yang 97 persen (hasil penelitian Washington University's Genome Center) mirip manusia itu dilindungi. Bahkan puskesmas, sebut dia, sudah dua kali melakukan vaksin terhadapnya. “Kalau tidak salah suntik rabies,” jelasnya.

Gina juga jarang dirantai. Karena sudah sangat jinak dia diberi keleluasaan bergerak. Lehernya baru diberi rantai dan diikat di pohon jika tidak ada yang menjaga. “Kami takut kalau cari makan ke kebunnya orang,” akunya.

Perempuan berjilbab itu mengaku berat untuk melepas Gina. Terlebih dua dari empat anaknya sangat dekat. Dia bahkan sudah menganggap orangutan itu anak sendiri. Tak heran jika saat Gina dievakuasi diiringi tangisan. Terutama Riska. Namun, dia sadar bahwa orangutan itu harus diserahkan agar bisa kembali hidup di habitatnya. “Sudah, ya, Nak. Banyak temanmu nanti di sana,” kata Intan, kepada Gina, yang sudah dalam kandang.

Suparman menyampaikan, Regina datang ke rumahnya pada 2013 bertepatan dengan pembukaan lahan sawit di sekitar Gunung Tongkat, Kutim. Lokasinya tidak jauh dari Guntung. “Dia jalan dari arah sana (Gunung Tongkat),” katanya.

Sementara itu, evakuasi Regina berawal dari sosialisasi yang dilakukan Taman Nasional Kutai (TNK). Mereka menerima aduan bahwa ada warga yang memelihara orangutan. “Setelah kami cek, lokasinya ternyata berada di luar TNK. Jadi kami koordinasikan dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam),” kata Kepala TNK Nur Patria.

Adapun, Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Kaltim Tarsis Krisdianto mengungkapkan, Regina nantinya diberikan ke pusat rehabilitasi orangutan. Mengingat, pihaknya tidak memiliki fasilitas maupun keahlian. “Mereka (pusat rehabilitasi orangutan) juga yang berhak menerima orangutan hasil penyitaan dari masyarakat,” tuturnya. Rehabilitasi diperlukan agar orangutan itu bisa menyesuaikan diri. Mengingat sejak bayi mamalia itu hidup jinak. (rom/k8)


BACA JUGA

Selasa, 20 Februari 2018 11:05

Ribuan Calon Jamaah Digantung

BALIKPAPAN – Diduga ada ribuan calon jamaah umrah di Kaltim yang menanti kepastian kepada PT Amanah…

Selasa, 20 Februari 2018 11:04

Sinabung Meletus, Enam Kecamatan “Hujan” Abu

JAKARTA – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, kembali meletus kemarin (19/2) pagi.…

Selasa, 20 Februari 2018 11:01

Pemkab Pilih Opsi Enklave di TNK

SANGATTA – Pembunuhan orangutan dengan bukti 130 peluru senapan angin di Taman Nasional Kutai…

Selasa, 20 Februari 2018 10:58

Apapun Partainya, Konstituen Istikamah

SAMARINDA – Anggota DPRD Kaltim Herwan Susanto menggelar reses di Masjid Nurussalam, Muang Ilir,…

Selasa, 20 Februari 2018 10:55

Dukung Calon Pemimpin Pilihan Anda

PEMILIHAN Gubernur (Pilgub) Kaltim 2018 tinggal menghitung waktu. Ya, pencoblosan dari pesta demokrasi…

Selasa, 20 Februari 2018 10:55

Tanggal Lahir Seingatnya, Kolom Agama Dikosongi Dulu

Apa jadinya bila masyarakat Baduy dengan tradisi yang kuat mengikuti perekaman KTP elektronik (KTP-el).…

Senin, 19 Februari 2018 09:47

Manis Batu Bara Masih di Atas Saja

Membaiknya harga batu bara belum bisa mengembalikan perputaran roda ekonomi Kaltim. Masih sulit rebound…

Senin, 19 Februari 2018 09:38

Rasanya seperti Berlari dan Terus Berlari

Tak banyak orang kenal myasthenia gravis (MG). Jumlah penderita yang tidak terlalu banyak dan pengobatan…

Minggu, 18 Februari 2018 08:57

Dilarang Terima Konsumen Baru

BALIKPAPAN – Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kaltim mengambil sikap kepada…

Minggu, 18 Februari 2018 08:53

Menambang Ilegal di Konsesi PKP2B

SAMARINDA – Penambangan batu bara ilegal sepertinya sulit dicegah. Di Samarinda, aktivitas terlarang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .