MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 12 Februari 2018 07:15
Pembatasan Ekspor Dongkrak Harga Karet
UTAMAKAN DALAM NEGERI: Meski harganya membaik di pasar ekspor, pemerintah tetap akan mendorong penggunaan karet untuk industri domestik. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA – Harga karet alam sukses terdongkrak berkat langkah pembatasan ekspor yang dilakukan negara-negara produsen. Pada bulan pertama, Januari tahun ini, nilai jual komoditas tersebut tercatat naik 5 persen di pasar internasional.

Pembatasan ekspor sebelumnya turut dilakukan pemerintah Indonesia, bersama Thailand dan Malaysia, dalam kelompok negara eksportir karet dunia (ITRC). Strategi itu tercantum dalam dalam Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) yang disepakati 22 Desember 2017 lalu.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, skema AETS kelima negara anggota ITRC dalam hal pengurangan volume ekspor karet alam akan berlangsung sampai Maret nanti. “ITRC sepakat mengurangi volume ekspor karet alam sebesar 350 ribu ton selama tiga bulan. Hasilnya, terjadi kenaikan harga karet alam sebesar 5 persen,” kata Oke, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (10/2) lalu.

Harga rata-rata karet alam menurut Daily Composite Price IRCo (14-day moving average), tercatat naik dari USD 1,46 per kilogram (kg) pada 21 Desember 2017, menjadi USD 1,54 per kg pada 31 Januari 2018.  Jalannya skema AETS kelima tersebut akan dipantau dan dievaluasi setiap bulan oleh Komite Monitoring dan Pengawasan dari ITRC.

Seperti keputusan-keputusan penerapan AETS sebelumnya, kesepakatan ini langkah bersama negara produsen karet alam untuk mendongkrak harga. Terutama agar harga bergerak ke tingkat yang lebih menguntungkan petani.

“Pelaksanaan AETS di Indonesia didukung Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 67 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan AETS Kelima untuk Komoditas Karet Alam. Indonesia, bersama-sama Thailand dan Malaysia, berkomitmen menjalankan AETS sesuai kesepakatan dan regulasi di masing-masing negara,” terang Oke.

Dalam Kepmendag tersebut, dinyatakan bahwa pelaksana AETS adalah Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo). Selain itu, juga menegaskan bahwa bagi eksportir yang melakukan pelanggaran terhadap implementasi AETS ini dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. “Kepmendag merupakan penegasan pemerintah Indonesia, bahwa AETS adalah kebijakan yang harus ditaati oleh pelaku usaha karet alam,” ujarnya.

Untuk Indonesia, nilai ekspor karet alam sepanjang 2012 hingga 2016 lalu sudah turun 20,69 persen. Namun dari sisi volume, ekspornya tak berubah signifikan. Itu artinya, ada penurunan harga jual di pasar dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor karet alam pada tahun 2012 mencapai USD 7,86  miliar, dengan volume 2,44 juta ton. Empat tahun berselang, atau pada 2016 lalu, nilai ekspor turun drastis hingga menyentuh USD 3,37 miliar, sementara volumenya justru naik tipis di angka 2,57 juta ton.

Selanjutnya, untuk periode Januari hingga November tahun lalu, nilai ekspor karet Indonesia mulai membaik. Angkanya naik menjadi USD 4,77 miliar, dengan volume ekspor yang juga meningkat jadi 2,77 juta ton.

DORONG SERAPAN DOMESTIK

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menyatakan akan meningkatkan nilai tambah karet alam melalui program hilirisasi. Pasalnya, komoditas yang potensial sebagai penopang industri nasional ini, justru dominan diekspor.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara menyebut,‎ saat ini pemerintah terus mendorong optimalisasi pemanfaatan karet alam untuk kebutuhan di dalam negeri. Selama ini, penyerapannya didominasi penggunaan untuk industri ban kendaraan.

“Produk ban dalam negeri merupakan salah satu komoditas andalan ekspor Indonesia. Dari total produksi, 70 persen diperuntukkan bagi pasar ekspor, dengan nilai mencapai USD 1,5 miliar per tahun,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (11/2).

Merujuk data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo), karet alam menyumbang sebesar 45 persen bahan baku ban. Kebutuhan karet alam di pasar domestik sekitar 600 ribu ton, dari total produksi per tahun yang mencapai 3,3 juta ton.

Untuk itu, masih terdapat peluang besar menciptakan cabang-cabang industri baru. Sebut saja industri ban pesawat dan vulkanisir pesawat terbang, yang dapat menyerap karet alam cukup banyak dan menghasilkan devisa nasional.

“Pemerintah memandang penting bahwa upaya untuk mengoptimalkan konsumsi karet alam di dalam negeri perlu dilakukan guna meningkatkan nilai tambah dari potensi sumber daya alam nasional,” kata dia.

Apalagi, menurut Ngakan, adanya kebijakan untuk pembangunan tol laut, juga menjadi kesempatan baik bagi industri pengolahan karet untuk menunjang kebutuhan dalam pembangunan pelabuhan. Seperti rubber dock fender, rubber floating fender, rubber bumper, dan sebagainya. (man2/k18)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 06:31

Permintaan Aneh Pelanggan Menggali Kreativitas

SETELAH lulus dari Limkokwing University of Creative Technology, Malaysia pada 2014, Sherli Sukangto…

Minggu, 20 Mei 2018 06:28

Jaga Komunikasi, Kualitas, dan Kecepatan Kerja

MENGELOlA bisnis di bidang desain sejak 2014, Sherli Sukangto mengaku telah banyak menghadapi persaingan.…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:14

Hypermart Mulai Geber Diskon dan Promo

BALIKPAPAN  -  Meski indeks tendensi konsumen (ITK) turun, retailer di Kota Minyak optimistis…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:13

Waspada Bibit Kelapa Sawit Ilegal

SAMARINDA  -  Para petani kembali diminta mewaspadai peredaran benih kelapa sawit ilegal.…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:12
Masih Didominasi Pajak

Triwulan Pertama, PAD Kaltim Capai 16,85 Persen

SAMARINDA  -  Kinerja Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Kaltim…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:11

Sering Terbentur Aturan

BALIKPAPAN  - Perusahaan di Kaltim belum maksimal dalam memanfaatkan keuntungan melantai di Bursa…

Jumat, 18 Mei 2018 06:37

Perusahaan Lokal Masih Enggan Go Public

BALIKPAPAN - Minat perusahaan lokal untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public…

Jumat, 18 Mei 2018 06:34

RDMP Berjalan, Gubernur Prioritaskan Naker Lokal

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak meminta pembangunan kilang minyak baru milik PT Pertamina…

Jumat, 18 Mei 2018 06:32

Lampaui Target Konsumsi Nasional

TANA PASER  –  Meski terjadi kenaikan harga, masyarakat Paser tidak perlu bingung mencari…

Jumat, 18 Mei 2018 06:30

Penguatan Dolar Bisa Katrol Harga Otomotif

BALIKPAPAN - Harga jual otomotif di Kaltim diprediksi bakal terpengaruh penguatan dolar Amerika Serikat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .