MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 11 Februari 2018 08:34
Ingin Setiap Karya yang Tayang di Bioskop Selalu Menginspirasi

Rendy Saputra, Pemuda Balikpapan di Balik Film Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi

PUNYA MISI: Menetap di Bogor, Rendy Saputra ,masih kerap ke Balikpapan.(PAKSI SANDANG PRABOWO/KP)

PROKAL.CO, Banyak cara memberikan kado ulang tahun untuk Kota Minyak. Salah satunya seperti yang dilakukan Rendy Saputra. Warga asal Balikpapan itu berhasil merilis film nasional bertajuk Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi.

DINA ANGELINA, Balikpapan

POSTER film Fatahillah terpampang besar menyelimuti setengah dinding bioskop di Jalan Sudirman, Balikpapan, medio 1998 lalu. Tertera di poster, hari itu menjadi pemutaran perdana film ini di Kota Minyak. Begitu mudah menarik perhatian Rendy yang kala itu masih berusia 12 tahun. Sambil mencuri-curi pandang dari balik jendela angkutan kota nomor 6. Akhirnya dia memutuskan menonton film yang dibintangi Igo Ilham itu.

Langkah kakinya bergegas menuju pelataran bioskop ternama pada era 90-an tersebut. Sore hari itu, seperti biasa dia menghabiskan waktu dengan menonton film. Tepatnya sehabis pulang sekolah dan masih menggunakan seragam merah-putih. Namun sama sekali tak mengurungkan niatnya untuk mampir ke bioskop.

Kala itu, dia hanya menjadi seorang penikmat film yang mengandalkan Gelora Theater (sekarang Gedung Parkir Klandasan). Bahkan masih jelas dalam ingatannya, bagaimana kondisi Gelora yang hanya memiliki empat teater dan harga tiket film masih Rp 4.100.

“Saya suka ambil sudut pandang dan cerita dari film. Awalnya karena suka melihat ulasan film di televisi. Setiap minggu saya selalu luangkan waktu untuk menonton film, apalagi kalau ada film bagus,” katanya saat ditemui di Hotel Royal Suite Balikpapan kemarin (10/2).

Ada sebuah cerita pada 1998 yang cukup memotivasi dirinya. Ketika itu, Rendy sudah bersiap memasuki teater dua Gelora. Sayangnya setelah dia sudah bersemangat menonton, petugas meminta Rendy mengembalikan tiket yang sudah di tangan. Pihak bioskop ingin membatalkan penayangan film, karena dia merupakan satu-satunya penonton. Pria yang kala itu masih duduk di bangku SD pun merelakan batal menonton film.

“Dari situ saya jadi berpikir. Kenapa film nasional begini (minim penonton) dan tertanam di benak saya agar bisa turut mengubah kondisi film suatu saat nanti. Ada rasa iba pada perfilman lokal saat itu,” ujarnya.

Keinginan itu ternyata mampu tercapai. Kini, pemuda asal Balikpapan tersebut sudah bertransformasi sebagai produser. Dalam naungan production house (PH) ciptaannya, Inspira Picture, Rendy merilis film berjudul Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi.

Film yang dibintangi Acha Septriasa dan Ario Bayu itu diangkat dari kisah nyata. Bercerita tentang seorang Tika Kartika diperankan Acha. Sosok ibu rumah tangga sekaligus pebisnis fashion muslim bernama Keke Busana. Film Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi membalut cerita bagaimana perjuangan Tika membangun bisnisnya hingga sukses. Bukan hanya memikirkan strategi bisnis, dia perlu berhadapan dengan konflik internal dalam keluarga.

Misalnya, saat dirinya sebagai perempuan lebih banyak memberikan andil secara ekonomi daripada sang suami. Sehingga ada emosi yang terjadi antara pasangan suami-istri tersebut. Belum lagi cerita soal kasih sayang antara anak dan orangtua yang mungkin sulit tersampaikan selama ini. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik karena cerita film sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Di kalangan produser, sosok pria berkacamata itu menjadi produser termuda, yakni 31 tahun. Rendy terlibat dari awal penggarapan film. Ayah dari tiga anak tersebut pun merupakan penulis buku Dua Kodi Kartika yang masih berhubungan dengan film itu. “Saya pribadi meramu orang-orang yang dapat membuat film dan kompeten di bidang ini,” ucapnya.

Pilihan menjadi produser bukan hanya karena ketertarikannya dengan film. Namun, ada mimpi besar di balik rencananya tersebut. Kepada Kaltim Post, Rendy bercerita, jauh sebelum terlibat dalam dunia perfilman, dia lebih dulu terjun di dunia edukasi bisnis. CEO Keke Busana itu aktif sebagai trainer yang memberikan sudut pandang, spirit, dan inspirasi kepada orang lain. Khususnya pebisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari kegiatannya itu, Rendy menemukan fakta bahwa para pengusaha perlu teladan atau story yang baik untuk menginspirasi mereka. Salah satu cara yang mudah untuk menyebarkan virus inspirasi itu, yakni melalui film. Menurutnya, film ada instrumen yang lentur sekali untuk mengedukasi orang lain. Mereka dapat pencerahan, tanpa merasa digurui.

“Kalau dari training mungkin penonton terbatas, film berbeda. Saya merasa cara ini lebih efektif. Banyak pesan yang disampaikan melalui film Bunda. Misi saya bagaimana tiap karya film yang tayang di bioskop, itu menjadi ajang untuk menyebarkan pesan dan inspirasi,” sebutnya.

Pendiri Komunitas Muda Berdaya itu berpendapat, film juga dapat membuka jalan yang lain untuk industri lainnya. Hampir semua negara maju berawal dari film. Contohnya Amerika, saat film Hollywood lebih terkenal dahulu. Industri makanannya seperti KFC dan Mac Donalds bisa dikenal dunia. 

“Begitu juga yang sedang booming, Korea. Lewat drama dan musiknya (boy band/girl band) dunia mengenal mereka. Lalu baru masuk industri lainnya, seperti tren makanannya. Karena film dapat mengubah behavior penonton,” imbuhnya.

Dalam perannya sebagai produser, Rendy menyadari kesulitan dalam produksi film, yakni menyusun business model. Dalam menghasilkan sebuah film, setidaknya memerlukan dana Rp 3,5–4 miliar. Itu pun baru biaya aktris, kru, dan properti. Belum termasuk marketing. Sementara kanal penjualan terbesar hanya dari bioskop.

“Analisisnya kalau tayang di bioskop, kami mendapat fee sekitar Rp 15 ribu per penonton. Kanal penjualan yang paling aktif juga bioskop daerah Jabodetabek. Secara business model itu mepet, apalagi bersamaan dengan tayang film nasional dan Hollywood. Harus atur strategi lagi,” bebernya.

Belum lagi menghadapi tantangan dalam dunia perfilman cukup besar. Terutama bagaimana dia mampu membuat sesuatu yang bersifat inspirasi, namun masih komersial alias mendatangkan keuntungan. Sebab, tak mungkin hanya mengandalkan idealis semata.

“Tantangan sebagai PH baru, kami konsen pada marketing aktivasi. Ini sudah kami lakukan di Jabodetabek. Misalnya, dengan nobar bersama Sandiaga Uno. Kemudian hari ini (kemarin) dengan Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi. Selanjutnya, nanti, bersama Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dan Pemprov Gorontalo,” jelasnya.

Kemarin, Rendy bersama Rizal Effendi nonton bareng dengan warga Balikpapan di XXI e-Walk Balikpapan SuperBlock. Sekitar ratusan penonton ikut dalam nonton bersama tersebut. (baca berita nobar film Bunda di halaman 3)

Rendy terakhir bermukim di Balikpapan sekitar 2004. Tepatnya setelah dia menamatkan pendidikan di SMA 1. Kemudian, pria bertubuh tinggi besar itu memilih pergi ke Jawa Barat. Pria kelahiran 1 Juli 1986 tersebut pernah kuliah di Jurusan Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah itu, dia banyak beraktivitas di Jabodetabek dan Bandung. 

Dia merasa, dahulu saat menjadi mahasiswa rasanya jauh sekali dengan kota asalnya. Namun sekarang dia mempunyai kesempatan yang sama untuk membangun daerah, caranya melalui film. “Saya walau tinggal di Bogor, sebetulnya sebulan sekali saya masih pulang untuk hadir di Majelis Arsyad Al Banjari di Km 19, Balikpapan. Jadi ikatan dengan kota ini masih kuat,” ucapnya.

Dalam momen peringatan HUT ke-121 Balikpapan, Rendy turut mengajak seluruh warga menguatkan ekonomi kreatif. Rendy menyebut, sudah waktunya Balikpapan berpindah dari natural hydrocarbon resource ke ekonomi kreatif.

Apalagi, kota ini memiliki banyak orang kreatif dan potensi wisata yang belum terkelola maksimal. “Jangan menunggu batu bara, harus bangun ekonomi kreatif. Balikpapan punya orang yang pandai di bidang musik, film, dan seni lainnya. Nanti pasar bisa meluas,” ungkapnya.

Setelah film Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi, Inspira Picture berencana mengangkat kisah-kisah para tokoh. Alasannya karena negara ini kurang teladan atau contoh. Di mana, anak muda tidak bisa lagi belajar hanya lewat teori. Mereka harus tahu berjuang, gigih, rajin lewat seorang teladan.

“Biasanya orang sukses kan tidak bisa cerita langsung, kalau lewat seminar juga terbatas. Jadi kami akang mengemasnya lewat film. Butuh orang-orang yang punya visi sama seperti ini di dunia sineas perfilman,” sebutnya.

Selain itu, Rendy berencana untuk membuat film lokal yang kemungkinan akan melibatkan orang-orang lokal. Sehingga setting-an film sampai target penonton juga lokal. Salah satunya seperti film Uang Panai. Kisah dari tanah Celebes itu berhasil mendatangkan 400 ribu penonton di Sulawesi. Itu setara dengan angka Rp 5 miliar, itu baru perhitungan daerah dan belum nasional.

“Kami ingin membuat film yang bertanggung jawab, berdampak baik, tapi juga mendatangkan profit. Kami sudah mengantongi lima story line. Rencananya tahun ini masuk pra-produksi. Lalu 2019 masa produksi dan 2020 setelah pemilu bisa tayang,” pungkasnya. (rom/k9)


BACA JUGA

Senin, 17 Desember 2018 14:15

SAKIT DAPATNYA..!!! 5 Anggota DPRD Diberhentikan dan Menggugat Gubernur, Ini Kata Isran...

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor menilai gugatan terhadap Surat…

Senin, 17 Desember 2018 06:52

Daya Beli Turun, Sektor Retail Kaltim Paling Merasakan

MELANDAINYA Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Kaltim, yang dapat menunjukkan penurunan…

Minggu, 16 Desember 2018 11:26

Terancam Izinnya Dicabut, 50 Perusahaan di Kariangau Dievaluasi

SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kaltim berencana evaluasi sekitar 50 izin…

Minggu, 16 Desember 2018 08:26

Daftar Pemilih Tetap Naik 5,7 Juta

BUTUH 101 hari bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bolak-balik…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:05

Bisakah Tol Balikpapan-Samarinda Dipakai Fungsional Saat Natal?

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Tol…

Sabtu, 15 Desember 2018 17:20

DPK Kaltim dan Kaltara di Bank Terkumpul Rp 98,82 Triliun

SAMARINDA - Hasil penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:41

ALHAMDULILLAH..!! Proyek Jalan Menuju Jembatan Pulau Balang Boleh Dilanjutkan

SETELAH mencapai kesepakatan dengan pemilik lahan, Panitia Pengadaan Lahan Pulau…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:30

Tiket Pesawat via APT Pranoto Lebih Mahal

SAMARINDA  –  Harga tiket pesawat lewat Bandara APT Pranoto Samarinda…

Sabtu, 15 Desember 2018 06:09

Kinerja Industri Non-migas Membaik

SAMARINDA  -   Kinerja industri pengolahan non-migas mulai menunjukkan perbaikan.…

Jumat, 14 Desember 2018 22:17

Pendirian Pabrik Semen di Kutai Timur Berlanjut

SAMARINDA - Tidak lama lagi, pabrik semen yang pertama di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .