MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 10 Februari 2018 07:49
WASPADA..!! Pertambangan Masih Paling Berisiko

NPL 18,52 Persen, Tetap Diminati Perbankan

MULAI ALIH SASARAN: Di Kaltim, minat perbankan untuk mengucur kredit ke sektor pertambangan masih tumbuh, meski bukan yang terbesar. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Risiko tinggi masih menaungi bisnis pertambangan dan penggalian. Di tengah membaiknya harga komoditas, debitur dari sektor ini masih mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) paling besar. Meski begitu, perbankan tampaknya tetap menjadikannya salah satu pasar utama.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim mencatat, rasio NPL bank umum konvensional secara umum mengalami perbaikan sepanjang tahun lalu. Per Desember 2017, posisinya ada di 6,57 persen. Walau masih di atas batas wajar, angka itu sudah lebih baik dari tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 7,35 persen.

Kepala OJK Kaltim Dwi Ariyanto mengatakan, sepanjang tahun lalu, lapangan usaha pertambangan dan penggalian masih mendominasi ekonomi di Benua Etam, dengan porsi 46,31 persen. Hal itu menandakan bahwa daerah ini masih bergantung pada bisnis tersebut. Termasuk juga bagi perbankan, dalam hal penyaluran kredit.

Hal itu, kata dia, terlihat dari realisasi kredit di sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh signifikan. Mencapai 13,75 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Tapi kalau diurutkan per jenis, NPL tertinggi juga dari sektor pertambangan dan penggalian. Rasionya sampai 18,52 persen dari yang disalurkan perbankan. Tertinggi kedua dari sektor konstruksi, itu 10,04 persen,” jelas Dwi kepada Kaltim Post, Jumat (9/2).

Dia menyebut, periode anjloknya bisnis tambang beberapa tahun lalu harusnya menjadi pelajaran bagi perbankan, maupun bisnis pendukung lain. Karenanya, Dwi menyarankan agar perbankan terus memperbesar porsi sektor lain yang lebih aman dan berkelanjutan.

“Misalnya, sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan. Potensinya terlihat dari penyaluran kredit yang membaik tahun lalu. Dibandingkan tahun 2016, nilai kreditnya tumbuh 27,32 persen. Itu karena sejak beberapa tahun lalu, OJK memang sudah mendorong perbankan untuk berhenti bergantung pada sektor-sektor besar,” beber dia.

Berdasarkan catatan OJK, kredit bank umum konvensional di Kaltim secara keseluruhan mencapai Rp 67,8 triliun pada tahun lalu. Angka itu hanya tumbuh 3,86 persen dari tahun sebelumnya. Jika dirinci berdasarkan jenisnya, penyebaran kredit nyaris merata. Kelompok modal kerja menyerap 36,43 persen, konsumsi 35,77 persen, dan investasi 27,8 persen.

Dari 64,23 persen porsi kredit produktif, porsi terbesar masih diserap perdagangan besar dan eceran, dengan porsi 30,71 persen, atau senilai Rp 13,28 triliun. Selanjutnya, 14,81 persen diserap industri pengolahan, dengan nilai Rp 6,41 triliun. Lalu, menyusul sektor pertanian, perburuan dan kehutanan senilai Rp 4,31 triliun, dengan porsi 9,97 persen, serta pertambangan dan penggalian dengan porsi 9,57 persen, atau senilai Rp 4,14 triliun.

“Kami optimistis, dengan percepatan proses restrukturisasi serta membaiknya pertumbuhan ekonomi Kaltim, penyaluran kredit akan tumbuh jauh lebih tinggi tahun ini. Makin besar penyaluran, secara perhitungan juga bisa menekan rasio NPL,” ungkapnya.

Optimisme tersebut, tambahnya, diperlihatkan oleh target dari jasa keuangan yang dalam rencana bisnis memproyeksikan pertumbuhan kredit di angka 12,2 persen. Sementara dana pihak ketiga (DPK) ditarget naik 11,16 persen dibanding tahun lalu. (*/ctr/man/k15)


BACA JUGA

Rabu, 21 Februari 2018 07:25

WADUH..!! Baru 36 Persen Perusahaan Jamin Pekerja

BALIKPAPAN - Tingkatkepesertaan dunia usaha Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan…

Selasa, 20 Februari 2018 09:20

Anggaran Cukup, Belum Dianggap Urgen

JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) mengeluhkan tak adanya cadangan nasional BBM…

Selasa, 20 Februari 2018 09:14

Gaya Hidup Tak Sehat Masyarakat Jadi Potensi Pasar

Pangsa pasar sektor consumer goods di Indonesia masih didominasi makanan pokok dan cepat saji. Produk…

Selasa, 20 Februari 2018 09:08

Bunga Deposito Bisa Turun Lagi

JAKARTA - Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) memperkirakan, tren penurunan bunga deposito akan berlanjut…

Selasa, 20 Februari 2018 09:05

Sektor Industri Ditarget Tumbuh 5,67 Persen

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan industri pengolahan non-migas tumbuh 5,67…

Selasa, 20 Februari 2018 09:04

RI Kebut Perundingan Dagang dengan Eropa

SURAKARTA - Kementerian Perdagangan akan mempercepat perundingan Indonesia-European Union Comprehensive…

Selasa, 20 Februari 2018 09:02

IHSG Kembali Cetak Rekor

INDEKS harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menceata rekor tertinggi, di level…

Selasa, 20 Februari 2018 09:01

Daihatsu Kuasai 17 Persen Pangsa Pasar

JAKARTA - Daihatsu langsung menggenjot penjualannya awal tahun ini. Sepanjang tahun lalu, brand otomotif…

Senin, 19 Februari 2018 07:25

Impor Barang Produksi Turun Tajam

SAMARINDA – Berbeda dengan ekspor yang melesat tajam, kinerja impor Kaltim sepanjang 2017 lalu…

Senin, 19 Februari 2018 07:24

Long Weekend, Hotel di Samarinda Perbaiki Okupansi

SAMARINDA - Momen long weekend edisi Imlek lalu membawa berkah bagi bisnis perhotelan di Samarinda.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .