MANAGED BY:
RABU
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 10 Februari 2018 07:49
WASPADA..!! Pertambangan Masih Paling Berisiko

NPL 18,52 Persen, Tetap Diminati Perbankan

MULAI ALIH SASARAN: Di Kaltim, minat perbankan untuk mengucur kredit ke sektor pertambangan masih tumbuh, meski bukan yang terbesar. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Risiko tinggi masih menaungi bisnis pertambangan dan penggalian. Di tengah membaiknya harga komoditas, debitur dari sektor ini masih mencatatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) paling besar. Meski begitu, perbankan tampaknya tetap menjadikannya salah satu pasar utama.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim mencatat, rasio NPL bank umum konvensional secara umum mengalami perbaikan sepanjang tahun lalu. Per Desember 2017, posisinya ada di 6,57 persen. Walau masih di atas batas wajar, angka itu sudah lebih baik dari tahun sebelumnya yang sempat menyentuh 7,35 persen.

Kepala OJK Kaltim Dwi Ariyanto mengatakan, sepanjang tahun lalu, lapangan usaha pertambangan dan penggalian masih mendominasi ekonomi di Benua Etam, dengan porsi 46,31 persen. Hal itu menandakan bahwa daerah ini masih bergantung pada bisnis tersebut. Termasuk juga bagi perbankan, dalam hal penyaluran kredit.

Hal itu, kata dia, terlihat dari realisasi kredit di sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh signifikan. Mencapai 13,75 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Tapi kalau diurutkan per jenis, NPL tertinggi juga dari sektor pertambangan dan penggalian. Rasionya sampai 18,52 persen dari yang disalurkan perbankan. Tertinggi kedua dari sektor konstruksi, itu 10,04 persen,” jelas Dwi kepada Kaltim Post, Jumat (9/2).

Dia menyebut, periode anjloknya bisnis tambang beberapa tahun lalu harusnya menjadi pelajaran bagi perbankan, maupun bisnis pendukung lain. Karenanya, Dwi menyarankan agar perbankan terus memperbesar porsi sektor lain yang lebih aman dan berkelanjutan.

“Misalnya, sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan. Potensinya terlihat dari penyaluran kredit yang membaik tahun lalu. Dibandingkan tahun 2016, nilai kreditnya tumbuh 27,32 persen. Itu karena sejak beberapa tahun lalu, OJK memang sudah mendorong perbankan untuk berhenti bergantung pada sektor-sektor besar,” beber dia.

Berdasarkan catatan OJK, kredit bank umum konvensional di Kaltim secara keseluruhan mencapai Rp 67,8 triliun pada tahun lalu. Angka itu hanya tumbuh 3,86 persen dari tahun sebelumnya. Jika dirinci berdasarkan jenisnya, penyebaran kredit nyaris merata. Kelompok modal kerja menyerap 36,43 persen, konsumsi 35,77 persen, dan investasi 27,8 persen.

Dari 64,23 persen porsi kredit produktif, porsi terbesar masih diserap perdagangan besar dan eceran, dengan porsi 30,71 persen, atau senilai Rp 13,28 triliun. Selanjutnya, 14,81 persen diserap industri pengolahan, dengan nilai Rp 6,41 triliun. Lalu, menyusul sektor pertanian, perburuan dan kehutanan senilai Rp 4,31 triliun, dengan porsi 9,97 persen, serta pertambangan dan penggalian dengan porsi 9,57 persen, atau senilai Rp 4,14 triliun.

“Kami optimistis, dengan percepatan proses restrukturisasi serta membaiknya pertumbuhan ekonomi Kaltim, penyaluran kredit akan tumbuh jauh lebih tinggi tahun ini. Makin besar penyaluran, secara perhitungan juga bisa menekan rasio NPL,” ungkapnya.

Optimisme tersebut, tambahnya, diperlihatkan oleh target dari jasa keuangan yang dalam rencana bisnis memproyeksikan pertumbuhan kredit di angka 12,2 persen. Sementara dana pihak ketiga (DPK) ditarget naik 11,16 persen dibanding tahun lalu. (*/ctr/man/k15)


BACA JUGA

Selasa, 22 Mei 2018 06:42

Kontribusi Pajak Manufaktur Menjanjikan

JAKARTA – Industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar dalam penerimaan pajak berdasar…

Selasa, 22 Mei 2018 06:39

Indonesia Bisa Jadi Macan Ekonomi Digital

JAKARTA  – Pertumbuhan teknologi di Indonesia menujukan perubahan positif. Bahkan Indonesia…

Selasa, 22 Mei 2018 06:39

Penerbangan Extra Flight Dimulai 8 Juni

JAKARTA – Maskapai penerbangan mulai menambah kapasitas angkutan untuk mengantisipasi lonjakan…

Selasa, 22 Mei 2018 06:38

Penjualan Sepatu Masih Lesu

SURABAYA – Tren penjualan sepatu dan alas kaki di Jawa Timur masih lambat. Momen Ramadan dan Lebaran…

Selasa, 22 Mei 2018 06:36

Menteri Susi: Tenggelamkan! Bukan Sensasi

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkenal nyentrik. Dalam menjalankan tugas…

Selasa, 22 Mei 2018 06:34

Awal Pekan, IHSG dan Rupiah Melemah

JAKARTA - Pasar saham Indonesia sepanjang perdagangan awal pekan ini, berjalan melemah di zona merah.…

Senin, 21 Mei 2018 06:24

Harga Minyak Mentah Naik, BBM Tetap

JAKARTA – Tren kenaikan harga minyak mentah atau Indonesia crude price (ICP) berdampak positif…

Senin, 21 Mei 2018 06:23

Agustus, Akuisisi Pertagas Diminta Rampung

JAKARTA – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta proses akuisisi PT Pertamina Gas…

Minggu, 20 Mei 2018 06:31

Permintaan Aneh Pelanggan Menggali Kreativitas

SETELAH lulus dari Limkokwing University of Creative Technology, Malaysia pada 2014, Sherli Sukangto…

Minggu, 20 Mei 2018 06:28

Jaga Komunikasi, Kualitas, dan Kecepatan Kerja

MENGELOlA bisnis di bidang desain sejak 2014, Sherli Sukangto mengaku telah banyak menghadapi persaingan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .