MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 09 Februari 2018 09:24
Pesut Tak Tersenyum Lagi

PROKAL.CO, Populasi pesut di Sungai Mahakam terus menyusut. Habitat dan nyawa The Smiling Dolphin terancam bahaya yang beragam.

UDARA dingin yang merambat hingga ke tulang betul-betul menggoda Muhammad Ali Alhamidi untuk terus terlelap. Namun, karena waktu berangkat sekolah telah tiba, dia bergegas melilit sarung yang segera berubah menjadi handuk.

Pagi-pagi sekali, selepas mandi, Alhamidi sudah di atas perahu menyusuri Sungai Mahakam. Di tengah perjalanan ke sekolah, kawanan pesut sesekali mendekat. Mereka memberi "ucapan selamat pagi" dengan semburan air. Alhamidi biasanya hanya tertawa keras sehingga suaranya segera membuat gerombolan pesut itu menjauh.

Pada 1975 itu, Alhamidi masih duduk di bangku SD. Perjumpaan manusia dengan pesut begitu mudahnya. Mamalia yang hidup di air tawar tersebut sering kali muncul di Desa Pulau Harapan, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara. Alhamidi ingat, tiga sampai lima pesut berjumpalitan di atas air hanya 3 meter dari perahunya.

"Air sungai seperti terbang ke udara," kata Alhamidi menceritakan masa kecilnya kepada Kaltim Post, pekan lalu. Lelaki itu masih tinggal di Desa Pulau Harapan sampai hari ini. "Dulu pesut muncul sepanjang waktu tanpa jam tertentu," sambung pria yang memiliki 11 anak dan menjadi ustaz di desa setempat.

Setengah abad berlalu, pertemuan manusia dengan pesut semakin langka. Sebagai mamalia yang bongsor, untuk ukuran makhluk air tawar, pesut adalah perenang santai dan lambat. Binatang yang memiliki kemampuan menahan napas di dalam air hingga 3 menit itu sangat tidak menyukai keributan (Whales of The World, 1988).

Kehadiran perahu nelayan dan kapal angkut batu bara di perairan Sungai Mahakam pelan-pelan membunuh kawanan pesut. Alhamidi ingat, pesut selalu menyingkir hanya karena mendengar suara dayung. "Apalagi mendengar suara tugboat batu bara," imbuhnya. Dia mengaku terakhir kali bertemu pesut enam tahun lalu atau pada 2012.

Satu abad sebelum kisah Alhamidi, Sir Richard Owen telah mendeskripsikan pesut. Dalam penelitian di India, profesor biologi berkebangsaan Inggris tersebut menemukan bahwa pesut (Orcaella brevirostris) adalah satu-satunya mamalia yang hidup di kedalaman air tawar. Pesut bernapas, seperti halnya lumba-lumba, dengan paru-paru serta melahirkan dan menyusui anaknya.

"Sebaran mamalia ini sangat berlimpah sejak zaman kuno, mulai pantai timur Afrika hingga utara Australia," tulis Owen, seorang penentang utama teori evolusi Charles Darwin. Seturut perkembangan populasi manusia, ruang hidup si moncong pendek–demikian arti nama latinnya– semakin sempit.

Menurut deskripsinya yang dikutip Gray dalam Orcaella Brevirostris (1866), Owen menulis bahwa mulut pesut dikelilingi bibir dan melengkung ke arah mata. Bentuk yang demikian membuat pesut, yang dalam bahasa Inggris disebut lumba-lumba Irrawaddy, terlihat selalu tersenyum. Pesut Mahakam pun sering kali disebut The Smiling Dolphin from Mahakam.

Senyum yang sama membuat Danielle Kreb jatuh hati kepada fauna pemakan ikan itu. Kreb adalah perempuan asal Belanda yang selama 21 tahun mendedikasikan hidupnya meneliti pesut di Sungai Mahakam. Dia turut mendirikan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pada 2000, bersama Budiono sebagai founder.

Ditemui Kaltim Post pekan lalu di Samarinda, Kreb menegaskan bahwa jumlah pesut terus menyusut. RASI mencatat, populasi pesut di sepanjang Sungai Mahakam tinggal 77 ekor dengan angka maksimum 84 ekor. Hasil identifikasi dalam survei pada 2016 turut menemukan angka kematian pesut yang tinggi. Setiap tahun, 3–4 ekor pesut mati sementara angka kelahiran rata-rata 5 ekor per tahun.

TERSINGKIR DI MAHAKAM

Sebagai satwa yang menjadi kebanggaan Kaltim, pesut menghadapi dua masalah besar. Pertama, kematian pesut sebagian besar disebabkan terjerat jaring nelayan dan ditabrak ponton batu bara. Apabila kematian mencapai rata-rata 6 ekor/tahun, pesut akan punah dengan tingkat kepastian 60 persen.

Masalah kedua adalah Sungai Mahakam yang kian tak ramah bagi pesut, terutama dalam satu dasawarsa terakhir. Padahal, menurut penelitian Kreb dan kawan-kawan, sebaran pesut di Sungai Mahakam masih luas setidaknya sampai 20 tahun lalu. Namun, pada 2007, ruang hidup lumba-lumba Mahakam diketahui telah berkurang 120 kilometer. Pesut yang sebelumnya ditemukan di Samarinda, sekitar 60 kilometer dari muara, nyaris tidak terlihat lagi.

Sampai sepuluh tahun lalu, pesut hanya ditemukan hidup di batang utama Sungai Mahakam, yaitu 180 kilometer dari muara hingga 600 kilometer ke arah hulu. Kreb menulis bahwa Danau Semayang dan Melintang juga tercatat menjadi habitatnya (Status and Conservation of Irrawaddy Dolphins Orcaella Brevirostris in the Mahakam River of Indonesia, 2007).

Sekarang, ruang hidup pesut diperkirakan semakin sempit. RASI mencatat, pesut sudah tidak hidup lagi di Sungai Mahakam segmen Samarinda hingga muara. Ramainya lalu lintas kapal, termasuk ponton batu bara yang meningkat satu dasawarsa terakhir, mengusir pesut ke arah hulu.

Pesut tidak bisa hidup berdampingan dengan kapal-kapal besar. Satwa tersebut memiliki indra penglihatan yang buruk sehingga menggunakan sonar untuk mengetahui keadaan sekitar. Hewan itu menghitung jarak benda dari selisih waktu antara suara yang dikeluarkan dengan gema yang kembali, sama seperti kelelawar.

Menurut Kreb, kapal penarik tongkang yang bising menimbulkan polusi suara di dalam air. Pesut hanya mampu bertahan di dalam air dengan polusi suara tidak lebih dari 80 desibel (dB), seperti ditulis Au dan Penner dalam Target Detection in Noise by Atlantic Bottlenose Dolphins (1981). Menilik perhitungan RASI terhadap 13 ponton yang lewat pada 2017 di Sungai Kedang Kepala, kebisingan kapal mencapai 91,6–111,7 dB.

Suara dari kapal penarik ponton akhirnya tidak bisa ditoleransi pesut. Mereka akan mengalami disorientasi, dalam bahasa sederhana adalah kebutaan terhadap posisi, karena pantulan sonar terganggu. Untuk melepas kebutaan itu, pesut akan naik ke permukaan air. Celakanya, cara itu malah memudahkan mereka tertabrak ponton. RASI mencatat, kematian pesut karena ditabrak kapal batu bara adalah yang tertinggi kedua setelah jaring nelayan.

"Kebisingan juga membuat pesut betina sulit hamil," lanjut Kreb. Masa kehamilan pesut adalah 14 bulan dengan satu anak. Jika reproduksi terganggu, ancaman penyusutan pesut makin bertambah.

Setelah pergi dari hilir, ruang hidup pesut semakin sesak karena menemui gangguan yang sama di hulu sungai. Di perairan Kutai Barat, pesut mulai menghilang diduga karena kapal batu bara yang hilir mudik. Keadaan lingkungan makin tidak bersahabat bagi pesut karena rawa-rawa dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Padahal, rawa berfungsi sebagai tempat ikan berkembang biak. Jika fungsi itu hilang, pasokan ikan yang menjadi makanan utama pesut ikut berkurang.

Terganggu di hilir dan hulu, pesut akhirnya terjebak tepat di tengah-tengah batang Sungai Mahakam. RASI menemukan bahwa sejak 1999–2016, lumba-lumba air tawar terisolasi di perairan Muara Kaman hingga Batuq, Kukar. Sudah termasuk anak Sungai Mahakam, yaitu Sungai Kedang Rantau, Kedang Kepala, Belayan, Pela, dan Batubumbun.

Celakanya, di benteng pertahanan terakhir yang makin jenuh dengan pesut, aktivitas pertambangan dan perkebunan kelapa sawit justru makin masif. Di Sungai Kedang Rantau dan Kedang Kepala, dua anak Sungai Mahakam yang berdekatan di Muara Kaman, lalu-lalang ponton membuat pesut menyingkir. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim melaporkan, setidaknya 20 ponton hilir mudik di Sungai Kedang Kepala setiap hari.

Upaya konkret pemerintah melindungi pesut juga tidak tampak. Memang, sebagian besar perairan dan rawa di Muara Kaman telah dijadikan zona pelestarian pesut sejak 14 Februari 2016. Bupati Kukar Rita Widyasari saat itu menyetujui 48.270 hektare kawasan berstatus konservasi. Namun, kewenangan mengurus kelestarian pesut tidak jelas.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim mengklaim, mereka hanya berwenang mengintervensi kawasan darat cagar alam. "Anak sungai yang mengapit cagar alam (Sungai Kedang Kepala dan Kedang Rantau) bukan ranah BKSDA," kata pengendali ekosistem hutan dari BKSDA Kaltim, Christina Nainggolan, saat ditemui di kantornya pada Jumat (2/1).

Adapun kewenangan perkebunan dan pertambangan, di tangan Pemprov Kaltim sekarang. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltim Riza Indra Riadi mengakui, sempat mengevaluasi aktivitas yang mengganggu kehidupan pesut di Sungai Kedang Kepala. Dia mengklaim, aktivitas perusahaan yang berimbas kepada pesut sudah sangat minim, menyusul keluarnya 37 rekomendasi. Ke-37 program menjadi bagian dari lampiran analisis dampak lingkungan yang wajib dijalankan perusahaan (baca juga: Diteror Ponton Batu Bara).

Selagi pemerintah belum menunjukkan upaya konkret, kehidupan pesut semakin terancam. Di beberapa segmen Sungai Kedang Kepala di Muara Kaman, satu dari sedikit titik habitat pesut sekarang, berubah menjadi ladang kelapa sawit. RASI membuktikan hipotesis lewat pemasangan alat akustik pasif di Sungai Kedang Kepala. Dalam setahun terakhir, jumlah pesut yang melintasi sungai itu telah berkurang 50 persen.

Kekurangan makanan plus kebisingan yang tinggi, membuat ruang hidup pesut semakin terjepit. Berkumpul di satu tempat berarti persaingan pesut mencari makanan semakin ketat. Hukum alam akan berlaku. Dalam rantai makanan di ekosistem Sungai Mahakam, pesut adalah pemangsa atau konsumen tertinggi. Posisi itu diperoleh karena tidak ada hewan atau manusia yang memangsa pesut di lingkungan tersebut.

Sebagai konsumen final, pesut sangat bergantung dengan konsumen di bawahnya yaitu ikan herbivora. Ikan-ikan itu, menurut aturan rantai makanan, bergantung kepada udang sebagai konsumen primer. Udang memerlukan fitoplankton yang merupakan produsen dalam rantai makanan. Ketika satu saja unsur dari rantai makanan itu berkurang atau berlebihan, keberlangsungan hidup pesut sebagai konsumen akhir akan terganggu.

Bibir pesut memang selalu tersungging. Sesungguhnya, mereka tidak sedang tersenyum menghadapi ancaman kelaparan, kematian, dan kepunahan. (tim kp)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .