MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 09 Februari 2018 09:20
Diteror Ponton Batu Bara
LANGKA: Penampakan pesut di Sungai Mahakam di wilayah Kota Bangun, Kukar. (yk rasi untuk kaltim post)

PROKAL.CO, SELAMA 20 tahun belakangan, populasi pesut terkonsentrasi di perairan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Pesut banyak ditemukan berkumpul di Sungai Kedang Kepala, anak Sungai Mahakam, yang dalam setahun terakhir ramai dilintasi kapal tongkang batu bara.

Dalam catatan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim, tahun lalu saja lebih dari 10 ponton melintasi sungai itu. Hilir mudik kapal angkut batu bara sempat menimbulkan kisruh di Muara Kaman. Warga menuding gelombang ponton merusak keramba ikan.  Kemarahan warga tergambar dalam aksi memblokade sungai pada 5 April 2015.

Dua bulan kemudian, pada 22 Juli 2015, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengeluarkan surat pertimbangan. Surat ditujukan kepada kepala dermaga Dinas Perhubungan, Kecamatan Kota Bangun, Kukar dan kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Samarinda. Gubernur meminta tidak menerbitkan izin berlayar ponton batu bara di Sungai Kedang Kepala (kronologi lalu lintas ponton di Sungai Kedang Pala, lihat infografis).

Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) dua kali mengkaji untuk mengamati imbas pengangkutan batu bara terhadap pesut. Kajian pertama menyimpulkan perubahan penyebaran pesut di Sungai Kedang Pahu (Kutai Barat) yang menderita situasi serupa dengan Sungai Kedang Kepala. Di Sungai Kedang Pahu, populasi pesut secara drastis menyusut dan bergerak ke hilir yaitu ke perairan Kukar.

Kajian kedua menyimpulkan bahwa prinsip sonar pesut terganggu oleh bising kapal batu bara yang lebih tinggi dari 80 desibel. Saat pesut berpapasan dengan ponton, mereka menderita disorientasi dan muncul ke permukaan sehingga berpotensi tertabrak. Gambaran itu diambil ketika kapal ponton melewati Sungai Kedang Kepala.

RASI menyimpulkan, empat hal mengancam kehidupan pesut jika zonasi tidak ditetapkan. Ancaman pertama adalah pesut kekurangan makanan, yaitu ikan. Kualitas air sungai bisa turun karena debu dan runtuhan batu bara jatuh ke sungai saat pengangkutan. Hal itu membuat ikan tidak betah. Anak sungai juga dikhawatirkan menyempit karena gelombang ponton. Keadaan itu merusak ekosistem pinggir sungai yang merupakan sarang dari telur ikan.

Ancaman kedua adalah pesut berisiko stres berat karena migrasi harian terganggu. Mereka ketakutan saat berpapasan dengan ponton yang dapat menurunkan kekebalan tubuh. Pesut yang tertekan mudah terserang penyakit. Ancaman bagi pesut betina yang stres adalah melahirkan bayi prematur. Ancaman ketiga adalah perubahan pola migrasi yang menyebabkan pesut kekurangan makanan. Sedangkan ancaman terakhir, pesut tertabrak ponton.

Dari empat ancaman itu, RASI merekomendasikan agar transportasi batu bara dihentikan di Sungai Kedang Kepala. Apabila belum dapat dihentikan keseluruhan, ponton yang keluar masuk disarankan dibatasi maksimal enam kapal. Tiga ponton masuk dan tiga keluar dengan jarak 30 menit. Ukuran ponton juga perlu dibatasi hanya 180 feet agar tidak merusak struktur sungai atau menabrak tepi.

Saran itu didukung Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim. Pengendali Ekosistem Hutan, BKSDA Kaltim, Christina Nainggolan, membenarkan lalu lintas ponton batu bara adalah satu dari sekian ancaman bagi pesut. Opsi terbaik saat ini, sambung dia, mengatur dan mengawasi frekuensi hilir mudik ponton.

"Kalau jalur itu (Sungai Kedang Kepala) tetap dipakai mengangkut batu bara, kami meminta regulasi yang mengatur waktu angkut. Kami meminta pertambangan berbasis konservasi," ungkapnya.

Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Samarinda mengaku hanya menjalankan regulasi. "Ada kapal, kami beri izin jalan," kata Marsri Tulak Randabunga, kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli, KSOP Kelas II Samarinda, Kamis (1/1).

Dia mengungkapkan, mengatur pelayaran di luar kepentingan pelayaran, seperti halnya kelestarian pesut, adalah hal sulit dan di luar kewenangan. Sungai Kedang Kepala yang dipilih sebagai jalur pengangkutan batu bara adalah murni pertimbangan keselamatan pelayaran. Dari antara anak Sungai Mahakam di Muara Kaman, hanya Sungai Kedang Kepala yang layak dan aman dilintasi ponton batu bara berukuran 300 feet.

Marsri balik mempertanyakan upaya pemerintah melindungi pesut. "Kenapa di dalam diberikan izin tambang batu bara sementara ada cagar alam? Terus terang, kami (pemerintah) tidak kompak," akunya.

Sebagai contoh, Marsri mengatakan bahwa kira-kira 40 ponton melintas di Sungai Mahakam setiap hari. "Berapa gunung yang habis? Saya tidak bisa hentikan karena itu bukan wewenang saya," lanjutnya sambil menunjuk lalu lintas ponton di Sungai Mahakam dari ruang kerjanya.

Satu-satunya pilihan yang ditawarkan KSOP Kelas II Samarinda adalah mengatur kecepatan tugboat ketika melintasi jalur habitat pesut. Lewat pengaturan kecepatan, tingkat kebisingan menyesuaikan standar aman bunyi.

JALUR ALTERNATIF

PT Bara Tabang adalah perusahaan Grup Bayan yang memegang izin konsesi hingga 2032 di Kukar dan Kubar. Memakai Sungai Kedang Kepala sebagai jalur angkut, batu bara dibawa ke Balikpapan Coal Terminal.

Kepala Teknik Tambang PT Bara Tabang, Wahyudin, membantah bila gerak perusahaan dianggap melanggar aturan. Ditemui di Samarinda, Jumat (2/1), dia menegaskan tidak ada masalah lagi dalam operasi.

"Dalam izin amdal, kami boleh melalui dua jalur (Sungai Kedang Kepala dan Sungai Belayan) itu, kok," tegasnya. Namun, Wahyudin mengatakan, selepas ponton menabrak keramba warga, aktivitas angkut di sungai itu menjadi perhatian luas. "Sekarang, semua rekomendasi sudah kami jalankan. Tidak ada masalah lagi," pastinya.

Wahyudin menjabarkan, laporan kajian bernomor 503/438/lingk/BPMMD-PTSP/III/2016 telah memuat 37 rekomendasi yang terdiri dari empat bagian. Seluruh rekomendasi harus dipenuhi agar PT Bara Tabang diizinkan melintasi habitat pesut Mahakam.

Empat aspek kegiatan dalam rekomendasi yakni pengelolaan alur Sungai Kedang Kepala, pengelolaan keanekaragaman hayati, perlindungan habitat dan pesut, serta tanggung jawab sosial perusahaan. "Termasuk mengatur jarak antarkapal, yaitu 20–30 menit," tambah Wahyudin.

Perusahaan juga sedang membangun jalan hauling menuju Muara Pahu di Kutai Barat. Jalan sepanjang 100 kilometer itu juga dapat digunakan masyarakat.  "Nantinya, tidak ada pengangkutan di Sungai Kedang Kepala," jelasnya. PT Bara Tabang juga bakal memanfaatkan jalur kereta api yang saat ini masih tahap perencanaan.

Pemenuhan 37 rekomendasi itu dipantau oleh Tim Kelompok Kajian Iklim Air dan Bencana (KKIA), Fakultas MIPA, Universitas Mulawarman. Mislan selaku ketua tim mengatakan, sejumlah program dirumuskan agar melindungi pesut. "Jeda antarkapal untuk melintas adalah salah satunya," terang dia. (tim kp)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .