MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 09 Februari 2018 07:19
Bagi Waktu dan Tenaga, Antara Kemoterapi dan Produksi

Cerita Pejuang Kanker yang Memilih Jalan sebagai Pengusaha

ENGGAN MENYERAH: Dari kiri, Miftachur Rochmah, Lilik Wahyu, Sawiningtyas, dan Herlinda Arsianty, saling berbagi orderan jika tak bisa memenuhi permintaan konsumennya. (SAIPUL ANWAR/KP)

PROKAL.CO, Sebagai salah satu penyakit mematikan, kanker sering kali mematikan harapan penderitanya. Tapi, sekawanan pebisnis asal Samarinda ini menolak pandangan tersebut. Bersama dengan ikhtiar menjalani jadwal terapi penyembuhan, mereka tetap produktif memutar pendapatan.

CATUR MAIYULINDA

WALAUPUN disebut mematikan, bukan berarti tak ada peluang untuk sembuh dari kanker. Selain upaya lewat berbagai metode pengobatan, motivasi untuk bertahan hidup juga kerap jadi penentu.

Sawiningtyas, salah satunya. Divonis menderita kanker payudara stadium empat sejak 2015 lalu, sempat membuat pengusaha jamu dan sembako ini putus asa. Dagangan sembako yang kala itu menjadi usahanya, dibagikan secara cuma-cuma kepada tetangga. Saking putus asanya.

“Bahkan dokter sudah bilang, umur saya tidak lama lagi. Sembako yang dijual saat itu, lantas saya bagikan ke tetangga, karena berpikir sudah mau meninggal,” ujarnya saat ditemui Kaltim Post, Rabu (7/2) lalu.

Dua tahun vakum mendulang omzet, Sawiningtyas kembali menggeluti aktivitas usahanya pada tahun lalu. Berawal dari kesempatan mengikuti kelas wirausaha di program Mini University garapan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim, hasratnya untuk berkarya kembali pulih.

Sambil menjalani jadwal pengobatan, dia mengikuti kelas yang juga dihuni penderita kanker dan penyandang disabilitas. Dari situ, Sawiningtyas melihat bahwa dia tak sendiri. Banyak semangat baru yang didapatnya. “Tertular” dari peserta lain yang juga memilih survive.

“Selain inspirasi dan motivasi, tentunya juga dibekali hal teknis dalam berbisnis. Seperti pemasaran, mengelola usaha, menyusun laporan keuangan, dan lainnya. Karena memiliki pengalaman sebelumnya, saya pun dianjurkan kembali menggarap bisnis jamu dan sembako,” ujar ibu enam anak ini.

Sawiningtyas mengakui, tak mudah menjalankan usaha, di tengah keharusan menjalani metode penyembuhan. Waktunya pun harus dibagi dengan baik, antara berobat dan mengurus bisnis.

“Dari hasil jamu saja, alhamdulillah bisa hasilkan untung Rp 3-4 juta per bulan. Kalau lebih rajin memasarkan sebenarnya bisa lebih optimal. Tapi saya sadar, ada kendala kesehatan, jadi dibagi-bagi waktunya,” tutur dia.

Matinya harapan sempat dialami Salah satunya Miftachur Rochmah, pengusaha makanan ringan, yang divonis menderita kanker payudara sejak 2013 lalu. Bersama dengan vonis medis itu, dia sempat putus asa dan enggan melakukan apapun.

Namun pesimisme itu tak mau dia simpan berlarut-larut. Ibu tiga anak ini sadar, selama dia masih hidup, ada kewajiban untuk memberinya nilai. Terlepas dari panjang atau pendeknya sisa usia. Bisnis produksi makanan ringan menjadi pilihannya.

Untuk ukuran bisnis sejenis, omzet Rochmah memang belum terlampau besar. Sebulan dia hanya melayani hingga delapan orderan kue. Dalam satu kali order, keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta.

“Saya bisnis membuat kue sus kering dalam kemasan. Ada juga snack box. Sampai saat ini, baru melayani sesuai pesanan. Belum bikin untuk stok,” ujar Rochmah, saat ditemui bersamaan dengan Sawiningtyas.

Dia mengakui, tak bisa mengebut pengembangan usaha. Sebab, tenaganya juga terkuras untuk menjalani kemoterapi. Dalam satu tahap penyembuhan, dia bisa sampai enam kali berhadapan dengan radiasi untuk mematikan sel kankernya.

“Karena harus kemoterapi dan menjalani metode pengobatan lain, saya jadi lebih rentan sakit dan mudah lelah. Itu yang sering menghambat aktivitas saya, khususnya untuk mengembangkan usaha,” tuturnya.

Ditemui bersamaan, Herlinda Arsianty yang juga mengidap kanker payudara, terbilang lebih survive menjalani bisnis. Dia menjadi salah satu mitra salah satu perusahaan catering ternama di Samarinda. Omzet bulanannya sekitar Rp 18 juta.

“Untuk orderan snack box, rata-rata sekali order bisa 150 kotak. Dalam sebulan bisa hingga tiga orderan,” tuturnya.

Sama seperti pejuang kanker lainnya, tenaga jadi kendala utama. Kemoterapi secara rutin membuat fisik Herlinda tak sekuat dulu. Untungnya, dia sudah dibantu beberapa karyawan yang dibayar harian, jika orderan sedang banyak.

“Kanker memang mematikan. Dulu setiap hari hanya bisa menangis meratapi nasib. Kini sudah bisa semangat lagi. Itu berkat sharing dengan teman-teman sesama pejuang kanker. Orang-orang di lingkungan saya juga sering menyemangati, jadi dapat energi positif,” tutupnya.

Masih dari sesama alumni Mini University, ada Lilik Wahyu yang juga mengidap kanker payudara. Dia memilih jalan sebagai pengusaha ayam kampung, sembari mengelola bisnis guest house 13 pintu.

Dalam sebulan, Lilik bisa menjual hingga 200 ayam, dari 500 ekor yang dibudidayakan. Harganya Rp 44-55 ribu per ekor.

“Melawan kanker itu bukan hal mudah. Tapi, dari sekian cara untuk sembuh, sejauh ini kebahagiaan adalah kunci utamanya. Saya bisa survive karena saya bahagia menjalankan bisnis,” tuturnya.

Bertemu tiga rekan di Mini University juga menjadi motivasi bagi Lilik. Herlinda, Rochmah, dan Sawiningtyas, tak hanya menjadi rekannya dalam berbagi motivasi. Mereka juga saling bagi omzet, terutama saat salah satu di antaranya butuh tambahan pasokan. (***/man/k15)


BACA JUGA

Selasa, 20 Februari 2018 09:27

Pengembang Berharap Perlakuan Khusus

BALIKPAPAN - Pengembang di segmen rumah subsidi masih keberatan dengan suku bunga kredit yang diterapkan…

Selasa, 20 Februari 2018 09:23

Target Satu Juta Per Tahun Belum Tercapai

PROGRAM satu juta rumah belum terealisasi sesuai target. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat…

Selasa, 20 Februari 2018 09:20

Anggaran Cukup, Belum Dianggap Urgen

JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) mengeluhkan tak adanya cadangan nasional BBM…

Selasa, 20 Februari 2018 09:17

Pengangguran Didorong Garap Sektor Nonformal

BALIKPAPAN - Selain memaksimalkan serapan industri dari investasi baru, Pemkot Balikpapan telah menyiapkan…

Selasa, 20 Februari 2018 09:14

Gaya Hidup Tak Sehat Masyarakat Jadi Potensi Pasar

Pangsa pasar sektor consumer goods di Indonesia masih didominasi makanan pokok dan cepat saji. Produk…

Selasa, 20 Februari 2018 09:08

Bunga Deposito Bisa Turun Lagi

JAKARTA - Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) memperkirakan, tren penurunan bunga deposito akan berlanjut…

Selasa, 20 Februari 2018 09:05

Sektor Industri Ditarget Tumbuh 5,67 Persen

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan industri pengolahan non-migas tumbuh 5,67…

Selasa, 20 Februari 2018 09:02

IHSG Kembali Cetak Rekor

INDEKS harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menceata rekor tertinggi, di level…

Selasa, 20 Februari 2018 09:01

Daihatsu Kuasai 17 Persen Pangsa Pasar

JAKARTA - Daihatsu langsung menggenjot penjualannya awal tahun ini. Sepanjang tahun lalu, brand otomotif…

Senin, 19 Februari 2018 07:25

Impor Barang Produksi Turun Tajam

SAMARINDA – Berbeda dengan ekspor yang melesat tajam, kinerja impor Kaltim sepanjang 2017 lalu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .