MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 08 Februari 2018 08:19
Justice Collaborator: Cara Pandang Sistemik Masalah Korupsi

PROKAL.CO, OLEH: ARI DWI HANDOKO
(
Mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan,
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM Jogjakarta)
(aridwihandoko12@gmail.com)

BAGI sebagian orang, tentu masih asing dengan istilah justice collaborator. Istilah justice collaborator mulai ramai didengarkan sewaktu kuasa hukum Setya Novanto meminta pengajuan kliennya untuk menjadi justice collaborator kepada KPK. Tidak hanya Setya Novanto sebagai tersangka korupsi KTP elektronik yang ingin mengajukan diri sebagai justice collaborator, tetapi banyak beberapa tersangka korupsi yang ada di daerah maupun pusat telah mengajukan diri sebagai justice collaborator.

Opini yang ingin ditulis oleh saya, sebenarnya tidak ingin mengungkapkan fakta seberapa banyak tersangka maupun terdakwa koruptor menjadi justice collaborator. Akan tetapi, saya ingin menjelaskan secara komprehensif kepada masyarakat mengenai istilah justice collaborator.

Tiga Pendekatan Umum Penyebab Masalah Korupsi

Istilah justice collaborator tidak dapat dipisahkan dari pandangan para penegak hukum terhadap penyebab masalah korupsi. Secara konsep, penyebab masalah korupsi dapat dipandang melalui tiga pendekatan, yaitu aktor, sistem dan kultural/kebudayaan. Pendekatan aktor memandang bahwa korupsi disebabkan oleh adanya tindakan rasional para koruptor untuk mendorong terjadinya perilaku koruptif. Tindakan rasional tersebut didasarkan atas kalkulasi peluang maupun risiko penyelewengan dana proyek oleh para pelaku. Pendekatan selanjutnya, yaitu pendekatan sistem memandang bahwa korupsi disebabkan adanya sistem pengadaan maupun pengawasan proyek yang lemah, sehingga para aktor yang terlibat di dalamnya menjalin sebuah relasi untuk membuat sistem yang korup.

Pendekatan sistem ini mengisyaratkan banyak aktor yang terlibat dengan segelintir aktor intelektualnya, sistem korup yang mapan di atas sistem pengadaan proyek yang lemah dan sumber daya yang besar untuk pembiayaan kemapanan sistem yang korup. Pendekatan yang terakhir, yaitu pendekatan kultural memandang bahwa segala bentuk tindakan masyarakat yang terindikasi korup dianggap maklum oleh sebagian besar masyarakat dan tindakan tersebut terjadi berulang kali dalam kehidupan masyarakat. Kemudian, pertanyaannya adalah apa kaitan antara justice collaborator dengan penjelasan tiga pendekatan penyebab masalah korupsi di atas?

Korupsi Sistemik dan Justice Collaborator

Justice collaborator menurut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 2011 mengartikan bahwa salah satu pelaku yang mengakui kejahatan yang dilakukannya, bukan pelaku utama dalam kejahatan tersebut serta memberikan keterangan dan bukti-bukti yang signifikan. Ketentuan pemberian justice collaborator telah diatur jelas pada Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut, seperti tersangka tidak merupakan aktor intelektual dari suatu kasus korupsi, konsistensi tersangka dalam memberikan keterangan dan bukti serta tersangka mengakui keterlibatannya dalam kasus korupsi.

Definisi tersebut tentu telah menunjukkan bahwa pemberian status justice collaborator ditujukan untuk membongkar korupsi yang bersifat sistemik. Pada penjelasan sebelumnya, korupsi dengan pendekatan sistem mengisyaratkan banyak aktor yang terlibat dengan segelintir aktor intelektualnya, sistem korup yang mapan di atas sistem pengadaan proyek yang lemah dan sumber daya yang besar untuk pembiayaan kemapanan sistem yang korup.

Hal ini berarti status justice collaborator diberikan oleh para penegak hukum dengan tujuan mengetahui aktor intelektualnya, mekanisme sistemnya dan aliran dana dari penyelewengan tersebut. Upaya penegak hukum memberikan status justice collaborator terhadap seorang tersangka patut mendapatkan apresiasi karena peran aktor intelektual sangat susah diketahui oleh para penegak hukum tanpa keterangan dan bukti-bukti dari tersangka korupsi. Aktor intelektual sendiri biasanya mendapatkan aliran dana yang cukup besar untuk membiayai mekanisme sistem yang korup menjadi sistem yang mapan. Sistem yang mapan ini yang mengakibatkan aktor intelektual sangat susah diketahui peranan maupun identitasnya.

 Pada akhirnya, tulisan ini saya buat untuk menjelaskan secara komprehensif mengenai istilah serta arti penting dari justice collaborator. Pemberian status justice collaborator tidak seharusnya diartikan secara sempit sebagai sebuah keringanan hukuman tersangka koruptor, tetapi status justice collaborator harus diartikan secara luas sebagai senjata ampuh para penegak hukum. Senjata ampuh yang ditujukan oleh para penegak hukum untuk membongkar korupsi yang sistemik di Indonesia. Akan tetapi, saya menambahkan beberapa catatan tambahan bahwa pemberian status justice collaborator harus sejalan dengan kriteria penilaian menjadi seorang justice collaborator dan penegak hukum bertanggung jawab atas keselamatan justice collaborator. (*/one/k15)


BACA JUGA

Selasa, 18 September 2018 07:08

Suap di Lembaga Peradilan

Oleh : Sholihin Bone (Pengajar di FH Untag, STIH Awang Long) PUBLIK Tanah Air kembali dikejutkan oleh…

Selasa, 18 September 2018 07:06

Minimnya Langkah Kaki dan Jalur Pedestrian Kita

Oleh:Muhammad Risal (Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Unmul) SALAH SATU penelitian yang…

Selasa, 18 September 2018 07:04

Limbah Batang Pisang sebagai Penguat Material Komposit Alternatif

Oleh: Ika Ismail ST MT (Dosen Teknik Material dan Metalurgi ITK) LIMBAH adalah buangan yang dihasilkan…

Senin, 17 September 2018 07:23

Perkuat Identitas Bangsa di Kalangan Milenial

OLEH: MAYA RETNO SARI GENERASI milenial sudah sangat sering diperbincangkan oleh banyak kalangan saat…

Senin, 17 September 2018 07:21

Ibrah Tahun Baru Islam

OLEH: MUKHTAR(Wakil Ketua IKA PMII Kutai Timur Bidang Riset dan Teknologi) SELASA pada 11 September…

Senin, 17 September 2018 07:15

Prospek Ekonomi Olahraga

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Sabtu, 15 September 2018 00:18

Kharisma Hashtag (#)

Era digital memang sangat memudahkan setiap lentik jemari untuk mencari apa saja yang diinginkan. Menjadi…

Rabu, 12 September 2018 08:04

Pengembangan Keaksaraan dan Keterampilan

Oleh: Tri Widayati(Pamong Belajar BP PAUD & Dikmas Kaltim) GLOBALISASI telah mengubah cara pandang…

Selasa, 11 September 2018 07:03

Pembangunan Coastal Area Balikpapan, untuk Siapa?

Oleh: Farid Nurrahman(Lecturer of Urban and Regional Planning at Kalimantan Institute of Technology…

Selasa, 11 September 2018 06:58

Kemiskinan, Pemberdayaan Masyarakat, dan Pendidikan Nonformal

Oleh: A Ismail Lukman(Staf Pengajar Prodi Pendidikan Nonformal FKIP Universitas Mulawarman) KEMISKINAN…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .