MANAGED BY:
JUMAT
21 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 07 Februari 2018 09:36
Perut Mengandung, Badan Terkurung

PROKAL.CO, Perempuan-perempuan ini mengandung, melahirkan, dan menyusui di dalam tahanan. Perjuangan berat merawat buah hati mana kalapada saat yang sama, seorang ibu diduga tega membunuh bayinya.

RINI, demikian nama lengkap yang sangat pendek dari seorang perempuan 33 tahun itu, hanya terpekur ketika majelis hakim memukul palu. Sabu-sabu 0,26 gram yang diajukan di muka persidangan, membuktikan dia telah menjual barang haram tersebut. Tertunduk dalam-dalam, Rini mengusap perutnya yang telah membesar begitu vonis empat tahun penjara dibacakan. Bulan depan, ibu yang sudah memiliki dua anak itu dipastikan melahirkan dengan status terpidana.

Tepat tengah hari pada Senin (29/1), Rini buru-buru keluar dari Ruang Kusumah Atmadja di Pengadilan Negeri Samarinda setelah persidangan kelar. Yudi Satrio, jaksa penuntut umum yang bertubuh jangkung, mengiringinya menuju mobil tahanan. Di samping Yudi, Rini berjalan sangat cepat sampai kerudungnya beberapa kali melorot.

Rini adalah perantauan dari Mamuju, Sulawesi Barat. Hanya dia dan suaminya di Samarinda. Dua anaknya dititipkan kepada kerabat di kampung halaman. Pada 27 Agustus 2017, Rini tertangkap basah menjual sabu-sabu kepada petugas yang sedang menyamar di Jalan Lambung Mangkurat, Samarinda Kota. Sejak saat itu, Rini tak pernah berjumpa dengan suaminya lagi.

"Saya sama sekali tak punya keluarga di sini," tutur Rini kepada Kaltim Post ketika ditemui sebelum sidang dimulai. Dia hanya menggeleng saat disinggung masa depan bayi yang dikandungnya. "Saya tidak tahu. Saya ikut nasib saja," ucapnya dengan suara tertahan.

Jika Rini segera melahirkan dengan status tahanan, Nana–bukan nama sebenarnya-- telah melewatinya. Nana adalah perempuan 31 tahun yang hidup di balik jeruji besi di Rumah Tahanan Klas II A Samarinda. Dia dihukum setahun bui sejak Oktober tahun lalu karena kasus penggelapan. Kaltim Post mengikuti persalinannya pada Ahad (4/2) lalu.

Enam jam sebelum melahirkan, Nana yang masih di dalam sel tahanan sudah merasakan perutnya bergejolak. Namun, dia memilih diam karena tak nyaman mengganggu petugas. Sampai pukul 3 dini hari, Nana tak kuasa lagi. Petugas yang mengetahui bahwa dia segera melahirkan segera memanggil ambulans.

Nana tiba di Instalasi Gawat Darurat RSUD AW Sjahranie Samarinda dengan wajah yang sangat pucat. Dua petugas dan seorang perawat rutan menjaganya. Dua jam kemudian, bayi perempuan yang sehat dan cantik akhirnya menghirup udara di dunia. Tidak ada suami, apalagi keluarga yang menemani persalinannya pagi itu. Suami Nana disebut bekerja di Surabaya, Jawa Timur, sejak dua bulan terakhir.

 “Dia anak keempat saya. Alhamdulillah, prosesnya cepat. Mungkin karena bayinya perempuan,” tutur Nana. Dia mengaku lega karena satu fase kehidupan yang berat telah dilewati. Nana sudah melalui rasanya mengandung di dalam penjara. Jurang kehidupan yang kini harus dihadapinya makin dalam. Nana harus memikirkan cara mengasuh bayinya.

Nana memang melewati hamil tuanya di dalam tahanan. Dia hidup bersama 92 warga binaan perempuan dalam satu blok penjara yang terdiri dari dua kamar. Setiap kamar berukuran 32 meter persegi diisi 45 orang. Normalnya, kamar itu hanya cukup menampung tujuh orang. Dengan demikian, setiap warga binaan hanya punya ruang 0,7 meter persegi. Ruang sesempit itu bahkan lebih kecil dari ukuran tempat tidur tunggal. Hidup berdesakan di kamar yang sumpek, Nana tak mengenal istilah dinginnya jeruji besi (baca juga: Sel Kapasitas Tujuh Orang Dihuni 40 Tahanan, halaman 2).

Perempuan mana yang tega melihat perempuan lain menderita ketika sedang berbadan dua. Rekan-rekan sebilik sebisa mungkin memberikan keleluasaan buat Nana. Mereka berusaha menyisakan tempat yang cukup luas agar Nana, bersama enam tahanan yang juga hamil, bisa beristirahat dengan baik.

Namun, itu saja tak cukup mengurangi penderitaan Nana yang mengandung ketika raganya terkurung. Jangankan mengidam, perempuan berkulit putih itu kesulitan memenuhi asupan gizi untuk janin di perutnya. Sebagaimana warga binaan yang lain, Nana makan mengikuti jadwal. Sehari tiga kali makan setiap pukul 07.00, 11.00, dan 17.00 Wita. Menu sehari-hari adalah nasi, sayur, dan lauk yang berganti seperti ikan bandeng, ikan asin, atau telur. Porsinya untuk orang normal, bukan perempuan berbadan dua.

Hidup di bui memang menyiksa diri, juga kantong pribadi. Nana akhirnya mengeluarkan uang untuk menambah makanan. Dia membayar Rp 25 ribu kepada koki atau memesan dari kantin rutan. Keluarga yang membawa makanan sedikit meringankan. Nana baru mendapat kelonggaran menjelang hari persalinan. Dia ditempatkan di klinik rutan berkapasitas enam orang. Seorang dokter dan empat perawat bertugas memantau kesehatan mereka.

 “Hamil di dalam penjara itu susah,” ucap Nana setelah melahirkan. Dia mengaku, tak ingin mengingat masa sulit itu lagi.

Dua hari setelah persalinan, Nana kembali ke rutan. Namun, Nana lebih beruntung dibanding Rini, karena memiliki keluarga di Samarinda. Bayi perempuannya yang masih berkulit merah akan dititipkan di rumah kerabat. Lagi pula, sisa hukuman Nana tinggal beberapa bulan. "Begitu keluar, saya akan memberikan kasih sayang kepadanya," janji sang ibu. Segala kesukaran mulai mengandung hingga melahirkan membuat Nana berkata demikian.

Nana melahirkan ketika, di rumah sakit yang sama, sesosok jasad bayi terbujur di ruang forensik. Muhammad Mifzal, nama bayi laki-laki berumur 9 bulan, diduga dibunuh ibu kandungnya. Mifzal meninggal dalam kondisi tak wajar. Sekujur tubuh mungilnya ditemukan luka lebam, luka diduga sundutan rokok, dan bekas gigitan. Daging lengan kanan bayi itu terkoyak, ditengarai bekas gigitan.

Gayatri (25) adalah ibu bayi itu, yang bersama-sama suami sirinya bernama Doni (23), ditetapkan sebagai tersangka. Sang ibu, yang tercatat pernah tinggal di Kecamatan Sambutan, Samarinda, adalah istri resmi Hasmianur. Lelaki itu tengah ditahan dalam kasus peredaran obat terlarang. Di muka petugas, Gayatri menolak semua tuduhan. Dia berdalih bahwa bayinya alergi susu dan sabun sehingga muncul bekas luka.

Nasib perempuan yang diduga menderita gangguan kejiwaan itu makin memilukan. Gayatri tengah mengandung dengan usia kehamilan tiga bulan. Hampir dapat dipastikan, dia akan melewati garis kehidupan seperti Rini dan Nana. Gayatri bakal melahirkan di tahanan dengan status terdakwa atau terpidana. Bedanya, dia melahirkan di tahanan karena kasus membunuh anak sendiri.

PEREMPUAN DAN PENJARA

Di seluruh dunia, lebih dari 500 ribu perempuan dan anak gadis mendekam di penjara. Angka itu menghasilkan rerata 4,3 persen dari seluruh tahanan adalah perempuan seperti dilaporkan World Health Organization dalam International Centre for Prison Studies (2006).

Di Indonesia, persentase tahanan dan narapidana perempuan adalah 5,4 persen. Rini dan Nana adalah dua dari 12.852 perempuan di Indonesia yang hidup di bui. Sedangkan di Kaltim, menurut catatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM, jumlahnya 803 orang (lebih detail lihat infografis).

Menurut riset Lilis Lisnawati yang diterbitkan Jurnal Perempuan (2016), tahanan perempuan di Tanah Air naik 7,56 persen sepanjang 2012–2015. Penelitian itu menyebutkan bahwa perempuan yang dipenjara biasanya berlatar belakang tertinggal atau terpinggirkan. Sebagian besar lagi adalah korban kekerasan, pelecehan fisik, dan seksual. Perempuan dalam penjara umumnya memiliki lebih banyak masalah kesehatan dibanding laki-laki. Paling menonjol adalah masalah yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi seperti menstruasi, menopause, kehamilan, dan menyusui.

Perempuan telah melahirkan di dalam penjara sejak dua abad silam. Di Amerika Serikat, kejadian itu dicatat pada 1844 di negara bagian Missouri. Perempuan yang tidak disebutkan namanya itu melahirkan ketika musim dingin melanda di dalam penjara yang tak memiliki penghangat ruangan. Sistem penjara AS saat itu pun masih mengerikan. Baik perempuan dan lelaki ditahan di ruangan yang sama. Kisah sang perempuan memicu petisi masyarakat secara luas untuk memperhatikan tahanan perempuan (Women in Prison, 2003).

Hari ini, sistem penjara di banyak negara telah mengembangkan unit ibu dan bayi untuk narapidana perempuan. Sebagian besar negara Eropa juga memungkinkan bayi maupun anak kecil tinggal bersama ibu mereka di penjara sampai usia rata-rata 3 tahun. Kebijakan paling menonjol dibuat pemerintahan Thailand yang meluncurkan regulasi Enhancing Lives of Female Inmates (ELFI) pada 2008. Kebijakan tersebut memicu pengembangan Aturan Standar Minimum Perlakuan Tahanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Aturan yang dikenal sebagai Bangkok Rules itu disetujui pada Desember 2010 oleh Komite Ketiga Majelis Umum PBB sebagai pedoman jelas untuk negara-negara di seluruh dunia.

Peraturan itu menekankan, perlunya opsi non penahanan bagi perempuan. Kontak antara tahanan perempuan dengan anak-anak mereka juga ditekankan. Termasuk larangan isolasi perempuan hamil, memiliki bayi, dan ibu menyusui. Sanksi disiplin untuk perempuan juga tak diperkenankan mencakup larangan bertemu keluarga, terutama anak-anak.

Menurut aturan nomor 25, penghuni perempuan yang mengalami pelecehan seksual, terutama yang berakibat kehamilan, harus mendapat perlakuan medis yang tepat. Mereka mesti mendapatkan perawatan dari segi mental, fisik, konseling, dukungan, dan bantuan hukum. Dalam peraturan nomor 48, narapidana perempuan yang hamil atau menyusui, wajib didampingi perihal kesehatan dan pola makan. Sedangkan anak-anak yang mengikuti ibunya di penjara, sebagaimana tertuang dalam aturan 51, diwajibkan mendapat layanan kesehatan berkelanjutan. Akses pendidikan mereka sebisa mungkin seperti anak-anak di luar penjara (baca juga: Bukan Tempat Menyambut Bayi, halaman 2).

Di Indonesia, hak narapidana perempuan dirumuskan dalam Peraturan Pemerintah 32/1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Pasal 20 memberi perlindungan bahwa narapidana yang sakit, hamil, dan menyusui, berhak mendapat makanan tambahan sesuai petunjuk dokter. Anak yang dilahirkan narapidana perempuan yang dibawa ke lapas, wajib diberi makanan tambahan sesuai petunjuk dokter hingga paling lama berumur 2 tahun.

Masalah yang lain adalah Kaltim belum memiliki lembaga pembinaan khusus perempuan dan anak (LPKP dan LPKA). Untuk sementara, hanya pembagian blok perempuan dan laki-laki di penjara. “Insyaallah, LPKP dan LPKA bisa digunakan akhir tahun ini,” ucap Agus Toyib, kepala Divisi Pemasyarakatan, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kaltim. Dua lembaga pembinaan khusus itu didirikan di atas lahan bekas RSUD AM Parikesit, Tenggarong, yang dihibahkan Pemkab Kutai Kartanegara pada 2015. (tim kp)

TIM LIPUTAN:

BOBBY LOLOWANG, ROBAYU, IBRAHIM

EDITOR:

FELANANS MUSTARI

loading...

BACA JUGA

Kamis, 20 September 2018 10:12

Literasi Keuangan (Jangan) Disepelekan

Literasi keuangan belum menunjukkan angka ideal. Realita yang rawan disalahgunakan oknum jahat, yang…

Kamis, 20 September 2018 09:53

Literasi Minim, Wanprestasi Menghantui

SEMENTARA tingkat penggunaan produk keuangan publik Kaltim mencapai 74,9 persen, level pemahaman terhadap…

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .