MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 07 Februari 2018 09:22
Bukan Tempat Menyambut Bayi
PEMBEKALAN: Kegiatan mengaji menjadi agenda rutin warga binaan Lapas Kelas II A Samarinda setiap harinya. Biasanya dilangsungkan di atas pukul 09.00 Wita.(saipul anwar/kp)

PROKAL.CO, NEGARA memperbolehkan anak narapidana mengikuti ibunya di lembaga permasyarakatan hingga berusia dua tahun. Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah 32/1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan. Namun, sehatkah lingkungan penjara untuk seorang bayi?

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltim Eka Komariah Kuncoro menegaskan, anak tak semestinya di dalam penjara. Meski baru lahir atau berusia hitungan bulan, bayi perlu dipisahkan dari sang ibu yang mendekam di penjara. Tersedia tempat penitipan khusus untuk bayi, terlebih bagi ibu yang tak memiliki keluarga di daerah dia dihukum.

Kondisi tersebut sempat terjadi di Samarinda pada 2016. Sepasang suami-istri tersangkut hukum lantaran kasus penipuan. Sang istri hamil delapan bulan ketika kasus menjerat. Melahirkan saat menjalani masa penahanan, P2TP2A Kaltim memberikan pendampingan sehingga perempuan tadi menerima hak-hak dan perlakuan selayaknya orang hamil. Ketika melahirkan, perempuan itu juga mendapat akses bersalin di rumah sakit. Proses pemulihan sepenuhnya di luar lapas.

Begitu kembali, anak yang baru lahir mengikuti sang ibu ke penjara. Bayi tadi dirawat dokter klinik lapas. Namun, setelah lima bulan, klinik kewalahan. Dokter tak mampu lagi menjaga. Bayi akhirnya dititipkan ke rumah sakit. Perawatan, termasuk susu tambahan, sepenuhnya ditanggung sementara sang ibu menyelesaikan masa hukuman di balik jeruji.

“Kami ingin memberikan ke keluarga, tapi keluarganya tinggal nenek yang mengurus anak saja sudah repot. Rumah sakit terpaksa memberikan perawatan sementara,” sebut Eka, Rabu (31/1).

Selain rumah sakit, daerah juga memilih panti untuk anak-anak usia enam bulan ke atas. Panti asuhan di bawah pengelolaan Dinas Sosial menjadi opsi terbaik menampung bayi narapidana. Bagaimanapun, kata Eka, rumah sakit masih sarang penyakit yang rentan bagi anak.

Persoalannya, PP 32/1999 memungkinkan narapidana membawa anaknya sampai berusia dua tahun. Beleid itu kerap dijadikan nilai tawar untuk mendapat keringanan hukuman. Padahal, Undang-Undang 35/2014 Perubahan UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak, mengatur bahwa anak yang dilahirkan perempuan ketika menjalani masa hukuman di penjara, menjadi tanggung jawab negara.

Di samping itu, rumah tahanan kerap dianggap tidak layak bagi perempuan yang melahirkan dan menyusui terutama karena masalah kebersihan. Rumah tahanan sebagai tempat pembinaan masih terkesan sebagai tempat menyiksa orang. Masih banyak penyiksaan dan perkelahian, makanan yang kurang layak, ruangan lembap dan pengap, dan tak jarang masih terjadi kejahatan seksual.

Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda mengklaim selalu membina dan memeriksa kualitas kesehatan rumah tahanan. Mereka bekerja sama dengan pengelola lapas di Kota Tepian dalam menangani ibu melahirkan hingga menyusui.

 “Penanganan di Lapas didampingi puskesmas terdekat sebagai penanggung jawab wilayah. Ada pembinaan dan pemeriksaan rutin,” terang Kasi Promosi Kesehatan Diskes Samarinda Deasy Evriyanti. Dalam proses persalinan, sebut dia, semua ditangani lapas karena sudah dilengkapi klinik dan tim medis. Puskesmas sekadar mendampingi. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…

Senin, 17 September 2018 09:04

Menanti Inovasi Tenaga Pendidik

MEMBANGUN budaya literasi memang tak mudah. Tapi harus dilakukan serius, setahap demi setahap hingga…

Senin, 17 September 2018 09:01

Cerita Unta Bawa Kitab untuk Motivasi Membaca

TIDAK ada usaha yang mengkhianati hasil. Itulah yang menggambarkan sosok Rudini. Pria kelahiran Lampung,…

Senin, 17 September 2018 08:59

Menyentuh Angkasa dengan Buku

Oleh: Raden Roro Mira(Wartawan Kaltim Post (Juara 3 Duta Baca Kaltim 2018–2020) BENDA apa yang…

Jumat, 14 September 2018 08:48

Bergantung Anggaran yang Tak Tentu

PARIWISATA Samarinda kalah banyak dan kalah tenar ketimbang pertumbuhan perhotelan atau hiburan lainnya.…

Jumat, 14 September 2018 08:46

Pandangan Geologi dalam Potensi Wisata Alam Samarinda

OLEH: FAJAR ALAM(Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur) BUMI, sebagaimana…

Senin, 10 September 2018 09:02

Menggoyang Pemerintah dari Kantin Rektorat

Catatan: Faroq Zamzami (*) DI kampus, kantin tak sebatas menjadi destinasi isi perut. Bercanda. Bercengkerama…

Senin, 03 September 2018 09:04

Ditanya Penataan Sungai Karang Mumus, Ini Jawaban Sekkot Samarinda

BERBAGAI tudingan ketidaksiapan Pemkot Samarinda terhadap penanggulangan banjir mendapat tanggapan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .