MANAGED BY:
RABU
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 07 Februari 2018 08:30
Ekonomi Kreatif Sebagai Pengganti SDA

PROKAL.CO, OLEH: ABDUL GHOFUR
(Ketua Forum Cendikiawan Muda Indonesia, Domisili di Samarinda, IG: goghofur88)

MENURUT data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017 terjadi kenaikan jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017, dari Agustus 2016 sebesar 7,03 Juta orang. Dilihat dari segi tingkat pendidikan yang paling mendominasi adalah Sekolah Menengah Kejuruan (9,27 persen) paling tinggi dibandingkan Sekolah Menegah Atas ( sebesar 7,03 persen) diikuti diploma I/II/III sebesar 6,35 persen) sementara lulusan SD hanya mencapai 3,54 persen atau paling rendah dibandingkan lulusan lainnya. Berdasarkan wilayah Provinsi tingkat pengangguran tertinggi berada di Kalimantan Timur (8,55 persen) dan terendah di Bali (1,28 persen). Melihat angka tersebut bukan tidak mungkin apabila setiap tahunnya angka pengangguran akan terus bertambah setiap tahunnya.

Hal tersebut dapat kita cermati dari jumlah mahasiswa yang diwisuda oleh perguruan tinggi setiap tahunnya. Baik perguruan tinggi Negeri atau swasta. Misalnya perguruan tinggi terbesar di kalimantan Timur (Universitas Mulawarman) untuk tahun 2017 mencetak sarjana kurang lebih 5000-an dengan berbagai jurusan dan tingkatan (S-2, S-1, Diploma) dengan empat kali seremonial wisuda. Jumlah sarjana tersebut belum termasuk kampus – kampus lain di Kalimantan Timur yang jumlah lembaganya tidak sedikit. Jika dikalikan, tentulah sarjana akan tampak banyak apalagi jumlah populasi penduduk semakin lama semakin meningkat.

Jumlah sarjana yang lulus bukan berarti preseden buruk. Justru menjadi image positif bagi dunia pendidikan di Indonesia. Semakin banyak saja orang cerdas di negara ini. Kecerdasan yang didapat melalui perantara menempuh pendidikan. Semakin tinggi jumlah orang terpelajar maka hal tersebut menandakan bahwa Negara yang bersangkutan merupakan bangsa yang beradab, berpengetahuan, berilmu yang memiliki wawasan intelektual, sains, budaya dan lain sebagainya. Sehingga pembangunan nasional dan demokrasi menjadi mudah terwujud dengan banyaknya masyarakat di suatu negara yang berpengetahuan tinggi.

Namun kelahiran para sarjana tersebut justru menjadi momok tatkala dunia luar yang belum sempat menerima untuk menyerap tenaga, pikiran, dan jasa dari para sarjana. Lapangan pekerjaan yang sedikit tidak tidak cukup memberi ruang bagi mereka untuk berkarya. Pemerintah sendiri pun telah berupaya menciptakan lapangan pekerjaan baru dengan cara menarik para investor dari luar Negeri untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Hal tersebut terus diupayakan sebagai bentuk tanggung jawab dari negara untuk menyejahterakan rakyatnya.

Meskipun kuota untuk menjadi pegawai negeri terkesan dibatasi. Hal tersebut dapat dilihat dari tidak terpenuhinya kebutuhan pegawai negeri di daerah serta banyaknya tenaga honorer di pemerintahan seperti guru yang yang terkatung – katung nasibnya sekian tahun mengabdi belum juga diangkat PNS. Hal tersebut barangkali wajar mengingat anggaran negara yang terbatas untuk operasional (APBN) bahkan mengalami defisit sehingga rencana untuk melakukan rasionalisasi sempat mencuat ke permukaan sehingga kita mendapat pesan untuk tidak terlalu berharap menjadi pegawai negeri sipil.

Maka tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup selain membuka usaha dan merintisnya. Di era milenial seperti sekarang ini, orang begitu mudah mengembangkan usaha atau bisnis. Misalnya bisnis online, startup, dan lain-lain. Pemuda yang paham teknologi informasi memiliki peran penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di tanah air, dengan omzet yang menjanjikan. Apalagi dunia industri teknologi informasi tidak membutuhkan banyak modal. Cukup android dan kuota. Seseorang sudah bisa menjadi pengusaha daring. Tentu hal tersebut membutuhkan ketekunan dan keuletan terutama untuk meyakinkan konsumen dan terbukti dari bisnis ini kemudian banyak yang sukses dengan usaha yang mereka jalankan.

Salah satu contoh adalah mengembangkan bisnis makanan/kuliner yang memiliki peluang dan pangsa pasar cukup besar. Karena semua orang membutuhkan makan setiap harinya. Asalkan makanan yang dijual rasanya enak, tampilan bersih dan pelayanan yang ramah. Orang pasti akan datang dan merasa senang untuk membeli. Apalagi, sekarang pemesanan dan pengiriman menjadi sangat mudah dengan bantuan teknologi. Seseorang yang tidak bisa keluar rumah dapat memesan segala jenis makanan yang ditawarkan melalui aplikasi yang terpasang di smartphone. Kemudahan seperti ini, menjadi peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk memasarkan produknya. Sehingga untuk membuka usaha makanan, kita tak perlu mencari tempat di pinggir jalan besar. Cukup di rumah kita pun bisa. Dengan terlebih dahulu mendaftarkan usaha kuliner ke perusahaan startup.

Bisnis kuliner merupakan salah satu lading untuk meraih pundi- pundi rupiah. Banyak kisah sukses para pelaku usaha yang menekuni kuliner. Hingga menciptakan karya berupa brand/waralaba yang memiliki jejaring luas di Indonesia bahkan bisa go international. Tentu semua itu tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan dalam menjalani proses dan butuh pengorbanan untuk meraih keberhasilan. Dengan adanya jenis usaha waralaba kuliner justru kita jadi dimudahkan untuk bisnis kuliner. Kita tidak perlu repot-repot membuat formula resep masakan karena dengan membeli paket waralaba, kita sudah mendapatkan fasilitas lengkap. Hanya tinggal menjalankan. Atau kalau tidak mau repot bisa pasang pegawai untuk mengopereasikan. Kita cukup menjadi bos yang hanya mengontrol semua.

Menurut Parama Indonesia, sebuah lembaga pengakomodasi perusahaan startup mengemukakan sebuah data bahwa sektor kuliner Indonesia tumbuh rata – rata tujuh hingga 14 persen pertahun dalam lima tahun terakhir. Meningkatnya bisnis kuliner dipicu akibat kebutuhan masyarakat pada kota kota besar yang kian meningkat serta pola hidup masyarakat yang memiliki kecenderungan untuk bekerja hingga malam hari. Perilaku tersebut   didukung oleh perubahan teknologi yang memungkinkan untuk melakukan pemesanan makanan melalui jaringan internet. Hal semacam itu menjadi nilai lebih sebagai peluang di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat. Dibutuhkan inovasi dan kreativitas dalam mengemas sebuah produk dalam hal marketing.

Di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari sektor sumber daya alam (SDA) pemerintah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari segi aspek sumber daya manusia (SDM) dengan membentuk sebuah lembaga non kementerian bernama BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2015 yang bertanggungjawab terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia dengan membantu presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan dan singkronisasi kebijakan ekonomi kreatif.

Visi dari lembaga BEKRAF adalah membangun Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dalam ekonomi kreatif pada 2030 dengan misi menyatukan seluruh asset dan potensi kreatif, menciptakan iklim positif bagi pengembang, mendorong inovasi di bidang kreatif, membuka wawasan dan apresiasi masyarakat terhadap ekonomi kreatif, membangun kesadaran dan apresiasi terhadap hak kekayaan intelektual, serta merancang dan melaksanakan strategi yang spesifik.Upaya pemerintah dalam membangun dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari sektor sumber daya manusia patut diacung jempol. Karena banyak para pelaku usaha industri kreatif yang kemudian terakomodir.

Sekarang bukan saatnya lagi kita menggantungkan harapan kepada sumber daya alam dengan cara mengeksploitasinya secara terus menerus dan secara berlebihan. Selain berdampak buruk terhadap lingkungan berupa pencemaran udara juga menimbulkan konflik horizontal di tengah – tengah masarakat seperti penyerobotan lahan dan tumpang tindih perizinan. Dibandingkan mengandalkan sumber daya alam yang suatu saat akan habis karena tidak dapat diperbarui alangkah baiknya jika kita meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan mengasah kemampuan dan keterampilan agar kita dapat kreatif dalam menciptakan usaha. Contohnya pembuatan animasi, iklan, film, fideo, aplikasi, penegmbangan permainan, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, fotografi, kriya, music, seni pertunjukan, seni rupa, televisi, radio ,interior, desain grafis, kesenian, buku, penerbitan, arsitektur, dan kuliner. Maka sudah menjadi tugas bagi kita sebagai pemuda untuk ikut berpartisipasi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan terus mengasah kemampuan dan keterampilan. (*/one)


BACA JUGA

Minggu, 20 Mei 2018 07:15

Quo Vadis ASN dalam Pilkada

Oleh: Itcianday, SH.,MH(Pengelola Data dan Informasi Hasil Kajian PKP2A III LAN, Samarinda)“If…

Senin, 14 Mei 2018 09:42

Mencermati Kedok Investasi

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S-3–Doktor…

Sabtu, 12 Mei 2018 07:07

Upaya Preventif Perlindungan terhadap Anak

Kekerasan  terhadap anak adalah sebuah fakta yang harus dihadapi, bukan untuk dihindari apalagi…

Kamis, 10 Mei 2018 07:26

Memaknai Penguatan Kelembagaan Pangan untuk Indonesia Berdaulat Pangan

OLEH: TRI NOOR AZIZA, SP. MP(Peneliti Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Lembaga Administrasi…

Jumat, 27 April 2018 09:08

Ternyata Alquran Masih di Langit

Catatan: Bambang Iswanto (*) SUMBER otoritatif dan paling sahih ajaran Islam adalah Alquran. Diturunkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .