MANAGED BY:
SELASA
18 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Minggu, 04 Februari 2018 09:02
Zulhasan, Thariq bin Ziyad, dan Point of No Return

PROKAL.CO, CATATAN: DHIMAM ABROR DJURAID*

PERNYATAAN
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengenai fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) menjadi sebuah titik yang tidak mungkin berbalik alias point of no return dalam politik Indonesia. Polarisasi antara koalisi keumatan yang religius versus koalisi pro-pemerintah–yang nasionalis dan mengklaim diri sebagai pro kebinekaan–kembali berhadap-hadapan dalam garis demarkasi yang tegas.

Persaingan yang sangat keras dalam kontestasi Pilkada DKI 2016 telah memunculkan luka yang dalam bagi kelompok yang kalah. Luka begitu dalam sampai sulit move on meskipun hampir setahun berlalu. Hal itu menimbulkan praduga bahwa polarisasi akan menjadi permanen dan terus terbawa sampai kontestasi Pemilihan Presiden 2019.

Datanglah tahun politik 2018. Ternyata, partai-partai yang bersaing begitu keras di Pilkada DKI dengan santai dan enteng saling berkoalisi di sejumlah daerah dan wilayah. Polarisasi antara kekuatan keumatan yang religius dan kekuatan nasionalis seolah meleleh dengan cepat karena alasan-alasan pragmatis. Alasan-alasan ideologis yang sebelumnya seperti tak bisa lagi ditawar, ternyata lumer dengan cepat.

Partai-partai, yang sebelumnya bersaing, saling berkoalisi mendukung dan mengusung calon-calon kepala daerah di banyak tempat di Indonesia. Partai Amanat Nasional (PAN) yang mempunyai hubungan cat and mouse (kucing dan tikus) dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bergandengan mesra di Jawa Tengah. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berseteru ideologis dengan PDI Perjuangan tak malu-malu berada dalam satu gerbong di Jawa Timur.

Muncullah fenomena cross-cutting political coalition atau koalisi lintas-batas politik yang mengindikasikan aroma pragmatisme yang kuat. Di beberapa wilayah itu, partai-partai tidak mempunyai kandidat yang cukup kuat untuk dipertarungkan, sehingga jalan pintas pragmatis harus diambil untuk berkoalisi dengan partai yang tidak seideologi. Koalisi lintas-batas ini diberi aplaus sebagai indikasi bahwa persaingan demarkatif itu sudah terhapus.

Tetapi ternyata tidak demikian. Api dalam sekam tetap membara tak tampak dari permukaan. Rumput kering gersang tersebut masih luas terhampar. Minyak itu masih di sana. Ketika muncul kilatan api, rumput kering pun terbakar, dan minyak seolah tersiram api. Kebakaran pun tak terhindarkan.

Pernyataan Zulhasan, sapaan Zulkifli Hasan, mengenai fenomena LGBT dan tarik-menarik di parlemen membahas legislasi LGBT, seperti pemantik api yang jatuh di padang rumput kering, seperti api yang memantik minyak, panas dalam sekam langsung membara. Tidak ada tudingan langsung yang diarahkan Zulhasan kepada partai-partai tertentu. Tetapi, tiba-tiba banyak yang salting alias salah tingkah dan baper alias terbawa perasaan, kemudian serta-merta menegaskan partainya bukanlah partai LGBT. Serangan terhadap Zulhasan datang bergelombang. Dia dituding caper alias cari perhatian dengan mengeksploitasi masalah sensitif.

Bukan sekali ini saja Zulhasan meneriakkan kerisauannya akan fenomena gunung es LGBT di Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, dia tak pernah lelah menyuarakan kegalauannya. Tapi, suara Zulhasan seperti teriakan di kegelapan, a cry in the dark, yang nyaris tak terdengar.

Namun, akhirnya momentum itu muncul juga. Teriakan Zulhasan terdengar. Dari sayup, sekarang menjadi lantang, bahkan memekakkan telinga. Semua ramai-ramai menjaga jarak, ramai-ramai mungkir, ramai-ramai ikut naik gelombang, bahkan Ketua DPR Bambang Soesatyo tak takut naik gelombang ombak paling tinggi dengan mempertaruhkan jabatannya jika legislasi mengenai LGBT sampai lolos dari parlemen.

Seperti membuka kotak pandora, sekali terbuka akan keluarlah semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Pro dan kontra meruyak kembali. Perdebatan di media konvensional dan media sosial pecah lagi. Polarisasi lama antara kekuatan religius yang dianggap konservatif dan kelompok liberal pecah lagi.

Zulhasan berada di tengah pusaran kontroversi ini. Dia menjadi figur yang dicaci, tapi juga disanjung dan dipuji. Dia membuka tabir yang selama ini tersembunyi dan tak banyak disentuh orang. Sekarang tabir itu sudah terungkap, dan Zulhasan yang melakukannya. Dia harus menerima konsekuensinya diposisikan sebagai tokoh di garda terdepan perjuangan melawan LGBT. Palagan besar membentang di depannya.

Di dalam negeri, Zulhasan mau tidak mau sekarang menjadi salah satu figur yang berada di seberang kekuasaan. Meski sebelah kakinya masih berpijak di pemerintahan, tapi seutuh badannya berada di seberang garis kekuasaan. Di front internasional, Zulhasan harus menghadapi kekuatan besar lobi pro-LGBT yang didukung oleh kekuatan kapital dan perusahaan multinasional yang masif. Sungguh sebuah tantangan yang tak main-main.

Persaingan Pilkada DKI banyak disebut-sebut sebagai miniatur pertempuran yang sesungguhnya pada Pilpres 2019. Persaingan juga diperkirakan tidak akan jauh dari seteru Pilpres 2014. Kandidat yang muncul juga tidak akan banyak berubah. Pertanyaan justru muncul mengenai siapa yang bakal menjadi pendamping, running mate, para kandidat itu.

Menurut para pundit, siapa pun kandidatnya, pendampingnya akan muncul dari pendulum kanan kekuatan politik keumatan. Beberapa nama bermunculan. Zulhasan salah satunya. Ia, oleh partainya sudah dideklarasikan sebagai kandidat presiden atau wakil presiden pada Pilpres 2019. Tetapi, banyak hal yang membuat Zulhasan harus berhati-hati meniti langkah. Sampai kemudian muncullah momentum fenomena LGBT ini. Zulhasan berada persis di tengah pusaran ombak kontroversi itu. Tidak ada pilihan lain. The tide for no one, ombak tidak menunggu siapa pun. Zulhasan harus siap mengarunginya. Tidak ada lagi jalan untuk berbalik. Sekarang atau tidak sama sekali.

Zulhasan sekarang ibarat Thariq bin Ziyad yang mendarat di Gibraltar pada abad kedelapan untuk menaklukkan Andalusia, Spanyol. Dia membakar semua kapalnya. Di depan anak buah, dia berteriak lantang, “Tidak ada jalan untuk lari. Laut di belakang kalian, musuh di depan kalian. Tidak ada yang bisa kalian lakukan kecuali berperang dengan sungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran’’. (***/dwi/k8)

*Penulis adalah wartawan senior

loading...

BACA JUGA

Senin, 17 Desember 2018 22:45

Daya Saing Indonesia di Pasar Bebas

Oleh : Muhammad Antung Candra Prodi Bisnis Managemant   Dikabarkan…

Minggu, 16 Desember 2018 22:09

ASN Turn Back Hoax

Oleh Dewi Sartika, SE., MM Peneliti Muda pada Lembaga Administrasi…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:02

Akibat Tambang, Kerusakan Meradang

KALIMANTAN  Timur adalah provinsi yang memiliki potensi kekayaan alam yang…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:00

Masa Depan 212

REUNI 212 yang berlangsung pada 2 Desember 2018 di Kawasan…

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .