MANAGED BY:
RABU
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 01 Februari 2018 08:36
Strategi Pertanian Kaltim

Kaltim Swasembada Beras 2018? (2-Habis)

PROKAL.CO, OLEH: BERNATAL SARAGIH

(Guru Besar Bidang Pangan dan Gizi Universitas Mulawarman, Ketua Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia Kaltim, Sekretaris Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Kaltim)

MENDAYAGUNAKAN sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) Kaltim membangun seluruh subsistem agrobisnis di Kaltim akan membantu percepatan pemenuhan pangan. Potensi membangun kemitraan agrobisnis dengan investor atau mitra usaha Kaltim seharusnya terus dikembangkan dengan kemudahan investasi di bidang pertanian. Pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan ketersediaan pangan terus berkelanjutan terutama memberdayakan petani miskin.

Strategi yang digunakan untuk pemberdayaan masyarakat miskin dilakukan melalui jalur ganda/twin track strategy, yaitu: 1) membangun ekonomi berbasis pertanian dan perdesaan untuk menyediakan lapangan kerja dan pendapatan; dan 2) memenuhi pangan bagi kelompok masyarakat miskin di daerah rawan pangan melalui pemberdayaan dan pemberian bantuan langsung.

Kegiatan itu akan mendukung program Desa Mandiri Pangan (Demapan). Petani atau masyarakat memiliki peningkatan kemampuan pengembangan usaha produktif berbasis sumber daya lokal, peningkatan ketersediaan pangan, peningkatan daya beli dan akses pangan rumah tangga. Mereka dapat memenuhi kecukupan gizi rumah tangga yang akhirnya berdampak terhadap penurunan kerawanan pangan dan gizi masyarakat miskin di perdesaan. Hal itu sejalan dengan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu mengurangi angka kemiskinan dan kelaparan di dunia.

Bagaimana dengan konsumsi beras per kapita yang tinggi? Apakah akan diturunkan? Atau menggantinya dengan umbi-umbian? Jawabannya, sulit dan tidak akan tergantikan. Umbi-umbian diganti dengan terigu sebagai staple food masih menang terigu. Angka Pola Pangan Harapan (PPH) rendah juga sering disalahartikan dengan alasan mengganti beras dengan umbi-umbian. Jika angka konsumsi beras diekspos gencar, di sisi lain kita sering mengabaikan angka konsumsi gandum (dan tren kenaikan) tak pernah diekspos. Padahal terigu impor. Di sisi ketersediaan pangan, adanya ketergantungan impor yang besar berpotensi membahayakan stabilitas ketersediaan dan harga pangan domestik. Untuk komoditas pokok dan strategis seperti beras, gula, jagung, dan kedelai, mekanisme tata niaga tidak dapat diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar bebas.

Krisis kedelai memperlihatkan bahwa terlalu menggantungkan pemenuhan kebutuhan pokok kepada produk impor merupakan kebijakan yang rentan. Krisis yang sama sewaktu-waktu dapat berulang dengan tingkat bahaya yang lebih besar atau lebih luas terutama komoditas dengan kebergantungan tinggi selain beras seperti gandum, gula, susu, kedelai atau jagung. Sampai saat ini, upaya pemenuhan kebutuhan pangan nasional melalui pencapaian swasembada pangan lima komoditas strategis, yaitu beras, jagung, kedelai, daging sapi dan gula, belum memperlihatkan hasil optimal. Situasi tersebut tecermin dari tingkat ketersediaan beberapa pangan komoditas pangan domestik yang masih bergantung impor seperti tahun ini.

Pemerintah bersama semua stakeholder harus menciptakan peluang terbukanya sumber pendapatan baru bagi masyarakat dari sektor pertanian atau pangan. Meningkatkan dan membuka seluas-luasnya keikutsertaan masyarakat melalui fasilitasi dan dukungan yang kondusif kepada investor. Mereka yang menginvestasikan modal dalam pengembangan fasilitas, sarana, dan prasarana yang diperlukan masyarakat dalam mendukung pembangunan pertanian. Kebijakan dan program pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan perlu diarahkan kepada aspek pengendalian dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Caranya lewat memperhatikan kepedulian atas pengamanan dan kelestarian lingkungan.

MASIH ADA HARAPAN

Kaltim saat ini memiliki sawah yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman padi seluas 57.078 hektare. Diperkirakan, dari total potensi lahan pertanian baru mencapai 20,53 persen. Masih ada harapan yaitu lahan untuk cetak sawah Kaltim seluas 220.946 hektare (79,47 persen).

Peningkatan indeks pertanaman (IP) dari 100 menjadi 200 seluas 21.913 hektare juga membantu pencapaian swasembada beras. Produktivitas juga harus ditingkatkan. Sejauh ini, produksi per hektare masih di bawah 5 ton sehingga dapat ditingkatkan. Kondisi irigasi di Kaltim juga sangat memprihatinkan. Fungsi irigasi belum maksimal baik dari jumlah maupun pemanfaatannya. Sawah yang beririgasi baru mencapai 14.327 hektare (25,10 persen). Tanpa pembuatan irigasi dan ekstensifikasi, sulit mencapai posisi Kaltim sebagai lumbung padi, minimal memenuhi kebutuhan sendiri.

Alternatif lain dengan pemanfaatan sungai-sungai besar di Kaltim. Pemanfaatan sungai sebagai irigasi tentunya tidak dengan sistem pompanisasi. Sistem itu, apalagi memanfaatkan genset sebagai pemompa, tidak akan maksimal dalam sistem irigasi. Penulis menyarankan Pemprov Kaltim memanfaatkan sungai dengan pola tenaga arus air sebagai pemompa untuk irigasi. Bisa dengan metode perbedaan ketinggian maupun dengan sistem hydraulic pump.

Sistem pemanfaatan sungai secara alamiah dan ramah lingkungan dapat meningkatkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Pertanian Kaltim diyakini semakin maju dengan dukungan teknologi pertanian maupun perbaikan infrastruktur terutama pengairan. Petani juga didorong membiasakan diri memanfaatkan alsintan berupa mesin panen serta hand tractor untuk mendukung kemajuan pertanian. Terutama mengurangi efek penurunan jumlah petani Kaltim.

Penurunan jumlah petani tidak terlalu masalah jika input teknologi dan regenerasi tetap bisa diandalkan dalam mendukung peningkatan produksi beras. Akhirnya, negara dan Pemprov Kaltim tetap harus hadir bersama semua masyarakat dalam mewujudkan cita-cita swasembada dan berdaulat dalam pangan. (fel/k18)


BACA JUGA

Minggu, 04 Februari 2018 09:02

Zulhasan, Thariq bin Ziyad, dan Point of No Return

CATATAN: DHIMAM ABROR DJURAID*PERNYATAAN Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengenai fenomena lesbian, gay,…

Selasa, 30 Januari 2018 09:07

Dunia Lain Adalah Mungkin

CATATAN: INDA FITRYARINI(Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman) "ANOTHER Possible World" adalah…

Selasa, 30 Januari 2018 07:45

Jaga Momentum Perbankan Syariah

CATATAN: BAMBANG SAPUTRAKomisi Ekonomi MUI Kota Balikpapan BEBERAPA tahun belakangan, perbankan syariah…

Senin, 29 Januari 2018 07:34

Keniscayaan Menjadi Entrepreneur

CATATAN : ARIFUL AMIN INDONESIA punya satu keunggulan yang disebut jarang dimiliki negara lain. Yakni…

Jumat, 26 Januari 2018 08:46

Fintech, Peluang atau Bumerang?

OLEH: MUHAMMAD HENDRA WIJAYA NUGRAHA(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Anggota…

Kamis, 25 Januari 2018 08:40

Ketahanan Pangan dan Potensi Pertanian (2-Habis)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan,Mahasiswa S-3 Program…

Rabu, 24 Januari 2018 08:52

Impor Beras dan Agrokorporasi (1)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan,Mahasiswa S-3 Program…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .