MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 31 Januari 2018 09:54
Bangun Makam Leluhur Malah Jadi Pesakitan

Saulina, Nenek 92 Tahun yang Divonis Penjara

TAK ADA MAAF: Saulina (tiga kanan) diputus bersalah oleh Majelis Hakim PN Balige, Sumut, Senin (29/1), atas kasus perusakan. (Freddy/New Tapanuli)

PROKAL.CO, Tak ada pilihan lain kecuali pasrah. Berbagai cara telah ditempuh oleh Saulina Boru Sitorus alias Oppu Linda (92) agar persoalan yang dihadapinya bisa tuntas melalui jalur kekeluargaan. Sayangnya, palu hakim tak mengenal umur. Di usia senja, dia harus jadi seorang terpidana.

FREDY TOBING, Tobasa

USIANYA sudah 92 tahun. Saat berjalan pun harus dibantu sebatang tongkat lantaran fisiknya sudah tidak terlalu kuat. Tapi, di usia sesenja itu, Saulina malah harus menjalani hukuman.  Memang, Saulina Sitorus tak dikekang dalam jeruji besi, seperti yang dirasakan anak-anaknya, yang turut terseret dalam kasus yang sama, yakni perusakan. Oppu Linda berstatus tahanan kota.

Namun, betapa kesedihan menerpanya, karena niatnya yang tulus untuk memperbaiki makam leluhur jadi berbuah pahit, bahkan diadukan oleh orang yang juga masih kerabatnya.

Sebagaimana kebiasaan sebagian besar orang Batak, membangun makam leluhur dianggap sebagai bentuk penghormatan sekaligus aplikasi rasa cinta kasih kepada leluhur. Hal inilah yang menjadi awal timbulnya niat keluarga Saulina membangun makam leluhurnya, Boi Godang Naiborhu atau Op Sadihari. Lokasinya di Dusun Panamean, Desa Sampuara, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatra Utara. Perbaikan dilakukan pada Desember 2016.

Tak disangka, niat baik itu membawa petaka. Pada usianya yang sudah renta, justru dia harus dihadapkan pada kursi pesakitan berikut enam anaknya atas kasus perusakan oleh pelapor Jepaya Sitorus.

Jepaya yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Saulina membuat laporan pengaduan ke Mapolsek Lumbanjulu pada 1 Maret 2017 atas perusakan atau penebangan pohon durian di sekitar lokasi makam. 

Setelah diproses, penyidik menetapkan enam orang keluarga Saulina sebagai tersangka, yakni putra kandung Saulina, Marbun Naiborhu (46). Kemudian, empat orang putra abang dari suami Saulina, yakni Bilson Naiborhu (60), Hotler Naiborhu (52), Luster Naiborhu (62), Maston Naiborhu (47), dan satunya lagi putra adik dari suami Saulina, yakni Jisman Naiborhu (45).

Setelah keenam anak-anaknya ditetapkan tersangka, oleh Polsek Lumbanjulu melimpahkan berkas perkara tersebut ke Kejaksaan Negeri Tobasa pada awal September 2017 lalu. Oleh Jaksa Kejaksaan Tobasa dalam proses pemeriksaannya kemudian menambah tersangka baru, yakni Saulina Sitorus. Mereka dijerat atas pengrusakan lahan pelapor Jepaya Sitorus dengan dipersangkakan melanggar Pasal 412 KUHP.

Selanjutnya, oleh jaksa melakukan penahanan badan kepada Marbun, Bilson, Hotler, Luster, Maston, dan Jisman Naiborhu. Dalam proses persidangan, JPU menuntut mereka 6 bulan penjara. Sedang Saulina ditetapkan sebagai tahanan rumah dan dituntut 2 bulan penjara.

Oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige dalam amar putusannya menetapkan mereka terbukti bersalah. Marbun, Bilson, Hotler, Luster, Maston, dan Jisman Naiborhu pada Selasa 23 Januari 2018 divonis hukuman penjara 4 bulan 10 hari. Setelah potong masa tahanan, mereka bebas sejak Jumat, 26 Januari 2018.

Sedang Saulina, pada Senin 29 Januari 2018, di Pengadilan Negeri Balige melalui Hakim Ketua Marshal Tarigan di hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) oleh Jaksa Erthy Simbolon ditetapkan terbukti bersalah dengan melakukan tindak pidana perusakan, yakni menebang pohon durian milik Japaya Sitorus. Kepada Saulina dijatuhi hukuman satu bulan 14 hari penjara. Sejak putusan dibacakan, Saulina bebas dari status tahanan kota.

Dalam kasus tersebut, keluarga besar keturunan Op Sadihari merasa terpukul. Menurut mereka, hal tersebut tidak seharusnya sampai ke penegak hukum. Masih ada jalan keluar melalui perundingan, baik melalui penetua adat (parsahutaon) atau kepala desa. Namun, berbagai upaya yang mereka lakukan tidak membuahkan perdamaian.

Saulina didampingi kerabatnya menerangkan bahwa dalam upaya perundingan yang mereka lakukan, Japaya Sitorus meminta ganti rugi dalam jumlah yang banyak. Sayangnya, mereka tidak sanggup membayar. Karena itu, mereka hanya bisa pasrah.

Selain itu, keluarga Saulina mengaku sudah mendapatkan izin dari pemilik tanah wakaf tersebut untuk menebang pohon durian dengan diameter sekitar 5 inci itu. Yang mereka ketahui, pewaris tanah wakaf itu adalah Kardi Sitorus, keturunan Martahiam Sitorus, bukan Jepaya Sitorus.

“Kalau tidak ditebang, takutnya mengganggu makam, bisa rusak nanti. Jadi, kami izin kepada ibotoku (saudaraku) Kardi Sitorus. Sebenarnya, selama ini kami tidak tahu itu miliknya (Jepaya Sitorus). Itu pun kami sudah minta maaf dan bersedia ganti rugi. Tapi, yang diminta ratusan juta. Sudah kami bujuk, tapi tidak bersedia,” terang Saulina.

Tentang makam, Saulina menjelaskan bahwa niat mereka hendak membenahi makam almarhum mertuanya dengan bangunan beton. Berbagai jenis tanaman radius 4 meter ditebang. Biaya mereka tanggung bersama sesama keturunan Op Sadihari. Saat ini, bangunan yang direncanakan dilengkapi dengan keramik itu pun terkatung-katung karena persoalan ini. Meski demikian, mereka berharap ada jalan keluar agar proses pembangunan dapat dilaksanakan. (jpnn/far/k11)


BACA JUGA

Senin, 18 Juni 2018 08:19

Usai Lebaran, Selamat Datang Kemacetan

TENGGARONG – Hampir saban tahun saat Lebaran, jalan poros Balikpapan-Samarinda padat. Namun, titik…

Senin, 18 Juni 2018 08:05

TEGAS..!! RM Tahu Sumedang Harus Tutup saat Idulfitri

BATAS waktu pengurusan izin RM Tahu Sumedang, Jalan Soekarno-Hatta, Km 50, di kawasan Tahura Bukit Soeharto…

Senin, 18 Juni 2018 07:55

Bukan Panggung Rookie

PIALA Dunia 2018 bukan untuk rookie. Peringatan ini wajib didengar Inggris. Apalagi setelah melihat…

Senin, 18 Juni 2018 07:50

Jalin Komunikasi dengan para Pemimpin hingga Jenguk Senior yang Sakit

Momen Idulfitri dimanfaatkan umat muslim untuk bersilaturahmi. Begitu juga yang dilakukan Gubernur Kalimantan…

Minggu, 17 Juni 2018 01:37

Libur Panjang Reduksi Kepadatan

SAMARINDA  –  Kebijakan pemerintah memberi porsi besar untuk cuti bersama pada periode…

Minggu, 17 Juni 2018 01:26

Ambulans saat Lebaran

SETELAH salat Idulfi tri, dari Balikpapan saya dan keluarga langsung bertolak ke Sangasanga, Kutai Kartanegara.…

Minggu, 17 Juni 2018 01:20

Perjalanan Via Darat, Waspada Mobil Terbakar

ANCAMAN  dalam setiap perjalanan darat, termasuk saat arus balik, bisa menimpa siapa saja. Tragedi…

Minggu, 17 Juni 2018 01:11

Minimalisir Kebakaran, Remajakan Listrik Setiap 15 Tahun

SANGATTA  -  Musibah tak mengenal momen. Perayaan Idulfitri hari kedua di Sangatta, diwarnai…

Minggu, 17 Juni 2018 01:08

Siapa pun yang Menang, Rakyat Korbannya

Seandainya koalisi tidak melancarkan serangan besar-besaran ke Al Hudaida pekan lalu, dunia mungkin…

Sabtu, 16 Juni 2018 13:00

Libur Lebaran, Wisata Tirta Bakal Ramai

KALTIM menyimpan banyak destinasi wisata yang tak kalah menarik dan indah dengan tempat-tempat di luar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .