MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 30 Januari 2018 09:07
Dunia Lain Adalah Mungkin

PROKAL.CO, CATATAN: INDA FITRYARINI
(Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

"ANOTHER Possible World" adalah mimpi yang dikandung oleh dunia, yang merupakan tenaga kerja dari rahim ekonomi liberal yang berbahaya. Rasa sakit berawal dari sejarah, dari eksploitasi manusia yang melahirkan ketidaksetaraan dan ketergantungan yang besar. Rasa sakit terbesar terjadi pada akhir 20 dan awal abad ke-21. Dalam analisisnya tentang dampak globalisasi, Stiglitz menggunakan kata-kata seperti "adil" dan "keadilan sosial".

Model paling kuat telah ditemukan bahkan dibutuhkan dalam deklarasi universal PBB; model negara kesejahteraan dan Millennium Development Goals (MDG's). Namun, model tersebut tampaknya kehilangan arah dalam menghadapi kehidupan dunia saat itu: timbulnya kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi bertepatan dengan kemajuan teknologi dan makanan pertanian; meninggal karena obat sakit yang ada; ketidaktahuan di tengah gemerlapnya kemajuan teknologi dan pengetahuan serta bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Perekonomian global dalam sistem kapitalis menderita penyakit sosial yang berkepanjangan, yang menyebabkan ketidaksetaraan yang sangat tajam, ketergantungan yang tidak produktif dan sangat besar. Saat ini, lembaga keuangan dunia adalah pahlawan dalam globalisasi neoliberal untuk "menaklukkan" negara-negara miskin dan berkembang. Pada akhir 1960-an, negara-negara berkembang dan miskin seperti Indonesia "dibantu" oleh penyediaan utang luar negeri oleh IMF dan Bank Dunia. Tidak hanya itu, paket Konsensus Washington semakin menjadi perangkap yang bertujuan mereformasi ekonomi domestik dalam bentuk keringanan utang. Ini menjadi mekanisme siklus ekonomi liberal yang tak pernah berakhir.

Sustainable Development Goals: Sebuah Dunia Baru

Gagasan tentang Sustainable Development Goals (Selanjutnya disingkat SDGs) yang diterapkan secara universal oleh United Nations Summit pada September 2015 dengan cepat mendapat tanggapan karena semakin mendesaknya pembangunan berkelanjutan untuk seluruh dunia. Meski definisinya spesifik dan bervariasi, SDGs mencakup apa yang disebut pendekatan triple bottom line terhadap kesejahteraan manusia. Hampir semua masyarakat dunia mengakui bahwa “dunia baru” ini bertujuan untuk menyatukan pembangunan ekonomi, lingkungan hidup dan inklusi sosial.

Tujuannya berbeda secara global, antara dan di dalam masyarakat akan tetapi tujuan akhir adalah konsensus di mana dunia bisa membangun. Dunia kini telah memasuki sebuah era baru. Masalah kemanusiaan tidak hanya menghadapi satu permasalahan tapi banyak krisis yang tumpang tindih termasuk: perubahan iklim sebagai hasil emisi rumah kaca akibat aktivitas manusia, pencemaran lingkungan yang sangat besar, hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran disebabkan oleh pengeloaan hutan yang tidak berkelanjutan (misalnya penebangan pohon untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan).

Globalisasi juga memiliki implikasi serius pada sumber daya alam di seluruh dunia karena tersedianya teknologi komunikasi mutakhir dan moda transportasi yang memacu pertumbuhan ekonomi. Kasus kelangkaan hewan dipicu oleh maraknya perdagangan hewan terancam punah ke luar daerah bahkan keluar negeri.

Pedagang satwa liar bisa menghasilkan uang dengan menjual hewan liar melalui internet kepada importir. Dalam hal ini, pemanfaatan sumber daya alam satu negara dapat berpengaruh pada negara asal satwa liar. Kenaikan konsumsi bio-diesel kelapa sawit di seluruh dunia juga menyebabkan hilangnya hutan hujan di Malaysia dan Indonesia, di mana, bersama dengan yang di Filipina, hutan hujan ini adalah rumah bagi berbagai jenis spesies yang terancam punah.

Banyaknya hutan hujan tropis merupakan sumber berbagai sumber daya genetik dan karenanya sangat berharga; namun pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan telah menyebabkan hilangnya tanaman dan hewan secara cepat, dan ini sulit dipulihkan, terlepas dari pembentukan kawasan lindung untuk memastikan konservasi hutan dan satwa liar. Pada dasarnya, perlindungan dan pelestarian hewan juga akan mendukung kehidupan manusia itu sendiri.

Sehingga dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa hewan dan habitatnya. Hal ini selaras dengan tujuan ke-14 dan 15 dalam SDGs yaitu “Harmony With Nature” dan Provinsi Kalimantan Timur dengan slogannya “Green Kaltim” sudah seharusnya menjaga Kaltim tetap “Hijau”.

Pada akhirnya, saya sangat menghargai Stiglitz dalam memberikan penilaian positif namun kritis terhadap fenomena globalisasi. Globalisasi seperti dua sisi pedang, tajam untuk orang kaya tapi tumpul untuk sebuah negara berkembang. Oleh karena itu, keadilan di "dunia baru" dibutuhkan agar negara-negara miskin tidak selalu menguntungkan negara-negara kaya. (*/one/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 09 Juni 2018 01:37

Soekarno dan Pancasila

Sebagai  negara kesatuan, Indonesia harus memiliki landasan negara. Dari landasan itulah maka akan…

Minggu, 03 Juni 2018 07:18

Pancasila, Indonesia, dan Budaya Hoax

OLEH: ARIS SETIAWAN(Pendidik dan Pegiat Literasi, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) SAYA yakin,…

Minggu, 03 Juni 2018 07:15

Green Economy, Solusi Pariwisata Kaltim

OLEH: SUKARDI (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul) BENTANG lahan Indonesia yang sangat luas,…

Senin, 28 Mei 2018 08:41

Ngabuburit dan Budaya Konsumtif di Ramadan

Oleh: Rendy Putra Revolusi(Ketua Umum PC IMM Kota Balikpapan 2017-2018)TELAH lama muncul istilah yang…

Minggu, 27 Mei 2018 07:18

Ramadan, Pendidikan Karakter, dan Manajemen Konflik

OLEH: ARIS SETIAWAN (Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Unmul) RAMADAN sebagaimana kita pahami merupakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .