MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 30 Januari 2018 09:07
Dunia Lain Adalah Mungkin

PROKAL.CO, CATATAN: INDA FITRYARINI
(Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

"ANOTHER Possible World" adalah mimpi yang dikandung oleh dunia, yang merupakan tenaga kerja dari rahim ekonomi liberal yang berbahaya. Rasa sakit berawal dari sejarah, dari eksploitasi manusia yang melahirkan ketidaksetaraan dan ketergantungan yang besar. Rasa sakit terbesar terjadi pada akhir 20 dan awal abad ke-21. Dalam analisisnya tentang dampak globalisasi, Stiglitz menggunakan kata-kata seperti "adil" dan "keadilan sosial".

Model paling kuat telah ditemukan bahkan dibutuhkan dalam deklarasi universal PBB; model negara kesejahteraan dan Millennium Development Goals (MDG's). Namun, model tersebut tampaknya kehilangan arah dalam menghadapi kehidupan dunia saat itu: timbulnya kemiskinan, kelaparan dan kekurangan gizi bertepatan dengan kemajuan teknologi dan makanan pertanian; meninggal karena obat sakit yang ada; ketidaktahuan di tengah gemerlapnya kemajuan teknologi dan pengetahuan serta bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Perekonomian global dalam sistem kapitalis menderita penyakit sosial yang berkepanjangan, yang menyebabkan ketidaksetaraan yang sangat tajam, ketergantungan yang tidak produktif dan sangat besar. Saat ini, lembaga keuangan dunia adalah pahlawan dalam globalisasi neoliberal untuk "menaklukkan" negara-negara miskin dan berkembang. Pada akhir 1960-an, negara-negara berkembang dan miskin seperti Indonesia "dibantu" oleh penyediaan utang luar negeri oleh IMF dan Bank Dunia. Tidak hanya itu, paket Konsensus Washington semakin menjadi perangkap yang bertujuan mereformasi ekonomi domestik dalam bentuk keringanan utang. Ini menjadi mekanisme siklus ekonomi liberal yang tak pernah berakhir.

Sustainable Development Goals: Sebuah Dunia Baru

Gagasan tentang Sustainable Development Goals (Selanjutnya disingkat SDGs) yang diterapkan secara universal oleh United Nations Summit pada September 2015 dengan cepat mendapat tanggapan karena semakin mendesaknya pembangunan berkelanjutan untuk seluruh dunia. Meski definisinya spesifik dan bervariasi, SDGs mencakup apa yang disebut pendekatan triple bottom line terhadap kesejahteraan manusia. Hampir semua masyarakat dunia mengakui bahwa “dunia baru” ini bertujuan untuk menyatukan pembangunan ekonomi, lingkungan hidup dan inklusi sosial.

Tujuannya berbeda secara global, antara dan di dalam masyarakat akan tetapi tujuan akhir adalah konsensus di mana dunia bisa membangun. Dunia kini telah memasuki sebuah era baru. Masalah kemanusiaan tidak hanya menghadapi satu permasalahan tapi banyak krisis yang tumpang tindih termasuk: perubahan iklim sebagai hasil emisi rumah kaca akibat aktivitas manusia, pencemaran lingkungan yang sangat besar, hilangnya keanekaragaman hayati secara besar-besaran disebabkan oleh pengeloaan hutan yang tidak berkelanjutan (misalnya penebangan pohon untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan).

Globalisasi juga memiliki implikasi serius pada sumber daya alam di seluruh dunia karena tersedianya teknologi komunikasi mutakhir dan moda transportasi yang memacu pertumbuhan ekonomi. Kasus kelangkaan hewan dipicu oleh maraknya perdagangan hewan terancam punah ke luar daerah bahkan keluar negeri.

Pedagang satwa liar bisa menghasilkan uang dengan menjual hewan liar melalui internet kepada importir. Dalam hal ini, pemanfaatan sumber daya alam satu negara dapat berpengaruh pada negara asal satwa liar. Kenaikan konsumsi bio-diesel kelapa sawit di seluruh dunia juga menyebabkan hilangnya hutan hujan di Malaysia dan Indonesia, di mana, bersama dengan yang di Filipina, hutan hujan ini adalah rumah bagi berbagai jenis spesies yang terancam punah.

Banyaknya hutan hujan tropis merupakan sumber berbagai sumber daya genetik dan karenanya sangat berharga; namun pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan telah menyebabkan hilangnya tanaman dan hewan secara cepat, dan ini sulit dipulihkan, terlepas dari pembentukan kawasan lindung untuk memastikan konservasi hutan dan satwa liar. Pada dasarnya, perlindungan dan pelestarian hewan juga akan mendukung kehidupan manusia itu sendiri.

Sehingga dapat dikatakan bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa hewan dan habitatnya. Hal ini selaras dengan tujuan ke-14 dan 15 dalam SDGs yaitu “Harmony With Nature” dan Provinsi Kalimantan Timur dengan slogannya “Green Kaltim” sudah seharusnya menjaga Kaltim tetap “Hijau”.

Pada akhirnya, saya sangat menghargai Stiglitz dalam memberikan penilaian positif namun kritis terhadap fenomena globalisasi. Globalisasi seperti dua sisi pedang, tajam untuk orang kaya tapi tumpul untuk sebuah negara berkembang. Oleh karena itu, keadilan di "dunia baru" dibutuhkan agar negara-negara miskin tidak selalu menguntungkan negara-negara kaya. (*/one/k18)


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:45

Embrio: Manusia Kecil yang Harus Diselamatkan

DEWASA  ini kemajuan biomedis menawarkan aneka manfaat bagi manusia. Teknologi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:43

Mengenal Obat Diabetes Oral dan Suntikan Insulin

MENURUT data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit…

Jumat, 07 Desember 2018 06:57

Kegalauan antara Haq dan Hak (HAM)

Oleh: Andi Putri Marissa SE (Relawan Penulis Balikpapan) BELUM lama…

Jumat, 07 Desember 2018 06:55

Guru Honorer Dulu dan Kini

Oleh: Isromiyah SH (Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al…

Jumat, 07 Desember 2018 06:53

Suguhkan Kepakaran Seseorang dalam Teknologi

Oleh: Olli Chandra (Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer &…

Kamis, 06 Desember 2018 07:05

Longsor Sanga-Sanga: Kehendak Tuhan atau Ulah Manusia?

OLEH: FUAD FANSURI (Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda…

Kamis, 06 Desember 2018 07:02

Psikologi Lingkungan: Ironi dan Kutukan SDA di “Odah Etam”

OLEH: RANDI M GUMILANG (Dosen Bimbingan dan Konseling Islam/Gusdurian Kaltim)…

Rabu, 05 Desember 2018 06:49

Marginalisasi Penyandang Disabilitas: Renungan Hari Disabilitas dalam Perspektif Kebijakan Publik

Oleh: Dr Bambang Irawan (Kepala Laboratorium Kebijakan Publik FISIP Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .