MANAGED BY:
SABTU
21 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Senin, 29 Januari 2018 08:26
Bertahun-tahun Tersesat, Lupa Nama dan Alamat

Dilema Umur Panjang dan Demensia di Jepang

LUPA-LUPA INGAT: Lansia yang mengalami demensia atau penurunan fungsi otak di Jepang jumlahnya mencapai 4,6 juta orang.

PROKAL.CO, Hampir semua orang ingin berumur panjang. Tapi, tak selamanya anugerah itu membuat orang bahagia. Di Jepang, umur panjang justru bisa menjadi biang sengsara.

SEORANG pria berusia 70-an tahun berjalan tak tentu arah di jalanan Osaka, Jepang. Dia tak membawa apapun sebagai tanda pengenal. Satu-satunya milik pria tua itu adalah baju yang melekat di badannya. Polisi yang mendekati dan menanyakan nama serta alamatnya tak mendapatkan jawaban apapun.

Kakek tua yang belakangan diketahui menderita demensia atau penurunan fungsi otak itu, lantas dibawa ke rumah jompo Daini-Taisho-En. Mereka memberinya nama Taro Nishiyodo. Nama itu menunjukkan lokasi dia ditemukan, yaitu di distrik Nishiyodo. Dia tinggal di panti jompo tersebut selama 2 tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh keluarganya.

Taro bukan satu-satunya penderita demensia yang hilang di Jepang. Masih ada ribuan lainnya. Berdasarkan data Badan Kepolisian Nasional, pada 2016 lalu ada 15 ribu orang dengan penyakit demensia yang dilaporkan hilang. Jumlah tersebut meningkat 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data itu seperti gunung es, karena banyak keluarga yang memilih tidak melapor dan melakukan pencarian sendiri.

Saat ini, tercatat ada 4,6 juta penduduk Jepang menderita demensia. Pada 2025 mendatang, diperkirakan angkanya naik menjadi 7 juta. Dengan kata lain, satu dari lima orang penduduk yang berusia 65 tahun ke atas menderita penyakit yang ciri utamanya mudah lupa tersebut.

''Jika pemerintah tidak mengambil langkah-langkah efektif, masalah ini akan menjadi bencana,'' kata Tetsuhiko Kobayashi, pengacara sekaligus pemimpin kelompok relawan pencarian pasien demensia yang hilang di Kota Tokyo.

Penduduk yang menderita demensia terus merangkak naik, karena angka harapan hidup di Jepang sangat tinggi. Yaitu, mencapai 84 tahun. Sebanyak 27,7 persen populasi penduduk di Jepang adalah lansia yang berusia 65 tahun ke atas.

Para penderita demensia yang hilang, kerap tidak bisa dipertemukan dengan keluarganya, karena berbagai faktor. Mulai dari database kepolisian yang kerap tidak terkoneksi sampai keluarga yang malu melaporkan.

Di Jepang, demensia masih dianggap sebagai kondisi yang tabu. Banyak yang memilih bungkam jika salah satu anggota keluarganya menderita penyakit tersebut. Kalau toh melapor, mereka juga tidak memberikan foto penderita ke polisi. Mereka bukan hanya malu ada keluarganya yang menderita demensia, tapi juga takut dicap buruk karena dianggap tidak bisa menjaga mereka.

''Umumnya, situasi apapun yang tidak biasa adalah hal memalukan di Jepang. Kami tidak ingin orang lain tahu,'' ujar Sachiko Nishida seperti dilansir Channel News Asia. ''Itu adalah mentalitas orang Jepang,'' tambahnya.

Dia mengaku, menyembunyikan penyakit demensia ayahnya, Koji Ego, selama 6 tahun. Tidak ada tetangga maupun keluarga yang tahu. Tapi, semua berubah ketika dia mulai merasa tidak sanggup dan butuh pertolongan. Nishida memberitahukan kondisi ayahnya pada tetangga dan anggota keluarga lainnya. Tidak disangka, itu justru sangat membantu. Kini ketika ayahnya hilang, tetangga yang melihat bakal langsung memberitahunya. Dengan begitu, ayahnya bisa cepat ditemukan. Sayangnya, orang yang mau membuka diri seperti Nishida tak banyak.

Kumiko Nagata dari Tokyo Dementia Care Research and Training Centre mengungkapkan, bungkam tidak akan membantu. Orang yang mengalami demensia tidak bisa dikurung di rumah. Mereka bakal stres. Keinginan untuk keluar rumah dan berjalan-jalan sangat natural. Itu membuat penderita merasa bebas. Nagata akhirnya mendirikan SOS Network untuk membantu. Mereka meminta keluarga mendaftarkan pasien demensia ke otoritas setempat dan memberikan informasi di mana biasanya mereka sering hilang. Data tersebut akan dimasukkan ke database publik dan dibagikan dengan beberapa pihak. Seperti kepolisian, pemadam kebakaran dan toko 24 jam yang sudah dilatih mendeteksi pasien demensia.

  ''Dengan lebih banyak koneksi, lebih banyak orang yang bisa membantu pencarian,'' terang Nagata.

Saat ini, relawan yang membantu pencarian pasien demensia banyak bermunculan. Salah satunya, Hot Plus yang kerap membagikan makanan pada manula sekaligus mendeteksi penderita demensia yang hilang dan menggelandang. ''Mereka biasanya tidak bisa berkomunikasi secara normal,'' ujar Direktur Hot Plus Takanori Fujita.

Sementara itu, Pemerintah Kota Matsudo di Prefektur Chiba, membagikan stiker untuk mengidentifikasi penderita demensia. Stiker itu bisa disetrika agar menempel di baju. Jika ada orang menggunakan stiker tersebut dan berkeliaran tak tentu arah di jalan, maka keluarganya bisa langsung diberi tahu. (sha/pri/one/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 07 April 2018 07:20

Menolak Partai demi Warga Kaltim, Target Jadi Ketua DPD RI

Polemik rencana pergantian Mahyudin di wakil ketua MPR mulai meredup. Hingga kemarin (6/4), dia masih…

Sabtu, 07 April 2018 07:09

DP Hanya Rp 3 Juta Bisa Pilih Lokasi

BALIKPAPAN  —  Borneo Paradiso tak pernah berhenti menyuguhkan hunian terbaik bagi warga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .