MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 26 Januari 2018 08:46
Fintech, Peluang atau Bumerang?

PROKAL.CO, OLEH: MUHAMMAD HENDRA WIJAYA NUGRAHA
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Anggota GENBI 2017)

FINANCIAL technology atau yang sering dikenal dengan sebutan fintech merupakan suatu inovasi yang terjadi di bidang jasa finansial. Kata fintech sendiri terdiri dari kata financial dan technology yang merupakan inovasi pada sektor finansial dengan sentuhan teknologi yang lebih modern.

Fintech ini memiliki konsep mixed, di mana fintech memadukan sistem kerja sektor finansial dengan perkembangan teknologi yang ada di mana hasil akhir yang diharapkan dengan adanya fintech ini, yaitu terciptanya proses transaksi keuangan yang lebih aman, praktis, dan juga pastinya lebih modern dan efisien.

Pada dasarnya, fintech ini terbagi menjadi beberapa tipe berdasarkan layanan yang mereka sediakan. Ada perusahaan yang menyediakan jasa transfer uang, seperti Venmo, Square Cash dan Veryfund. Kemudian ada fintech yang menyediakan jasa purchasing, semisal Google Wallet, PayPal, Square Order serta masih banyak jenis fintech lainnya.

Di Indonesia sendiri sudah berdiri suatu asosiasi yang bernama Fintech Indonesia yang beranggotakan DOKU Wallet, Kartuku, Mandiri e-Cash, dan lain sebagainya keberadaan fintech ini sendiri sebenarnya merupakan suatu terobosan yang sangat baik dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang ada.

Berkat adanya fintech ,masyarakat luas dapat melakukan berbagai macam transaksi keuangan secara lebih cepat, praktis dan tidak rumit. Masyarakat juga tidak diharuskan lagi untuk datang ke lembaga perbankan untuk melakukan transaksi keuangan di mana masyarakat juga tentunya akan terhindar dari berbagai syarat-syarat rumit yang biasanya menjadi kebijakan suatu lembaga perbankan.

Keunggulan fintech lainnya, yaitu masyarakat dapat melakukan proses peminjaman uang secara lebih sederhana dan tidak rumit. Dalam fintech, masyarakat hanya diwajibkan untuk meng-apply data diri, jumlah yang hendak dipinjam dan perkiraan waktu yang ditentukan untuk melakukan proses pelunasan. Hal tersebut tentu memberikan keuntungan bagi masyarakat di mana mereka dapat lebih menghemat waktu yang dimiliki untuk dapat melakukan proses peminjaman uang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Accenture, investasi keseluruhan pada bidang fintech mulai merangkak naik dengan nilai mencapai tiga kali lipat dalam kurun waktu 2008 hingga 2013 dengan jumlah investasi sebesar USD 4 miliar.

Sedangkan menurut Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengatakan berdasarkan data statistik, total nilai transaksi financial technology (fintech) di Indonesia tahun 2016 lalu diperkirakan mencapai USD 15,02 miliar (Rp 202,77 triliun). Jumlah itu tumbuh 24,6 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada 2017, total nilai transaksi di pasar fintech diperkirakan mencapai USD 18,65 miliar (Rp 251,77 triliun).

Data tersebut seolah mencerminkan bahwa fintech telah menjadi suatu ikon baru yang bisa dibilang sedang digandrungi masyarakat di era modern ini dikarenakan berbagai kemudahan yang telah disediakannya. Salah satu manfaat lain yang telah ditimbulkan dengan adanya fintech, yaitu merangsang perkembangan bitcoin. Menurut data, sekitar 2,5 miliar pengguna bitcoin yang tidak memiliki akun bank tetap dapat melakukan transaksi pembayaran, pengiriman uang, dan berbagai jenis transaksi lainnya berkat adanya fintech ini.

Namun, di tengah maraknya fintech sebagai ikon baru di sektor finansial, terdapat beberapa hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus. Yang pertama adalah tingkat risiko yang ditimbulkan oleh fintech lebih besar dibandingkan risiko yang didapat apabila masyarakat berhubungan langsung dengan lembaga perbankan. Contoh sederhana, yaitu ketika seseorang melakukan proses peminjaman kredit menggunakan fintech, proses yang harus dilalui menggunakan fintech tidak serumit apabila berurusan dengan pihak perbankan. Namun, di balik kemudahan yang diberikan oleh fintech ini terdapat sebuah risiko yang dapat menimbulkan kerugian, yaitu ketika seseorang tersebut tidak dapat melunasi kewajiban utangnya sehingga menyebabkan terjadinya non-performing loan (NPL).

Dalam menghadapi semakin maraknya euforia fintech ini, Bank Indonesia selaku regulator membentuk Bank Indonesia Fintech Office pada tahun 2016 di mana sektor ini berperan dalam membuat peraturan atau regulasi untuk mengatur jalannya proses bisnis fintech yang baru ini dengan aman dan nyaman. Selain itu, Bank Indonesia juga mengumumkan sebuah regulasi bernama Fintech Regulation and Regulatory Sandbox sebagai platform bagi para pemula untuk meluncurkan produk inovatif atau model bisnis mereka. Regulasi ini dirasa perlu dalam rangka memastikan sistem pembayaran peminat fintech berjalan aman dan sesuai peraturan yang berlaku.

Di Indonesia walaupun fintech menunjukkan tren yang meningkat, namun pada kenyataannya, secara porsi keseluruhan kehadirannya belum bisa menggantikan peran lembaga perbankan. Sisi kelemahan fintech dibandingkan lembaga perbankan, terletak pada kurangnya manajemen risiko, kurangnya permodalan dan belum terlalu dipercaya masyarakat.

Jadi, menurut Anda apakah kehadiran financial technology ini merupakan sebuah peluang yang akan terus berkembang di masa depan atau malah akan menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa memberikan jawabannya. (*/one/k15)


BACA JUGA

Selasa, 25 September 2018 07:05

Status WTP dan Paradoks Pembiakan Korupsi

OLEH: WIDIYASTUTI|(Calon Pegawai Negeri Sipil pada PKP2A III LAN Samarinda) SUDAH menjadi tuntutan bahwa…

Selasa, 25 September 2018 07:02

Kolaborasi Pentahelix Bisa Jadi Alternatif

OLEH: Handy Aribowo ST MM(Dosen STIE IBMT Surabaya) SAAT ini kondisi perekonomian Indonesia bisa dikatakan…

Selasa, 25 September 2018 06:58

Defisit dan Perampingan OPD PPU

CATATAN: DR H ANDI SYARIFUDDIN MM MBA (Ketua Dewan Penasihat DPP Laskar Anti Korupsi Indonesia) PERAMPINGAN…

Senin, 24 September 2018 07:21

Urgensi Pembenahan Parpol

OLEH: SOLIHIN BONE(Ketua Yayasan Insan Nusantara Malanga Samarinda dan Mengajar di Fakultas Hukum Untag,…

Sabtu, 22 September 2018 00:10

Ekoturisme sebagai Jalan Pulang

APA yang dibayangkan masyarakat luas ketika mendengar Kalimantan? Apakah sungai besar dan panjang? Hutan…

Jumat, 21 September 2018 08:22

Mulai Usaha? Begini Caranya

OLEH: AMIN HIDAYAT(Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) Kaltim dan Penasihat GENPRO Kaltim)…

Jumat, 21 September 2018 07:19

Coastal Road Ramah Publik

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (Dosen Sekolah Pascasarjana perencanaan wilayah, Universitas Mulawarman)…

Kamis, 20 September 2018 10:55

Menanti CPNS Berintegritas

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sudah di depan mata.  Bisa dipastikan, pendaftar bakal…

Rabu, 19 September 2018 07:18

Mengapa Membenci?

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Kutai Kartanegara) SEORANG pemikir ilmu sosial bernama…

Rabu, 19 September 2018 07:14

Hamil Dulu, Nikah Kemudian?

Oleh: Muthi' Masfu'ah(Owner Rumah Kreatif Salsabila, Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Devisi Pengembangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .