MANAGED BY:
SENIN
10 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 26 Januari 2018 08:46
Fintech, Peluang atau Bumerang?

PROKAL.CO, OLEH: MUHAMMAD HENDRA WIJAYA NUGRAHA
(Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Anggota GENBI 2017)

FINANCIAL technology atau yang sering dikenal dengan sebutan fintech merupakan suatu inovasi yang terjadi di bidang jasa finansial. Kata fintech sendiri terdiri dari kata financial dan technology yang merupakan inovasi pada sektor finansial dengan sentuhan teknologi yang lebih modern.

Fintech ini memiliki konsep mixed, di mana fintech memadukan sistem kerja sektor finansial dengan perkembangan teknologi yang ada di mana hasil akhir yang diharapkan dengan adanya fintech ini, yaitu terciptanya proses transaksi keuangan yang lebih aman, praktis, dan juga pastinya lebih modern dan efisien.

Pada dasarnya, fintech ini terbagi menjadi beberapa tipe berdasarkan layanan yang mereka sediakan. Ada perusahaan yang menyediakan jasa transfer uang, seperti Venmo, Square Cash dan Veryfund. Kemudian ada fintech yang menyediakan jasa purchasing, semisal Google Wallet, PayPal, Square Order serta masih banyak jenis fintech lainnya.

Di Indonesia sendiri sudah berdiri suatu asosiasi yang bernama Fintech Indonesia yang beranggotakan DOKU Wallet, Kartuku, Mandiri e-Cash, dan lain sebagainya keberadaan fintech ini sendiri sebenarnya merupakan suatu terobosan yang sangat baik dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang ada.

Berkat adanya fintech ,masyarakat luas dapat melakukan berbagai macam transaksi keuangan secara lebih cepat, praktis dan tidak rumit. Masyarakat juga tidak diharuskan lagi untuk datang ke lembaga perbankan untuk melakukan transaksi keuangan di mana masyarakat juga tentunya akan terhindar dari berbagai syarat-syarat rumit yang biasanya menjadi kebijakan suatu lembaga perbankan.

Keunggulan fintech lainnya, yaitu masyarakat dapat melakukan proses peminjaman uang secara lebih sederhana dan tidak rumit. Dalam fintech, masyarakat hanya diwajibkan untuk meng-apply data diri, jumlah yang hendak dipinjam dan perkiraan waktu yang ditentukan untuk melakukan proses pelunasan. Hal tersebut tentu memberikan keuntungan bagi masyarakat di mana mereka dapat lebih menghemat waktu yang dimiliki untuk dapat melakukan proses peminjaman uang.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Accenture, investasi keseluruhan pada bidang fintech mulai merangkak naik dengan nilai mencapai tiga kali lipat dalam kurun waktu 2008 hingga 2013 dengan jumlah investasi sebesar USD 4 miliar.

Sedangkan menurut Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengatakan berdasarkan data statistik, total nilai transaksi financial technology (fintech) di Indonesia tahun 2016 lalu diperkirakan mencapai USD 15,02 miliar (Rp 202,77 triliun). Jumlah itu tumbuh 24,6 persen dari tahun 2015. Sedangkan pada 2017, total nilai transaksi di pasar fintech diperkirakan mencapai USD 18,65 miliar (Rp 251,77 triliun).

Data tersebut seolah mencerminkan bahwa fintech telah menjadi suatu ikon baru yang bisa dibilang sedang digandrungi masyarakat di era modern ini dikarenakan berbagai kemudahan yang telah disediakannya. Salah satu manfaat lain yang telah ditimbulkan dengan adanya fintech, yaitu merangsang perkembangan bitcoin. Menurut data, sekitar 2,5 miliar pengguna bitcoin yang tidak memiliki akun bank tetap dapat melakukan transaksi pembayaran, pengiriman uang, dan berbagai jenis transaksi lainnya berkat adanya fintech ini.

Namun, di tengah maraknya fintech sebagai ikon baru di sektor finansial, terdapat beberapa hal yang masih perlu mendapat perhatian khusus. Yang pertama adalah tingkat risiko yang ditimbulkan oleh fintech lebih besar dibandingkan risiko yang didapat apabila masyarakat berhubungan langsung dengan lembaga perbankan. Contoh sederhana, yaitu ketika seseorang melakukan proses peminjaman kredit menggunakan fintech, proses yang harus dilalui menggunakan fintech tidak serumit apabila berurusan dengan pihak perbankan. Namun, di balik kemudahan yang diberikan oleh fintech ini terdapat sebuah risiko yang dapat menimbulkan kerugian, yaitu ketika seseorang tersebut tidak dapat melunasi kewajiban utangnya sehingga menyebabkan terjadinya non-performing loan (NPL).

Dalam menghadapi semakin maraknya euforia fintech ini, Bank Indonesia selaku regulator membentuk Bank Indonesia Fintech Office pada tahun 2016 di mana sektor ini berperan dalam membuat peraturan atau regulasi untuk mengatur jalannya proses bisnis fintech yang baru ini dengan aman dan nyaman. Selain itu, Bank Indonesia juga mengumumkan sebuah regulasi bernama Fintech Regulation and Regulatory Sandbox sebagai platform bagi para pemula untuk meluncurkan produk inovatif atau model bisnis mereka. Regulasi ini dirasa perlu dalam rangka memastikan sistem pembayaran peminat fintech berjalan aman dan sesuai peraturan yang berlaku.

Di Indonesia walaupun fintech menunjukkan tren yang meningkat, namun pada kenyataannya, secara porsi keseluruhan kehadirannya belum bisa menggantikan peran lembaga perbankan. Sisi kelemahan fintech dibandingkan lembaga perbankan, terletak pada kurangnya manajemen risiko, kurangnya permodalan dan belum terlalu dipercaya masyarakat.

Jadi, menurut Anda apakah kehadiran financial technology ini merupakan sebuah peluang yang akan terus berkembang di masa depan atau malah akan menjadi bumerang? Hanya waktu yang bisa memberikan jawabannya. (*/one/k15)


BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:45

Embrio: Manusia Kecil yang Harus Diselamatkan

DEWASA  ini kemajuan biomedis menawarkan aneka manfaat bagi manusia. Teknologi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:43

Mengenal Obat Diabetes Oral dan Suntikan Insulin

MENURUT data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit…

Jumat, 07 Desember 2018 06:57

Kegalauan antara Haq dan Hak (HAM)

Oleh: Andi Putri Marissa SE (Relawan Penulis Balikpapan) BELUM lama…

Jumat, 07 Desember 2018 06:55

Guru Honorer Dulu dan Kini

Oleh: Isromiyah SH (Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al…

Jumat, 07 Desember 2018 06:53

Suguhkan Kepakaran Seseorang dalam Teknologi

Oleh: Olli Chandra (Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer &…

Kamis, 06 Desember 2018 07:05

Longsor Sanga-Sanga: Kehendak Tuhan atau Ulah Manusia?

OLEH: FUAD FANSURI (Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda…

Kamis, 06 Desember 2018 07:02

Psikologi Lingkungan: Ironi dan Kutukan SDA di “Odah Etam”

OLEH: RANDI M GUMILANG (Dosen Bimbingan dan Konseling Islam/Gusdurian Kaltim)…

Rabu, 05 Desember 2018 06:49

Marginalisasi Penyandang Disabilitas: Renungan Hari Disabilitas dalam Perspektif Kebijakan Publik

Oleh: Dr Bambang Irawan (Kepala Laboratorium Kebijakan Publik FISIP Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .