MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 25 Januari 2018 08:40
Ketahanan Pangan dan Potensi Pertanian (2-Habis)

PROKAL.CO, OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM
(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan,
Mahasiswa S-3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti)
e-mail: harysmwt@gmail.com; www.webkita.net

KETAHANAN pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tecermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Setidaknya ada empat aspek penting yang harus diperhatikan, yaitu produksi dan ketersediaan pangan, distribusi, konsumsi, dan kemiskinan. Strategi yang dilakukan, antara lain peningkatan kapasitas produksi pangan nasional secara berkelanjutan (minimum setara laju pertumbuhan penduduk) melalui intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.

Revitalisasi industri hulu produksi pangan (benih, pupuk, pestisida dan alat dan mesin pertanian), revitalisasi industri pascapanen dan pengolahan pangan; revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan pangan yang ada; koperasi, UKM dan lumbung desa. Pengembangan kebijakan yang kondusif untuk terciptanya kemandirian pangan yang melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir. meliputi penerapan technical barrier for trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit, dan harmonisasi tarif bea masuk, pajak resmi dan tak resmi.

DIVERSIFIKASI PANGAN

Diversifikasi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan nonberas diiringi dengan ditambahnya makanan pendamping. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok, tetapi juga pangan jenis lainnya, karena konteks diversifikasi tersebut adalah meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas, sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Gerakan untuk beralih ke substitusi (pengganti) beras berupa singkong, ubi, jagung, dan lain-lain harus dilakukan untuk mengurangi konsumsi beras mengingat keterbatasan lahan pertanian yang beralih fungsi maupun untuk mengantisipasi jumlah penduduk yang semakin bertambah banyak. Lepas dari persoalan impor beras; setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi krisis beras, yaitu mempercepat/memacu peningkatan produksi beras dan menurunkan konsumsi beras melalui metode substitusi.

Cara pertama bisa dilakukan melalui tiga hal, yaitu menggunakan bibit yang lebih bagus, pupuk yang lebih berimbang, dan metode penanaman yang lebih baik. Terkait metode penanaman yang lebih baik, dapat dilakukan dengan system of rice intensification (SRI). SRI merupakan suatu metode menanam padi dengan menggunakan bibit, pupuk, dan air yang lebih sedikit, namun hasil produksinya lebih tinggi.

Cara kedua melalui metode substitusi. Metode ini juga sudah lama dilakukan di Indonesia, mulai dari substitusi jagung, singkong, sagu, sukun, dan sebagainya. Namun, pola konsumsi masyarakat Indonesia di mana “belum makan kalau belum makan nasi” membuat program diversifikasi pangan ini belum berjalan optimal. Terkait substitusi beras, IPB telah membuat diversifikasi untuk memenuhi pola konsumsi Indonesia. Substitusi ini bernama Beras Analog. Beras ini mirip dengan dengan beras padi, namun berbahan sagu, sorgum, dan jagung.

POTENSI PERTANIAN KALTIM

Upaya mencari penopang perekonomian baru, sebagai pengganti sektor pertambangan, Provinsi Kalimantan Timur memiliki potensi lahan pertanian mencapai 2.468.328 hektare yang terdiri atas lahan kering seluas 1.846.328 hektare dan lahan basah sekitar 622 ribu hektare. Selain itu, program integrasi perlu digalakkan dalam suatu kawasan dengan beberapa kegiatan usaha pertanian. Misalnya, integrasi peternakan sapi di lahan kebun sawit ataupun bekas lahan tambang, termasuk integrasi tanaman jagung di perkebunan kelapa sawit.

Target produksi padi tahun 2018 sebesar 608 ribu ton, dan siap menjadi lumbung padi nasional. Dikaitkan jumlah penduduk Kaltim sebanyak 3.575.499 jiwa, maka jumlah beras yang dikonsumsi sebanyak 500.569 ton; sehingga surplus sekitar 107 ribu ton. Ini peluang yang sangat baik bagi Pemerintah Daerah Kaltim untuk menyejahterakan rakyatnya, sekaligus lumbung pangan nasional. Semoga. (*/one/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 19 Januari 2019 06:58

Hoax Dari Masa Klasik hingga Kontemporer

FENOMENA  hoax bukanlah hal baru. Sejarah dunia pun banyak diisi…

Kamis, 17 Januari 2019 08:37

Banjir Dungu

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (DOSEN SEKOLAH PASCA PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH…

Rabu, 16 Januari 2019 07:48

Berselancar di Atas Batu Bara

OLEH: NUGRA, ST(Competent Person Cadangan Coal) BATU BARA, barang Tuhan…

Selasa, 15 Januari 2019 07:59

Jangan Jadi Penyampah

Oleh: Hendrajati, S.Pd (Praktisi K3, Pendiri HSE Indonesia, Mahasiswa S-2…

Selasa, 15 Januari 2019 07:54

Ayo, Konsisten Cinta Persiba

Oleh: Andi Amirul Tarninda BP (Ketua Panpel Piala Soeratin U-17…

Senin, 14 Januari 2019 07:23

Kado Awal Tahun: Jaga Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhmahad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) MASYARAKAT Indonesia merupakan masyarakat…

Senin, 14 Januari 2019 06:53

Mengembangkan Ekonomi Syariah lewat Dunia Digital

Oleh: Rifki Maulana (Analis ekonomi–BI Kaltim) INDONESIA dikenal sebagai salah…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:24

Prostitusi

Di tengah hiruk pikuk berita dan tingginya tensi politik, kabar…

Kamis, 10 Januari 2019 07:40

Mari Budayakan Membaca

Oleh: Septyana Endang H.S. (Guru Bahasa Indonesia di SMP 34…

Kamis, 10 Januari 2019 07:38

Banggalah Berbahasa Indonesia

Oleh: Nurhana (Guru MAN 2 Samarinda) SATU dari empat fungsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*